Sidang PR III Uncen, Warga Ancam Palang Kampus

share on:
Tampak PR III Uncen, Fredrik Sokoy didampingi Kuasa Hukum, Gustaf R. Kawer sedang menyaksikan teriakan mama-mama Papua agar sang dosen Uncen itu segera dibebaskan, Selasa, (20/09/2016) - Jubi/Abeth You
Tampak PR III Uncen, Fredrik Sokoy didampingi Kuasa Hukum, Gustaf R. Kawer sedang menyaksikan teriakan mama-mama Papua agar sang dosen Uncen itu segera dibebaskan, Selasa, (20/9/2016) – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi –Apabila persidangan kasus tindak pidana korupsi (Tipikor) Pembantu Rektor III Universitas Cenderawasih(Uncen) di ulur atau ditunda mendapat protes masyarakat  Tabi khususnya pemuda, mahasiswa dan mama-mama Papua. Warga ancam palang kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura dan meminta agar segera dibebaskan PR III , Fredrik Sokoy.

Mama Ricka,  yang hadir di kantor Pengadilan Negeri Klas IA Abepura, Jayapura, Selasa (20/9/2016) mengatakan, yang seharusnya dihukum adalah tenaga honorer, yakni Herawati yang telah diduga melakukan  pemalsuan tanda tangan..

“Jaksa Penuntut Umum dan Hakim harus tahu, siapa sebenarnya yang harus dihukum. Pak Fredrik Sokoy dimanfaatkan oleh pihak ketiga melalui Herawati. Herwati harus dihukum. Apa salah dari Fredrik Sokoy,” kata mama Ricka.

Menurutnya, jika kasus ini terus diperpanjang tanpa alasan yang jelas, maka pihaknya sebagai pemilik hak ulayat siap memalang kampus Uncen. “Kami yakin ada juga permainan dari lembaga Uncen,” katanya.

Salah satu mahasiswa Uncen, Alvares yang turut hadir menduga ada permainan yang sengaja dimainkan untuk mematikan karakter pejabat asli Papua di perguruan tinggi negeri tersebut.

Penasehat Hukum dari Fredrik Sokoy, Gustaf R. Kawer mengungkapkan, kasus yang dituduhkan kepada Fredrik Sokoy berkaitan dengan dugaan Tipikor bersama-sama melakukan penipuan dan penggelapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP atau Kedua Pasal 372 KUHP Jo.55 ayat (1) Ke-1 KUHP, yang sebenarnya tidak dilakukan yang bersangkutan.

“Kasus ini lebih pada ulah penipuan dan pemalsuan dokumen yang dilakukan oleh pelaku atas nama saudari Herawati (oknum pegawai honorer FISIP Uncen) dengan  mencatut nama dan memalsukan tanda tangan beberapa pimpinan di lingkungan kampus Uncen antara lain mantan Rektor Uncen, Prof.Karel Sesa (Alm), Pembantu Rektor II Uncen, Marthinus Salossa, Kepala Biro BAUK, Max Kareth, Kepala Sub. Bagian Pelayanan Kesejahteraan Mahasiswa atas nama Ibu Selviana Kambuaya, termasuk Pembantu Rektor III,” tutur Gustaf R. Kawer.

Dia mengatakan, justru sebaliknya Fredrik Sokoy tidak melakukan perbuatan pidana diproses hukum dengan alasan bersama-sama melakukan dugaan penipuan dan penggelapan terhadap korban  Yustina Sri Widayati. (*)

 

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sidang PR III Uncen, Warga Ancam Palang Kampus