Header advertisement QR:  PROYEKTIL DI TUBUH SOLOMINA BUKAN STANDAR APARAT

PROYEKTIL DI TUBUH SOLOMINA BUKAN STANDAR APARAT

Arjuna Pademme 1 respond
Diposkan oleh : on May 7, 2013 at 16:36:00 WP CUNDING LEVI]
Sumber :
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya. (Jubi/Arjuna)
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya. (Jubi/Arjuna)

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya. (Jubi/Arjuna)

Jayapura, 7/5 (Jubi) – Pihak kepolisian mengklaim, proyektil  yang bersarang di tubuh Solomina Kalabin (42 tahun), salah satu korban penembakan di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat bukan amunisi standar yang biasa digunakan TNI/Polri.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya mengatakan, proyektil yang dikeluarkan dari tubuh Solomina bukan amunisi senjata organik standar TNI/ Polri. “Informasi yang kami peroleh seperti itu. Hanya saja belum diketahui secara pasti jenis kaliber proyektil itu karena kami belum menerima hasil otopsi yang dilakukan dokter,” kata I Gede, Selasa (7/5).

Header advertisement

Menurutnya, saat penyisiran anggota juga menyita amunisi. Namun amunisi itu bukan standar senjata api organik yang dipakai TNI/Polri. Kaliber yang disita, yakni kaliber 30 dan 32 dan tidak menutup kemungkinan ada pihak lain yan bermain, karena saat itu kisruh dan gelap. “Bisa saja amunisi itu berasal dari Senpi rakitan. Namun untuk yang dua orang meninggal lalu kita tidak tahu apakah karena ditembak atau apa. Harusnya saat itu dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebabnya agar jelas dan tidak saling tuduh,” ujarnya.

Dikatakan, ketika penyisaran lalu anggota polisi juga juga menyita peta Polres dan instalasi militer. Dari keterangan keenam orang yang ditetapkan sebagai tersangka ditahui itulah lokasi yang akan diserang. “Jadi memang ada rencana penyerangan. Memang keenam tersangka itu aktif melakukan perlawan kepada pemerintah. Mereka adalah ikut merencakan pengibaran bendera Bintang Kejora di Aimas lalu,” kata I Gede.

Sementara itu salah satu aktivis LSM di Sorong, Fredi mengatakan, Salomina Kalaibin dioperasi 3 Mei guna mengelurkan proyektil peluru yang bersarang di perut dan juga mengenai tangan kanannya.

“Dia meninggal, Senin malam (6/5) sekitar pukul 20.00 WIT. Peluru yang bersarang di perutnya diduga peluru aparat keamanan yang ditembakkan saat terjadi insiden antara aparat dengan warga Distrik Aimas, 30 April lalu. Ibu Salomina, yang merupakan satu dari tiga orang yang terluka akibat tembakan tersebut, sempat dirawat terlebih dulu di Rumah Sakit, sebelum kemudian dokter melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di perutnya,” kata Fredi ke tabloidjubi.com, Senin (6/5) malam. (Jubi/Arjuna) 

arjuna

About Arjuna Pademme

Arjuna Pademme has written 1765 post for tabloidjubi.com.

Header advertisement