MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 278.221 -0.076
  • IDX30 Index 455.028 -0.34
  • Composite Index 5149.888 +4.573
  • PEFINDO25 Listed 469.339 -0.25
  • SMI Infrastructur 365.209 -0.193
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4791.63 +4.312
  • Nikkei 225 17459.85 +211.35
  • FTSE BUR MAL KLCI 1820.89 -9.02
  • Integrated Silico 14.47 -0.02
  • S&P 500 2067.56 -5.27
  • NASDAQ-100 4337.785 +19.796

Viktor Kaisiepo Msn: Salah Satu Pejuang Bangsa-bangsa Pribumi di PBB

Penulis : on January 3, 2013 at 15:03:13 WP
dominggus a mampioper

Anggota Land is Life dalam demonstrasi di Cancun, Meksiko, 7 Desember 2010 membawa foto alm.Viktor Kaisiepo (1948-2010) karena selama hidupnya banyak bekerja sama dengan organisasi ini.(Jubi/ist)

Jayapura, (3/1)Dua tahun lalu tepatnya,  7 Desember 2010, pada pertemuan puncak iklim di Cancun, Meksiko, organisasi Land is Life berpartisipasi dalam satu demonstrasi yang dihadiri sekitar delapan ribu orang. Selama hidupnya Viktor Kaisiepo banyek bekerja sama dengan organisasi ini. Anggota Land is Life merasa bahwa Viktor hadir di tengah mereka dengan kekuatan rohnya, dan mereka menggotong satu foto besar Viktor Kaisiepo  (1948-2010).

Mendiang Viktor Kaisiepo adalah salah satu putra tokoh Papua, alm Markus Kaisiepo yang pernah menulis surat untuk mengusulkan nama Papua diganti dengan nama Irian yang artinya tanah Panas. Putera ke enam dari pasangan Markus Kaisiepo dan Mientje Mandowen ini dilahirkan di Kampung  Korido, 14 September 1948,  sangat dikenal sebagai pejuang hak-hak bangsa pribumi dan bekerja bagi bangsa pribumi di Filipina, Amerika dan juga aktivis lingkungan bagi warga di Pasifik Selatan menentang percobaan nuklir di wilayah Pasifik.

Tabloidjubi.com pertama kali bertemu dengannya saat memberikan penjelasan tentang hak-hak ekonomi, sosial dan budaya ( Ekosob)  di PBB pada salah satu Hotel Berbintang di Kota Timika pada 2000 atau 12 tahun lalu. “Inilah peluang untuk kita menginjakan satu kaki di PBB,”katanya melalui hak-hak Ekosob dan bangsa-bangsa Pribumi.  Orangnya sangat enerjik jika berbicara mengenai hak-hak dasar pendidikan dan juga ekonomi serta kebutuhan dasar bagi masyarakat adat Papua.

“Anda, sebagai anggota suatu bangsa pribumi, ingin dapat berburu, mengumpulkan, mencari ikan. Kalau anda mau menghormati pola yang sudah berabad-abad itu, maka negara harus menghormatinya,”kata Viktor Kaisipo dalam bukunya berjudul Satu Perspektif untuk Papua, dicatat oleh Willem Camschreur.

Dia menambahkan kalau negara meniadakan hak-hak anda dan mengambil tanah anda, sehingga anda tidak dapat melanjutkan kehidupan tradisional, maka anda dapat merenggut paksa hak-hak anda dari penguasa-penguasa baru anda. “Belum begitu lama di Amerika semboyan kolonial adalah no better indian than a dead indian. Dari posisi itu orang-orang Indian mulai balik menghantam, “ungkapnya seraya menambahkan bagi warga Indian hal itu sudah menyangkut tempat-tempat suci mereka, di mana para leluhur mereka dimakamkan, dan tanah dari mana mereka dapat hidup dan mencari, sesuai dengan cara hidup mereka.

Negara tidak boleh mengganggu tanah itu lanjut Kaisiepo  dan tidak boleh mendudukinya tetapi kemudian ternyata di dalam tanah-tanah orang Indian itu tersembunyi  emas, perak dan urainium. “Akan tetapi persoalan bukan berawal dari situ,”kata Kasisiepo

Situasi ini kata dia dapat dibandingkan pula dengan kondisi di tanah Papua di mana terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang juga terusir dari tanah-tanah mereka dan sarana kehidupan mereka dibinasakan untuk membuka tambang-tambang bagi penghasilan yang masuk ke dalam kas negara.

Yang memikat bagi Kaisiepo dalam diskusi soal bangsa-bangsa pribumi adalah, cara bagaimana orang berbicara tentang waktu.”Colombus menemukan benua Amerika tahun 1492,”kata mereka. Dan mereka menegaskan, “kami sudah lima ratus tahun sibuk.” Secara moril pernyataan bangsa pribumi Indian memberi dampak besar bagi Viktor Kaisiepo. Persoalannya adalah bukan seluruh sejarah harus diputar kembali dan semua orang yang pergi meninggalkan tanahnya harus kembali. Akar masalahnya adalah pengakuan terhadap keberadaanmu, bangsamu, tanahmu, hak mu untuk ada di sini, seperti kehendak anda.

Tidak seorang pun dapat membuat undang-undang lain, yang menggilas undang-undang mu. Lima orang kepala suku Indian pada 1977 di Amerika mulai melobi PBB untuk menempatkan masalah pribumi  menjadi agenda di PBB. Barulah 30 tahun kemudian, 2007 dideklarasi pengumuman mengenai hak-hak bangsa pribumi diterima.

Kisah perjalanan Viktor Kaisiepo telah ditulis kembali oleh Willem Camshreur yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul, Satu Perspektif untuk Papua : Cerita Kehidupan dan Perjuanganku. 

Yang menarik dari Viktor Kaisiepo adalah berjuang untuk  mencari berbagai jalan guna  memenuhi hak hak bagi bangsa Papua. (Jubi/Dominggus A Mampioper)

Minggus

About Dominggus Mampioper

Dominggus Mampioper has written 204 post for tabloidjubi.com.

West Papua Daily
Pilihan Editor
Back To Top