MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 271.043 +2.485
  • IDX30 Index 445.177 +3.578
  • Composite Index 5089.547 +30.698
  • PEFINDO25 Listed 461.572 +3.334
  • SMI Infrastructur 359.773 +3.553
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4630.742 +64.604
  • Nikkei 225 16413.76 +755.56
  • FTSE BUR MAL KLCI 1855.15 +12.37
  • Integrated Silico 13.58 +0.72
  • S&P 500 2018.05 +23.40
  • NASDAQ-100 4158.21 +57.574

ASMAT WAKILI PAPUA KE JERMAN

Penulis : on March 7, 2013 at 08:28:44 WP
Victor Mambor

Tim Budaya Asmat yang berangkat ke Berlin, Jerman (Jubi/Agapitus Batbual)

Merauke, 07/03, (Jubi)-Emak Cem dan Bis hingga Jipai adalah tarian asli Asmat khususnya Sub Suku Joerat. Emak Cem mengisahkan tentang kelahiran manusia hingga dewasa. Dalam proses ini, generasi muda akan pelajari bagaimana pendidikan berlaku dalam budaya Asmat hingga dewasa dalam pesta adat.

Namun orang tua-tua adat Asmat tidak sembarangan menentukan layak atau tidak seseorang menjadi dewasa. Mereka memperhatikan secara teliti seorang anak berburu, mencari ikan, pangkur sagu serta mencari ulat sagu. Jika resmi berarti orang tertentu sudah melewati berbagai rintangan seperti ini. Bagi orang Asmat, proses kelahiran menjadi baru terletak disini. Emak Cem sendiri adalah sebuah tarian adat yang mengisahkan proses kelahiran manusia ini.

Sedangkan upacara Bis adalah tarian adat lain yang menceritakan emansipasi kaum perempuan. Bagaimana kaum lemah tertindas dan berusaha membebaskan diri dari kungkungan adat, ditarikan dalam upacara sakral. Konon, seorang perempuan bernama Bis dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan seorang yang suka berburu demi menghidupi keluarganya. Mereka menikah, tetapi sang suami melarang Bis untuk bertemu dengan siapapun. Karena tertekan dan makan hati, satu ketika Bis melarikan diri untuk mencari pujaan hatinya. Orang tersebut bernama Beorpits dan resmi menikah. Cerita ini mewakili proses orang Asmat memproklamirkan kemerdekaan. Intinya, walaupun hidup penuh tantangan apapun tetapi akhirnya bebas lepas.

Lalu pesta Jipai menceritakan menceritakan, bagaimana orang Asmat percaya adanya ikatan emosional dengan roh-roh. Manusia yang hidup dunia ini bisa membantu mereka didunia roh-roh karena factor  keseimbangan atau Ja Asamanam Apcamar. Mereka percaya, roh-roh pasti mendoakan anak cucunya, sebaliknya mereka yang masih di dunia bisa berdoa kepada Tuhan agar roh-roh bisa selamat juga. Bagi semua orang Asmat, menghadirkan roh-roh adalah unsur sakral. Roh bisa mendapatkan tempat layak atau tidak tergantung pada manusia. Justeru itulah, iman Katolik percaya hal ini.

Tiga cerita sakral inilah, menurut Bonifasius Jakfu tertuang dalam sebuah sinopsis. Boni panggilannya, mengatakan proses tarian adat ini akan dipentaskan di Berlin, Jerman. Dia menceritakan, saat di Kabupaten Asmat sebelum berangkat ke Merauke sudah ada sinopsis yaitu Bis, Jipai lalu Emak Cem. Tiga bagian tarian ini terkesan dibalik-balik. Yang seharusnya kelahiran-hidup hingga meninggal. Maka terbuatlah sebuah sinopsis bagus. “Logika tak tersambung. Maka saya robah menjadi kelahiran-hidup dan meninggal,” ujar saat ditemui di Bandara Mopah Merauke.

Mereka membawa puluhan papan untuk diukir saat tiba di Berlin, Jerman dan sebuah patung Bis dan topeng roh. Tim akan berangkat sekitar 50 orang ditambah seniman sebanyak 30 orang. Tetapi ada satu dan lain hal, yang ikut ke Berlin, Jerman totalnya 46 orang. Mereka berangkat ke Berlin, Jerman dalam rangka pameran maupun eksebisi tiga tarian Asmat ini dalam di event Parisiwata Internasional. Pemerintah Jerman pun memberikan kehormatan kepada Papua dan Indonesia khususnya  Pemda Asmat untuk hadir.

Prosesnya, menurut Sekretaris Dinas Kabupaten Asmat Donatus Tamot, mereka diseleksi dari tingkat kampung. Menariknya, mereka mewakili semua rumpun suku Asmat. Dan Tour Cartens Adventure, perusahan yang mengantar mereka tiba di Berlin adalah orang yang terlatih. “Perusahan ini rata-rata orang Papua. Kami sangat senang,” jelas Tamot.

Perjalanan tim berangkat Rabu 27 Februari ke Jayapura hingga Jakarta. Minggu 3 Maret berangkat ke Abudabi hingga Amsterdam, Belanda. Selasa 5 Maret melalui jalur kereta api tiba di Berlin. Tim Asmat akan diterima oleh pemerintah setempat. Pembukaannya dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhono. Usai eksebisi tarian dan aksi ukir, Tim Asmat mengunjungi museum dr. Koendrad dan Ursula, salah satu pendonor untuk membangun Museum Kebudayaan Asmat milik Keuskupan Agats-Asmat. Selain itu, mereka harus ke Belanda dan Belgia juga.

Menurutnya, Asmat terpilih karena dunia sudah mengenal dan memiliki situs warisan budaya dunia. Wajar saja, Asmat menjadi perhatian dan terpilih dalam event dunia. Kabupaten Asmat mewakili seluruh Papua dan Indonesia. Harapannya, sektor pariwasata yang diunggulkan. Kendala utama adalah transportasi. Kemungkinan event bernilai saat Asmat diperkenalkan selain Pulau Bali. (Jubi/Agapitus Batbual)

About Admin Jubi

Admin Jubi has written 229 post for tabloidjubi.com.

Ajax spinner
Pilihan Editor
Back To Top