MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 268.558 -0.709
  • IDX30 Index 441.599 -1.651
  • Composite Index 5058.849 -15.207
  • PEFINDO25 Listed 458.238 -1.565
  • SMI Infrastructur 356.22 -0.857
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4566.138 +16.912
  • Nikkei 225 15658.2 0
  • FTSE BUR MAL KLCI 1842.78 +3.23
  • Integrated Silico 12.86 +0.15
  • S&P 500 1994.65 +12.35
  • NASDAQ-100 4100.637 +10.083

JOHN DJONGA : SAYA TIDAK BERPIKIR SEDIKITPUN SUPAYA DIKENAL ATAU PUNYA MOTIF POLITIK

Penulis : on April 12, 2013 at 23:10:54 WP
Victor Mambor

PASTOR JOHN DJONGA PR (JUBI/TIMOTEUS)

Jayapura, 12/04 (Jubi) – Pastor John Djonga, Pr membantah pernyataan Bupati Yahukimo, Ones Pahabol yang menyebut Pastor pegiat HAM ini memiliki motif politik dan hanya mencari perhatian saja karena telah mempublikasikan tewasnya 61 warga Distrik Samenage karena menderita berbagai penyakit. Berikut adalah tanggapan Pastor pemenang Yap Thiam Hien Award 2009 ini.

“Pertama sekali, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ones Pahabol karena akhirnya beliau memberikan tanggapan atas berita meninggalnya 61 warga di Distrik Samenage. Sesungguhnya beberapa hari sebelum melaksanakan konferensi pers di Jayapura, saya sudah berusaha menghubungi beliau lewat telpon dan sms mengenai situasi ini namun sama sekali tidak ada tanggapan sehingga saya merasa tidak ada cara lain untuk mengetuk pintu hati pemerintah daerah Yahukimo selain dengan bantuan media dan juga kami telah berusaha mengutus dua orang anggota tim untuk bertemu bapak Bupati dan mereka-mereka yang berkepentingan, tapi kami  hanya ketemu dengan Bapak Wakil Bupati, Kepala BPMK, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala  (Dinas) P dan P.

Yang kedua, bahwa dalam mengungkapkan kejadian ini, sama sekali tidak ada motif politik atau ingin mencari perhatian seperti yang diungkapkan oleh Pak Bupati. Distrik Samenage adalah bagian dari wilayah pelayanan saya di Paroki Hepuba Dekenat Jayawijaya meskipun secara wilayah pemerintahan berada di bawa Kabupaten Yahukimo. Maka merupakan tanggungjawab saya untuk menyuarakan penderitaan masyarakat yang tidak terdengar oleh pemimpinnya sendiri.

Yang ketiga, bahwa sebelum melaksanakan konferensi pers, bersamaan dengan perayaan Paskah tahun 2013 saya berada di Distrik Samenage selama satu minggu dari tanggal 26 Maret-02 April 2013. Saya bersama dengan tim termasuk seorang petugas kesehatan. Selama di sana, kami berdiskusi secara intensif dengan masyarakat, baik kondisi kehidupan menggereja, kondisi ekonomi, pendidikan, dan juga kesehatan. Tidak hanya itu, kami juga mengunjungi langsung Puskesmas Pembantu Samenage, satu-satunya pustu yang berada di Disktrik Samenage dan melayani sembilan kampung yang letaknya berjauhan. Temuan kami mengenai kondisi pelayanan kesehatan di antaranya adalah: Kepala Puskesmas dan seorang mantri yang bertugas sana sudah lama meninggalkan tempat tugas, menurut masyarakat yang biasa melayani adalah para kader tetapi para kader mengaku kemampuan mereka terbatas. Kondisi Pustu tidak terawat. Di dalam ruangan obat-obatan berhamburan. Program kesehatan ibu dan anak seperti posyandu, imunisasi juga tidak berjalan dengan baik. Data mengenai jumlah warga yang meninggal merupakan data Puskesmas Samenage yang diberikan oleh kader bernama Habel Lokon, seorang kader yang bertugas di Pustu Samenage. Menurut pengakuan yang bersangkutan, data tersebut sudah disampaikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo namun tidak mendapat tanggapan. Data tersebut cukup lengkap seperti nama, umur, jenis kelamin, alamat dan diagnosa penyakit (seperti yang sudah disampaikan kepada teman-teman pers).

Yang keempat, setelah kembali dari Samenage, saya megutus salahseorang staf saya untuk menyampaikan situasi ini ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Yahukimo Bongga Sumule, SKM. M. Kes. di Dekai. Staf saya bertemu beliau pada Rabu 10 April 2013. Tanggapan dari Kadis kesehatan adalah bahwa apa yang terjadi di Samenage juga terjadi di wilayah lain. Dinas kesehatan sudah menyediakan petugas tetapi mereka banyak juga yang meninggalkan tempat tugas dan lebih memilih berada di Kota. Bahkan ketika ditanya apa yang bisa dilakukan ke depan, beliau mengaku bingung dengan situasi ini.

Kelima, tanggapan bapak bupati setelah mendengar laporan dari tim kesehatan kabupaten Yahukimo dimana hanya 1 jam bertemu dengan masyarakat maka sangat tidak menjadi dasar bahwa data sudah akurat. Yang aneh lagi bahwa bapak Bupati mengatakan bahwa laporan kami bermotif politik dan supaya di kenal orang. Hal ini sangat bertentangan dengan semangat pelayanan saya. Saya tidak berpikir sedikitpun supaya dikenal atau punya motif politik. karena bagi saya itu semua tidak ada gunanya, tetapi bagi bapak bupati mungkin itu penting. Silahkan. Saya sebenarnya bersama tim kesehatan, tim pastoral dan jurnalis hanya mau menyuarakan suara rakyat dan jeritan anak manusia di Samenage yang pernah memilih bapak untuk jadi Bupati yang kini menurut mereka telah di lupakan. Pertanyaan saya bagi bapak bupati;  apakah 61 orang yang meninggal dari 9 desa di distrik Samenage yang datanya lengkap ada di tangan kami itu bukankah warga Kabupaten Yahukimo?, saya harap arwah dari 61 orang ini tidak marah. Siapa yang bohong dan siapa yang mau mencari nama, hanya Tuhan dan mereka yang telah meninggal yang tau.

Keenam,  Bapak Bupati menyingung  saya sebagai “hamba Tuhan……” saya menyampaikan terimakasih banyak atas penilaiannya. Saya juga berterimaksih atas kebijakan bapak yang telah mengirim tim dokter yang mungkin hanya satu jam dan hanya di satu tempat. Pada kesempatan ini juga saya menyampaikan bahwa guru-guru SD Inpres Samenage sudah lama tidak ada di tempat. SD ini juga belum punya nomor Induk Nasional padahal, ini sekolah Inpres yang sudah lama.

Ketujuh , saya siap untuk membuktikan kebenaran atas laporan yang telah kami buat. Kami juga masih punya bukti-bukti hasil wawancara, foto-foto dan laporan kematian 61 orang dari kader Kesehatan serta  dengan tokoh-tokoh masyarakat selama satu minggu di distrik Samenage. Atau kami siap untuk kita turun ke lapangan bersama guna menanyakan langsung kepada sumber dan keluarga korban itu dalam waktu dekat.

Terakhir, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Kabupaten Yahukimo.

Mohon maaf jika ada kalimat yang tidak berkenan. Tidak ada niat untuk menjatuhkan nama baik dan reputasi pemerintah Kabupaten Yahukimo. Harapan saya hanya agar pemerintah lebih memperhatikan lagi kehidupan masyarakat asli Papua yang terisolir di pedalaman teruatama masyarakat di distrik Samenage yang sampai saat ini membutuhkan perhatian serius.” (Jubi/Benny Mawel)

benny

About Benny Mawel

Benny Mawel has written 340 post for tabloidjubi.com.

Pilihan Editor
Back To Top