MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 272.929 +3.032
  • IDX30 Index 443.28 +5.395
  • Composite Index 5079.242 +50.296
  • PEFINDO25 Listed 464.193 +7.357
  • SMI Infrastructur 363.105 +4.607
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4258.438 +41.047
  • Nikkei 225 15111.23 +578.721
  • FTSE BUR MAL KLCI 1799.61 +11.30
  • Integrated Silico 11.91 -0.30
  • S&P 500 1886.76 +24.00
  • NASDAQ-100 3815.47 +50.19

SD YAPANANI MINIM GURU

Penulis : on February 4, 2013 at 20:17:51 WP
Victor Mambor

Siswa SD Yapanani, Kepulauan Yapen (AJI Papua)

AJI Papua

Tim Penulis : Dominggus Mampioper, Musa Abubar dan Opin Tanati

Sekolah Dasar Inpres Kampung Yapanani membutuhkan uluran tangan pemerintah. Sekolah di kampung itu terkesan tidak terurus. Padahal, kampung itu tak jauh dari ibu kota Distrik dan kota Serui. Ironisnya lagi, hanya tiga guru yang bertahan untuk mengajar para siswa di sekolah milik pemerintah ini.

Kampung Yapanani merupakan salah satu kampung yang masuk Distrik Angkaisera. Jalan menuju Yapanani kurang lebih 1,5 kilo. Jalan itu tidak beraspal. Terkesan tak terurus. Banyak lubang sana-sini. Jalan yang ada masih berbentuk jalan setapak alias jalan tikus, hanya bisa di lewati kendaraan roda dua. Motor yang lalu lalang di jalan itu, tidak tenang. Pengendara bersama penumpang yang di boncengi naik turun seakan-seakan melewati gelombang laut ketika melewati jalan ini.  Kiri-kanan jalan tampak pepohonan sagu, alang-alang, variasi rerumputan dan sejuta jenis pepohonan besar dan kecil. Perjalanan ke kampung ini memakan waktu kurang lebih 15 menit.

Di kampung itu, berdiri sebuah bangunan sekolah. Sekolah itu bernama, SD Inpres Kampung Yapanani. Sekolah buah tangan pemerintah itu merupakan satu-satunya sekolah dasar yang ada di Kampung itu. Tapi, terkesan tak di perhatikan. Dari kejauhan, sekolah ini terlihat  kusam dan memprihatinkan. Papan nama sekolah sudah berlumut. Tulisan nama sekolah di balik papan tersebut hampir hilang di hapus air hujan.

Bangunan sekolah terlihat tua. Di depan sekolah ini ditumbuhi rerumputan kehijauan. Sama pula dengan bagian belakangnya, banyak pepohonan dan rerumputan tinggi melewati bangunan sekolah. Sebagian dindingnya berlumut akibat tertimpa air hujan. Dari dalam bangunan sekolah itu rusak parah. Rata-rata di semua ruangan kelas, plafon hilang dengan sendirinya, entah kemana. Atap seng kelihatan di bagian atas. Jika hujan deras tiba, para siswa dan guru cari jalan.

Pagi itu, ketika tiba di depan sekolah, motor supra berwarna cokelat yang membawa saya bersama rekan saya yang menjadi penunjuk jalan parkir, saya langsung turun dan memotret papan nama sekolah. Terdengar suara anak-anak rebut. Teriakan dalam ruangan keras. Seolah-olah mereka tidak bersekolah namun belajar. Ketika saya memotret papan sekolah, sebagian siswa keluar dari dalam ruang kelas lalu mengamat-amati gerak-gerik langkah saya.

Diraut wajah masing-masing siswa seakan-akan hendak bertanya, mengapa orang ini memotret sekolah kami. Tujuan ia datang ke sini untuk apa. Mata-mata anak-anak malang ini masih saja menelisik dengan teliti langkah-langkah saya bersama saya. Rekan saya, mendekati salah satu siswa lalu menanyakan ruang guru dan kepala sekolah. Saya masih terus memotret bangunan sekolah dan mengamati gelagat para siswa. Selanjutnya, mendekati setiap ruang kelas dan terus memotret. Siswa yang ditanyai rekan saya, memberitahukan ruang kepala sekolah dan  guru. Kami berdua langsung menuju ruang kepala sekolah. Namun, sang kepala sekolah tidak berada di tempat. Pintu ruangannya tertutup rapat-rapat.

Ruang sang pimpinan sekolah ini bersebelahan dengan ruang guru. Ruangan sang pemimpin SD itu sederhana. terlihat kusam tak terurus. “Selamat pagi menjelang siang Bapak. Maaf kami sudah mengganggu,” sapa rekan penunjuk jalan saya sambil memberikan tangannya menyapa Samuel Merani, salah satu guru yang di berikan tanggung jawab sebagai pelaksana tugas sementara kepala sekolah. Samuel terpaksa menjalankan tugas sementara sebagai kepala sekolah lantaran sang kepala sekolah, Piet Mara sedang menjalankan tugas ke Jayapura.

“Selamat siang, mari silahkan masuk. Tidak apa-apa, tidak mengganggu. Silahkan duduk. Bagaimana? Abang-abang dong dari mana?,” tanya Samuel sembari menanyakan saya dan rekan saya  sambil mempersiapkan kursi dan merapihkan meja di ruang guru lalu menyilahkan kami duduk. “Bapak. saya dari Aliansi Jurnalis Independen Kota Jayapura. AJI merupakan satu organisasi yang menghimpun semua wartawan di Jayapura. Kami ada buat penelitian soal pendidikan dan kesehatan di Angkaisera,” kata saya sebagai peneliti menjelaskan maksud dan kedatangan kami.

Kejelasan selanjutnya, di bidang pendidikan, kami fokuskan penelitian ini pada siswa di sekolah dasar yang tidak bisa membaca ketika melanjutkan pendidikannya ke SMP. Informasi ini kami dapat dari teman-teman disini jadi langsung kami turun untuk cek langsung di lapangan. Dari penjelasan itu, Samuel sedikit tersenyum namun kelihatannya ragu dengan kedatangan kami. Di tangan Samuel, ia menggenggam buku tamu sambil mencatat nama oranganisasi Aliansi Jurnalis Independen yang saya sebutkan. Samuel masih belum berbicara. Kami terus berbicara dan sedikit canda.

Lelaki yang pernah bertugas sebagai seorang guru selama empat tahun di salah satu SD di Sarmi ini mulai bercerita.
Matahari siang terasa panas di badan. Angin sepoi-sepoi berhembus dari luar pintu masuk ke dalam ruangan guru, ruang dimana kami duduk. Susasana makin sejuk meskipun tak ada kipas angin dalam ruangan. Empat kursi plastik, tempat duduk kami berbentuk bundaran mengelilingi sebuah meja sederhana di tengah. Samuel mulai bercerita tentang kondisi sekolah. Kami semakin akrab. Cerita Samuel diawali dengan para guru yang bertugas di sekolah itu. Guru yang bertugas di SD Inpres Yapanani sebanyak 7 orang. Satu guru diantaranya yakni guru Penjaskes masih guru honor. Sementara guru tetap berjumlah 6 orang guru.

Meski demikian, mereka tidak aktif mengajar. Hanya tiga orang guru yang aktif mengajar. Tapi, satu diantaranya cuti. Akhirnya, dua orang guru yang bertahan untuk mengajar. Kondisi itu tak menyulutkan semangat dua tenaga pengajar ini. Saban hari kedua guru ini meninggalkan rumah lalu datang ke sekolah untuk mengajar. “Kami hanya dua orang saja yang mengajar. Tapi, sekolah tetap jalan. Tidak pernah kami  dua ‘alpa’ berikan pelajaran kepada para siswa,” ujar Samuel.
Ditengah perbincangan kami, datang seorang guru bernama Tarim Jamaludin. Lelaki yang sudah berumur ini menghampiri kami lalu mengambil tempat duduk dekat kami. Rekannya, Samuel  Merani mulai menjelaskan maksud kedatangan kami. “Mereka datang untuk melakukan penelitian tentang pendidikan. Mereka dengar ada anak-anak SD yang lulus ketika melanjutkan sekolah SMP tidak bisa membaca,” jelas Merani menirukan penjelasan saya kepada rekannya, Jamaludin. Suasana semakin akrab. Jamaludin tak segan-segan menjelaskan soal keberadaan murid didiknya. “Iya memang benar, informasi itu betul. Memang sampai sekarang masih banyak anak-anak SD yang tidak bisa membaca,” kata Jamaludin mengawali pembicaraan.

Pria asal Jawa ini mulai mengutarakan seluk-beluk guru dan keberadaan para siswa didiknya. Dia tak segan-segan membuka keberadaan siswa dan kondisi sekolah. Dia mengaku, kalau muridnya masih ada yang tidak bisa membaca. “Memang ada siswa yang tidak bisa membaca. Tapi tidak banyak. Rata-rata dua sampai tiga orang yang tidak bisa membaca,” imbuhnya. Jamal memastikan bahwa 99 persen murid didiknya sudah bisa membaca. “Siswa kelas VI enam yang saya ajar, rata sudah bisa membaca. Meskipun, satu dua orang tidak bisa membaca. Tapi, saya jamin mereka sudah bisa membaca karena setiap hari saya mengajar,” katanya menyakinkan.

Mantan kepala sekolah yang pernah bertugas di sebuah sekolah dasar di Randawaya selama 15 tahun ini mengaku, dirinya tak pernah meninggalkan sekolah. “Biar hujan atau bagaimana saya tetap datang ke sekolah. Saya tidak bisa tinggalkan anak-anak murid. Sekolah tetap jalan,” tuturnya.  Akifitas belajar mengajar tetap jalan, meskipun di tangani oleh dua orang tenaga guru. Cerita kami seru. Jamaludin yang mengisahkan perpindahannya dari Randawaya ke SD Yapanani sejak tahun 1992 silam itu terus bersemagat menceritakan proses belajar mengajar yang terjadi. Menurutnya, para guru lainnya tiba berangkat di sekolah. Mereka tidak pernah mengajar. Lantaran demikian, dirinya mengajar empat kelas setiap hari yakni kelas satu sampai empat. Sementara rekannya, Samuel Merani, mengajar dua kelas. Masing-masing  kelas lima dan enam.

Sudah ada rumah guru yang di bangun di sekitar halaman sekolah, namun tidak mecukupi tenaga guru yang ada. Hanya satu bangunan rumah guru yang di bagi menjadi dua ruangan berdiri megah di depan sekolah bebentuk huruf “L” itu. Bangunan megah bercat putih itu kosong. Karena kosong, di depan bangunan terlihat coretan berwarna merah. Coretan itu diolesi ampas pinang dari para siswa. Rerumputan hijau juga tampak mewarnai pekarangan rumah itu. Di belakang bangunan itu, berdiri satu pohon kelapa. Pepohonan kayu marak tumbuh di belakang bangunan. Belakang bangunan itu, seperti hutan lindung.

Cerita kami terus berlanjut. Jamaludin menandaskan, keluhan kekekurangan guru sudah disampaikan berulang kali ke Dinas Pendidikan dan Olahraga, Kabupaten Kepulauan Yapen. Selain itu, penilik sekolah juga sudah melihat dua papan penuh tulisan tenaga guru dan jumlah siswa serta kendala yang di hadapi saat berkunjung tiga bulan sekali tiap tahun.  “Kendala-kendala kami sudah disampaikan berulang kali ke Dinas pendidikan setempat. Tapi, tidak pernah di repon,” ujar Jamaludin sambil menunjuk kedua papan white bord padat tulisan itu . Kedua papan itu terletak di belakang dan samping tempat duduk kami.  Laporan bulanan sekolah juga rutin di serahkan ke penilik sekolah saat berkunjung. Tetapi, tak ada perubahan yang terjadi.

Kesejahteraan para guru juga menjadi soal. Para guru sering mengeluhkan masalah ini. Tetapi, tak kunjung dijawab oleh Dinas. Kesannya, Dinas Pendidikan dan Olahraga masa bodoh dengan kondisi sekolah itu. Memang, ada sejumlah bantuan yang di berikan. Tetapi, tidak di manfaatkan sebagai mestinya. Ada bantuan buku dan alat peraga seperti bola bumi di berikan oleh pemerintah. Namun, alat peraga itu tidak digunakan lantaran tak ada gurunya. Ada juga bantuan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan bantuan lainnya. Tetapi, Jamal dan Samuel tak menyebutkan jumlahnya. “Ada bantuan dana tapi kami tidak tau jumlahnya. Bendahara kami boleh yang tau,” tutur Jamaludin.

Di depan tempat duduk kami, berdiri dua lemari berisi buku. Diatas kedua lemari itu, dua alat peraga berupa bola bumi ditaruh. “Kami ada dapat bantuan buku dan alat peraga. Tapi, buku-buku saja yang kami pakai. Alat peraga tidak pernah di pakai karena tidak ada gurunya,” kata Jamaludin. Dibelakang tempat duduk kami, berjejer meja guru. Diatas masing-masing meja, letak bermacam-macam buku. Terlihat variasi judul mata pelajaran tertulis di kulit luar buku. Jamaludin dan Samuel masih terus mengajak kami bercerita tentang sekolahnya.

Ternyata, dari cerita Jamal, banyak siswa-siswi jebolan SD Inpres Yapanani menjuarai berbagai lomba olahraga dan ilmu pasti. Lainnya lagi, menjurai lomba fisika di tingkat nasional maupun internasional. Beberapa tahun silam, ada siswa SD Yapanani mewakili sekolahnya mengikuti lomba olimpiade fisika di tingkat nasional hingga melalang buana ke luar negeri. “Beberapa kali, siswa kami mewakili sekolah ini ikut olimpiade fisika di Jakarta dan luar negeri,” terang Jamal. Sebagiannya lagi, bekerja di beberapa kantor pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen dan di Jayapura.

Kurikulum belajar mengajar yang diterapkan di sekolah ini yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pelarajan (KTSP). Buku-buku penunjang di sekolah tersebut cukup memadai. Namun disayangkan, proses belajar mengajar belum maksimal. Sepertinya, Dinas Pendidikan membiarkan sekolah ini hancur berantakan. Dinding tembok di dalam ruangan bekas garis retak dari bawah hingga di bawah plafon. Plafon tampak kusam dan kehitam-hitaman.

Seusai bercerita dengan  Jamaludin dan Samuel, kami pun meminta mewawancarai para siswa. Dengan senang hati, guru Jamal menghantar saya bersama rekan saya mendatangi ruang kelas VI. Letak ruang kelas ini tidak jauh dari ruang kepala sekolah dan ruangan guru.  Ketika kami masuk kelas, para siswa tenang. “Selamat siang anak-anak,” sapaku kepada para siswa. “Selamat siang juga kaka,” balas para siswa. Guru Jamal langsung berdiri di depan kelas lalu menjelaskan maksud kedatangan kami. “Anak-anak, ini ada kaka-kaka yang datang dari Jayapura. Mereka mau tes kalian membaca dan menulis,” kata Jamal.

Teman saya, Aston Situmorang langsung memegang kapur di tangan sambil menuju papan tulis lalu menulis ‘Saya Tinggal di Kampung Yapanani.’ Usai menulis, para siswa di suruh membaca tulisan tersebut. Secara serempak para siswa membaca dengan saksama. Setelah itu, masing-masing siswa di suruh maju satu persatu menulis ‘Saya Tinggal di Yapanani’ sekaligus membacanya. Masing-masing siswa maju bergantian ke depan menulis lalu membaca.

Selanjutnya, Aston menulis rumus matematika lalu menyuruh siswa untuk mengisinya. Beberapa siswa diminta maju ke papan mengisi. Tampak beberapa siswa berani maju mengisi soal matematika yang di tulis. Meskipun, sebagian diantara mereka tak mampu menyelesaikan soal yang di tulis. Tapi, secara bergantian mereka berusaha bergantian mengisinya hingga jawaban dari soal matematika itu benar.

Situasi ruangan kelas semakin ramai ketika soal matematika tentang pembagian di tulis di papan. Para siswa secara berebutan mengancungkan tangan saat di tunjuk untuk maju ke depan menjawabnya. Para siswa terlihat gembira dan senang dengan situasi ini. Pelajaran matematika terus di lanjutkan. Aston mulai menulis rumus bagi dengan angka ratusan lalu menyuruh menyebut. Para siswa menyebut angka-angka itu namun salah sebutannya. Angka ratusan di baca seribu. Begitu seterusnya. Terlihat mereka mempunyai kemauan tinggi untuk belajar dan maju seperti siswa lainnya. Ketika mereka menyebut angka itu salah-salah, guru Jamal menegur mereka dengan memukul meja mereka masing-masing dengan kayu kecil yang di genggamnya. Ada siswa yang di pukul di belakang seraya memacunya agar tak salah menyebut angka yang ada. Saat proses belajar mengajar singkat itu berlangsung, puluhan siswa meninggalkan ruangannya lalu menuju ruang kelas enam. Teriakan dari luar terus menerus menggema. ‘Woi-woi, jangan ganggu. Ah, jangan begitu,’ begitulah ucapan puluhan siswa yang berdiri di balik jendela bagian belakang. Sebagian diantaranya, berdiri di jendela bagian belakang sambil menyaksikan dari luar ke dalam.

Lainnya lagi, berdiri di depan pintu masuk ruangan kelas. Rata-rata mereka yang berdiri di depan pintu, masih duduk di bangku kelas I. Rata-rata berbadan kecil dan berambut besar. Ada seorang berambut panjang. Rambutkan berwarna kuning. Mukanya seperti perempuan. Mereka tertawa, lalu menunjuk-nunjuk ke arah kami. “Ih kam lihat. Hehehe. Ah jangan ganggu saya,” terdengar suara kecil dari para siswa itu. Cubit-cubitan antara anak yang satu dengan yang lain tak terhindarkan. Masing-masing raut wajah mereka penuh malu. Ocehan dan tawa terus mengiringi suasana. Kebanyakan diantara mereka tidak mengenakan sepatu alias kaki kosong. Beberapa diantaranya memakai sandal kulit dan sepatu.
Puluhan siswa yang berada di dalam ruang kelas itu juga demikian. Sebagian menggunakan sepatu dan sendal. Lainnya, sama sekali tidak mengenakan sepatu alias kaki kosong. Debu ruangan dan jalanan menghiasi kaki mereka. Telapak-telapak kaki mereka penuh debu jalanan. Di dalam ruangan itu, plafonya hilang entah kemana. Atap seng kelihatan jika dilihat sebagai pengganti plafon. Proses belajar mengajar singkat itu berlangsung kurang lebih sekitar 10 menit. Dinding tembok dalam ruangan itu, kusam. Cat putih yang di kenakan di dinding tembok,  hilang dilahap angin malam dan guyuran hujan.

Setelah proses belajar mengajar singkat itu berlangsung, kami meninggalkan ruangan. Dua siswa kami wawancarai. Saat di wawancarai, mereka juga mengeluh soal kekurangan guru. Marthen Inderi salah seorang siswa sekolah kelas enam mengatakan, dirinya bisa rajin bersekolah, membaca serta giat belajar apabila banyak guru yang mengajar. “Saya mau belajar tapi pak guru banyak boleh,” harap Marthen. Dia mengaku, guru yang mengajar hanya satu guru.  Rekannya, Margaretha Pamaggori, guru yang ada sudah mengajar cukup baik. Margaretha juga mengaku kalau sudah bisa membaca. “Pak guru yang sudah mengajar bagus. Saya sudah bisa membaca,” tuturnya.

Dia mengatakan, pengenalan akan huruf-huruf juga sudah. Margaretha ke sekolah bukan karena di suruh. Tetapi, atas motivasinya sendiri. “Setiap kali ke sekolah bukan karena orang tua yang suruh tapi saya sendiri,” tuturnya. Namun, terkadang malas sekolah. Jika tidak ke sekolah, kedua orang tuanya memukulnya dengan tangan. “Kalau saya malas sekolah, orang tua pukul pakai tangan,” imbuhnya. Dari wawancara dan pengamatan kami, SD Inpres Yapanani sangat membutuhkan uluran tangan pemerintah. Jumlah siswa di SD Inpres Yapanani sebanyak 131 orang.*

About Admin Jubi

Admin Jubi has written 223 post for tabloidjubi.com.

Ajax spinner
Pilihan Editor
Back To Top