MARKETS
  • Index Regional »
  • MNC 36 Index 276.564 -1.387
  • IDX30 Index 452.364 -2.738
  • Composite Index 5118.945 -22.819
  • PEFINDO25 Listed 468.496 -0.975
  • SMI Infrastructur 365.267 -2.641
  • Index Global »
  • NASDAQ Composite 4758.252 +3.36
  • Nikkei 225 17407.619 +50.109
  • FTSE BUR MAL KLCI 1838.56 +4.79
  • Integrated Silico 14.65 +0.06
  • S&P 500 2067.03 -2.38
  • NASDAQ-100 4288.229 +3.911

NEGERI DI BAWAH AWAN, FILM PAPUA KE FESTIVAL DUNIA

Penulis : on September 29, 2013 at 21:59:02 WP

Salmon Oropa (pemain), Victor Manengkey (kameramen), Ipong Wijaya (sutradara), dan Yosina Laly Buiney (produser) saat peluncuran film Negeri Di Bawah Awan. (Jubi/Levi)

Jayapura, 29/9 (Jubi) - Adegan dimulai dengan suatu malam, seorang nenek sambil makan pinang duduk bercerita dihadapan cucunya tentang asal mula terjadinya isi jagad raya dan pulau-pulau yang ada di bumi, termasuk Pulau Papua. Sang nenek mulai bercerita tentang sebuah kerajaan di surga. Dari sinilah kisah tentang “Negeri Di Bawah Awan”, sama seperti judul dari film itu mulai mengalir.

Pemilik cerita yang juga sebagai produser film Negeri Di Bawah Awan, Yosina Laly Buiney mengatakan, ide kisah dalam film ini bermula di tahun 1998-1999, saat Indonesia terkena krisis moneter, tapi Papua justru tak mengalaminya. Bahkan saat itu, beberapa wilayah di Papua, seperti Kota Jayapura muncul pendulangan emas tradisional. Sebab emas banyak muncul dan ditemukan di beberapa sungai maupun bukit-bukit di Papua.

“Terus kita juga sering menyebut Papua adalah surga kecil jatuh dari langit. Nah, dari sinilah saya coba angkat cerita yang di dalamnya bagaimana awal surga itu bisa turun di bumi. Ini bukan kisah cerita rakyat dari daerah mana pun, tapi ini hasil analisa imajinasi saya melihat keadaan yang ada,” kata Yosina, dalam acara peluncuran film Negeri Di Bawah Awan, di Auditorium RRI Jayapura, Tasangkapura, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (28/9) malam.

Menurut Yosina, awal dari cerita ini terjadi dari satu kesalahpahaman di surga. Saat itu terjadi kekecewaan dan Lucifer membawa sepertiga malaikat keluar dari Kerajaan Surga. Sehingga Tuhan melempar mereka ke bumi. Tapi ada sebagian malaikat yang tak turun ke bumi, malah melalang buana di jagad raya. Mereka ini membentuk sebuah kerajaan besar.

Suatu hari, kata Yosina, di kerajaan besar para malaikat itu, kembali terjadi kesalahpahaman, yakni sang putra mahkotanya bernama Pangeran Bintang tersinggung, sehingga terlempar di buang ke bumi. Sebelum turun ke bumi, Pangerang Bintang mencuri semua harta kekayaan nenek moyangnya dengan mengisi ke dalam perutnya.

“Tapi ketika di bumi, dia mati terbunuh, jenazahnya tertimbun dan menjadi satu daratan atau pulau luas dan besar. Salah satunyanya, Pulau Papua. Jadi dalam kisah di film ini, saya hanya ingin sampaikan pesan kepada kita semua, janganlah kita silau dangan harta kekayaan yang kita miliki. Sebab hidup di dunia tidak ada yang abadi. Dari film ini, kita akan belajar bagaimana hidup yang benar, sebab hidup ini hanya sementara,” katanya.

Di tempat yang sama, Sutradara Film Negeri Di Bawah Awan, Ipong Wijaya mengatakan, film yang dibuatnya ini dikerjakan hanya dalam waktu enam hari, dengan biaya yang tak sampai milyaran rupiah. “Film ini seluruhnya atau 100 persen asli dari Papua, dari para pemain, kru film, hingga manajemen, semua asli dari Papua. Ini merupakan film seri, yang rencanannya akan diproduksi sebanyak enam seri oleh Ibu Yosina,” katanya.

Menurut Ipong, film Negeri Di Bawah Awan sudah terdaftar secara resmi di Festival Film di Kanada untuk tahun 2013-2014. Juga secara resmi sudah terdaftar di International Film Festival di New York tahun 2013-2014, yang penutupan acara akan diselenggarakan pada 30 November 2013 di Amerika. Selain itu, film ini juga sudah terdaftar di Festival Film International yang berlangsung di Kota Amsterdam, Belanda.

“Kami juga sudah dapat komfirmasi dari panitia, kebetulan berkas-berkasnya ada di saya semua.  Dan satu lagi, film Negeri Di Bawah Awan ini akan diikutsertakan dalam Festival Film Indonesia tahun 2013 yang akan berlangsung di Yogyakarta, 7 Desember 2013 nanti. Tapi sampai sekarang, kami masih menunggu detik-detik terkahir dari panitia untuk segera menyelesaikan administrasinya,” kata Ipong menjelaskan.

Ipong mengatakan, keikutsertaan film Negeri Di Bawah Awan di berbagai ajang festival, bukan menjadi target awal. “Kami tak punya target semua itu. Tujuan kami membuat film Papua ini untuk lebih memperkenalkan budaya Papua di mata dunia. Meski kami tak punya target juara, bukan bererati kami tak punya kesempatan untuk menang. Sebab Tuhan itu maha adil dan mukjizat itu pasti akan datang,” jelasnya.

Mukjizat yang dimaksud Ipong itu pernah dialaminya. Misalnya, saja di tahun 2012 lalu, mereka memproduksi film Papua berjudul Maniwak, yang semua kru, pemain, ide cerita, manajemen, dan pendanaan, semua dari Papua. “Saat itu kami tapi punya target terhadap film ini, tapi tak disangka, film Maniwak bisa menang di Festival Film Maya 2012 lalu,” katanya.

Seperti diketahui, Piala Maya 2012 merupakan ajang apresiasi film nasional yang diinisiasi akun twitter @film_indonesia. Pengurus akun twitter tersebut adalah Muhammad Hafiz Husni dan Rangga Wisesa. Komite juri Piala Maya beranggotakan 100 orang, yang terdiri dari sineas, jurnalis, praktisi periklanan, akademisi, penyiar radio, blogger, desainer busana, pelaku seni, mahasiswa, dan perwakilan komunitas film.

Pada festival film Piala Maya 2012 ini, ada 27 kategori penghargaan yang dilombakan, yang pengumumannya di Bridge Function Room Hotel Aston, Jakarta, 15 Desember 2012 lalu. Film berjudul Maniwak asal Papua yang disutradarai Ipong Wijaya ini, menjadi film terbaik kategori Film Bahasa Daerah Terpilih, menyingkirkan dua film lainnya, yakni Menembus Lorong Badak (Darwin Mahesa-Banten) dan Perempuan Sasak Terakhir (Sandi Amaq Rinjani-Lombok).

“Intinya, saat itu kami tak punya target, ini produksi lokal dan tak ada campur tangan orang luar, apalagi Jakarta. Ini mukjizat, kami bisa masuk nominasi tiga besar dan akhirnya bisa menang dalam ajang festival film Piala Maya 2012 itu. Jadi semoga saja, film Negeri Di Bawah Awan ini juga bisa mengalami hal yang sama. Siapa tahu film ini tak hanya masuk nominasi dan menang di Indonesia, tapi juga di festival dunia,” katanya. (Jubi/Levi 

cunding

About Cunding Levi

Cunding Levi has written 15 post for tabloidjubi.com.

West Papua Daily
Pilihan Editor
Back To Top