Legislator Papua: Apapun Alasannya Penembakan Tak Dibenarkan

share on:
Ilustrasi - Dok. Jubi
Ilustrasi – Dok. Jubi

Jayapura, Jubi – Legislator Papua, Laurenzus Kadepa menyatakan, apapun alasannya penembakan yang terjadi di Papua selama ini tak dibenarkan. Baik korban dari masyarakat sipil, aparat keamanan, maupun pihak yang berseberangan dengan negara.

Hal itu dikatakan anggota Komisi I DPR Papua bidang Pemerintahan, Politik, Hukum dan HAM tersebut menyikapi penembakan Yuni Yesra (27 tahun) di Kampung Karubate, Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, Senin (12/9/2016).

“Saya menyesalkan penembakan di Puncak Jaya. Saya turut berduka. Saya ingatkan kepada kelompok manapun, dimana pun berada, perjuangan taj harus menghilangkan nyawa orang yang adalah makhluk ciptaan Tuhan yang mulia. Apapun alasanya tak dibenarkan,” kata Kadepa via teleponnya kepada Jubi, Kamis (15/9/2016).

Menurutnya, ada sumber yang menyebut korban adalah guru honorer, petugas gereja dan lain-lain. Sumber lain yang menyebut Yuni Yesra adalah intelijen, anggota BIN yang di tugaskan aparat Militer dengan menyamar sebagai guru.

“Tetapi apapun alasannya, dia seorang manusia yang punya hak untuk hidup, terlepas dari profesinya dia sebenarnya. TPN OPM di Puncak Jaya dan TNI Polri harus mampu memberi rasa aman dan nyaman kepada rakyat sipil dalam kehidupan mereka,” ucapnya.

Katanya, jangan membuat situasi terus tidak aman yang akhirnya tidak sedikit rakyat sipil distigma separatis dan lainnya, bahkan terus menjadi korban penembakan.

“Saatnya kedua pihak meletakan senjata dan berdialog atau berunding pada perjuangan damai, bermartabat tanpa harus ada kekerasan. Sudah cukup banyak korban berjatuhan di Papua selama ini,” katanya.

Sehari sebelumnya, legislator Papua lainnya dari daerah pegunungan tengah, Deerd Tabuni menduga penembakan itu ditunggangi kepentingan politik.

Ia menduga ada indikasi kepentingan Pimilihan Kepala Daerah (Pilkada) dalam kasus tersebut. Apalagi Puncak Jaya salah satu kabupaten yang akan melaksanakan Pilkada serentak awal 2017 mendatang.

“Kasus ini ada indikasi kepentingan Pilkada. Bisa saja untuk mengacaukan situasi keamanan di Puncak Jaya. Setelah kami komunikasi dengan masyarakat, informasi dari masyarakat, sebelum kejadian ada orang yang diperintah oleh oknum pejabat di Puncak Jaya untuk bertemu salah satu kepala kampung di Distrik Yambi,” kata Deerd Tabuni, Rabu (14/9/2016).

Menurutnya, di Yambi orang tersebut bertemu dengan kepal kampung. Dia meminta kepala kampung memberikan suara kepada calon tertentu pada Pilkada mendatang.

“Kalau tidak, akan ditembak. Kabarnya korban ini yang mengantar orang tersebut ke rumah kepala kampung di Yambi. Informasi dari masyarakat, korban bukan guru, tapi dari kesatuan tertentu. Masyarakat tahu siapa dia. Dia bukan guru. Mungkin hanya diperbantukan sebagai guru honor. Di Puncak Jaya aparat kemanan TNI/Polri yang menyamar sebagai tukang ojek dan profesi lainnya,” ucapnya. (*)

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Legislator Papua: Apapun Alasannya Penembakan Tak Dibenarkan