Sayur Lilin, Makanan Khas yang Mulai Sepi Pembeli

share on:
Mama Mince menjual sayur lilin di Pasar Baru Youtefa. – Jubi/ Agus Pabika
Mama Mince menjual sayur lilin di Pasar Baru Youtefa. – Jubi/ Agus Pabika

Jayapura, Jubi – Sayur lilin merupakan makanan lokal masyarakat Papua yang dijadikan santapan lauk. Namun kini mulai jarang ditemui di pasar-pasar regional. Salah satu di Pasar Baru Youtefa Abepura, sedikit mama-mama papua menjual sayur lilin.

 

Seorang penjual sayur lilin di Youtefa, Mama Mince Tabuni mengaku sering menjual sayur lilin meski sepi pembeli. Bahkan terkadang dagangannya tidak laku.

 

“Saya sering jual sayur lilin di pasar sini, tapi jarang ada pembeli, ada juga tapi sedikit yang laku.” kata Mince saat ditemui berjualan, Sabtu (18/9/2016).

 

Ia tidak tahu penyebab orang tidak membeli sayur lilin. Setahunya sayur lilin merupakan makanan lokal yang dikonsumsi masyarakat Papua dulu, terlebih di daerah pegunungan.

 

“Saya berjualan pagi hari dan sore hari di sini dengan membawa jualan lain seperti pisang, pinang, keladi, dan petatas,” katanya.

 

Mama Mince mengaku setiap pagi harus naik taksi dari Koya ke pasar Youtefa untuk berjualan. Sayur lilin yang dijualnya merupakan tanaman di pingir halamannya di Koya.

 

“Kalau musim panen baru saya bawa ke pasar, kalau yang tidak laku saya titip di pasar untuk dijual esok hari,” kata ibu dua anak ini.

 

Harga per tumpuk atau ikat Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Setiap hari dari hasil sayur lilin bisa ia dapatkan Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.”

 

Penjual sayur lilin lainnya, Lena, juga mengaku yang membeli sayur lilis selalu sepi. Ia menduga makanan lokal khas Papua tersebut tidak diketahui banyak orang, tapi hanya kalangan tertentu.

 

“Mereka mungkin sudah melupakan makanan lokal kita, mungkin orang tua mereka tidak pernah mengajarkan makanan-makanan lokal Papua seperti sayur lilin ini,” katanya.(*)

Editor : Syofiardi
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sayur Lilin, Makanan Khas yang Mulai Sepi Pembeli