MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 278.297 +0.422
  • IDX30 Index 455.368 +0.937
  • Composite Index 5145.315 +12.279
  • PEFINDO25 Listed 469.589 +3.353
  • SMI Infrastructur 365.402 +0.213
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4787.317 +29.065
  • Nikkei 225 17248.5 -135.08
  • FTSE BUR MAL KLCI 1829.91 -12.26
  • Integrated Silico 14.49 -0.16
  • S&P 500 2072.83 +5.80
  • NASDAQ-100 4317.988 +29.759

NELCI : SAYA SUDAH TOLONG RIBUAN IBU HAMIL

Penulis : on February 1, 2013 at 15:13:18 WP
Victor Mambor

Nelci Worembai, seorang dukun beranak yang tinggal di kampung Waniwon, Serui, Distrik Angkaisera, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua (AJI Papua)

AJI Papua

Tim Penulis : Dominggus Mampioper, Musa Abubar dan Opin Tanati Guru

Nelci Worembai, seorang dukun beranak yang tinggal di kampung Waniwon, Serui, Distrik Angkaisera, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, mengaku sudah menolong lebih dari seribu  ibu hamil. Bahkan, anak yang ditolongnya, yang kini sudah berkeluarga dan akan melahirkan ditolong kembali olehnya.

Siang itu mama Nelci Worembai tak bepergian. Dia berada dalam rumahnya yang berdinding tembok dan beratapkan seng. “Selamat siang, ada mama dukun beranak yang biasa tolong ibu melahirkan disini,” tanyaku kepada beberapa warga yang sedang bekerja di depan rumah Nelci ketika kendaraan roda dua (motor) yang membawaku tiba. “Oh, mama ada di dalam rumah, mari masuk,” jawab seorang warga sembari masuk ke dalam rumah ibu Nelci. “Mama-mama, ada tamu, mari ke depan,” panggil warga yang menyapaku dalam rumah mama Nelci. Beberapa menit kemudian, mama dukun beranak yang tersohor di kawasan itu keluar dengan langkah pelan dari dalam rumahnya.

“Silahkan masuk, mari duduk,” ujar Nelci mengajak duduk. Saya pun mengambil tempat duduk persis di depan perempuan berbadan kecil ini. Kami duduk di atas semen dasar rumahnya. “Mama, saya dengar mama terkenal disini suka tolong ibu melahirkan. Jadi, saya ingin cerita sedikit dengan mama bagaimana cara menolong ibu melahirkan,” kataku menjelaskan maksud kedatangan. Nelci sepertinya tidak tertutup menceritakan tentang pekerjaan membantu ibu melahirkan yang dilakukannya setiap dibutuhkan. “Hehehe…hehehe..” tawa kecil melebar dari mulut perempuan asal Serui ini sembari membuka cerita kami soal aktivitas yang digeluti.

Kami semakin akrab. Nelci mulai bercerita tentang bagaimana menolong para ibu melahirkan yang datang meminta bantuan. Dia mengaku, hampir setiap saat dipanggil oleh warga untuk membantu istrinya yang hendak melahirkan. Warga yang memanggil tidak hanya di kampung Woniwon. Tetapi mereka datang dari sejumlah kampung yang berada di Distrik Angkaisera. “Saya setiap hari hampir dapat panggil terus untuk bantu ibu yang mau melahirkan. Hampir setiap hari saya dapat panggil keluar rumah untuk tolong ibu yang melahirkan. Kadang, saya tidak pulang ke rumah karena sudah terlalu larut malam,” jelas Nelci Worembai/Merani.
Panggilan dari warga  untuk menolong ibu melahirkan datang silih berganti. Jika warga yang datang memanggil tiba dan meminta bantuannya untuk menolong istrinya bersalin, Nelci tak pernah menolak. Nelci langsung memegang sebuah noken (tas) kecil yang berisi bantuan alat medis yang di berikan lalu berangkat bersama warga yang membutuhkan. Perempuan paroh baya ini tak mengenal waktu. “Kadang sudah tengah malam juga mereka datang ketuk pintu dan panggil saya. Saat saya dengar mereka ketuk pintu, saya langsung bangun dan ikut mereka pergi,” tuturnya.

Kebanyakan masyarakat yang meminta bantuan adalah keluarga dekat dari mama Nelci. Namun, tak semua. Sebagian diantaranya sama sekali tak ada hubungan keluarga. Tetapi, hubungan ikatan keluarga tak menjadi pertimbangan bagi perempuan lanjut usia ini. Perempuan yang kelihatannya suka mengunyah pinang ini mengaku aktifitas itu sudah menjadi kebiasaan. Ia memandang pekerjaan itu merupakan sebuah talenta yang diberikan oleh Tuhan untuk membantu orang lain.

Cerita kami semakin seru ketika Nelci menguraikan panjang lebar soal bagaimana ia membantu ibu yang hendak bersalin. Berkat dua buah tangan mama ini, anak-anak yang di tolong selamat. Saat ini, sedikit peralatan medis yang di berikan oleh Puskesmas Menawi, sedikit memudahkan pelayanannya terhadap ibu hamil.
Berkat gunting dan kain has yang ada dalam nokennya, Nelci bisa memotong tali pusat bayi yang di tolong dengan aman. “Saya pakai peralatan medis yang dikasih untuk pake ibu yang saya tolong untuk bersalin,” tuturnya.

Angin segar masuk lewat pintu depan rumahnya yang terbuka lebar. Cerita tentang ibu  melahirkan yang ditolong terus berlanjut. Dari pengalamannya, kebanyakan ibu hamil yang di tolong diurut dengan tangan di bagian perut guna membantu kelancaran persalinan. Rata-rata sebagian besar belum cukup bulan untuk melahirkan. Meski demikian, tak menyulut niat baiknya untuk menolong. Ibu yang bersangkutan diurut secara perlahan-lahan dari perut. Seluruh tubuh dari perempuan yang bersangkutan disentuh oleh tangan Nelci. Tindakan ini dilakukan untuk membantu percepatan kelahiran sang bayi dari rahim ibunya.
Tindakan ini dilakukan oleh Nelci terhadap ribuan ibu yang di tolong. Setelah diurut, saat persalinan tiba, perempuan lanjut usia ini siap untuk memegang kepala si buah hati yang hendak keluar dari rahim ibunya. “Biasanya, pertolongan pertama, saya urut dulu sampe kalau sudah mau melahirkan, saya langsung standby menunggu bayi yang lahir. Kalau bayi itu sudah lahir, langsung saya sambut kepalanya,” ujarnya. Saat memegang kepala bayi, Nelci menggunakan sarung tangan. Namun tak jarang ia tidak mengenakan sarung tangan juga. Ketika bayi itu lahir, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah memotong tali pusat bayi yang bersangkutan dengan gunting atau silet lalu membalutnya dengan menggunakan kain has. Sebelum memotong tali pusat, bayi itu dimandikan. Setelah langkah-langkah yang biasanya di lakukan Nelci berakhir sang bayi yang di tolong diserahkan ke ibu kandungnya.

Nelci biasanya bertindak sendiri menolong ibu melahirkan di tengah malam. Jika, siang hari, dirinya berusaha menghubungi petugas Puskesmas untuk membantunya. “Kalau sudah larut malam, saya tolong bayi itu sendiri. Nanti pagi baru saya sampaikan ke tenaga medis. Tetapi, kalau siang, saya beritahukan Bides yang ada untuk bantu saya tolong ibu yang melahirkan,” imbuhnya. Sejak Desember 2011 lalu, banyak ibu hamil yang suaminya mendatanginya untuk meminta bantuan persalinan. Di bulan itu, hampir setiap saat Nelci tidak berada di rumah. Hampir setiap saat, warga datang silih berganti memanggilnya untuk membantu persalinan.

Terkadang, salah satu perempuan belum selesai ditolong, panggilan dari yang lain menggema di telinganya. Ia bingung. Tapi mau bagaimana lagi, dia satu-satunya dukun beranak yang diandalkan di kawasan itu. Saat sementara sedang menolong ibu yang menunggu persalinan tiba namun masih membutuhkan waktu  lama, dirinya mengambil keputusan untuk memenuhi panggilan mendadak yang di terimanya. “Kadang saya kasi tinggal ibu yang masih membutuhkan waktu lama untuk melahirkan lalu lari cepat untuk tolong ibu yang tinggal tunggu waktu melahirkan,” cetusnya.

Setelah membantu perempuan yang membutuhkan pertolongan cepat, dia kembali membantu ibu yang ditinggalkannya. Nelci terus dengan setia menemani ibu tersebut hingga buah hatinya lahir dengan selamat. Setiap bayi yang dibantu, bahkan yang bersama-sama dengan paramedis lahir dengan selamat. Pertumbuhannya juga tidak terganggu hingga beranjak dewasa. Tetapi ada beberapa pengalaman unik dan miris yang dijumpai Nelci. Pada Desember lalu, ada seorang warga yang bekerja sebagai TNI, meminta bantuannya untuk menolong istrinya yang hendak bersalin. Bayi sang tentara ini tidak normal alias cacat. Dia lahir tidak normal. Kepala bayi itu kebesaran. Ketika sang balita ini “melihat” dunia, ia meninggal.

Pengalaman menarik lainnya yang dialami, sejak Agustus 2011 lalu, tepatnya pada perayaan hari kemerdekaan Negara Republik Indonesia, ada seorang ibu yang terpaksa di tolong dilapangan untuk melahirkan. Kala itu, sang balita lahir di tengah lapangan ketika upacara bendera sedang berlangsung. Selanjutnya, salah seorang warga datang meminta bantuan kepadanya. Waktu itu, hari baru menjelang sore. Mama Nelci berangkat menuju rumah ibu tersebut. Dalam perjalanan, Nelci menghubungi petugas medis. Petugas yang di hubungi juga menuju ke rumah ibu yang bersangkutan. Saat Nelci tiba, para Bides yang dihubungi juga tiba. Nelci dan para perawat membawa perempuan itu menuju Puskesmas. Namun, tak cukup peralatan medis, maka petugas kesehatan mencari taksi angkutan.

Ketika kendaraan yang dicari tiba, mereka menyuruh ibu hamil itu naik ke dalam mobil. Saat berada didalam mobil, ibu yang bersangkutan gelisah kesakitan. Ketika mesin mobil hidup, balita yang dikandungnya langsung lahir dari rahim ibunya. “Anak itu langsung kami kasih nama ‘mobil’ karena dia lahir dalam mobil,” kisah Nelci seraya tertawa terbahak-bahak. Nelci mengatakan, dirinya tak pernah mendapat komplain dari warga yang meminta pertolongannya. Anak-anak yang ditolongnya semuanya selamat. Pertumbuhan mereka tidak terganggu. Bahkan anak yang ditolong oleh mereka beranjak dewasa lalu berkeluarga kemudian proses kelahiran anaknya di tolong lagi oleh Nelci. “Anak yang saya tolong dia punya anak lagi saya tolong. Bahkan cucu sampai cece saya tolong. Jadi hampir sudah ribuan ibu dan anak yang saya tolong,” ungkap Nelci.   Walau demikian, Nelci tak memungut biaya. “Saya tidak minta bayar. Kalau orang yang saya tolong mau bayar, saya terima atau mereka mau kasi barang ya saya ambil,” ucapnya.

Nelci Worembai menggeluti pekerjaan sebagai dukun beranak sejak 1984 silam. Di masa itu, dia tak mendapat bantuan tenaga medis. Berkat kedua  tangannya dan pengalaman yang dimiliki, dia mampu menyelamatkan lebih dari seribu nyawa  ibu dan anak. Saat itu, dirinya mengeluarkan bayi dari rahim sang ibu yang bersangkutan tanpa sarung tangan. Bambu sebagai pengganti gunting untuk memotong tali pusat sang bayi kala itu. Ternyata profesi sebagai dukun beranak ini bertolak dari cita-cita menjadi dokter semasa di bangku sekolah. Namun, ketidakmampuan orang tua dalam membiayainya membuat Nelci tak menyelesaikan pendidikannya di bangku sekolah dasar. Cita-cita menjadi dokter kandas di tengah jalan.

Meski demikian, tak mematahkan semangatnya untuk menyelematkan nyawa manusia. Tekad dokter tertanam dalam dirinya hingga dia beranjak dewasa. Ketika dewasa, dirinya mencoba menolong warga dengan bekal cita-citanya. Ternyata, tindakan yang diambil berhasil. Akhirnya, Nelci tetap setia dalam profesi itu walaupun tak menjadi seorang dokter seperti yang diinginkannya. Di ujung wawancara, perempuan berusia 65 tahun ini menilai, pekerjaan sebagai dukun beranak merupakan anugrah dari Tuhan untuk menyelamatkan nyawa orang. Baginya, pekerjaan itu merupakan pekerjaan kemanusiaan. Sehingga, dalam situasi apapun, jika masyarakat meminta dia membantu istrinya yang hendak melahirkan, dirinya tetap turun tangan.

Dolfina T. Wainggai seorang ibu yang baru di tolong oleh mama Nelce mengatakan berkat buah tangan Nelce, dirinya bisa melahirkan buah hati ketiganya dengan selamat. Dolfina mengaku mama Nelce sangat terampil dan cukup professional saat membantu ibu melahirkan. Kala itu, sejak dia mengandung di bulan pertama dia menghadapi tantangan yang luar biasa. Masuk keluar rumah sakit lantaran fisiknya lemah. “Saya masuk keluar rumah sakit terus sejak hamil. Jadi, saya pikir akan melahirkan di rumah sakit,” ujar Dolfina.

Kepala Pustu kampung Kainui ini mengungkapkan, meskipun masuk keluar rumah sakit, namun dibulan terakhir hendak bersalin, suaminya memanggil mama Nelci untuk menolongnya. Mama sangat berpengalaman dalam membantu persalinan. Sebelum persalinan berlangsung, Nelci mengurut badannya. Setelah itu, dia membantu buah hatinya untuk lahir. Di pertengahan cerita kami, anaknya yang baru berusia satu tahun lebih itu menghampiri ibunya. Dia banyak tanya. “Mama-mama, bicara?” tanya bocah berambut lolong itu. Maklum anak seusia itu selalu rewel dan menginginkan belas kasihan dari sang ibu. Meski demikian, cerita soal pertolongannya saat melahirkan tidak terputus. Menurutnya, mama Nelci sudah terkenal dan tersohor di wilayah itu. Dukun Nelce adalah salah satu dukun terlatih yang sudah pernah mendapat pelatihan dari tenaga medis. Sehingga, banyak warga mengandalkan dirinya. Tidak segan-segan dia dipanggil sana-sini untuk membantu sejumlah perempuan. “Mama Nelce sudah pernah dapat pelatihan dari medis jadi kami tidak ragu lagi panggil dia untuk membantu,” tutur ibu yang baru saja bersalin pada bulan November lalu ini.*

About Admin Jubi

Admin Jubi has written 236 post for tabloidjubi.com.

West Papua Daily
Ajax spinner
Pilihan Editor
Back To Top