ICAKAP Agendakan Pembangunan Universitas Katolik di Papua

share on:

Suasana Kongres II Ikatan Cendikiawan Katolik Papua (ICAKAP) di Kotaraja, Distrik Abepura - Jubi/Alfonsa Wayap
Suasana Kongres II Ikatan Cendikiawan Katolik Papua (ICAKAP) di Kotaraja, Distrik Abepura – Jubi/Alfonsa Wayap
Jayapura, Jubi – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Cendikiawan Awam Katolik Papua (ICAKAP) menggelar Kongres II di Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura, 15 – 18 September 2016.

Mengusulkan pembangunan Universitas Katolik di Papua merupakan salah satu dari sejumlah agenda yang dibahas dalam kegiatan yang dihadiri sekira 200 peserta dari beberapa kabupaten, seperti Kabupaten Jayawijaya, Keerom, Asmat, Merauke, Sorong, Intan Jaya, Nabire dan Jayapura ini.

Universitas Katolik di Papua dianggap perlu untuk mendidik intelektual-intelektual Katolik yang andal dan beretika. Beberapa tahun terakhir sejumlah mahasiswa Papua juga mendesak agar Universitas Katolik hadir di Tanah Papua.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristianto, yang hadir sebagai pemateri mengatakan ICAKAP harus dapat menjadi obor penerang yang mendorong pembangunan berlandaskan budaya, mencerminkan bahasa rakyat dengan menggunakan mata hati untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

“ICAKAP diharapkan menjadi pemimpin intelektual yang bertransformasi dengan ekosob (ekonomi, sosial, budaya) di tengah masyarakat Papua,” kata Hasto.

Ketua Kerasulan Awam (Kerawan) Keuskupan Jayapura Pastor Yulianus Bidau Mote mengatakan ICAKAP dipanggil untuk meluruskan ajaran Gereja yang “miring” melalui bergabung dalam struktur gereja.

Menurut dia peran Gereja Katolik di tengah dunia dilandasi tiga hal penting, yaitu pengakuan iman Katolik, tradisi dan ajaran Bapa Gereja.

“ICAKAP dipanggil untuk masuk ke dalam semua lini—sosial-politik sebagai bagian dari karya gereja. Bagi yang terlibat di dunia politik, bangunlah nilai politik yang benar,” katanya.

Ia pun meminta ICAKAP berperan aktif dalam berbagai aksi nyata yang didasari pengakuan iman Katolik.

Mantan Ketua ICAKAP Apolos Safanpo mengatakan organisasi cendikiawan Katolik ini terus melakukan komunikasi dan konsolidasi di lima keuskupan di Tanah Papua, seperti Keuskupan Jayapura, Timika, Agats, Manokwari-Sorong dan Keuskupan Agung Merauke guna mewujudkan tema kongres ini.

“Peran ICAKAP dalam pembangunan di Tanah Papua demi mewujudkan Pro Ecclecia Et Partria dan Bonum Commune (untuk gereja dan bangsa dan demi kebaikan bersama),” katanya menyebutkan tema Kongres II ICAKAP.

Ketua ICAKAP periode 2016 – 2020, Vincensius Lokobal mengatakan dirinya tak bisa bekerja sendirian.

“Mohon dukungan semua senior dan pengurus lainnya, nanti bersama-sama menjalankan roda ICAKAP kedepan,” kata Vinsensius.

Kongres ini diakhiri dengan perayaan ekaristi, Minggu (18/9/2016) yang dipimpin oleh Pastor Jhon Bunai, Pr.

“Jadilah orang-orang yang bisa menganalisa sesuatu, merumuskan, merencanakan dan melaksanakan untuk kepentingan bersama. Menjadi rasul Kristus di seluruh tanah Papua,” kata Pastor Jhon.

Ia juga meminta agar ICAKAP tidak hanya berpikir dan berbicara, tetapi juga mengkaji berbagai aspek ekosob. Kemudian menjadi bahan kajian bersama yang mesti diretas bersama pula.

“Jika ICAKAP hanya mengandalkan kepintaran semata, adalah kebodohan bagi Allah. Menomorduakan kepintaran, selalu rendah hati, berpalinglah pada Sabada Allah yang menjadi terang bagi Tanah Papua, bangsa dan Negara,” kata Pater Jhon. (Alfonsa Wayap)

Editor : Timoteus Marten
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  ICAKAP Agendakan Pembangunan Universitas Katolik di Papua