The Wahid Foundation Gelar Workshop Jaminan Kemerdekaan Beragama

share on:
Foto bersama antara pemateri dan peserta usai diskusi di salah satu hotel di Kota Jayapura, Sabtu (17/09/2016) - Jubi/Abeth You
Foto bersama antara pemateri dan peserta usai diskusi di salah satu hotel di Kota Jayapura, Sabtu (17/9/2016) – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Guna mendengarkan dan memperoleh masukan khususnya dari berbagai eleman pemerintah, tokoh agama juga aktivis yang selama ini bergerak di toleransi dan perdamaian keagamaan.

The Wahid Foundation melakukan workshop bertema Diseminasi dan Forum Konsultasi Jaminan Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan di salah satu hotel di Jayapura akhir pekan kemarin.

Program Manager The Wahid Foundatin, Alamsyah M Dja’far mengatakan, pihaknya menggelar kegiatan karena Papua menjadi salah satu wilayah yang paling penting untuk mendapat masukan. Apalagi kata dia dalam beberapa kasus yang sering dihadapi masalah-masalah intoleransi dan pelanggaran keagamaan, seperti kasus Tolikara dan beberapa kasus yang lain.

“Diskusi ini sangat penting, karena bagi kami bisa mendapatkan banyak masukan isu. Misalnya pendirian rumah ibadah, mengatasi masalah-masalah kebenciaan dan lain-lain,” kata Alamsyah M Dja’far.

Menurut Alamsyah, salah satu yang dibicarakan di dalam diskusi ini adalah registrasi agama dan pendirian rumah ibadah. “Itulah yang kami diskusikan. Misalnya, apakah sudah betul bahwa untuk masyarakat beragama dan berkeyakinan bisa melaksanakan haknya sebagai umat itu perlu diregstrasi,” ujarnya.

“Begitu juga dengan pendirian rumah ibadah. Jika di Jawa ada pendirian gereja maka mungkin di Papua ada beberapa kasus-kasus terkait dengan masih adanya terkait mendirikan Masjid. Nah, ini bagaimana sebetulnya kita bisa megatasi masalah ini sehingga ke depan masalah-masalah ini kita bisa atasi,”ungkapnya.

Hasil dari pertemuan itu, katanya, akan dibawa ke Jakarta dan bisa berbicara  lebih luas dalam konteks nasional. Sebab, diskusi tersebut bukan yang pertama di Indonesia.

“Tapi, sebetulnya kami sudah lakukan di empat wilayah yang lain seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Manado serta terkahir di Jayapura,”katanya.

Sementara itu, Direktur Papua Peace and Development Action (PaPeDA) Institute, Ridwwan Al-Maassary mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk melihat kembali salah satu naskah buku yang disiapkan oleh Wahid Foundation untuk menjadi rujukan dalam penyusunan perlindungan umat beragama.

“Di Papua ini ada tiga hal yang diangkat, masing-masing pembangunan rumah ibadah, siar kebencian dan registrasi agama,” ujar Ridwan Al-Makassary staf khusus FKUB Papua ini.

Dikatakan kalau dilihat persoalan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) di Papua harus dari perspektif yang lebih luas. Karena persoalan KBB bisanya bersifat Jawa sentries. “Dalam arti yang sering mengalami diskriminasi adalah kelompok minoritas, kemudian menghayat kepercayaan,”katanya.

“Sementara di Papua yang sering mengalami diskriminasi terutama kaum Muslim. Mereka tidak bisa menjalankan ritualnya dengan menggunakan busana Muslimah dan lainnya. Jadi, apa yang terjadi di Jawa itu bisa direplikasi di Papua. Kita harapkan ke depan sebenarnya bisa melindungi pihak manapun, baik umat Islam yang ada di Papua maupun umat krsiten yang ada di Papua dan Jawa,”katanya.(*)

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  The Wahid Foundation Gelar Workshop Jaminan Kemerdekaan Beragama