Perubahan Iklim Mengancam Militer AS

share on:
Ilustrasi pentagon, markas besar strategis militer AS - IST
Ilustrasi pentagon, markas besar strategis militer AS – climateandsecurity.org

Washington,  Jubi – Dampak perubahan iklim telah membahayakan operasi militer Washington dan akan meningkatkan potensi konflik internasional, demikian menurut tiga dokumen baru yang ditandatangani oleh sejumlah pensiunan pejabat tinggi angkatan bersenjata Amerika Serikat.

“Satu hal telah jelas, perubahan iklim saat ini merupakan ancaman strategis bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Oleh karena itu, pembiaran bukan merupakan pilihan baik,” kata sebuah pernyataan tertulis yang dipublikasikan lembaga peneliti di Washington, Center for Climate and Security, Rabu (14/9/2016).

Pernyataan tersebut ditandatangani oleh puluhan mantan pejabat militer dan keamanan senior, termasuk di antaranya mantan pemimpin Komando Pusat Amerika Serikat, Jenderal (Purnawirawan) Anthony Zinni, dan mantan kepala Komando Pasifik, Laksamana (Purnawirawan) Samuel Locklear.

Mereka mendesak presiden Amerika Serikat membentuk jabatan baru setingkat menteri yang bertanggung jawab mengurusi perubahan iklim dan dampaknya terhadap keamanan nasional.

Dalam sebuah laporan terpisah oleh sejumlah pensiunan pejabat militer, pada hari yang sama, cuaca ekstrim yang semakin sering terjadi merupakan ancaman tersendiri bagi fasilitas militer Amerika Serikat di daerah garis pantai.

“Hubungan yang rumit antara kenaikan permukaan air laut, badai, dan kesiapan global harus diteliti lebih jauh oleh berbagai lembaga lintas departemen, dari tingkat operasional hingga ke level strategis,” kata laporan tersebut.

Pada awal tahun, laporan lain menunjukkan percepatan kenaikan permukaan air sepanjang paruh kedua abad ini akan menimbulkan banjir harian di sejumlah instalasi militer Amerika Serikat.

Francesco Fermia, pendiri dan presiden lembaga Center for Climate and Security, mengatakan bahwa laporan-laporan tersebut menunjukkan semua pihak di kalangan militer telah bersepakat lambatnya peran pemerintah dalam merespon perubahan iklim.

Banyaknya mantan pejabat militer dan keamanan yang menandatangani laporan tersebut juga akan meningkatkan tekanan bagi pemerintah Amerika Serikat untuk mendedikasikan lebih banyak tenaga demi memerangi perubahan iklim.

Perubahan iklim hingga kini belum menjadi prioritas utama dalam kampanye calon-calon presiden Amerika Serikat yang lebih lebih mengutamakan persoalan ekonomi, perdagangan, dan politik luar negeri.

Kandidat presiden dari Partai Republik Donald Trump bahkan menyatakan bahwa pemanasan global adalah sebuah konsep “yang diciptakan oleh dan untuk China” demi menghancurkan dunia usaha di Amerika Serikat.

Sementara itu kandidat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, mengusulkan perubahan menuju sumber energi terbarukan sampai 50 persen pada 2030. Dia juga menjanjikan pengetatan regulasi bagi penambangan minyak yang tidak ramah lingkungan (“fracking”).(*)

Editor : Zely Ariane
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Perubahan Iklim Mengancam Militer AS