MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 281.374 +0.554
  • IDX30 Index 458.413 +1.045
  • Composite Index 5172.631 +5.648
  • PEFINDO25 Listed 481.127 -0.66
  • SMI Infrastructur 368.379 +1.119
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4806.859 +33.387
  • Nikkei 225 17668.211 -150.75
  • FTSE BUR MAL KLCI 1766.03 +1.59
  • Integrated Silico 16.89 +0.06
  • S&P 500 2088.77 +6.89
  • NASDAQ-100 4314.095 +30.997

KEHIDUPAN TERGANTUNG PADA RASKIN

Penulis : on February 6, 2013 at 07:58:20 WP
Victor Mambor

Home content advertisement before tabbed

Ilustrasi bongkar muat beras untuk Raskin (medanmagazine.com)

AJI Papua
Tim Penulis : Paskalis Keagop, Katarina Lita dan Lala

Kehidupan masyarakat Kampung Yanggandur tergantung pada beras orang miskin atau Raskin. Hanya keluarga mampu yang bisa beli Raskin 15 kilogram seharga Rp 35 ribu di kepala distrik untuk sebulan. Keadaan ini membuat anak-anak pergi berburu pagi hari ke hutan sebelum ke sekolah.

Kampung Yanggandur Distrik Sota Kabupaten Merauke masuk areal Taman Nasional Wasur, dihuni 86 kepala keluarga. Mayoritas penduduk asli Suku Malind. Potensi sumberdaya alam seperti babi, rusa, saham, kangguru, ikan, kasuari, berbagai jenis burung dan pohon sagu cukup tersedia di hutan.  Ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah ini membuat, pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat Kampung Yanggandur tergantung pada apa yang disediakan oleh alam. Namun pola konsumsi masyarakat Yanggandur, telah berubah. Kini mereka lebih tergantung pada beras (baca: nasi).

Beras mudah didapat karena adanya pembagian beras untuk orang miskin atau Raskin. Pembagian Raskin di Kampung Yanggandur diatur langsung oleh kepala Distrik Sota. Jatah Raskin perbulan bagi setiap kepala keluarga di Kampung Yanggangur sebanyak 15 kilogram, dengan harga Rp 35 ribu.

Dari 86 kepala keluarga di Kampung Yanggandur, hanya 40 kepala keluarga yang mampu beli beras 15 kilogram dengan harga Rp 35.000 di kepala distrik untuk makan keluarga selama sebulan. Dan sebanyak 40 kepala keluarga tidak mampu beli Raskin.
Sekretaris Kampung Yanggandur, Agustinus Sangra mengatakan ketidakmampuan masyarakat untuk beli beras ini membuat kita tidak bisa pastikan masyarakat makan berapa kali dalam sehari. karena hanya keluarga mampu saja yang bisa beli beras untuk makan tiga kali sehari dan yang kurang mampu makan dua kali sehari. “Dan jarang ada keluarga yang makan tiga kali sehari”.

Raskin diurus oleh kepala Distrik Sota. Apakah ada beras atau tidak, tunggu berita dari kepala distrik. Kalau ada beras, setiap keluarga mendapat jatah perbulan sebanyak 15 kilogram dibeli dengan harga Rp 35.000. Terasa murah, tapi tidak semua keluarga bisa beli. Hanya keluarga yang mampu saja yang bisa beli.
“Kalau beras sudah ada, saya ambil uang dari masyarakat baru beli satu karung saja. Dari 86 kepala keluarga yang ada di kampung ini, hanya 40 kepala keluarga yang setor uang, jadi mereka saja yang dapat, dan lainnya tidak dapat. Walaupun kita paksa mereka dan perpanjang waktu pengambilan beras, tapi itu pun tidak bisa. Sehingga, pa distrik yang biasa atur. Apakah dijatah ambil double bulan depan atau bagaimana, saya tidak tahu”, jelas Agustinus Sangra, Sekretaris Kampung Yanggandur, yang ditemui Tim Peneliti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura di rumahnya, pertengahan Februari 2012 lalu.

Berapa kali makan dalam sehari? Sulit dipastikan. Wilhelmus Banggo, Murid Kelas 4 SD Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Yanggandur bingung menjawabnya. “Saya sudah makan tadi”, jawabnya singkat. “Kita tidak bisa tentukan makan berapa kali sehari. Kalau tidak ada beras, masyarakat makan pisang, sagu atau ubi. Bisa dibilang sudah tidak mampu”, tambah Sangra.

Kini harga beras semakin mahal. Beras kualitas Raskin atau beras Bulog perkilo yang kita beli di pasar Rp 11.000, dijual di kios-kios Rp 150.000 perkarung. Yang seharusnya beras Raskin satu karung harganya Rp 35.000. Tapi karena kebutuhan, terpaksa masyarakat beli. “Itu bagi yang mampu. Tapi yang suka makan nasi dan tidak mau makan lain-lain itu anak-anak muda. Sedangkan orang-orangtua makan sembarang.”.

Menurut Agustinus Sangra, anak-anak muda sekarang tidak suka makan sagu, pisang, ubi karena sudah bosan dan mereka anggap itu makanan tradisional, sehingga harus makan nasi. Mereka pikir lebih modern, gampang dan cepat kenyang kalau makan nasi. Anak-anak lebih tergantung pada beras. Padahal, kalau makan pisang, sagu, ubi dengan ikan lebih sehat daripada nasi. Ini sangat berbahaya, karena harga beras semakin mahal dan mata pencaharian masyarakat di sini tidak menetap.

“Seperti saya sekarang PNS dapat jatah beras 40 kilo perbulan. Tapi anggota keluarga banyak, jadi tidak sampai sebulan beras sudah habis. Tidak cukup kita makan nasi setiap hari. Kita makan makanan tradisional. Ikan masih banyak di rawa, daging juga masih banyak untuk bisa makan dengan sagu atau pisang”, ujar Agustinus Sangra di Yanggandur.

Untuk memperlancar transportasi dari kampung ke kota distrik maupun kota kabupaten, Bupati Merauke Yohanes Gluba Gebze – waktu itu, memberikan bantuan sebuah mobil bak tertutup untuk transportasi masyarakat Kampung Yanggandur, tapi sudah rusak dan sedang dalam perbaikan di bengkel karena mesin kemasukan air asin.  Setiap ada keperluan, masyarakat menggunakan mobil itu ke Sota maupun ke Merauke untuk mengurusnya.

Mata pencaharian masyarakat Kampung Yanggandur, selain berburu dan meramu, juga ada yang berkebun dan bertani. Ada beberapa kepala keluarga yang menekuni usaha penyulingan minyak kayu putih.

Di waktu lalu, Yanggandur dikenal sebagai kampung jeruk, karena produksi utama perkebunan Yanggandur adalah jeruk. Kini, pohon jeruk tidak berproduksi lagi karena tidak ada peremajaan. Bibit jeruk yang dikembangkan waktu itu dari Dinas Pertanian Merauke. Produksi jeruk mulai hilang sejak 1990-an, yang tersisa sekarang jeruk bali.

“Ikan masih banyak di rawa-rawa, seperti ikan gastor, lele, mujair, ikan sembilan, ikan betik. Ikan gastor dan ikan betik itu kepala keras, mereka yang makan ikan lain. Untuk saham sudah jarang, karena orang berburu pakai anjing dan potong pakai parang”, ujar Agustinus Sangra.

Penerangan masyarakat dalam Kampung Yanggandur tidak ada listrik dari PLN, tapi lampu solar cell. Masyarakat beli solar cell menggunakan dana Respek. Tapi belum menerangi kampung, karena belum ada tenaga ahli untuk pasang solar cell.  “Masih tunggu pendamping. Solar cell tidak bisa untuk pasang tivi, kekuatannya hanya 10 watt untuk lima titik”, kata Sangra.

Agustinus Sangra menambahkan Kampung Yanggandur belum dapat dana Respek 2011 dan 2012, sampai sekarang kami masih tunggu. Respek 2010, kami dapat Rp 124 juta, sedangkan dana Gerbangku dari kabupaten dapat Rp 200 juta. Tanggung jawab dana Respek bukan aparat kampung, tapi pendamping.

Ada pula hasil kebun masyarakat tapi tidak bisa dijual ke pasar karena tidak ada angkutan. Sehingga kalau ada keluarga yang datang dari kota diberikan saja kepada mereka untuk bibawa pulang. Sopir angkutan umum tidak mau angkut barang dan orang ke Kampung Yanggandur karena kondisi jalan yang sangat buruk. Ruas jalan yang teraspal hanya satu kilometer, sementara 17 kilometer belum diaspal. Masyarakat sudah mengusulkan bus Damri, tapi dilayani cuma beberapa bulan, setelah itu tidak terlayani lagi karena kondisi jalan dari tugu perbatasan RI – PNG menuju Kampung Yanggandur rusak parah. Selain itu, banyak penumpang yang menumpang bus juga tidak mau bayar. Hanya para pedagang yang menyewa mobil dengan harga mahal untuk angkut barang dagangan masuk kampung.

Jarak dari pusat kampung ke tugu perbatasan RI – PNG sejauh 18 kilometer, sementara jarak dari Janggandur ke Merauke kota sejauh 68 kilometer. Dari sekian kampung yang ada di Kabupaten Merauke, hanya Yanggandur yang memiliki kantor dan balai kampung. Namun hingga Februari 2012 lalu belum digunakan karena belum pemilihan kepala kampung.
“Dana Gerbangku yang kami terima sudah digunakan untuk membiayai pendidikan, kesehatan, ekonomi. Dinas Tanaman Pangan, Balai Taman Nasional Wasur dan Dinas Pertanian juga ada masuk kampung. Masing-masing ada programnya”, kata Agustinus Sangra.

Epnulus Yuwali, Walikelas 1 SD YPPK FX Yanggandur juga senada dengan Agustinus Sangar, anak-anak sekarang sudah sangat tergantung dengan beras. Kalau ada uang langsung beli beras untuk makan sama-sama. Kalau habis, minta lagi. Tapi lebih bagus makan makanan yang ada di kampung, seperti sagu, ubi betatas, ikan, daging. “Kalau panen ubi atau sagu tidak dijual keluar, untuk makan saja, kecuali kalau ada yang pesan. Kita biasa jual daun singkong”.

Komandan Pos 142/Ksatria Jaya, Lettu Infantri TNI, Husnen E. F. yang ditemui diposnya di Kampung Yanggandur Distrik Sota Kabupaten Merauke, pertengahan Februari 2012 lalu menyebutkan jika bahan makanan yang mereka bawa biasanya diberikan pada masyarakat. “Kalau kita di sini TB-nya habis untuk masyarakat. Yang kita bawa kemarin sudah habis, yang kita makan apa yang ada saja. Masyarakat juga suka TB. Saking senangnya, itu dia suruh cari ikan nanti ditukar dengan TB. Kita drop logistik sebulan sekali.” ujar Komandan Pos 142/Ksatria Jaya ini.*

About Admin Jubi

Admin Jubi has written 257 post for tabloidjubi.com.

300x250-1a

West Papua Daily
- tabloidjubi.com
- tabloidjubi.com
- tabloidjubi.com

300x250-1a

300x250-1a

300x250-1a

300x250-1a

Pilihan Editor

Back To Top