Lima Tahun Bergulir, Respek Hanya untuk Infrastruktur

share on:
Salah satu pedangang kecil dapat bantuan modal dana Respek (Jubi/Everth)
Salah satu pedagang kecil dapat bantuan modal dana Respek (Jubi/Everth)

Merauke, Jubi – Selama lebih lima tahun Program Rencana Strategis Pembangunan Kampung (respek) bergulir, lebih banyak dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan fisik.

Demikian hasil riset Doktor jebolan Universitas Indonesia (UI), Rafael Kapura.

Memang ada beberapa faktor mendasar yang menjadi kendala, diantaranya, letak geografis wilayah Papua sangat luas dan jauh, Sumber Daya Manusia (SDM) belum dipersiapkan, penguatan kelembagaan belum jalan baik serta pasar tak ikut di intervensi pemerintah,” katanya di Merauke, Rabu (14/9/2016).

Menurutnya, program Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu yang mengucurkan Rp100 juta tiap kampung itu juga menghadapi beberapa kendala, seperti biaya sewa bahan baku untuk diangkut sangat mahal. Karena transportasinya hanya dengan jalur udara maupun laut.

Saya contohkan saja, kalau ke wilayah pegunungan, biaya sewa pesawat berkisar antara Rp 15 juta-Rp20 juta. Begitu juga di wilayah Selatan, harus mencarter kapal laut,” tuturnya.

Dengan demikian, praktis uang senilai Rp100 juta tiap kampung, otomatis akan terpotong. Sehingga berbagai kegiatan pembangunan mulai infrastruktur maupun pemberdayaan ekonomi kerakyatan, dipastikan tidak berjalan maksimal.

Kenyataan kegiatan ekonomi kerakyatan untuk bisa membantu masyarakat mendapatkan uang, praktis tak ada. Jadi yang menonjol hanya pembangunan fisik,” jelasnya.

Salah seorang warga dari Distrik Waan, Soter Kamiawi mengaku, satu-satunya transportasi menuju ke kampung-kampung di distrik itu, hanya lewat laut. Tidak ada jalur darat maupun udara.

Tidak dapat dipungkiri jika cost atau anggaran yang dikeluarkan untuk menyewa kapal maupun speed boat, sangat mahal. Karena harga bahan bakar minyak (BBM) juga mahal,” tutur Soter. (*)

Editor : Angela Flassy
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Lima Tahun Bergulir, Respek Hanya untuk Infrastruktur