MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 271.969 +2.407
  • IDX30 Index 441.67 +4.248
  • Composite Index 5074.323 +44.979
  • PEFINDO25 Listed 467.25 +6.914
  • SMI Infrastructur 362.57 +3.363
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4382.847 -36.632
  • Nikkei 225 15195.77 +391.489
  • FTSE BUR MAL KLCI 1796.22 -6.92
  • Integrated Silico 12.25 -0.18
  • S&P 500 1927.11 -14.17
  • NASDAQ-100 3949.587 -21.805

Kostum Persipura dari Burung Cenderawasih ke Merah – Hitam

Penulis : on January 16, 2013 at 20:34:19 WP
dominggus a mampioper

Timo Kapisa, pencetak satu gol saat Persipura Plus atau Irian Jaya Selection Melawan Klub Hitachi, di Stadion Senayan, 23 Maret 1973. Sejak itu Persipura mulai mengenakan kostum Merah Hitam sampai sekarang(Jubi/ist)

Jayapura, (16/1)Semula kostum Persipura klub kebanggaan masyarakat Papua bercorak burung Cenderawasih. Kaos atau kostum klub Mutiara Hitam berwarna kuning dan celananya warna coklat sedangkan kaos kaki berwarna kuning. Kemudian berubah menjadi Merah Hitam tatkala tim Irian Jaya Selection atau Persipura Plus melawan klub Hitachi dari Jepang.

Begitulah ungkapan mantan bek Persipura era 1970 an Hengki Rumere yang dikutip tabloidjubi.com dari  buku berjudul, Yosim Samba Sepakbola dari Timur, Februari 2010.

Pendapat senada juga dikatakan mantan striker Persipura era 1970 an, Gento Rudolf Rumbino, kostum warna cokelat kuning  corak khas  Burung  Cenderawasih akhirnya diganti dengan warna merah hitam. “ Kostum ini mirip-mirip klub asal Italia, AC Milan,”katanya kepada tabloidjubi.com saat berkunjung ke Panti Jompo  Palomo di Sentani, Kabupaten Jayapura. Mantan pemain Persipura era 1970 an ini menjadi penghuni Panti Jompo sejak 2008.

Dia mengakui kalau kostum Persipura mulai berubah menjadi warna merah hitam ketika mendiang Acub Zainal menjadi Gubernur Irian Jaya pada 1973. “Waktu itu kita usulkan dan Acub Zainal sangat setuju,”kata Gento Rumainum seraya menirukan  pernyataan mendiang Gubernur  Irian Jaya Acub Zainal kalau warna Merah artinya berani dan Hitam artinya hancurkan.

Lalu sejak kapan kostum ini mulai digunakan?  Gento Rumbino dan Benny Jensenem menyatakan kostum kebanggaan merah hitam ini mulai dikenalkan saat tim Irian Jaya Selection bermain melawan klub  asal Jepang, Hitachi. Majalah Tempo edisi 23 Maret, 1973 pernah memuat artikel berjudul Irian Jaya Lawan Hitachi Jepang.

Usai bertemu Presiden Soeharto di Istana Negara, mantan Presiden RI ke dua ini memanggil  para pemain Irian Jaya Selection atau Persipura Plus dengan sebutan Pele-Pele  dari Indonesia.  Padahal gelar Mutiara Hitam sendiri pertama kali diberikan kepada Pele, legenda sepakbola dari Brasil. Hanya Pele dan Persipura yang kini memakai gelar Mutiara Hitam. Bukan kebetulan kalau saat ini Persipura dibesut trio Brasil dan dipimpin coach J F Tiago.

Setelah Persipura atau Mandala Jaya juara Soeharto Cup , 1976, Grup Band The Black Brother membuat syair Persipura Mutiara Hitam. Lagu ini sangat populer memasuki tahun 1977 hingga 1978 di mana saat itu Johanes Auri dan Timo Kapisa mencapai prestasi terbaiknya.

Timo dan Hengki Heipon, Johanes Auri  mengerti bahasa Belanda sehingga saat Wil Coerver menjadi pelatih timnas kedua pemain asal Papua ini selalu menjadi contoh dalam memberikan peragaan sepak bola bagi pemain Timnas Indonesia.

Saat menghadapi klub Hitachi di Stadion Bung Karno, tim Irian Jaya Selection kalah tipis dengan skor tipis 2-1. Trio ujung tombak Irian Jaya Selection atau Persipura Plus masing-masing Timo Kapisa, Niko Patipeme dan Gento Rudolf  Rumbino.  Tertinggal satu gol dan akhirnya Timo Kapisa menyamakan dengan suatu tembakan melambung jarak jauh, namun hasil akhir tetap kalah.

Tim Irian Jaya Selection  atau Persipura Plus selalu merekrut pemain-pemain terbaik dari seluruh tanah Papua. Tak heran kalau Benny jensenem, Koordinator Asosiasi Mantan Pemain  Persipura juga menyebut kalau Persipura adalah etalase etnis  Papua. Karena hampir semua pemain terbaik dari Papua bergabung di klub kebanggaan masyarakat Papua.

Johanes Auri juga membernarkan pendapat Benny Jensenem. “Saya sebelum bermain di Persipura bersama Marthen Jopari memperkuat Perseman Manokwari dan setelah Acub Zainal  Cup bergabung ke  Persipura Jayapura,”katanya.

Auri bersama Timo Kapisa(meninggal di Biak pada 9 Juli 2007), Hengki Heipon (kapten tim); Nico Patipeme, Edi Sabenan(mantan bek tengah Persimer Merauke), Jules Matui membuat Persipura waktu sangat disegani di pelataran sepakbola nasional.

Prestasi Persipura era 1970 an atau awal kebangkitan Persipura dan sepak bola di Irian Jaya tak lepas dari peran mendiang mantan Pangdam XVII Cenderawasih dan Gubernur Irian Jaya Brigjen TNI Acub Zainal.

Saat itu, Acub Zainal tidak hanya memugar stadion Mandala sehingga memiliki tribun. Tidak hanya infrastruktur, ia juga mendatangkan pelatih dari Singapura, Cho Seng Que, untuk mendorong prestasi kesebelasan setempat Persipura Jayapura.
Pelatih asal Singapura ini menggenjot pemain Persipura dan Irian Jaya Selection di Lapangan Mandala. Sangat keras dan disiplin serta mencintai anak-anak Papua. Bahkan Hengki Heipon sempat ikut training menjadi pelatih di Singapura. “Saya sempat berlatih dan ikut bermain di klub Singapura atas jasa baik pelatih asal Singapura itu,”tutur Hengki Heipon .

Acub Zainal membangun dasar sepakbola dengan menghidupkan kompetisi tingkat SD  se Kabupaten Jayapura. Waktu itu Sekolah-sekolah dasar (SD) yang menonjol dari SD YPK Dok VIII, SD YPK Hamadi, SD YPK Paulus, SD Ardipura. Bahkan  SD Kristus Raja Dok V dibantai SD Dok VIII yang diperkuat Stepanus Korwa, Mettu Dwaramury, Johanes Beno  dan kawan-kawan dengan skor telak 12-0.

Lapangan Mandala selesai dipugar pada 1973, berlanjut dengan kompetisi antar Kabupaten yang diikuti pula dengan 9 kesebelasan dari Provinsi Irian Jaya. Di luar dugaan tim Persimer Merauke keluar sebagai juara Acub Zainal setelah difinal menumbangkan Persipura Jayapura yang diperkuat Timo Kapisa, Hengki Heipon dan kawan-kawan. Persimer Merauke dimotori oleh Edy Sabenan dan striker Matius Marisan.

Kini sepak bola di Papua sudah berkembang sangat pesat. Banyak klub asal Papua mulai bangkit Persiram Raja Ampat, Persidafon Dafonsoro, Persiwa Wamena, berlaga di Indonesia Super Liga. Sedangkan Perseman Manokwari  musim ini bergabung di Indonesia Super Liga(IPL).  Bahkan Persekam Kaiman dan Persikimo Yahukimo peserta baru di Divisi Utama, Badan Liga Indonesia(BLI) bergabung bersama Perseru Serui dan PSBS Biak alias Napi Bongkar.

Kendala dana masih tetap menjadi momok bagi pembinaan kemajuan sepakbola di Papua, sebut saja Persiwa didukung oleh enam kabupaten dari Pegunungan. Persidafon berlatih tanpa pelatih dan hanya semangat Eduard Ivakdalam dan kawan-kawan bertahan ikut kompetisi ISL. Begitupula dengan Persiram Raja Ampat.

Beruntung Persipura masih mendapat sokongan dana dari PT Freepor Indonesia musim 2012-2013 karena tim kebanggaan masyarakat Papua ini punya prestasi. Memiliki banyak supporter dan juga punya prestasi delapan besar di Piala AFC 2010-2011 lalu. Konflik PSSI dan KPSI jelas sangat mengganggu pembinaan sepak bola.

Andaikata tak ada kata sepakat di antara pengurus yang mengaku urus sepakbola dan FIFA jatuhkan sangsi. Bagaimana nantinya nasib klub-klub di Indonesia termasuk klub kebanggaan masyarakat Papua, klub berkostum Merah Hitam.(Jubi/Dominggus A Mampioper)

Minggus

About Dominggus Mampioper

Dominggus Mampioper has written 191 post for tabloidjubi.com.

Ajax spinner
Pilihan Editor
Back To Top