Venezuela Harus Revitalisasi Gerakan Non-Blok (GNB) Hadapi AS

share on:
Logo KTT Gerakan Non-Blok ke-17 di Kepulauan Margarita, Venezuela
Logo KTT Gerakan Non-Blok ke-17 di Kepulauan Margarita, Venezuela – IST

Caracas, Jubi – Kolumnis Amerika Latin, Fernando Buen Abad berharap Venezuela dapat merevitalisasi Gerakan Non-Blok (GNB) agar dapat berperan membangun tatanan ekonomi dunia baru, terlebih dalam hal komunikasi dan informasi.

Buen menyatakan hal tersebut menyambut pembukaan Pertemuan Puncak ke-17 GNB, Selasa (13/9) di Kepulauan Margarita, Venezuela. Venezuela akan memimpin GNB selama tiga tahun ke depan.

GNB merupakan kelompok yang terdiri dari 120 negara bangsa yang tidak secara formal terbentuk atas dasar kesamaan tujuan melawan imperialisme, kolonialisme dan penindasan.

Venezuela, menurut  Abad, berada pada posisi untuk mendorong “konsensus dari negara-negara yang menuntut agar suara mereka didengar di kancah global”, kata Abad, yang dilahirkan di Meksiko dan menetap di Argentina itu.

“Revitalisasi GNB berarti meletakkan sekali lagi tata ekonomi baru dunia ke dalam agenda, serta khususnya mengajukan tata dunia baru dalam hal komunikasi dan informasi,” ujar Ahad.

Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok ini akan mengambil tema “Bersatu di Jalan Perdamaian,” yang ditegaskan oleh Venezuela melalui pesan “kita bisa memiliki dunia dimana satu negara tidak menguasai (yang lain),” dalam rangka menjaga prinsip dasar GNB, demikian menurut kolomnis itu.

Selama KTT, para delegasi antara lain akan mendiskusikan liputan media pro imperialis yang bias oleh konglomerat media Barat.

Persoalan ekonomi dan media dunia dikatakan “telah membuat sakit kepala banyak manusia dunia dan telah menjadi ancaman sangat serius terhadap demokrasi dan pembangunan negeri-negeri secara menyeluruh.

Jurnalis dan pengamat politik Iran, Rasoul Goudarzi meyakini GNB, yang lahir dari kebutuhan persatuan menghadapi dominasi dan agresi AS, memiliki potensi untuk membuat perbedaan di media dunia.

“Pendirian GNB dikatakan memiliki sisi masa depan, namun dalam kenyataan ia masih di level kata-kata, karena mayoritas negara anggota tidak punya landasan ekonomi dan politik yang kuat,” ujar Goudarzi.

Dia juga menyarankan Venezuela dapat bekerja mencegah negeri-negeri lain jadi sasaran destabilitasi oleh taktik-taktik serupa yang sering dilakukan, seperti “perang ekonomi” yang dikobarkan melawan pemerintah sosialis oleh oposisi sayap kanan.

“Venezuela dapat gambarkan apa yang terjadi pada mereka, di satu sisi oleh ulah dan tangan-tangan AS, di sisi lain oleh tangan oposisi, sehingga negeri-negeri lain dapat belajar jika mereka tidak mengambil sikap tegas pada AS, mereka akan hadapi masalah,” ujar Goudarzi.

Jurnalis Brazil, Beto Almeida juga setuju bahwa Venezuela selama ini jadi target “rencana destabilitasi imperialis” terhadap pemerintahannya. “Venezuela seharusnya mengambil manfaat dari posisinya sebagai kepala Gerakan Non-Blok saat ini,” ujarnya.

Melalui GNB, lanjutnya, Venezuela “akan memiliki kesempatan meluaskan suaranya ke tingkat global” atas posisinya yang hendak mempertahankan hak penentuan nasib sendiri dan kerja-kerja mempromosikan persatuan lebih luas di kalangan negara-negara anggota.

Kuba, negara anggota GNB lainnya baru-baru ini mengatakan pihaknya merasa yakin bahwa KTT kali ini  dapat merevatilisasi gerakan itu menemukan strategi baru terhadap kerjasama Selatan-Selatan dan pembangunan berkelanjutan.

“Prinsip-prinsip GNB terbukti penting… dan semakin valid berhadapan dengan dunia yang makin menantang dan kompleks saat ini,” ujar Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez dalam sebuah konferensi pers baru-baru ini di Havana.

Rodriguez mengatakan GNB harus fokus pada ketimpangan yang disebabkanoleh globalisasi dan dampak kebijakan ekonomi neoliberal yang tidak adil terhadap jutaan rakyat dunia yang semakin dimiskinkan setiap tahun.(*)

Editor : Zely Ariane
Sumber : Xinhua/Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Venezuela Harus Revitalisasi Gerakan Non-Blok (GNB) Hadapi AS