Mengubah Pendekatan Ke Papua, Publik Indonesia Harus Lebih Dulu Berubah

share on:
Aksi solidaritas Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) Yogyakarta di sidang Obby Kogoya - IST
Aksi solidaritas Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) Yogyakarta di sidang Obby Kogoya – IST

Jayapura, Jubi – Sudut pandang orang Papua menganggap publik Indonesia selama ini mendukung rezim Indonesia yang sudah 50 tahun menjajah Papua.

Hal itu dikemukakan Pendeta Benny Giay, Ketua Sinode Gereja Kingmi, ketika membicarakan perkembangan pendekatan Jakarta terhadap Papua, Minggu (18/9/2016) melalui pembicaraan telpon kepada Jubi.

“Publik indonesia mendukung rezim Indonesia yang sudah 50 tahun menjajah Papua. Ini saya pertegas istilah penjajahan. Kalau saat ini orang Papua mau merdeka, itu berarti sudah terjadi penjajahan. Sekurang-kurangnya dari sudut pandang orang Papua,” ujar Pdt Giay.

Dia melanjutkan, barangkali orang Indonesia tidak berpikir menjajah, melainkan hanya kebijakan saja yang buruk, “tetapi di dalam sejarah juga Belanda tidak pikir sedang jajah Indonesia selama 350 tahun,” kata Giay yang berharap pasca 50 tahun Papua ada di dalam Indonesia, seharusnya Indonesia bisa berkaca diri karena 50 tahun lalu dan mendatang dinamika generasi akan jauh berbeda.

Benny Giay melihat selama ini orang Papua sebenarnya tidak dianggap sebagai warga negara. “Kalau Indonesia  anggap Papua warga negara maka pendekatan harus sipil, kurangi tentara, tapi ini pengiriman tentara, brimob, tetap luar biasa,” ujarnya dengan nada kesal.

Dia mengatakan pihaknya di gereja hampir setiap hari menerima SMS berita kematian karena kekerasan, tabrakan dan pembunuhan.

“Kekerasan tiap hari. Saya kira ini sesuatu yang sistematis dalam menghadapi yang terjadi di Pasifik. Pendekatan tabrak lari luar biasa. Kami sebagai pimpinan gereja ini setiap hari sms masuk orang mati dibunuh, tabrak, kita belum beranjak, Papua masih di bawah pemerintahan Orba,” tegas Giay.

Giay menganggap pemerintah Jokowi dan juga Menkopolhukam Wiranto mengetahui bahwa pihaknya sedang disoroti.  “Mereka tidak bayangkan isu Papua akan go internasional seperti ini di Pasifik. Tetapi dengan begitu mereka malah tetap otoriter, padahal seharusnya dengan adanya gerakan di Pasifik Indonesia harus lebih dialogis, tidak represif,” ujarnya.

Aksi solidaritas mahasiswa Makassar untuk Papua - IST
Aksi solidaritas mahasiswa Makassar untuk Papua – IST

Giay menekankan pendekatan lama pemerintah ini yang tetap militeristik dalam pembangunan. “Beberapa tahun terakhir Jokowi mengandalkan militer membangun jalan di Wamena-Nduga, misalnya, pendekatan yang masih represif walau ada keterbukaan sedikit tetapi tidak cukup bermakna,” kata Giay

Bahkan Ferry Marisan, seperti diungkapkannya pada Jubi (18/9), menuding bahwa pemerintah Indonesia melakukan operasi khusus terkait kematian yang makin cepat di Papua. “Pemerintah saya pikir sedang melaksanakan operasi-operasi militer khusus, tidak saja kepada kelompok-kelompok KNPB juga orang Papua. Saya rasa operasi-operasi ini dilakukan karena situasi dukungan (Pasifik) itu.

Atas situasi tersebut, Benny Giay meyakinkan bahwa semua orang Papua menjadi dibuat tidak punya pilihan. “Saya kira ini bentuk-bentuk pendekatan terhadap Papua yang tentara gunakan untuk berkuasa sesuai seleranya . Kami tidak diberi pilihan selain membenci dan melawan,” ujar dia.

Giay berharap  generasi sekarang agar menyikapi Papua tidak dengan cara-cara pemerintah Indonesia yang otioriter. “Sekarang ini generasi muda harus paham dan terima lebih terbuka dengan kepala dingin, mendengar, karena saya kira mereka akan memasuki generasi yang lebih global dan tanpa beban.(*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Mengubah Pendekatan Ke Papua, Publik Indonesia Harus Lebih Dulu Berubah