MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 272.927 +3.03
  • IDX30 Index 443.255 +5.37
  • Composite Index 5079.242 +50.296
  • PEFINDO25 Listed 464.193 +7.357
  • SMI Infrastructur 363.315 +4.817
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4258.438 +41.047
  • Nikkei 225 15111.23 +578.721
  • FTSE BUR MAL KLCI 1798.91 +10.60
  • Integrated Silico 11.91 -0.30
  • S&P 500 1886.76 +24.00
  • NASDAQ-100 3815.47 +50.19

DUA TAHAPAN KESADARAN ORANG PAPUA

Penulis : on May 8, 2013 at 17:40:32 WP
MUSA ABUBAR

COVER BUKU NASIONALISME ORANG PAPUA (kompas.com)

Jayapura,  8/5 (Jubi)Bernard Meteray, penulis buku Nasionalisme Ganda Orang Papua dalam bukunya menyebut ada dua tahapan kesadaran Orang Papua.

“Ada dua tahapan dalam proses kesadaran yang terjadi di Papua,” kata Bernard dalam bedah bukunya yang bertajuk Nasionalisme Ganda Orang Papua di Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, di Abepura, Kota Jayapura, Rabu (8/5).

Tahap pertama adalah Proses Kepapuaan. Penggagas awal kepapuan yang dilakukan oleh Belanda melalui I. S. Kijne di Miei, Manokwari 1925 dan Eechoud di Hollandia-Jayapura 1944. Oleh Papua melalui N. Jouwe, J. Ariks dan M.Kaisiepo. Tujuannya adalah memudahkan pekerjaan, baik gereja maupun pemerintahan. Proses yang dilakukan adalah membangun pendidikan berpola asrama di Miei dan Jayapura juga terencana melalui partai yaitu PARNA 1961, EPANG dan PARSEP. Sasaran mempapuanisasikan Orang Papua majemuk pada 1 Desember 1961 sebagai hari pengakuan sebagai Bangsa Papua.

Tahap kedua adalah Proses keindonesiaan. Penggagas awal keindonesiaan oleh Indonesia melalui Soegoro, Gerungan di Jayapura 1945 dan Sam Ratulangi di Serui 1946. Oleh Papua melalui Marthen Indey, Corinus Krey, Benyamin Kayai dan Silas Papare. Tujuannya adalah membangun persatuan dan kesatuan Indonesia. Proses yang dilakukan instan, tidak terencana atau tidak dipersiapkan, tanpa proses pendidikan, hanya melalui rapat atau himbauan dan pembentukan partai politik yaitu KIM 1945, PKII 1946. Sasaran mengindonesiakan Orang Papua mengacu pada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Buku ini sendiri mengambil masa penelitiannya pada rentan 1925-1962, masa dimana belum terjadi aneksasi yang dilakukan Indonesia terhadap wilayah Papua. “Buku ini hanya ingin memperlihatkan bahwa di akhir 1962, kesadaran kepapuaan di Papua lebih kuat daripada keindonesiaan. Kuatnya dan lemahnya dua kesadaran ini sangat dipengaruhi oleh proses, kebijakan serta pendekatan kepapuaan dan keindonesiaan pada masa lalu di Papua,” kata Bernarda lagi.

Bernarda menilai, kuatnya Nasionalisme Papua pada akhir 1962 disebabkan beberapa faktor. Pertama, mayoritas penduduk Papua beragama Nasrani. Kedua, penggunaan Bahasa Melayu di berbagai lapisan masyarakat. Ketiga, terbentuknya Dewan Nieuw Guinea yang mewakili berbagai suku dan agama. Keempat, munculnya media massa berupa surat kabar dan radio. Kelima, munculnya kaum intelektual dan elit di perkotaan khususnya di Hollandia dan Manokwari. (Jubi/AprilaWayar)

emil

About Aprila Wayar

Aprila Wayar has written 465 post for tabloidjubi.com.

Ajax spinner
Pilihan Editor
Back To Top