MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 275.561 +1.274
  • IDX30 Index 451.31 +1.604
  • Composite Index 5112.045 +18.479
  • PEFINDO25 Listed 465.616 +5.669
  • SMI Infrastructur 363.696 +1.849
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4701.868 +26.156
  • Nikkei 225 17357.51 +56.65
  • FTSE BUR MAL KLCI 1809.13 -13.16
  • Integrated Silico 14.42 +0.22
  • S&P 500 2052.75 +4.03
  • NASDAQ-100 4242.091 +19.429

GURU JADI SASARAN AMUKAN ORANG TUA MURID

Penulis : on January 26, 2013 at 14:38:41 WP
Victor Mambor

Suasana belajar mengajar siswa SD Inpres Yapanani (Jubi/Musa Abubar)

AJI PAPUA

Tim Penulis : Dominggus Mampioper, Musa Abubar dan Opin Tanati

Guru selalu jadi sasaran amukan orang tua siswa-siswi. Amukan itu datang ketika pihak sekolah tidak menaikkan anak yang bersangkutan setelah mengikuti semester. Serangan orang tua murid juga datang ketika di kembalikan alias tidak di terima lantaran tak bisa membaca. Bangunan sekolah juga selalu jadi sasaran amukan.

Siang itu terik, matahari ganas. Panas matahari membakar tubuh namun motor supra berwarna orens itu perlahan membawa saya bersama teman saya menuju SMP Negeri Angkaisera. Jalan masuk SMP sudah beraspal. Melaju dengan pelan tapi pasti. Motor yang membawa kami tiba di depan sekolah. “Selamat siang kaka, mari masuk,” ujar Missael Kandipi, seorang guru di SMP itu menyapa kedatangan kami. “Selamat siang juga, bapak kepala sekolah ada ka tidak,” sambutku.
“Oh beliau ada, kaka dong tunggu di luar dulu. Saya cek beliau dulu baru sampaikan,” kata Missael.

Tak memakan waktu lama Missael keluar dari ruangan sang pimpinannya lalu mengatakan kepala sekolah mempersilahkan masuk. “Mari silahkan duduk. Bagaimana, ada yang bisa saya bantu,” sapa I. Nyoman Warte, kepala SMP Negeri Kainui, Distrik Angkaisera, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Sepertinya, Nyoman mudah diajak bicara. Kami semakin akrab.

Kursi sofa dalam ruangannya memanjakan kami. Ruanganya sedikit mewah. Di belakang kami, terpampang papan white board padat tulisan tentang aktifitas sekolah dan jumlah siswa. Nyoman mulai membuka pembicaraan kami tentang penerimaan siswa di sekolah yang di pimpinnya. Menurutnya, para siswa yang di terima tidak hanya berasal dari Angkaisera. Namun, beberapa daerah pedalaman di kawasan Kepulauan Yapen juga datang mendaftar di SMP Negeri Kainui. Diantaranya, Ambai, Randawaya, Korombobi, dan Wairaromi. Dari sejumlah siswa yang di terima, sebagian diantaranya tak bisa membaca.

Pengalaman siswa tak bisa membaca terjadi setiap tahun. Ditahun-tahun sebelumnya, rata-rata siswa yang di terima, setiap SD yang ada, rata-rata tiga orang tidak bisa membacanya dengan lancar. Bahkan, ada yang sama sekali tidak bisa membaca. “Sejumlah siswa yang kami terima, sebagian besar tidak bisa membaca. Yang tidak bisa baca sama sekali terpaksa kami kembalikan ke orang tuanya. Lainnya, bisa sedikit membaca tetapi tidak lancar, terpaksa kami terima mereka,” ujar Nyoman. Lelaki asal Bali ini menuturkan, tahun 2011 lalu, jumlah siswa yang diterima sebanyak 160 orang. Dari jumlah itu, 25 orang tak bisa membaca.  Namun, mereka di terima dan dilatih secara khusus oleh pihak sekolah. Terkadang sekolah terpaksa meluluskan siswa yang beberapa kali tidak lulus karena bisa membaca.

Empat tenaga guru ditugaskan untuk melatih 25 orang siswa tersebut untuk membaca. Dari pelatihan khusus yang di berikan, 10 orang murid yang bertahan dan mau untuk tetap di latih membaca. Sementara, selisihnya menolak untuk dilatih. “Dari jumlah itu, ada 10 orang siswa yang mau bertahan. Sisa lainnya menolak akhirnya mereka tidak melanjutkan sekolah,” sebut Inyoman Warte. Sepuluh orang siswa ini dilatih tiap hari di sekolah dan di rumah keempat guru yang sudah di tugaskan. Hingga kini puluhan siswa ini masih dilatih. Sementara yang memutuskan untuk tidak dididik jelas putus sekolah. Tak bisa di pungkiri, banyak energi yang di keluarkan hanya untuk mengajar siswa untuk membaca. Guru yang menangani mereka setengah mati. Tetapi, mau bagaimana lagi? Harus dilalui agar siswa-siswi yang tak bisa membaca dapat membaca dengan lancar.

Ternyata, sebagian orang tua yang anaknya memilih keluar dan tak mau lagi melanjutkan studinya banyak menyalahkan guru. “Pihak sekolah selalu disalahkan orang tua murid jika anak mereka di kembalikan,” ungkapnya.

Peristiwa penyerangan dari orang tua siswa selalu terjadi tiap tahun. Mirisnya lagi, para orang tua siswa-siswi SD ini selalu menyalahkan pihak sekolah. Mereka (para orang tua) menilai sekolah yang bertanggung jawab penuh jika anaknya tak bisa membaca. Sekolah juga dinilai bertanggung jawab mendidik, melatih dan mengajarkan mereka (siswa-siswi). “Masing-masing orang tua di sini selalu menilai sekolah bertanggungjawab jika anak mereka tidak bisa membaca. Mereka melimpahkan semua tanggung jawab kepada sekolah,” tuturnya.

Sang kepala sekolah ini mengaku pernah diserang oleh salah satu orang tua murid. Orang tua siswa yang menyerang memegang parang (alat tajam) di tangan. “ Saat itu, warga ini mengayunkan parang yang di bawanya ke arah tubuh saya di depan meja saya sebanyak tiga kali. Dia potong saya, tapi parang itu jatuh terus di depan dia,” katanya mengenang kembali peristiwa yang menimpanya kala itu.

Namun setelah orang tua itu menyerang lalu pergi, dia keluar dengan air mata melangkah ke ruang kelas untuk mengajar. “Jujur saya lakukan itu semua demi anak-anak Papua dan masa depan Papua kedepan,” ujar Nyoman sambil menunjuk tempat di mana dia diserang ketika itu. Lanjut nyoman, usai diserang, orang tua murid yang bersangkutan keluar dari ruangnya lalu menungganggi motor miliknya menuju kota Serui untuk melaporkan kejadian itu ke Dinas Pendidikan dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Yapen. “Setelah masyarakat itu serang saya, dia langsung keluar naik motor pergi ke kota untuk laporkan saya ke Dinas Pendidikan bahwa dia sudah potong saya,” ujarnya.

Guru mata pelajaran fisika ini tetap tabah dengan situasi situasi lantaran sering terjadi. Laporan soal penyerangan itu sampai ke telinga sang Kepala Dinas Pendidikan. Namun, tak ada tindak lanjut. “Terkesan mereka malas tau. Orang dinas tidak ada yang turun ke sekolah untuk telusuri masalah ini,” tuturnya. Penyerangan ini terjadi sejak beberapa tahun lalu.  Kejadian itu terjadi karena sebagian lulusan siswa-siswi dari beberapa SD yang ada di Angkaisera dan sekitarnya tak bisa membaca sehingga dikembalikan ke orang tua. “Kasus ini terjadi karena sebagian siswa yang kami terima di sini tidak bisa baca,” tuturnya.

Sebenarnya, murid SD yang lulus lalu melamar sudah harus membaca. Pasalnya, SMP bukan lagi sekolah yang mendidik dan melatih siswa untuk membaca. Tetapi, karena kondisi demikan, Sekolah Menengah Pertama terpaksa menerapkan tes baca tulis. Puluhan siswa yang tak bisa membaca terpaksa di pisahkan untuk mengeja kembali huruf-huruf bagai masih duduk di bangku sekolah dasar. “Jika para siswa dibiarkan. Ada kemungkinan yang dihadapi,” urainya. SMP Negeri Kainui, dengan terpaksa mengajar dan mengeja kembali huruf-huruf kepada para siswa yang sama sekali tak bisa membaca.

Proses ini memakan waktu lama dan membutuhkan energi prima. Para guru tabah dan pasrah menerima kondisi ini. “Ya, kami terpaksa berusaha ajar membaca kepada para siswa,” tandasnya. Padahal, sebenarnya siswa yang masuk, cepat menyesuaikan diri dengan lanjutan pelajaran yang di dapat dari SD. Selain itu, siap menerima mata pelajaran baru di SMP. Sebab, jika kondisi tak bisa membaca tetap melekat maka mata pelajaran baru yang diterapkan seperti bahasa Inggris sulit dicerna. “Para siswa ini harus membaca. Karena kami guru akan stengah mati mengajarkan pelajaran lain ke mereka,” cetusnya.

Meskipun, berbagai upaya digalakkan namun sebagian siswa yang hendak masuk SMP masih saja tidak bisa lancar membaca dan menulis. Selain itu, siswa kelas III yang hendak diluluskan juga tak bisa membaca. Hal ini membuat sebelum para guru menentukan nasib naik dan tidaknya siwa, lulus dan tidak, pihak sekolah mengudang orang tua untuk menyampaikan kondisi anaknya. Tindakan ini dilakukan untuk meminimalisir agar tidak terjadi konflik. Tetapi masih saja terjadi. Seusai pertemuan dengan guru, ada orang tua siswa yang balik menyerang dan merusak bangunan sekolah. “Kami biasa bicara baik-baik sama orang tua siswa. Tapi, penyerangan masih saja mendera kami guru dan bangunan sekolah,” imbuhnya.

Cerita kami semakin asyik dan menegangkan. Meskipun bangunan sekolah dan para guru selalu menjadi musuh orang tua murid tiap tahun namun Dinas Pendidikan tak mengambil tindakan. Masalah itu, berulang kali di sampaikan ke Dinas Pendidikan. Namun, tak pernah ada kejelasan. Terkesan, dinas yang bertanggung jawab atas tiap sekolah ini lepas tangan. Dana yang di kucurkan Dinas Pendidikan ke sekolah juga tak ada penjelasan secara rinci. Meski demikian, bantuan itu tetap ada. Dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) di berikan. Tapi, dinas menekan agar dana itu di gunakan sesuai dengan aturan yang di tetapkan.

Hembusan angin segar masuk mendinginkan suasana. Terdengar tawa dan keributan para siswa-siswi di luar ruangan. Tetapi, situasi itu sama sekali tak menggu cerita kami. Pria berkulit putih ini terus menceritakan pengelolaan biaya yang digulirkan Dinas Pendidikan ke sekolah yang di pimpinnya. Dia bercerita, sebagian dana yang diberikan, di gunakan untuk mendatangkan 30 unit komputer demi menunjang mata pelajaran komputer yang sudah di tetapkan dalam kurikulum. “Saya melawan orang dinas untuk beli komputer untuk menunjang mata pelajaran komputer. Bagi saya, untuk mata pelajaran ini, tidak mungkin siswa mendapat teori. Selain mendapat teori, para siswa juga harus berhadapan langsung dengan komputer. Tidak mungkin mereka belajar teori tanpa komputer. Kalau begitu, kemungkinan besar siswa yang bersangkutan tidak bisa pegang kelola komputer,” paparnya.

Selanjutnya, dana komite sekolah tidak di pungut. Para siswa menuntut ilmu secara gratis. Biaya yang di berikan pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan dibagi sesuai dengan jumlah yang di tentukan dalam aturan. Masing-masing siswa menerima dan BOS sebesar 580 ribu. rupiah per siswa. Kucuran dana itu di berikan petahap. Tiga bulan sekali barulah dana tersebut dicairkan. Siswa-siswi tak di pungut biaya, alias bebas dari biaya sekolah. Tak hanya siswa, para guru juga dihargai oleh pihak sekolah yakni tiap hari senilai 50 ribu rupiah per-hari. Tetapi, di berikan kepada para guru yang cukup aktif dalam memberikan mata pelajaran. I.Nyoman tak menyebutkan dana yang dicairkan.

Ditengah cerita kami, rekan saya, Aston Situmorang berdiri mengambil gambar papan jumlah guru dan siswa serta kegiatan-kegiatan sekolah yang terpampang di belakang tempat duduk kami. Pemimpin sekolah yang mengadi sejak tahun 2004 ini melanjutkan ceritanya soal jumlah siswa dan tenaga guru yang ada di sekolah yang di pimpinnya. Jumlah seluruh guru yang bertugas di sekolahnya sebanyak 22 orang. Enam diantaranya guru honor. Selanjutnya, keseluruhan siswa yang menimba ilmu di SMP Negeri Kainui sebanyak 458 siswa. Terakait peralatan penunjang di sekolah, Nyoman mengaku sekolah yang di pimpinnya lengkap. Ada ruang laboratorium komputer. Sejumlah buku mata pelajaran bantuan dari pemerintah juga lengkap. Alat peraga dan fasilitas pendukung lainnya lengkap.

Amukan orang tua tak hanya terjadi terhadap para guru dan kepala sekolah di SMP. Tetapi, para guru di SD juga mengalami hal yang serupa. Tarim Jamaludin, guru SD Inpres Yapanani mengatakan, orang tua siswa sering komplen dan marah ketika anaknya tidak naik kelas karena tidak bisa membaca. Orang tua siswa kadang menyerang guru dan merusak sekolah. “Kami biasanya jadi sasaran amukan orang tua karena anaknya tidak naik kelas. Kadang mereka kejar kami dengan parang (alat tajam) dan sebagainya. Meski demikian, kami tetap tabah menerima kondisi ini,” ungkapnya.

Serangan orang tua murid juga dilakukan saat anaknya tak di luluskan lantaran tak bisa membaca dan menulis. “Amukan itu datang dari orang tua siswa kalau anaknya tidak naik kelas. Tapi, juga tidak di luluskan,” jelasnya. Untuk mengantisipasi amukan ini, biasanya pihak sekolah sebelum menahan anak yang bersangkutan atau belum menentukan anak yang bersangkutan, orang tua dari anak itu dipanggil dan diberitahukan lebih awal agar tidak berontak. “Kami biasa panggil orang tua dari anak yang tidak bisa baca ini lalu memberitahukan kondisi anaknya ke mereka. Saya biasa kontan, ibu dan bapa kami mau naikan anak kalian tapi tidak bisa baca. Begitu juga dengan hendak lulus. Kalau mereka di luluskan bagaimana,” urai Jamaludin.

Dari penjelasan yang diberikan bertujuan meredam amarah orang tua murid. Tapi, tak selamanya di maklumi. Terkadang ada orang tua siswa balik protes dan menyerang usai mendengar kejelasan dari para guru. Disayangkan, kondisi siswa tak bisa membaca ini juga terjadi di SMK Negeri 1 Kainui.  Sadar Parlindungan Saragih, guru budidaya ikan air tawar di SMK Negeri 1 Kaiuni mengaku, sekolahnya juga pernah diserang oleh para orang tua lantaran sebagian siswa dikembalikan ke orang tuanya. Tak hanya itu, bangunan sekolah juga ikut menjadi sasaran amukan orang tua siswa. Peristiwa penyerangan yang menimpa sekolah kejuruan ini berlangsung sejak 2011 lalu.

Rata-rata para orang tua siswa di sekitar Angkaisera dan sejumlah kampung yang berada di luar  Distrik itu tidak berupaya mengerti dengan kondisi anaknya. Mereka kurang paham soal pendidikan di sekolah. Para orang tua siswa masih menilai, sekolah sepenuhnya bertanggungjawab jika anaknya tak bisa membaca atau menguasai pelajaran sekolah. Pemikiran itu masih melilit orang tua siswa. Tak ada upaya untuk merubah dan mendorong anaknya agar berubah. Sehingga selalu menyerang dan mempersalahkan pihak sekolah. Padahal, pendidikan  di sekolah di batasi waktu. Kebanyakan waktu untuk siswa belajar lebih banyak di rumah  atau di keluarga. Kondisi ini terjadi lantaran para orang belum memahami soal pendidikan. Walaupun, pihak sekolah tengah mengarahkan orang tua.  Tetapi, dinas yang bersangkutan juga diharapkan juga ikut berpartisipasi dan memberikan dukungan.*

About Admin Jubi

Admin Jubi has written 231 post for tabloidjubi.com.

Pilihan Editor
Back To Top