MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 272.427 +0.458
  • IDX30 Index 442.705 +1.035
  • Composite Index 5087.25 +12.927
  • PEFINDO25 Listed 470.682 +3.432
  • SMI Infrastructur 362.599 +0.029
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4382.847 -36.632
  • Nikkei 225 15136.31 -59.46
  • FTSE BUR MAL KLCI 1808.55 +12.33
  • Integrated Silico 12.25 -0.18
  • S&P 500 1927.11 -14.17
  • NASDAQ-100 3949.587 -21.805

REKOMENDASI KONFERENSI DESA ADAT DI PAPUA

Penulis : on March 25, 2013 at 19:57:36 WP
dominggus a mampioper

Titus Pekei, selaku Peneliti Lembaga Ekologi Papua, sekaligus Penggagas Noken Papua Warisan Dunia dari Indonesia, saat membawakan materi (Jubi/Eveerth)

Jayapura, 25/3 (Jubi)Ketua Dewan Adat Byak, Yan Piter Yarangga mengatakan dalam upaya memberikan perlindungan kepada sumber daya genetiK (SDG) Papua, maka pemerintah harus membuat regulasi untuk memproteksinya, , disamping menjembatani rekomendasi – rekomendasi masyaraat adat.

“Semua hal yang telah disampaikan pihak pemerintah mendapat sambutan positif dari masyarakat adat, sehingga kedepan nantinya apa yang menjadi kepemilikan masyarakat bisa di data dengan baik,” ujar — Ketua Dewan Adat Byak, Yan Piter Yarangga, kepada Tabloidjubi.com, di Jayapura, Senin.

“Disinilah kita lakukan pertemuan, sehingga nantinya bisa terlihat jelas apa yang menjadi kepemilikan masyarakat adat, dan harapan bagi pemerintah untuk tidak berwacana saja tetapi merealisasikannya, agar supaya memberikan keuntungan bagi masyarakat adat,” harapnya.

Konferensi Desa Adat dilaksanakan pada tanggal 21 – 22 di Hotel Relat, yang di hadiri masyarakat dari 7 (tujuh) wilayah adat, yakni Mamta : Papua Timur Laut, Saereri : Papua Utara/Teluk Cenderawaih, Domberai : Papua Barat Laut, Bomberai : Papua Barat, Anim Ha : Papua Selatan, La Pago : Papua Tengah dan wilayah ketujuh adalah Meepago : Papua Tengah Barat, memberikan beberapa rekomendasi sumber daya genetika yang harus di proteksi dan dilindungi dengan sebuah regulasi dan kebijakan yang lebih berpihak.

“Kami mengangkat satu dua dari sumber daya genetika, yang semakin punah, tetapi memiliki kualitas yang harus segera di pelihara, yakni kami dari Saireri, jenis makanan tradisional, Pokem, salah satu jenis buah dari pohon lolaro, di olah menjadi tepung dan dikonsumsikan masyarakat wilayah saiereri dan ini belum di kembangkan lebih populer, karena ini menyangkut peran semua pihak dalam, terutama pemerintah dalam melestaraikan potensi sumber daya alam,” ungkapnya.

Buah merah dari puncak jaya, dari Tabi mengakat kayu suang, dari semua pihak masyarakat adapt mengakkat satu jenis dan akan mendorong sampai harus ada proteksi nyata dari kebiajakan regulasi pemerintah maupun instansi terkait supaya akan dikendepankan hak kepemilikan sumber daya genetika,

“Kami juga mendorong dalam melindungai kekayaan dari kepunahan danpencaplokan orang lain, karena sudah banyak yang mencuri atas nama penelitan, dan mengakui hall ini miliki mereka, padahal itu habitat asli tanah Papua,” tandasnya.

Sedangkan, Titus Pekei yang tampil sebagai pemateri,NOKEN WARISAN BUDAYA TAKBENDA “Pelindungan & Pengembangan Noken Papua” menjelaskan, keragaman Noken Ekologi dapat berkaca menurut kearifan budaya dan alam tanah Papua. Sebelum mengenal dan mengangkat derajat hidup masyarakat adat Papua mesti mengenal dan mengetahui peluang dan tantangan kondisi alam tanah Papua.

“Keragaman Noken Multi-Suku bangsa di tanah Papua menjadi daya tarik sejak UNESCO tetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda yang memerlukan perlindungan mendesak maka dari itu semua pihak/komponen punya tanggung jawab untuk selamatkan warisan budaya tersebut. Dalam hal pemanfaatan potensi sumber daya genetik (SDG) pun melibatkan peran serta maksimal bersama masyarakat hukum adat, sesuai norma adat atau aturan adat setempat,” kata Titus Pekei, selaku Peneliti Lembaga Ekologi Papua, sekaligus Penggagas Noken Papua Warisan Dunia dari Indonesia.

Cermin Noken Papua, Perspektif Mata Budaya Papuani . Pengamatan Lembaga Ekologi Papua, pemahaman pentingnya implementasi Protokol Nagoya tentang Akses dan Pembagian Keuntungan atas Pemanfaatan Sumber Daya Genetik, untuk kedepan sangat tepat demi penguatan ketahanan genetik yang berkearifan lokalitas setempat.

“Konferensi Masyarakat Adat Papua mengenai Pemahaman SDG yang diseleggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, sangat penting untuk membuahkan hasil berkelanjutan kedepan. Oleh sebab itu, peran aktif dari semua pihak sangat dibutuhkan secara harmoni mulai hari ini dan akan datang,” harapnya.

Dalam kesempatan yang hadir dari masyarakat adat, antara lain, John NR Gobai (Ketua Dewan Adat Paniai), Hubert Kwambre (Ketua Dewan Adat Keerom), Jack Kasimat (Dewan Adat Mamta), Lamok Mabel (Ketua Dewan Adat Baliem), Yan Piter Yarangga (Ketua Dewan Adat Byak), Piter Tabuni (Ketua Dewan Adat Intan Jaya), Frans Mote (Ketua Dewan Adat Deiyai), Elisa Marani (Dewan Adat Yapen), Barnabas Mandacan (Dewan Adat Doberay) dan Engel Hombahomba (Dewan Adat Bomberay), Edison dan beberapa masyarakat adat lainnya serta pemateri dari Universitas Cenderawasih serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sendiri.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup RI, Prof. FDr. Balthazar Kambuaya, M.BA., menyampaikan bahwa kekayaan alam ini, baik dalam tingkatan ekosistem, spesies dan genetik, apabila dikelola secara benar mampu memberikan manfaat untuk memenuhi kebutuhan bangsa dan umat manusia pada umumnya. Oleh karena itu, anugerah kekayaan itu wajib disyukuri, dikelola, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran bangsa Indonesia, baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

“Sumber daya genetik telah lama dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia dan bangsa lain di dunia. Sumber daya genetik tersebar tidak merata di seluruh dunia, demikian juga penguasaan teknologi dalam pemanfaatan sumber daya genetik. Situasi tersebut menyebabkan terjadinya saling ketergantungan antarnegara, baik dalam sumber daya genetik maupun teknologi. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan internasional terkait dengan akses dan pemanfaatan sumber daya genetik, termasuk pengetahuan tradisional terkait dengan sumber daya genetic,” ujar Menteri Lingkungan Hidup RI, Prof. Dr. Balthazar Kambuaya, M.BA, dalam suatu kesempatan saat di wawancara.

Mantan Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura ini, mengakui, bahwa pengetahuan tradisional yang terkait dengan sumber daya genetik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sumber daya genetik itu sendiri dan secara berkelanjutan diwariskan oleh nenek moyang masyarakat hukum adat dan komunitas lokal.

“Karena jasa masyarakat tersebut dalam melestarikan dan memanfaatkan sumber daya genetik, yang secara terpolakan tercermin dalam pengetahuan, inovasi, dan praktik yang terkait, maka masyarakat Internasional memandang perlu dikembangkan pengaturan pengelolaan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional terkait dengan sumber daya genetik yang dapat menampung dinamika dan aspirasi masyarakat hukum adat dan komunitas lokal,” cetusnya.

Protokol Nagoya merupakan perjanjian internasional di bidang lingkungan hidup yang mengatur akses dan pembagian keuntungan dari pemanfaatan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional terkait sumber daya genetik antar Negara. Protokol Nagoya merupakan salah satu Protokol dibawah Konvensi Keanekaragaman Hayati dimana konvensi tersebut telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994. (Jubi/Eveerth)

eveert

About Eveert Joumilena

Eveert Joumilena has written 376 post for tabloidjubi.com.

West Papua Daily
Pilihan Editor
Back To Top