MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 270.358 -1.973
  • IDX30 Index 441.991 -2.246
  • Composite Index 5073.068 -30.45
  • PEFINDO25 Listed 468.426 -7.535
  • SMI Infrastructur 363.122 -1.398
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4466.403 +13.611
  • Nikkei 225 15291.64 +152.68
  • FTSE BUR MAL KLCI 1818.86 +8.18
  • Integrated Silico 12.6099 +0.0599
  • S&P 500 1954.20 +3.38
  • NASDAQ-100 4025.432 +13.164

WAKTU BAKAL UJI KEPEMIMPINAN LUKMEN

Penulis : on April 14, 2013 at 20:41:20 WP
MUSA ABUBAR

Saat pelantikan Gubernur Papua Lukas Enembe dan Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal (Jubi/Levi)

Sentani, 14/4 (Jubi) - “Di wilayah pengunungan Papua, pemilik tradisi bakar batu, tidak pernah ada acara bakar batu dengan ratusan tungku api, ratusan kolam masak dan ribuan korban babi serta dihadiri ribuan orang.”

Demikian ungkapan dari Oktovianus Himan, salah satu anak kepala suku Himan di Wamena yang kini menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Fajar Timur (STFT) Papua di Jayapura saat menyaksikan syukuran pelantikan gubernur Papua, Lukas Enembe dan Klemen Tinal (Lukmen)  yang berlangsung di belakang Kompleks Lanud Sentani, Kabupaten Jayapura,  Kamis (11/4) lalu.

Acara kali itu mengherankan.  Sejak pagi, warga sudah mendatangi tempat acara. Lokasi syukuran penuh manusia. Mereka datang dari Abepura, Jayapura dan dari sejumlah daerah di Papua yang berada diluar Jayapura. Warga berdatangan ke lokasi dengan mengunakan kendaraan pribadi dan kendaraan yang disewa, baik roda dua maupun roda empat. Kebanyakan warga menyewa taxi angkutan umum. Mobil rental juga banyak disewa. Berbagai jenis taxi dan mobil ada dilokasi Lanud Sentani.

Karena banyaknya kendaraan yang disewa, terminal taxi angkutan umum dan terminal mobil rental, sepi. Jalan Raya disepanjang Kota Sentani, Abepura, dan Jayapura juga mengalami hal serupa yakni sepi. Memang ada kendaraan yang lalu lalang namun bisa dihitung dengan jari, tak seramai dijalanan seperti biasanya. Ketua panitia pelaksana syukuran, Timotius Murib mengaku, warga yang datang untuk mengikuti acara, baik undangan maupun simpatisan, berjumlah ribuan. “Warga masyarakat yang hadir ini jumlahnya sekitar  ribuan,” kata Timotius saat menyampaikan laporan pantia.

Jumlah babi yang disembeli untuk disantap bersama dalam acara tersebut sebanyak  2.000 ekor. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli babi sekitar Rp. 20 juta lebih. Hitung-hitung, panitia menghabiskan anggaran sebesar Rp. 4 milyar lebih.  Jumlah kolam susunan batu bakar batu pun tidak seperti biasanya. Susunan batu pajangnya sekitar ratusan dan kolam juga mencapai ratusan. “Jumlah kolam dan susunan batu sekitar 200,” kata salah satu pemuda yang berusaha menghitung.

Kejadian ini sangat luar biasa dari biasanya. Wilayah gunung yang dikenal dengan tradisi bakar batu, pesta babi pun tidak pernah menyelengarakan pesta besar seperti ini. Pesta kemenangan ini melampaui  pesta ala gunung.  Orang gunung akan mengerti fakta ini dengan baik, bila dihubungkan dengan pesta perayaan hidup orang Papua bersama seorang pemimpin. Orang gunung juga akan mengerti, bagaimana layaknya.

Kebanyakan orang, kagum bercampur heran.  Lukmen benar seorang pemimpin yang merayakan kemenangan. Lukmen mulai menunjukkan wibawa pemimpin gunung. Wibawa pemimpin bisanya, menurut orang Papua, terletak pada keberanian, kemenangan dalam pertarungan dan menyelenggarakan pesta kemenangan. Wibawa pemimpin terbukti dalam diri Lukas Enembe bersama Kelemen Tinal (Lukmen). Lukmen telah berani mengambil satu langkah dalam pesta demokrasi di Papua. Keberanian mereka telah mengalahkan lawan-lawan politiknya saat bertarung dalam pesta demokrasi.

Kedua pasangan ini berhasil mengantogi 52 % suara, usai pemilihan umum (pemilu). Lukmen menutup kemenangan itu dengan pesta babi. Dengan pendapat berbeda dan sepihak, acara  tidak berlebihan, berdasarkan pandangan dan wibawa pemimpin orang gunung.  Lukmen telah memecahkan rekor  pesta babi yang terbesar dan tercatat sebagai sejarah baru di Papua.

Pesta ini akan susah dilupakan banyak orang. Syukuran itu merupakan sejarah yang sulit ditelan waktu. Waktu terus berganti. Waktu juga akan menguji.  Bisa jadi sejarah atau euvoria kemenangan itu hanya sesaat. Bisa jadi juga, keberhasilan sesungguhnya yang didambakan rakyat Papua,  tak dirasakan. Komitmen, ungkapan dan tindakan Lukas dan Klemen memimpin Papua selama lima tahun akan teruji oleh sang waktu.

Sejarah baru yang ditoreh Lukmen diharapkan tidak menjadi euvoria belaka. Sebaliknya, pesta ini benar-benar menjadi pesta demokrasi rakyat Papua. Pesta ini juga betul-betul menjadi  awal persatuan, awal kekuatan rakyat Papua untuk membangun Papua sesuai visi “Papua bangkit, mandiri dan sejahtera” yang diusung sebelum pesta demokrasi berlangsung.

Papua bangkit, mandiri dan sejahtera perlu terjemahan mendalam, detail dan tepat sasaran. Kebangkita tidak hanya kebangkitan orang gunung, peseta bakar batu melainkan lebih dari itu. Kebangkitan mesti lebih mengarah pada kebangkitan semua orang Papua, kebangkitan juga harus lebih pada kekuatan fisik dan mental orang Papua. Kekuatan otot dan mental orang Papua mesti bangkit. Otot orang Papua harus mampu mengolah seluruh alamnya.Kekuatan mental orang Papua menjadi sumber berpikir, merancang, mengolah dan menjadikan dirinya dan negerinya betul menjadi berkat bagi orang lain.

Eksplorasi kekuatan otot dan mental orang Papua butuh persiapan. Orang Papua butuh pendidikan kejuruan, keahlian dan lebih dari itu ilmuwan yang merancang  dan mengolah  alam untuk membangun negerinya. Karena itu, tidak salah, tidak berlebihan, kalau kebangkitan Papua  itu dimulai  dari persiapan sumber daya manusia Papua. Persiapan harus dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dari kampung ke kota, dari gunung ke pantai, anak pejabat sampai anak non pejabat, dari orang tua sampai anak-anak.

Singkat kata, pembangunan sumber daya manusia harus dipriotitaskan.  Tanpa prioritas pembangunan manusia, kebangkitan dengan kesejahteraan, dirugukan. Kebangkitan akan berubah menjadi slogan belaka bukan kenyataan. Kebangkitan Papua bukan tergantung pada kekuatan mental dan fisik orang lain. Hingga kini, orang Papua masih mengunakan tenaga orang lain menjadi Papua mandiri dan sejahtera.

Jika orang lain yang masih memandirikan Papua, berarti Papua belum mandiri dan sejahtera. Papua juga belum keluar seperti yang diharapkan. Sampai saat ini, hampir semua harapan masih berputar dalam lingkaran retorika yang belum sadar. Retorika ini seolah-olah sebuah kedasaran, padahal belum ada bukti. Papua sendiri belum mandiri dan sejahtera. Semoga kemadirian dan kesejahteraan tercapai. Jika tidak, maka itu menjadi impian dan dambaan baru yang akan terus mengganggu pikiran orang Papua.

“Kita belum bangkit, kita masih tidur. Kita harap kita bangkit. Kita tidak berharap kita tidur lagi,” kata seorang warga yang enggan menyebutkan identitasnya ke tabloidjubi.com saat menghadiri syukuran. (Jubi/Mawel)

 

benny

About Benny Mawel

Benny Mawel has written 323 post for tabloidjubi.com.

West Papua Daily
Ajax spinner
Pilihan Editor
Back To Top