MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 277.875 +1.311
  • IDX30 Index 454.431 +2.067
  • Composite Index 5133.036 +14.091
  • PEFINDO25 Listed 466.236 -2.26
  • SMI Infrastructur 365.189 -0.078
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4787.317 +29.065
  • Nikkei 225 17383.58 0
  • FTSE BUR MAL KLCI 1842.17 +3.61
  • Integrated Silico 14.49 -0.16
  • S&P 500 2072.83 +5.80
  • NASDAQ-100 4317.988 +29.759

SANDAL JEPIT DAN BER-AVANZA, 29 JANUARI 2013

Penulis : on February 5, 2013 at 07:51:38 WP
-

Mathias Rafra (facebook.com)

Oleh : Mathias Rafra

Menuju Valentine-Day 14 Februari

LEMBAH SUNYI, Angkasa – Jayapura, Selasa 29 Januari 2013. Jarum jam menunjukkan pukul 12-an WIT. Tiga perempuan dengan pakain sederhana terlihat turun dari sebuah toyota Avanza biru langit dengan nomor polisi terlihat jelas, yang diparkir di pinggir jalan. Menyusul seorang pemuda bercelana pendek biru yang rambutnya terpilin ala rambut Ruud Gullit, mantan kapten Tim Oranye Belanda, yang menjuarai Piala Eropa 1988. Tiga perempuan dan pemuda itu, semua bersandal jepit. Empat orang itu memegang selembar kertas putih. Mereka melenggang kangkung menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS). Di seberang jalan, dua mobil suzuki carry warna hijau tampak berhenti dan menurunkan sejumlah orang.

Tak lama berselang, sebuah suzuki carry putih yang ditumpangi sejumlah orang melintas. Dari arah berlawanan, satu avanza metalik dan innova hitam berhenti di persimpangan jalan. Hanya sekian detik setelah suzuki carry putih melintas, dua avanza masing-masing warna coklat dan hitam menyusul. Hanya dalam hitungan detik, satu avanza hitam pun menguntit dan menepi, lantas menurunkan dua pemuda dan tiga perempuan. Mereka berlima juga memakai sandal jepit, memegang selembar kertas putih. Kemana gerangan mereka pergi? Sama tujuannya dengan tiga perempuan dan pemuda berambut ala Ruud Gulit tadi. Melenggang ke salah satu TPS di Kelurahan Angkasa, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Singkat cerita, lalu-lintas kendaraan di lorong sempit itu meninggi di siang cerah itu. Tidak seperti biasanya.

Bisa dimaklumi, karena hari itu seluruh orang dewasa di Provinsi Papua dijadwalkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua melaksanakan pencoblosan, memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua definitif, pengganti Barnabas Suebu dan Alex Hesegem, yang sudah vakum 18 bulan. Jadi, wajarlah aktivitas warga rada sibuk mengunjungi TPS-TPS. Yang tidak wajar adalah, letak TPS pastilah berada di kompleks pemukiman penduduk, tak jauh dari rumah-rumah warga, sehingga adalah tidak biasa bin aneh: orang ke TPS naik mobil. Mobil yang tergolong mewah pula untuk ukuran rakyat biasa, golongan “sandal jepit”. Namun yang terlihat, para penumpang mobil-mobil berharga ratusan juta itu ke TPS memang bersandal jepit. Deskripsi di atas bukan dongeng. Ini rekaman video yang diambil oleh seseorang yang instingtif merekam kejadian yang dilihatnya tidak wajar itu. Bahkan sempat berwawancara ria dengan seorang pria yang mengaku sudah mencoblos di lima TPS dari 13 TPS yang dia rencanakan.

DPT Aneh Tapi Nyata

Singkat kata, setelah vacum sejak akhir Juli 2011, rakyat Papua hari itu, Selasa 29 Januari 2013, memilih gubernur dan wakil gubernur definitif pengganti Bas Suebu dan Alex Hesegem. Sekadar menyegarkan ingatan, Bas Suebu dan Alex Hesegem mengakhiri tugas sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua periode 2006-2011 pada 25 Juli 2011. Jadi sampai dengan hari pencoblosan, butuh delapan belas bulan barulah pencoblosan terlaksana. Masih belum jelas berapa bulan lagi rakyat Papua harus menunggu untuk mendapatkan gubernur dan wakil gubernur definitif pengganti Bas-Alex. Maklumlah, sudah menjadi semacam “tradisi” iven pemilihan kepala daerah nyaris selalu berakhir dengan gugat menggugat di Mahkamah Konstitusi (MK). Meski sebelum pencoblosan dan pengumuman pemenang oleh KPU sudah menjadi tradisi pula para kontestan selalu mengikrarkan ”Siap Memang, Siap Kalah”.

Tapi bukankah  better late than never? Lambat atau tidak, pencoblosan sebagai jembatan mendapatkan pemimpin definitif mutlak dilaksanakan. Apa yang akan terjadi di valentine-day (hari cinta kasih) 14 Februari  2013 nanti, tatkala KPU Provinsi Papua memplenokan hasil perhitungan suara hasil pencoblosan 29 Januari dan mengumumkan perolehan suara enam calon yang berkompetisi pada Pilgub kali ini, baiklah dinantikan.

Yang pasti pencoblosan sudah terlaksana, dengan segala hiruk-pikuk dan “warna-warni”-nya. Salah satunya seperti yang dideskripsikan di atas. Disebut “warna-warna” karena masih ada sejumlah kejadian aneh tapi nyata di hari pencoblosan. Sebutlah misalkan, sejumlah orang sudah bertahun-tahun tinggal di Keluarahan X, namun ketika mereka datang ke TPS untuk mencoblos, mereka terpaksa pulang dengan kecewa, tak bisa mencoblos karena namanya tak tertera dalam daftar pemilih tetap (DPT) pada TPS di Keluarahan X tersebut. Ada pula yang tak bisa mencoblos karena tak mendapat undangan. Padahal mereka masih bernafas, bernyawa, dan tentu saja sudah tahunan tinggal di lingkungan TPS itu.

Sebaliknya, ada pula DPT yang masih mencantumkan nama orang yang sudah tak lagi tinggal di sekitar TPS, bahkan sama sekali tak pernah tinggal di sekitar TPS tersebut. Malahan, ada pula orang yang sudah berada di alam baka sana, namun namanya masih tertera dalam DPT.

Sekadar contoh, di dunia maya, relawan ELSHAM (Lembaga Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia) melaporkan KPPS masih menggunakan data pemilih tahun 2009. Walhasil, nama almarhum Lukas Marey, mantan Koordinator Pos Kontak ElSHAM Nabire yang telah meninggal dunia pada 9 Maret 2010, namanya masih tercamtum dalam DPT Pilgub kali ini. Almarhum Lukas terdaftar sebagai pemilih dengan nomor urut 318 di TPS 03 Kelurahan Sanoba, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire.

Tapi okelah, bisa saja hal semacam ini hanyalah kasuistis. Hanya beberapa kasus di beberapa tempat. Secara umum pelaksanaan pencoblosan aman, lancar, sukses. Pendapat yang demikian wajar dimunculkan ke publik, misalnya oleh penyelenggara. Simak saja pernyataan Ketua KPU Provinsi Papua Beny Sweny, yang disiarkan berita pagi RRI Jayapura, Rabu 30/1/2013. Beny menyatakan pelaksanaan pencoblosan sudah berjalan lancar, kendati di beberapa tempat, pencoblosan belum bisa dilaksanakan pada 29 Januari 2012 akibat distribusi logistik tak berjalan sesuai rencana karena faktor cuaca. Di supiori misalnya. Tak perlu heran dan skeptis kelewat ambang batas normal dengan pernyataan optimistik yang demikian. Lebih-lebih lagi apabila keluar dari mulut seseorang yang memang bertanggungjawab atas lancar tidaknya pelaksanaan pencoblosan.

Tapi tunggu. Rupanya “warna-warni” dan kasus-kasus di atas, makinlah menarik bila ditelusuri lebih jauh dan mendalam. Sekadar contoh, Kamis 1 Februari 2013, hanya dua hari berselang setelah Beny Sweny mengeluarkan pernyataan bahwa secara umum pelaksanaan pencoblosan berjalan aman, lancar, sukses, dan sejenisnya, berita pagi RRI Jayapura memberitakan keluhan sejumlah warga di RW 05 RT 02 Kelurahan Kota Baru, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Alex Erubun, mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Mappi, yang keluarganya sudah bertahun-tahun tinggal di RT tersebut kepada RRI mengungkapkan dari data yang bisa dihimpunnya, setidaknya ada 47 warga di RT tersebut yang namanya tak tercantum di DPT. Ironisnya, meski sudah melaporkan ketiadaan nama mereka dalam DPT sebelum 29 Januari 2013, toh hasilnya sami mawon: pada hari-H, nama mereka tetap tak tercantum dalam DPT. Walhasil, mereka pun tak bisa mencoblos. Kalau di Distrik Abepura saja bisa terjadi kasus semacam ini, siapakah yang bisa menjamin kasus semacam ini tak terjadi di TPS-TPS lain? Bila di Kota Jayapura, ibukota provinsi saja demikian, lantas bagaimana dengan di wilayah-wilayah di pelosok-pelosok nun jauh disana? Walahualam.

Niscaya karena saking penuh “warnanya”, sampai-sampai dalam khotbahnya di Gereja Katedral Kristus Raja Dok V Jayapura, Minggu 3 Februari 2013, Pastor Harry Sirken Pr misalnya, merasa perlu menyinggung “warna-warni” yang terjadi pada saat pemcoblosan 29 Januari 2013 itu. Kejadian-kejadian aneh yang telah dikemukakan terdahulu, disinggung Pastor Harry dalam khotbahnya yang disiarkan langsung RRI Jayapura.

Pembengkakan DPT KPU

So, sebetulnya apa yang sesungguhnya penyebab munculnya “warna-warni” di 29 Januari 2013 itu? Tentulah, pihak penyelenggaralah yang harus menjawabnya. Namun, tampaknya semua berawal pada Rabu 19 Desember 2012, tatkala Ketua KPU Provinsi Papua menyerahkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) kepada perwakilan tim sukses enam pasangan Calon Gubernur di Kantor KPU Papua.  Di dalam Berita Acara Nomor 29/BA/KPU-PAPUA/XII/2012 tentang Penyusunan dan Rekapitulasi Jumlah Pemilih Tetap ditegaskan oleh KPU bahwa jumlah pemilih tetap berjumlah 2.705.775 jiwa.  Pertanyaannya adalah apakah jumlah tersebut masuk akal dan bisa dipercaya?

Ternyata, data yang diumumkan KPU itu berbeda sangat signifikan dengan data yang pernah dimasukkan oleh Pemerintah Provinsi Papua pada bulan Mei tahun 2011 kepada KPU, maupun data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Papua.  Simaklah: (1) jumlah pemilih versi DPT KPU tanggal 19 Desember 2012: 2.705.775 jiwa; (2) jumlah pemilih berdasarkan Berita Acara Serah Terima CD Berisi Data Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang diserahkan oleh Gubernur Papua pada tanggal 6 Mei 2011 (data ini adalah akumulasi yang berasal dari kabupaten/kota) kepada Ketua KPU Provinsi Papua adalah 2.154.439 jiwa.  Apabila angka pertumbuhan penduduk Papua dikategorikan sangat tinggi, yaitu 5 persen pertahun, maka seharusnya jumlah pemilih pada bulan Desember 2012, berdasarkan DP4 yang dimasukkan oleh Gubernur Papua kepada KPU, sebanyak 2.328.141 jiwa.  Apabila data ini dibandingkan dengan data KPU, maka terdapat selisih sebesar 377.634 jiwa; jadi data KPU lebih banyak 377.634 jiwa dibandingkan yang seharusnya menurut versi DP4 Provinsi Papua; (3) Menurut BPS, jumlah penduduk pada saat Pemilukada nanti adalah sebanyak 3.025.594 jiwa, dengan jumlah pemilih sebesar 1.901.105 jiwa.  Apabila angka menurut BPS ini dibandingkan dengan data versi KPU, maka terdapat selisih sebesar 804.670 jiwa.

Pertanyaannya adalah darimana KPU memperoleh data yang kemudian digunakannya untuk menyusun DPT?  Pada tanggal 4 Mei 2012, Penjabat Gubernur Provinsi Papua, Dr  Drs H Syamsul Arief Rivai, MS mengirim surat kepada para Bupati/Walikota se Provinsi Papua dengan Nomor 470/1640/SET, yang meminta para Bupati/Walikota melakukan “… koordinasi dengan KPU Kabupaten/Kota tentang pemutahiran Data DP4 untuk Pemilihan Gubernurprovinsi Papua Tahun 2012.”  Patut diduga bahwa pada saat inilah terjadi pembengkakan suara besar-besaran di tingkat kabupaten/kota tertentu, atau di KPU Kabupaten/Kota. Tentu saja pembengkakan dapatlah diterima sepanjang pemutahiran data dilakukan dengan benar. Namun apabila di Distrik Abepura saja terjadi kasus-kasus semacam sudah dikemukakan terdahulu, maka kita patut mempertanyakan seberapa efektif dan seriusnya pemutahiran data yang dilakukan KPU?

Omong-omong, pertanyaan tersebut janganlah sampai merusak suasana hari kasih sayang (valentine-day) 14 Februari, momentum yang terasa sangat pas dipilih KPU Provinsi Papua untuk memplenokan hasil rekapitulasi perhitungan suara. Selamat ber-valentine-day ria.***

Penulis adalah mantan wartawan

About Admin Jubi

Admin Jubi has written 235 post for tabloidjubi.com.

West Papua Daily
Pilihan Editor
Back To Top