MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 270.358 -1.973
  • IDX30 Index 441.991 -2.246
  • Composite Index 5073.068 -30.45
  • PEFINDO25 Listed 468.426 -7.535
  • SMI Infrastructur 363.122 -1.398
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4483.715 +30.923
  • Nikkei 225 15291.64 +152.68
  • FTSE BUR MAL KLCI 1818.86 +8.18
  • Integrated Silico 12.49 -0.06
  • S&P 500 1964.58 +13.76
  • NASDAQ-100 4042.017 +29.749

Maks Kabes : Dua Tahun Magang di Jepang, Pulang ke Jayapura Bikin Bengkel Mobil

Penulis : on November 27, 2012 at 20:36:15 WP
dominggus a mampioper

Maks Kabes, kepercayaan sebagai modal utama membuka bengkel. Ingat pekerjaan jasa membutuhkan pelayanan yang terbaik dan jangan mengecewakan pelanggan..(Jubi/dam)

Jayapura, (27/11)Setelah dua tahun di Jepang (1997-1999) akhrnya pulang ke Jayapura. Selama di Jepang tinggal di Provinsi  Chiba dekat ibukota Jepang, Tokyo.  Tiba di Jayapura semangat untuk membikin bengkel sendiri semakin  mengebu-gebu.  Padahal selama di Jepang bekerja dia bekerja di bagian konstruksi. Tak ada hubungan dengan mengutak atik mesin mobil. Tak soal baginya yang penting pengetahuan montir sudah diperoleh sejak masih SMP  membantu ayahnya bekerja di bengkel keluarga.  Bahkan semangat wiraswasta di Negara Sakura itu begitu kuat membekas dihati kecilnya sehingga membuat dia bertekad  berusaha sendiri secara mandiri.

Itulah Maks Kabes lelaki kelahiran Fakfak empat puluh tahun lalu memulai merintis usaha bengkelnya hingga akhirnya berkembang dan banyak pelanggan yang datang. Bukan hanya orang Papua saja tetapi seluruh warga Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Itu semua karena modal kepercayaan saja

“Kebetulan keahlian saya  mengutak -atik mesin mobil sehingga tak sulit memulai usaha memperbaiki kendaraan beroda empat,”tutur Maks Kabes kepada tabloidjubi di bengkelnya yang letaknya  dekat Graha Joutefa di pinggir jalan Raya SPG Taruna Bhakti Waena, Selasa (27/11).

Bengkel ini diberi nama, Bengkel Rehobot dan tidak menerima pekerjaan kalau Hari Minggu tetapi hari lain tetap dibuka. “Saya tidak akan kerja kalau Hari Minggu karena itu istirahat dan berdoa ke gereja,”katanya.

Menurut lelaki asal Fakfak ini usaha bengkel termasuk menjual jasa sehingga kepercayaan dari para pelanggan harus tetap dijaga agar mereka selalu mau datang memperbaiki kendaraan mereka.”Saya selalu menjaga kepercayaan pelanggan karena itu sebagai modal utama. Pasalnya kalau mereka sudah tidak percaya tentu saya akan kehilangan pelanggan,”tutur Maks Kabes lulusan STM Bangunan.

Soalnya lanjut dia kepercayaan itu sangat penting karena jangan  sengaja atau mempreteli alat-alat kendaraan milik pelanggan nanti akan memberikan pengaruh buruk terutama hilangnya rasa percaya mereka terhadap bengkel. Dia juga mengaku sudah beberapa kali anak-anak dari STM Kotaraja magang di bengkel ini. Dia mengaku selalu mendorong agar anak-anak Papua juga harus punya keberanian untuk membuka bengkel. Jangan hanya mau bekerja untuk orang lain tetapi beranilah untuk berusaha agar mandiri.

“Saya mulai menekuni profesi sebagai montir sejak masih sekolah di STM,”tutur Kabes tamatan STM Kotaraja jurusan bangunan. Aneh memang lanjut dia sebab selama masih sekolah di STM jurusan bangunan dan bukan teknik mesin tetapi justru membuka bengkel sendiri.”Saya bukan jadi tukang bangunan tapi memperbaiki kendaraan alias buka bengkel,”tambah Kabes.

Lebih lanjut urai ayah dari enam anak ini pengalaman bekerja di bengkel dimulai sejak membantu ayahnya di bengkel milik keluarga. “Bahkan saya juga sempat buka bengkel di Fakfak,”tutur Maks Kabes seraya menambahkan  akhirnya kembali lagi ke Jayapura sampai sekarang. Dia juga merasa senang karena kedua anak laki-lakinya akan meneruskan bengkel usaha keluarga ini. Apalagi lanjut dia keduanya pilih jurusan yang tepat  jurusan mesin dan elektro.”Mudah-mudahan keduanya bisa lebih tekun agar usaha bengkel keluarga ini semakin berkembang,”tambah Maks Kabes.

Menanggapi pertanyaan tabloidjubi.com tentang keberangkatannya ke Jepang selama dua  tahun di sana? Menurut Kabes keinginan magang diawali sejak mengikuti training di Balai Latihan Kerja(BLK) milik Dinas Tenaga Kerja Provinsi Papua. “Waktu itu banyak anak-anak termasuk saya tertarik untuk magang kerja di Jepang,”tutur Maks Kabes.

Dia menambahkan banyak pengalaman yang bisa didapat di negara Sakura itu, antara lain bisa mengerti sedikit bahasa Jepang dan memahami etos kerja masyarakat di sana.”Mereka tidak pernah santai dan kalau kerja mereka akan serius bekerja,”kata Kabes yang memperistri perempuan asal Kampung Waena, Mama Hendambo ini.

Dia juga mengaku telah beberapa kali meminta bantuan modal usaha kepada pihak pemerintah Kota Jayapura dan juga Provinsi Papua memang pernah mendapat jawaban tapi kurang sesuai dengan kebutuhan kerja. “Saya pernah menolak bantuan dari Dinas Sosial Kota Jayapura yang memberikan bantuan kompressor,”katanya seraya menambahkan bantuan itu tak sesuai dengan kebutuhan.  Masakan bantuan itu diberikan kepada warga yang ingin membuka pencucian motor. “Saya bilang kepada pemimpin proyek ini tak sesuai sebaiknya dikembalikan saja,”katanya. Dia menerangkan terpaksa mereka dengan berat hati mengambil barang-barang bantuan yang telah diberikan. “Saya selalu berangan-angan suatu saat bengkel ini terus berkembang dan punya mesin bubut sendiri agar mampu mengerjakan semua mobil yang hendak diperbaiki di bengkel saya ini,”katanya.(Jubi/Dominggus A Mampioper)

Minggus

About Dominggus Mampioper

Dominggus Mampioper has written 191 post for tabloidjubi.com.

Pilihan Editor
Back To Top