full screen background image
ORANG PAPUA BACA JUBI tabloidjubi.com

Orang Papua Baca Jubi”

Liputan Khusus
“Tindak Lanjut Kebijakan Presiden Jokowi Untuk Papua Tanah Damai”

PROYEKTIL DI TUBUH SOLOMINA BUKAN STANDAR APARAT

SAYA KOMEN!!!

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya. (Jubi/Arjuna)

Jayapura, 7/5 (Jubi) – Pihak kepolisian mengklaim, proyektil  yang bersarang di tubuh Solomina Kalabin (42 tahun), salah satu korban penembakan di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat bukan amunisi standar yang biasa digunakan TNI/Polri.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya mengatakan, proyektil yang dikeluarkan dari tubuh Solomina bukan amunisi senjata organik standar TNI/ Polri. “Informasi yang kami peroleh seperti itu. Hanya saja belum diketahui secara pasti jenis kaliber proyektil itu karena kami belum menerima hasil otopsi yang dilakukan dokter,” kata I Gede, Selasa (7/5).

Menurutnya, saat penyisiran anggota juga menyita amunisi. Namun amunisi itu bukan standar senjata api organik yang dipakai TNI/Polri. Kaliber yang disita, yakni kaliber 30 dan 32 dan tidak menutup kemungkinan ada pihak lain yan bermain, karena saat itu kisruh dan gelap. “Bisa saja amunisi itu berasal dari Senpi rakitan. Namun untuk yang dua orang meninggal lalu kita tidak tahu apakah karena ditembak atau apa. Harusnya saat itu dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebabnya agar jelas dan tidak saling tuduh,” ujarnya.

Home content advertisement before tabbed

Dikatakan, ketika penyisaran lalu anggota polisi juga juga menyita peta Polres dan instalasi militer. Dari keterangan keenam orang yang ditetapkan sebagai tersangka ditahui itulah lokasi yang akan diserang. “Jadi memang ada rencana penyerangan. Memang keenam tersangka itu aktif melakukan perlawan kepada pemerintah. Mereka adalah ikut merencakan pengibaran bendera Bintang Kejora di Aimas lalu,” kata I Gede.

Sementara itu salah satu aktivis LSM di Sorong, Fredi mengatakan, Salomina Kalaibin dioperasi 3 Mei guna mengelurkan proyektil peluru yang bersarang di perut dan juga mengenai tangan kanannya.

“Dia meninggal, Senin malam (6/5) sekitar pukul 20.00 WIT. Peluru yang bersarang di perutnya diduga peluru aparat keamanan yang ditembakkan saat terjadi insiden antara aparat dengan warga Distrik Aimas, 30 April lalu. Ibu Salomina, yang merupakan satu dari tiga orang yang terluka akibat tembakan tersebut, sempat dirawat terlebih dulu di Rumah Sakit, sebelum kemudian dokter melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di perutnya,” kata Fredi ke tabloidjubi.com, Senin (6/5) malam. (Jubi/Arjuna) 

Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT © JUBI 2015
QR:  PROYEKTIL DI TUBUH SOLOMINA BUKAN STANDAR APARAT


Teras Lampung | Ekuatorial | Berita Lingkungan | DeGorontalo | Kabar Kota | Berita Bali | Kalteng Pos | News Balikpapan | Sultra Satu | Suara Kendari | Celebes.Co | Kabar Selebes | Suara Papua | Majalah Selangkah | Cahaya Papua | Aceh Traffic | Aceh Baru | Ranah Minang | News Balikpapan | Suara | Suara Kendari | Sultra Satu | Kabar Makassar | Kabar Medan | Kabar Pulau | Merdeka | Radio New Zealand | Solomon Star | Vanuatu Daily | PINA | Islands Business | Fiji Sun | Maori Television | Post Courier

Copyright All rights reserved 2015 tabloidjubi.com. Dedicated for West Papuan | From Sorong to Samarai Property of PT Jujur Bicara Papua