MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 277.875 +1.311
  • IDX30 Index 454.431 +2.067
  • Composite Index 5133.036 +14.091
  • PEFINDO25 Listed 466.236 -2.26
  • SMI Infrastructur 365.189 -0.078
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4771.24 +12.988
  • Nikkei 225 17383.58 -24.039
  • FTSE BUR MAL KLCI 1842.17 +3.61
  • Integrated Silico 14.70 +0.05
  • S&P 500 2069.07 +2.04
  • NASDAQ-100 4302.933 +14.704

DANAU SENTANI: “GEJALA ALAM ATAU ULAH MANUSIA?”

Penulis : on April 11, 2013 at 01:14:01 WP

Rumah warga di tepian Danau Sentani terendam air pasang akibat hujan yang terus menerus.(Jubi/DAM)

Jayapura, 10/4 (Jubi)Dulu ketika Danau Sentani mulai kekurangan air, banyak pihak menuding penyebab utama adalah  kawasan Cagar Alam Cykloop mengalami kerusakan akibat ulah manusia. Bayangkan saja dari 23 sungai yang mengalir ke dalam Danau Sentani, hanya 11 sungai yang masih berfungsi mengeluarkan air. Selebihnya 12 tak berfungsi lagi sudah menjadi kali mati dan  hanya menunggu tanda-tanda kehidupan saat hujan turun dari langit.

Semua orang bilang kalau Gunung Cykloop atau Dafonsoro itu sumber airnya Danau Sentani. Bahkan semua sepakat kalau kawasan Cagar Alam Cykloop adalah sumber air minum bagi warga Kota dan Kabupaten Jayapura. Sayangnya kawasan ini tak pernah dijaga sesuai fungsinya, jalan setapak menuju hutan pun mulai berobah menjadi jalan raya.

Kayu swang dan bahan galian c menjadi incaran warga kota karena punya nilai ekonomi. Memang terkadang faktor ekonomi membuat manfaat lingkungan hidup tak berarti lagi. Tapi ketika krisis atau pun banjir datang semua warga mulai bicara soal lingkungan hidup. Pakar mulai berteori dan aktivis mulai berdemo menentang kebijakan yang merugikan. Nyatanya Cykloop terus digerogoti karena punya tambang dan letaknya strategis untuk membangun kantor dan permukiman.

Anehnya ketika air di Danau Sentani pasang mencapai ketinggian sekitar tiga meter justru yang keluar adalah pernyataan gejala alam. Bukan karena faktor manusia atau kesalahan kebijakan dalam pembangunan di sekitar kawasan Danau Sentani. Padahal jika melihat kenyataan di lapangan ternyata penimbunan dan penebangan kawasan sagu di sekitar Danau Sentani menjadi salah satu faktor yang membikin naiknya permukaan air Danau Sentani. Apa jadinya kalau 23 sungai yang mengali ke Danau Sentani semakin deras akibat hujan terus menerus. Sebaliknya hanya ada dua sungai yang mengeluarkan air dari dalam Danau Sentani.

Faktanya warga semakin kuatir kalau hujan terus mengguyur dan air pasang menambah ketinggian di dalam Danau Sentani.  Paling tidak harus ada upaya dari pemerintah, masyarakat di sekitar Danau Sentani dan juga di sekitar permukiman Cykloop harus mengembalikan fungsi hutan dan lahan agar mampu menjaga keseimbangan alam.

Pasalnya jika tidak ada upaya untuk memperbaiki sudah pasti akan terjadi kekeringan saat terik matahari menyinari bumi, sebaliknya jika air hujan membasahi bumi sudah pasti banjir dan air pasang terjadi. Marilah semua warga di sekitar kawasan Cykloop mulai mengembalikan fungsi kawasan Cagar Alam sebagai penjaga keseimbangan alam dan manusia.(Jubi/Dominggus A Mampioper)

 

 

 

Minggus

About Dominggus Mampioper

Dominggus Mampioper has written 204 post for tabloidjubi.com.

West Papua Daily
Pilihan Editor
Back To Top