<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tabloidjubi.com &#187; Para-Para</title>
	<atom:link href="http://tabloidjubi.com/?feed=rss2&#038;cat=18" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tabloidjubi.com</link>
	<description>The Papua News Portal</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 May 2013 12:48:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>MASYARAKAT SIPIL SERUKAN PENYELAMATAN HUTAN PAPUA</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/05/10/masyarakat-sipil-serukan-penyelamatan-hutan-papua/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/05/10/masyarakat-sipil-serukan-penyelamatan-hutan-papua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 May 2013 08:49:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eveert Joumilena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para-Para]]></category>
		<category><![CDATA[Penyelamatan Hutan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=25776</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 10/5 (Jubi) &#8211; Seminar para pemangku kepentingan di Papua yang berlangsung di Kapal Greenpeace... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/05/10/masyarakat-sipil-serukan-penyelamatan-hutan-papua/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_25779" class="wp-caption alignleft" style="width: 350px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/2013/05/10/masyarakat-sipil-serukan-penyelamatan-hutan-papua/forest-campaigner-greenpeace-papua-richarth-charles-tawaru-eveerth/" rel="attachment wp-att-25779"><img class="size-medium wp-image-25779" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/05/Forest-Campaigner-Greenpeace-Papua-Richarth-Charles-Tawaru-EVEERTH-340x255.jpg" alt="" width="340" height="255" /></a><p class="wp-caption-text">Forest Campaigner Greenpeace Papua, Richarth Charles Tawaru (Jubi/Eveerth)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 10/5 (Jubi)</strong> &#8211; <em>Seminar para pemangku kepentingan di Papua yang berlangsung di Kapal Greenpeace Rainbow Warrior, di Jayapura, Kamis (9/5) berakhir dengan menghasilkan beberapa pokok-pokok pikiran yang diharapkan berguna bagi penyelamatan hutan di Papua.</em><br />
<br />
Hal ini disampaikan oleh Forest Campaigner Greenpeace Papua, Richarth Charles Tawaru, melalui release press via email kepada <em>tabloidjubi.com</em>, di Jayapura, Jumat (10/5).  Dalam siaran pers itu, Greenpeace mengahrapkan, pengelolaan hutan Papua yang berkelanjutan, menghasilkan manfaat bagi perekonomian dan kehidupan masyarakat, tanpa harus mengorbankan lingkungan dan hak masyarakat setempat.<br />
<br />
Pertemuan yang berlangsung dua jam itu dihadiri oleh Greenpeace, Badan Pengembangan Sumber Daya Alam &amp; Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Perwakilan Walikota Jayapura, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam/ BKSDA, Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai/ BPDAS Memberamo, Universitas Cendrawasih Jayapura, Perkumpulan Jerat Papua, JPIC Sinode GKI, Jaringan Kerja Rakyat, Relawan TIK Papua, Ondoafi, Yadupa, Koordinator Penyuluh Keerom, dan Foker LSM Papua.<br />
<br />
&#8220;Salah satu poin penting yang menjadi rekomendasi adalah bahwa Hutan Desa adalah skema yang bisa jadi momentum untuk mening meningkatkan keterlibatan masyarakat adat/kampung dalam pengelolaan Hutan secara berkelanjutan berbasis masyarakat. Sayangnya hutan desa/ kampung belum di prioritaskan di Papua,&#8221; ujar Forest Campaigner Greenpeace Papua, Richarth Charles.<br />
<br />
Selain itu, kata Charles, peran Pemerintah Papua dalam melindungi hutan di kawasan ini sangat penting. Lanjut dia, UU Otonomi khusus sebenarnya dapat dijadikan alat politik dalam pengelolaan SDA (Hutan dan laut). Khususnya hutan, untuk menekan laju deforestasi dan degrasi.<br />
<br />
&#8220;Peserta juga mendorong pemerintah propinsi Papua dan DPRP melakukan Penetapan PERDA RTRW-Papua, dan memastikan dokumen tersebut benar-benar menjamin perlindungan dan kelestarian hutan Papua, untuk membangun kesejahteraan dan keselamatan masyarakat. Mengingat masyarakat asli Papua sangat tergantung hidup pada keberadaan hutan,&#8221; jelasnya.<br />
<br />
Dari informasi yang diterima, rekomendasi-rekomendasi lain yang dihasilkan dari seminar ini adalah mendorong implementasi PERDASUS tentang pengelolaan hutan berkelanjutan, perlunya keterlibatan semua pemangku kepentingan strategis dalam upaya mewujudkan Papua hijau, pendekatan pembangunan yang rendah karbon dan green ekonomi.<br />
<br />
&#8220;Termasuk mendukung komitmen Presiden untuk menurunkan emisi sebesar 26 persen, perpanjangan moratorium hutan Indonesia dan memperkuatnya adalah pintu masuk untuk memperbaiki tata kelola hutan di Papua, penguatan lembaga masyarakat adat. Sebagai wadah payung dan representasi rakyat dalam penyampaian aspirasi rakyat, dan lain-lain,&#8221; tandasnya. <strong>(Jubi/Eveerth)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F05%2F10%2Fmasyarakat-sipil-serukan-penyelamatan-hutan-papua%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/05/10/masyarakat-sipil-serukan-penyelamatan-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>POTENSI WISATA GUNUNG CARTENZ SIAP DIKELOLA</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/05/08/potensi-wisata-gunung-cartenz-siap-dikelola/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/05/08/potensi-wisata-gunung-cartenz-siap-dikelola/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 May 2013 10:26:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eveert Joumilena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para-Para]]></category>
		<category><![CDATA[Puncak Cartenz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=25493</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 8/5 (Jubi) &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Puncak, Provinsi Papua, bertekad mengelola objek wisata Puncak... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/05/08/potensi-wisata-gunung-cartenz-siap-dikelola/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_25523" class="wp-caption alignleft" style="width: 350px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/2013/05/08/potensi-wisata-gunung-cartenz-siap-dikelola/123-puncak-cartenz-belantaraindonesia-org/" rel="attachment wp-att-25523"><img class="size-medium wp-image-25523" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/05/123-Puncak-Cartenz-belantaraindonesia.org_-340x255.jpg" alt="" width="340" height="255" /></a><p class="wp-caption-text">Puncak Gunung Cartenz (belantaraindonesia.org)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 8/5 (Jubi)</strong> &#8211; <em>Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Puncak, Provinsi Papua, bertekad mengelola objek wisata Puncak Cartenz yang merupakan situs budaya ternama dalam tujuh puncak tertinggi di dunia ini. Hingga Cartenz  terus menarik wisata manca Negara di daerah ini.</em><br />
<br />
“Kami akan anggarkan dana untuk mengatur potensi pariwisata di Puncak Cartenz, sehingga dapat memberikan masukan bagi Pendapatan Asli Daerah,” kata Bupati Puncak, Wellem Wandik, di Jayapura, Rabu (8/5).<br />
<br />
Dirinya mengaku, Puncak Cartenz banyak dikunjungi oleh turis manca Negara, dengan demikian potensinya diharapkan tetap dikembangkan dan dijaga. “Puncak Cartenz memiliki nilai jual yang tinggi, sebagaimana di Papua banyak potensi pariwisata yang belum dikembangkan secara baik, demikian potensi pariwisata sepertii laut Raja Ampat merupakan kekayaan alam potensi wisata yang sudah menarik wisata manca Negara, sehingga ini mendorong kami juga mengelola Puncak Cartenz,” jelasnya.<br />
<br />
Dikatakan, banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan dan memberikan pendapatan disektor tersebut bagi kehidupan masyarakat, namun kini masyarakat sudah banyak terjebak dalam masalah politik.<br />
<br />
Gunung Cartenz adalah sebuah gunung yang terletak di Papua, Indonesia. Gunung ini memiliki tinggi setinggi 4.884 meter di atas permukaan laut yang diselimuti salju abadi. Puncak gunung ini disebut &#8220;Piramida Cartenz&#8221;, dan juga Puncak Jaya, yang merupakan dataran tertinggi di Indonesia. Gunung ini adalah salah satu dari tujuh gunung yang dikenal sebagai Tujuh Puncak Dunia.<br />
<br />
Sementara itu, dari informasi yang dikutip dari www.belantaraindonesia.org dikatakan, untuk bisa menggapai puncak Cartenz Pyramid pendaki harus memanjat menggunakan tali, maka dari itu keterampilan memanjat sangat penting di sini. Pendaki wajib menggunakan peralatan pendakian yang direkomendasikan, pastikan anda membawa semua yang ada di daftar itu. Metode ini memberikan keamanan dan kesempatan terbaik mendaki puncak.<br />
<br />
Lemparan pertama untuk memanjat tali pertama adalah 1,5 jam dari base camp, berjalanlah menuju kaki puncak. Memanjat tali perlu ascender untuk naik dinding batu dengan ketinggian sekitar 60 m. Anda akan melakukan hal ini melalui beberapa tali memanjat sampai anda mendapatkan teras yang luas, teras datar ini memberikan keuntungan istirahat sebelum memulai mendaki puncaknya. Untuk sampai ke teras puncak akan memerlukan waktu 15 menit berjalan di atas batu ( pada dasarnya adalah dataran batu, tajam dan basah ).<br />
<br />
Mendaki ke puncak akan lebih sulit dengan sampai kemiringan dinding 60 derajat dan ketinggi 45 &#8211; 50 m, ini akan membawa pendaki ke puncak bukit. Atur sendiri stamina anda dengan bergerak perlahan tapi pasti atau mengikuti tempo optimum anda. Dari puncak bukit anda dapat melihat pemandangan pertambangan di bawah, hutan hujan, hutan perawan Papua dan Laut Arafura. Namun anda dapat menikmati semua ini hanya pada hari cerah dan tidak ada awan di bawah puncak punggungan.<br />
<br />
Lebih lanjut, www.belantaraorganisasi.org menggambarkan, dari titik ini ke Cartenz Base Camp akan memakan waktu 3,5 jam dengan berjalan perlahan di tengah &#8211; tengah lembah di sekitarnya dinding berbatu &#8211; batu. Perjalanan sedikit mudah dengan lumpur dan batu tajam sepanjang jalan. Sebelum memasuki Base Camp Area, Anda akan melewati 3 danau, biasanya disebut danau 1, danau 2 dan danau 3. Danau ini adalah berasal dari hujan dan Glazer. Perjalanan di sini akan lebih sulit.<br />
<br />
Anda harus melewati “Pintu angin”; ini adalah pintu gerbang untuk memasuki lembah Base Camp Area. Angin bertiup sangat kuat di sini dan di sini langkah anda perlu sedikit lebih cepat. Setelah itu pendaki melewati daerah datar dengan banyak danau kecil, lalu setelah beberapa saat pendaki akan tiba di Base Camp “Lembah Danau &#8211; Danau” ( 4.200 m ). <strong>(Jubi/Eveerth)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F05%2F08%2Fpotensi-wisata-gunung-cartenz-siap-dikelola%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/05/08/potensi-wisata-gunung-cartenz-siap-dikelola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BERINGIN DI KANTOR GUBERNUR, AKHIRNYA DITEBANG</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/04/19/beringin-di-kantor-gubernur-akhirnya-ditebang/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/04/19/beringin-di-kantor-gubernur-akhirnya-ditebang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 11:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Timoteus Marten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para-Para]]></category>
		<category><![CDATA[Jayapura]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=22090</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 19/4 (Jubi) - Pohon beringin yang berada di halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, di... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/19/beringin-di-kantor-gubernur-akhirnya-ditebang/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_22101" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/19/beringin-di-kantor-gubernur-akhirnya-ditebang/penebangan-pohon-beringin/" rel="attachment wp-att-22101"><img class="size-medium wp-image-22101" title="Penebangan Pohon Beringin" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/04/Penebangan-Pohon-Beringin-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Penebangan pohon beringin di halaman Kantor Gubernur Papua. (Jubi/Timo)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 19/4 (Jubi) -</strong><em> Pohon beringin yang berada di halaman Kantor</em><em> Gubernur Provinsi Papua, di Jalan Soa Siu, Dok II, Kota Jayapura, Papua  akhirnya ditebang pada Jumat (19/4).</em><br />
<br />
Salah satu warga Kota Jayapura, Marten (26 tahun), yang sedang menyaksikan penebangan pohon beringin tersebut menuturkan, aktivitas penebangan pohon yang sekira berumur setara usia Kota Jayapura ini, dilakukan sejak Jumat (19/4) pagi. &#8220;Sudah dari tadi,&#8221; katanya ke <em>tabloidjubi.com</em>, Jumat (19/4) sore.<br />
<br />
Pantauan media ini, para penebang tampak hiruk-pikuk. Sementara itu,<br />
penonton juga berjubel menyaksikan &#8216;penumbangan&#8217; pohon yang oleh banyak orang dianggap memiliki nilai magis ini. Akibat aktivitas penebangan ini, ruas jalan raya di halaman kantor yang menghadap Samudera Pasifik ini terlihat macet.<br />
<br />
Mobil dump truck pun lalu lalang mengangkat ranting dan kayu yang sudah ditebang. Ide penebangan pohon beringin dengan nama ilmiah <em>Ficus Benjamina</em> ini dilontarkan oleh Gubernur Papua yang baru dilantik beberapa hari lalu, Lukas Enembe. Pohon ini dinilai mengganggu pemandangan di halaman kantor gubernur.<br />
<br />
Ironisnya, kebijakan Gubernur Papua ini justru di tengah kebijakan Walikota Jayapura Benhur Tommy Mano sedang gencarnya melakukan kampanye menanam pohon, membuat tanaman hijau di dalam wilayah Kota Jayapura.<br />
<br />
Kerindangan dan udara sejuk di sekitar kantor gubernur berpotensi terganggu. Pohon yang rindang dan memiliki diameter sekitar dua atau tiga meter ini ditanam pada tahun 1975 oleh Perdana Menteri Papua New Guinea sebagai pohon perdamaian. <strong>(Jubi/Timoteus Marten)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F04%2F19%2Fberingin-di-kantor-gubernur-akhirnya-ditebang%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/04/19/beringin-di-kantor-gubernur-akhirnya-ditebang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAMAN LORENTZ DAN KAWASAN HUTAN DI MIMIKA DITEBANG</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/04/15/taman-lorentz-dan-kawasan-hutan-di-mimika-ditebang/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/04/15/taman-lorentz-dan-kawasan-hutan-di-mimika-ditebang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 10:13:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eveert Joumilena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para-Para]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Papua]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Lorentz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=21207</guid>
		<description><![CDATA[Mimika, 15/4 (Jubi) &#8211; Salah satu Tokoh Pemuda Timika, Boas Karapea mengaku, hingga kini banyak... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/15/taman-lorentz-dan-kawasan-hutan-di-mimika-ditebang/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_21218" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/15/taman-lorentz-dan-kawasan-hutan-di-mimika-ditebang/taman-nasional-lorentz-di-papua-dephut-go-id/" rel="attachment wp-att-21218"><img class="size-medium wp-image-21218" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/04/Taman-Nasional-Lorentz-di-Papua-dephut.go_.id_-300x164.jpg" alt="" width="300" height="164" /></a><p class="wp-caption-text">Taman Nasional Lorentz di Papua (dephut.go.id)</p></div><br />
<br />
<strong>Mimika, 15/4 (Jubi)</strong> &#8211; <em>Salah satu Tokoh Pemuda Timika, Boas Karapea mengaku, hingga kini banyak kawaswan hutan di Kabupaten Mimika ditebang bebas oleh para penebang liar, termasuk beberapa kawasan hutan lindung di Taman Nasional Lorentz.</em><br />
<br />
Menurut Boas, setiap hari terjadi penebangan liar di kawasan Hutan Lindung Taman Nasional Lorentz. Namun, tak mendapat perhatian dari pemerintah Mimika maupun aparat terkait. “Banyak kawasan hutan lindung seperti di kawasan Iwaka, Distrik Kuala Kencana, dimana perlu ada perhatian serius dari pemerintah,&#8221; kata Boas kepada wartawan di Mimika, Senin (15/4).<br />
<br />
Lanjut dia, pemerintah melalui dinas kehutanan harus melakukan mengawasi dan menertibkan sejumlah penebangan kayu ilegal yang terjadi. Boas mengatakan, akibat penebangan liar, lingkungan menjadi rusak. Habitat dan satwa langka yang berada dalam kawasan hutan juga  mulai terancam punah.<br />
<br />
Penebang kadang berkelompok dan bergerak bebas. Kelompok ini  seharusnya di awasi.“Tentu ada dampak bukan hanya lingkungan, tetapi juga bisa berdampak bagi kehidupan manusia. Misalnya, banjir atau dampak lainnya yang mengancam nyawa manusia karena lingkungan tak di jaga,” katanya lagi.<br />
<br />
Berkaitan dengan penebangan liar tersebut, Boas meminta, negara bertanggung  tanggungjawab untuk melakukan pengawasan dan memberikan perlindungan terhadap semua satwa yang ada di taman nasional. Seperti burung cenderawasih, burung kasuari dan sejumlah satwa langka yang terlindungi di wilayah taman nasional.<br />
<br />
“Seharusnya pemerintah memperhatikan hal ini dengan membuat salah satu dasar hukum seperti Peraturan Daerah (Perda) untuk memperkuat undang-undang yang melindungi taman nasional bersama semua satwa yang berkeliaran di situ.Pemerintah jangan memikirkan sekarang ini, tetapi harus memikirkan  25 tahun mendatang,” harapnya.<br />
<br />
Lanjut dia, perlu ada pengawasan, terlebih pada pemberian ijin pengawasan hutan dan kepada pengusaha  kayu agar tidak seenaknya menebang hutan.  Sebab, penebangan liar terus dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Tindakan ini  sudah berlangsung lama. “Beberapa hari sebelumnya kita mengatahui adanya banjir yang melanda SP – 5 dabn SP – 7, tentunya juga berdampak dari lingkungan yang tidak bersahabat, akibat penebangan liar tersebut,” ucapnya.<br />
<br />
Dia  meminta, pemerintah segera berkoordinasi dengan aparat TNI dan Polri untuk melakukan pengawasan terhadap sejumlah pengusaha kayu lokal yang bekerja sama dengan penambang kayu yang selalu melakukan penebangan liar. ”Sejumlah pengusaha kayu ini tidak pernah memikirkan mana hutan lindung dan mana hutan yang di gunakan untuk melakukan aktivitas penebangan, ” tuturnya.<br />
<br />
Ia menegaskan,pemerintah jangan hanya memikirkan pendapatan asli daerah tanpa memikirkan dampak dari perijinan yang diberikan. Dengan demikian kehidupan manusia dan lingkungan, terlebih kawasan hutan lindung bisa tetap terjaga. Pemerintah juga diharapkan memperbaiki ijin usaha pengusaha kayu, serta melakukan penertiban terhadap pencurian kayu yang terjadi. “Sebab, keberadaan hutan lindung tersebut merupakan salah satu kekayaan alam masyarakat Papua yang harus di lindungi,” tandasnya.<br />
<br />
Menurutnya, Hal  ini harus menjadi perhatian dari Dinas Kehutanan baik Kabupaten maupun Provinsi Papua serta pihak terkait. Informasi yang dikutip dari www.dephut.go.id tercatat Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura.<br />
<br />
Dimana, ada 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak. Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata.<br />
<br />
Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx). Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.<strong> (Jubi/Eveerth)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F04%2F15%2Ftaman-lorentz-dan-kawasan-hutan-di-mimika-ditebang%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/04/15/taman-lorentz-dan-kawasan-hutan-di-mimika-ditebang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>REKOMENDASI KONFERENSI DESA ADAT  DI PAPUA</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/03/25/rekomendasi-konferensi-desa-adat-di-papua/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/03/25/rekomendasi-konferensi-desa-adat-di-papua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Mar 2013 10:57:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eveert Joumilena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para-Para]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=17322</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 25/3 (Jubi) &#8212; Ketua Dewan Adat Byak, Yan Piter Yarangga mengatakan dalam upaya memberikan... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/03/25/rekomendasi-konferensi-desa-adat-di-papua/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_17331" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/2013/03/25/rekomendasi-konferensi-desa-adat-di-papua/titus-pekei-penggagas-noken-papua-warisan-dunia-dari-indonesia-eveerth-2/" rel="attachment wp-att-17331"><img class="size-medium wp-image-17331" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/03/Titus-Pekei-Penggagas-Noken-Papua-Warisan-Dunia-dari-Indonesia-eveerth1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Titus Pekei, selaku Peneliti Lembaga Ekologi Papua, sekaligus Penggagas Noken Papua Warisan Dunia dari Indonesia, saat membawakan materi (Jubi/Eveerth)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 25/3 (Jubi)</strong> &#8212; <em>Ketua Dewan Adat Byak, Yan Piter Yarangga mengatakan dalam upaya memberikan perlindungan kepada sumber daya genetiK (SDG) Papua, maka pemerintah harus membuat regulasi untuk memproteksinya, , disamping menjembatani rekomendasi &#8211; rekomendasi masyaraat adat</em>.<br />
<br />
“Semua hal yang telah disampaikan pihak pemerintah mendapat sambutan positif dari masyarakat adat, sehingga kedepan nantinya apa yang menjadi kepemilikan masyarakat bisa di data dengan baik,” ujar &#8212; Ketua Dewan Adat Byak, Yan Piter Yarangga, kepada Tabloidjubi.com, di Jayapura, Senin.<br />
<br />
“Disinilah kita lakukan pertemuan, sehingga nantinya bisa terlihat jelas apa yang menjadi kepemilikan masyarakat adat, dan harapan bagi pemerintah untuk tidak berwacana saja tetapi merealisasikannya, agar supaya memberikan keuntungan bagi masyarakat adat,” harapnya.<br />
<br />
Konferensi Desa Adat dilaksanakan pada tanggal 21 – 22 di Hotel Relat, yang di hadiri masyarakat dari 7 (tujuh) wilayah adat, yakni Mamta : Papua Timur Laut, Saereri : Papua Utara/Teluk Cenderawaih, Domberai : Papua Barat Laut, Bomberai : Papua Barat, Anim Ha : Papua Selatan, La Pago : Papua Tengah dan wilayah ketujuh adalah Meepago : Papua Tengah Barat, memberikan beberapa rekomendasi sumber daya genetika yang harus di proteksi dan dilindungi dengan sebuah regulasi dan kebijakan yang lebih berpihak.<br />
<br />
“Kami mengangkat satu dua dari sumber daya genetika, yang semakin punah, tetapi memiliki kualitas yang harus segera di pelihara, yakni kami dari Saireri, jenis makanan tradisional, Pokem, salah satu jenis buah dari pohon lolaro, di olah menjadi tepung dan dikonsumsikan masyarakat wilayah saiereri dan ini belum di kembangkan lebih populer, karena ini menyangkut peran semua pihak dalam, terutama pemerintah dalam melestaraikan potensi sumber daya alam,” ungkapnya.<br />
<br />
Buah merah dari puncak jaya, dari Tabi mengakat kayu suang, dari semua pihak masyarakat adapt mengakkat satu jenis dan akan mendorong sampai harus ada proteksi nyata dari kebiajakan regulasi pemerintah maupun instansi terkait supaya akan dikendepankan hak kepemilikan sumber daya genetika,<br />
<br />
“Kami juga mendorong dalam melindungai kekayaan dari kepunahan danpencaplokan orang lain, karena sudah banyak yang mencuri atas nama penelitan, dan mengakui hall ini miliki mereka, padahal itu habitat asli tanah Papua,” tandasnya.<br />
<br />
Sedangkan, Titus Pekei yang tampil sebagai pemateri,NOKEN WARISAN BUDAYA TAKBENDA “Pelindungan &amp; Pengembangan Noken Papua” menjelaskan, keragaman Noken Ekologi dapat berkaca menurut kearifan budaya dan alam tanah Papua. Sebelum mengenal dan mengangkat derajat hidup masyarakat adat Papua mesti mengenal dan mengetahui peluang dan tantangan kondisi alam tanah Papua.<br />
<br />
“Keragaman Noken Multi-Suku bangsa di tanah Papua menjadi daya tarik sejak UNESCO tetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda yang memerlukan perlindungan mendesak maka dari itu semua pihak/komponen punya tanggung jawab untuk selamatkan warisan budaya tersebut. Dalam hal pemanfaatan potensi sumber daya genetik (SDG) pun melibatkan peran serta maksimal bersama masyarakat hukum adat, sesuai norma adat atau aturan adat setempat,” kata Titus Pekei, selaku Peneliti Lembaga Ekologi Papua, sekaligus Penggagas Noken Papua Warisan Dunia dari Indonesia.<br />
<br />
Cermin Noken Papua, Perspektif Mata Budaya Papuani . Pengamatan Lembaga Ekologi Papua, pemahaman pentingnya implementasi Protokol Nagoya tentang Akses dan Pembagian Keuntungan atas Pemanfaatan Sumber Daya Genetik, untuk kedepan sangat tepat demi penguatan ketahanan genetik yang berkearifan lokalitas setempat.<br />
<br />
“Konferensi Masyarakat Adat Papua mengenai Pemahaman SDG yang diseleggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, sangat penting untuk membuahkan hasil berkelanjutan kedepan. Oleh sebab itu, peran aktif dari semua pihak sangat dibutuhkan secara harmoni mulai hari ini dan akan datang,” harapnya.<br />
<br />
Dalam kesempatan yang hadir dari masyarakat adat, antara lain, John NR Gobai (Ketua Dewan Adat Paniai), Hubert Kwambre (Ketua Dewan Adat Keerom), Jack Kasimat (Dewan Adat Mamta), Lamok Mabel (Ketua Dewan Adat Baliem), Yan Piter Yarangga (Ketua Dewan Adat Byak), Piter Tabuni (Ketua Dewan Adat Intan Jaya), Frans Mote (Ketua Dewan Adat Deiyai), Elisa Marani (Dewan Adat Yapen), Barnabas Mandacan (Dewan Adat Doberay) dan Engel Hombahomba (Dewan Adat Bomberay), Edison dan beberapa masyarakat adat lainnya serta pemateri dari Universitas Cenderawasih serta Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sendiri.<br />
<br />
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup RI, Prof. FDr. Balthazar Kambuaya, M.BA., menyampaikan bahwa kekayaan alam ini, baik dalam tingkatan ekosistem, spesies dan genetik, apabila dikelola secara benar mampu memberikan manfaat untuk memenuhi kebutuhan bangsa dan umat manusia pada umumnya. Oleh karena itu, anugerah kekayaan itu wajib disyukuri, dikelola, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran bangsa Indonesia, baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.<br />
<br />
“Sumber daya genetik telah lama dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia dan bangsa lain di dunia. Sumber daya genetik tersebar tidak merata di seluruh dunia, demikian juga penguasaan teknologi dalam pemanfaatan sumber daya genetik. Situasi tersebut menyebabkan terjadinya saling ketergantungan antarnegara, baik dalam sumber daya genetik maupun teknologi. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan internasional terkait dengan akses dan pemanfaatan sumber daya genetik, termasuk pengetahuan tradisional terkait dengan sumber daya genetic,” ujar Menteri Lingkungan Hidup RI, Prof. Dr. Balthazar Kambuaya, M.BA, dalam suatu kesempatan saat di wawancara.<br />
<br />
Mantan Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura ini, mengakui, bahwa pengetahuan tradisional yang terkait dengan sumber daya genetik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sumber daya genetik itu sendiri dan secara berkelanjutan diwariskan oleh nenek moyang masyarakat hukum adat dan komunitas lokal.<br />
<br />
“Karena jasa masyarakat tersebut dalam melestarikan dan memanfaatkan sumber daya genetik, yang secara terpolakan tercermin dalam pengetahuan, inovasi, dan praktik yang terkait, maka masyarakat Internasional memandang perlu dikembangkan pengaturan pengelolaan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional terkait dengan sumber daya genetik yang dapat menampung dinamika dan aspirasi masyarakat hukum adat dan komunitas lokal,” cetusnya.<br />
<br />
Protokol Nagoya merupakan perjanjian internasional di bidang lingkungan hidup yang mengatur akses dan pembagian keuntungan dari pemanfaatan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional terkait sumber daya genetik antar Negara. Protokol Nagoya merupakan salah satu Protokol dibawah Konvensi Keanekaragaman Hayati dimana konvensi tersebut telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994. <strong>(Jubi/Eveerth)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F03%2F25%2Frekomendasi-konferensi-desa-adat-di-papua%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/03/25/rekomendasi-konferensi-desa-adat-di-papua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CEGAH MALARIA DENGAN KULIT POHON SUSU</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/02/19/kulit-pohon-susu-mencegah-malaria/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/02/19/kulit-pohon-susu-mencegah-malaria/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2013 10:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Karolus de Fretes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jayapura]]></category>
		<category><![CDATA[Para-Para]]></category>
		<category><![CDATA[Kulit Pohon Susu]]></category>
		<category><![CDATA[Malaria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=12897</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 20/2 (Jubi) &#8212;Kebanyakan orang cenderung mengobati dibanding mencegah penyakitnya. Namun jika sudah terlanjur terkena,... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/02/19/kulit-pohon-susu-mencegah-malaria/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_12904" class="wp-caption alignleft" style="width: 301px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/2013/02/19/kulit-pohon-susu-mencegah-malaria/pohon-susu-carol-jubi-2/" rel="attachment wp-att-12904"><img class=" wp-image-12904 " title="pohon susu (Carol, Jubi)" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/02/pohon-susu-Carol-Jubi1.jpg" alt="" width="291" height="442" /></a><p class="wp-caption-text">Pohon Susu ini tumbuh di kawasan hutan Entrop yang merupakan tanaman obat (Jubi/Carol)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 20/2 (Jubi) &#8212;<em></em></strong>Kebanyakan orang <em>cenderung mengobati dibanding mencegah penyakitnya. Namun jika sudah terlanjur terkena, ada beberapa penyakit yang bisa dicegah agar penyakit itu tak kambuh lagi. Misalnya, penyakit Malaria yang sering timbul-tenggelam. </em><br />
<br />
Untuk mencegahnya, bisa mengkonsumsi salah satu jenis tanaman obat sebelum terinfeksi penyakit ini. Umumnya Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dapat dikonsumsi sebagai obat pencegah penyakit Malaria, salah satunya yaitu kulit dari Pohon Susu. Kulit Pohon Susu mengandung cairan warna putih (getah). Untuk mendapatkan Pohon Susu di wilayah Kota Jayapura, banyak tumbuh di kawasan hutan Entrop, Kota Jayapura. “Cairan ini yang nantinya dapat diminum sesudah dimasak,” kata Apong, seorang warga Jayapura kepada <em>tabloidjubi.com</em>, Selasa (20/2).<br />
<br />
Menurutnya, pengolahan kulit Pohon Susu untuk dijadikan obat sangat sederhana. Caranya, mengupas kulit Pohon Susu ukuran satu kepalan tangan. Lalu tuangkan empat gelas air di panci, kemudian dimasak hingga yang tersisa kira-kira hanya dua gelas. “Setelah itu kita diamkan wadahnya dari tungku kompor sampai air di dalamnya terasa dingin untuk diminum. Secara rutin kita lakukan tiga kali sehari selama minggu sampai badan benar-benar bebas dari gejala Malaria. Obat ini tak overdosis,” ujarnya.<strong> (Jubi/Carol)</strong><br />
<br />
&nbsp;<br />
<br />
&nbsp;<br />
<br />
&nbsp;<br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F02%2F19%2Fkulit-pohon-susu-mencegah-malaria%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/02/19/kulit-pohon-susu-mencegah-malaria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puteri Bulan Masuk Ladang Orang Nimboran</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2011/03/30/puteri-bulan-masuk-ladang-orang-nimboran/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2011/03/30/puteri-bulan-masuk-ladang-orang-nimboran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 03:40:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin Jubi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para-Para]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan Kembali Oleh Alexander Leonard Griapon Kata yang mempunyai cerita, di Keitemung, Nimboran pada zaman... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2011/03/30/puteri-bulan-masuk-ladang-orang-nimboran/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<em><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/10/2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-132" title="2" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/10/2-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /></a>Diceritakan Kembali Oleh Alexander Leonard Griapon</em><br />
<br />
Kata yang mempunyai cerita, di Keitemung, Nimboran pada zaman yang tak diketahui, hiduplah seorang peladang yang membuat ladangnya jauh di sebelah timur kampung itu, di tepi Danau Sentani. Ladangnya sangat besar dan dilindungi dengan bentangan kayu yang besar-besar, tinggi dan kokoh sehingga tidak memberikan celah pada setiap orang dan binatang besar masuk ke dalamnya  untuk mencuri. Setiap pagi hari, peladang ini mengunjungi ladangnya dengan perasaan heran yang semakin hari semakin bertambah karena ia menemukan bekas kaki babi yang sangat banyak di dalam ladangnya diantara tanaman namun ia tidak menemukan dari mana babi-babi yang masuk ke ladangnya berdatangan karena seluruh pagar masih tetap berdiri dengan teguh tanpa celah yang memberikan peluang untuk binatang jenis babi masuk keluar ladang dengan bebas.<br />
<br />
Dorongan hasrat untuk mengetahui dari mana babi-babi hutan masuk pagar ladangnya semakin menguatkan niat peladang itu untuk bersembunyi dan mengintip. Pada suatu malam, ia berjaga dengan bersembunyi di dalam hutan di sisi luar pagar ladangnya. Tepat tengah malam ia sangat terperanjat ketika melihat sesosok puteri keluar dari dalam air Danau Sentani dan berjalan langsung menuju ladangnya. Tangan puteri bulan memegang beberapa taring dan kuku kaki babi hutan yang akan digunakannya untuk meninggalkan bekas di ladang setelah mencuri tanaman. Wajah puteri bulan bersinar lembut menerangi seluruh ladang dan hutan-hutan di sekitarnya yang memantulkan keindahan Danau Sentani di malam hari. Pegunungan Cycloop menjadi semakin indah kebiruan diselimuti awan pada puncaknya yang tertinggi ketika sinar puteri bulan dipantulkan kembali ke mata peladang Keitemung. Sangat mengagumkan tetapi mengapa puteri bulan mencuri di dalam ladang?<br />
<br />
Ketika puteri bulan memanjat pagar ladang, peladang itu menangkap tangannya dan menjatuhkannya ke bawah di luar ladang dan memasukkannya ke dalam kantong jaring tali yang besar, puteri bulan dijerat ke dalam kantong itu namun terang wajahnya masih tetap menyinari seluruh sisi luar kebunnya kemudian ia membawa pulang ke rumahnya dan disimpan dalam koper kayu pada setiap siang hari. Bila malam hari tiba, peladang membawa puteri bulan ke ladang atau ke tempat lain untuk mencari binatang buruan di hutan. Sejak ia memperoleh puteri bulan, setiap malam ia pergi berburu babi hutan di jebakan Pohon Sagu, ia bersembunyi dan menyembunyikan puteri bulan dalam kantongnya dan kantong itu disembunyikan dibalik Pohon-pohon Sagu. Ketika ia mendengar suara dan bunyi langkah babi hutan mendekat untuk makan sagu, segera ia mengeluarkan puteri bulan dari dalam kantong yang disembunyikannya, mengangkat tinggi dan kegelapan malam di tengah Hutan Sagu berubah menjadi terang benderang yang membuat babi hutan kaget, tak berdaya dan diam di tempat sehingga peladang memanahnya dengan enteng sampai mati. Demikianlah dilakukan setiap malam hari, perburuan yang selalu berhasil tanpa tantangan. Rahasia kepemilikan atas puteri bulan belum diketahui oleh Penduduk Kampung Keeitemung. Peladang tak menyangka, ada orang kampung yang mulai curiga keberhasilan berburu yang ia lakukan setiap malam. Suatu malam, ia kembali meninggalkan kampung untuk berburu, tanpa sepengetahuan peladang itu, seseorang membuntutinya dari belakang untuk mengadakan penyelidikan. Orang itu sangat heran ketika mengetahui cara peladang memperoleh seluruh binatang buruannya. Ketika kantong peladang diletakkan kembali di tempat persembunyiannya, ada tangan lain yang mengambil keluar puteri bulan dari dalam kantongnya, terjadi tarik-menarik puteri bulan antara kedua orang ini sehingga puteri bulan terbagi dua bagian. Sang pencuri melemparkan sebagian tubuh puteri bulan ke atas sehingga ia melayang menjauhi keduanya. Peladang yang sedang geram menyatakan kepada pencuri, “Karena engkau telah mengetahui rahasia saya maka saya juga melemparkan sebagian tubuh puteri bulan ke atas.”<br />
<br />
Dua bagian tubuh puteri bulan bersatu di atas Kampung Keitemung dan mulai saat itu, sinar bulan purnama dapat digunakan secara bersama-sama oleh semua orang kampung untuk berburu babi hutan di dusun sagu masing-masing pada malam hari ketika sang rembulan muncul dengan indahnya. Kata yang mempunyai cerita, kalau si pengintip tidak pernah mengikuti peladang dari belakang maka sampai saat ini bulan terang hanya dikuasai satu orang peladang dan keturunannya dalam garis laki-laki dari Kampung Keitemung di Nimboran. <em><strong>(Sumber/penutur Selfina Hamokwarong/Griapon, 1974)</strong></em><br />
<br />
<em>Sumber: Cerita Rakyat Papua dari Jayapura (Yang Terhempas Dalam Goncangan Peradaban). Penerbit: Arika Publisher, Jayapura, Oktober 2009</em><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2011%2F03%2F30%2Fputeri-bulan-masuk-ladang-orang-nimboran%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2011/03/30/puteri-bulan-masuk-ladang-orang-nimboran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang-orang Dari Dalam Perut Bumi</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2011/03/22/orang-orang-dari-dalam-perut-bumi/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2011/03/22/orang-orang-dari-dalam-perut-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Mar 2011 03:37:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin Jubi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para-Para]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan kembali oleh Elvis Kabey Konon, di dalam perut bumi Danau Sentani bagian tengah, hidup... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2011/03/22/orang-orang-dari-dalam-perut-bumi/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_128" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/10/para3.jpg"><img class="size-medium wp-image-128" title="para3" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/10/para3-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (Jubi/Saut Marpaung)</p></div><br />
<br />
<strong><em>Diceritakan kembali oleh Elvis Kabey</em></strong><br />
<br />
Konon, di dalam perut bumi Danau Sentani bagian tengah, hidup komunitas masyarakat asli yang terisolasi dari permukaan bumi. Kehidupan yang sangat tersekat mendorong semangat empat orang muda dari komunitas ini untuk mengadakan perjalanan petualangan ke permukaan bumi melalui lorong penghubung yang gelap. Dengan keberanian yang luar biasa Roomehue, Khabey, Yokuraijoku dan Rookoro menelusuri lorong gelap perut bumi hingga ke tepi pintu keluar permukaan bumi, mereka duduk beristirahat. Roomehue, sang pemimpin petualangan meminta kepada Khabey keluar pintu lorong itu untuk memantau situasi di permukaan bumi. Ketika Khabey keluar di tempat yang bernama Aminjauw, ia mendengar suara tangisan orang dari Kampung Yomakhe. Khabey bergegas kembali kea rah perut bumi untuk memberitahukan peristiwa itu kepada ketiga orang temannya. Setelah mendengar berita yang disampaikan Khabey, Roomehue memerintahkan mereka bertiga bersamanya keluar menuju Aminjauw. Mereka berunding di Aminjauw dan keputusannya adalah mengutus Khabey. Khabey sampai di Yomakhe ternyata orang-orang kampong itu sedang berkabung meratapi sesosok jasad manusia yang meninggal karena tenggelan di Danau Sentani. Sekembalinya ke Aminjauw, Khabey memberitahukan keadaan yang dilihatnya kepada ketiga temannya, kemudian empat orang itu memutuskan untuk menetap sementara di Aminjauw sambil menjajak kemungkinan menjadikan wilayah itu sebagai tempat pemukiman tetap.<br />
<br />
Beberapa waktu kemudian perjalanan petualangan dilanjutkan karena Aminjauw tidak layak untuk ditempati dalam waktu lama. Kali ini arah perjalanan ke sisi barat Pulau Ajauw menuju tempat bermana Nasouw. Mereka menetap beberapa lama di situ tapi tak lama kemudian Rookoro pindah ke selatan Nasouw meninggalkan ketiga temannya yang juga melanjutkan perjalanan ke sisi selatan Pulau Ajauw, menetap pada tempat yang bernama Ebealkouw. Dari sini Yokuraijoku meninggalkan Roomehue dan Khabey, melanjutkan perjalanan pindah ke timur laut Ebealkouw hingga tiba dan menetap di Heaijomo.<br />
<br />
Dalam perjalanan waktu yang panjang, suatu ketika keturunan Roomehue dan Khabey makin banyak dan bermukim hampir di seluruh sisi Pulau Ajauw sehingga mendesak keturunan Rookoro keluar dari Pulau Ajauw menuju ke barat Danau Sentani sampai menetap di Yoboi. Beberapa dari keturunan Khabey, yaitu Yokhus (I Bhu), Raime (Aluwakha) dan Bhallo mengikuti jejak perjalanan Yokuraijoku menetap di Heaijono dan Bhulende di sisi timur Pulau Ajauw.<br />
<br />
Sampai kini, klen Mehue merupakan klen yang dipertua, klen senior pendiri kampong di Pulau Ajauw. Dalam setiap acara adat seperti upacara pengukuhan ondofoloi (kepala klen) dan pesta paripurna memperingati saat wafatnya tua-tua adat (meyauw), seluruh anggota klen keturunan Roomehue, Khabey, Yokuraijoku dan Rookoro masih memperlihatkan hubungan solidaritas yang kuat dalam komunitas konfederasi yang bernama Heasei. (Sumber cerita/penutur: Bernadus Yoku, Theodorus Kabey, Johanes Taime 2007)<br />
<br />
<strong><em>Sumber: Cerita Rakyat Papua Dari Jayapura (Yang Terhempas Dalam Goncangan Peradaban), Penerbit Arika Publisher, Oktober 2009</em></strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2011%2F03%2F22%2Forang-orang-dari-dalam-perut-bumi%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2011/03/22/orang-orang-dari-dalam-perut-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ikan Keimbang dan Kepiting Darat</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2011/02/05/ikan-keimbang-dan-kepiting-darat/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2011/02/05/ikan-keimbang-dan-kepiting-darat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 03:35:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin Jubi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para-Para]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Diceritakan Kembali Oleh Wilhelm Hembring Yanowaring (Cerita/sumber penutur: Johanes Hembring) Pada zaman antah berantah di... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2011/02/05/ikan-keimbang-dan-kepiting-darat/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_125" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/10/1.jpg"><img class="size-medium wp-image-125" title="1" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/10/1-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi (Jubi/Saut Marpaung)</p></div><br />
<br />
<em><strong>Diceritakan Kembali Oleh Wilhelm Hembring Yanowaring</strong></em><br />
<br />
(Cerita/sumber penutur: Johanes Hembring)<br />
<br />
Pada zaman antah berantah di suatu tempat di selatan Kota Genyem, Ibukota Distrik Nimboran, Papua, ada sebuah dusun yang disebut orang Sublub. Pada dusun itu hiduplah Ikan-ikan Keimbang, Kepiting darat, Udang dan Ikan Gabus. Makhluk-makhluk air ini hidup bersahabat dan akrab dalam kolam-kolam air yang membatasi ruang gerak mereka dengan memelihara anak bersama dan mencari makan bersama secara adil dan merata.<br />
<br />
Namun suatu waktu bersamaan para Ikan, Kepiting dan Udang itu terganggu saat seekor Ikan Keimbang menaruh curiga kepada Kepiting lantaran anak-anaknya lenyap entah kemana. Keimbang menyangka Kepiting telah memakan anak-anaknya. Hubungan kedua jenis binatang ini tidak harmonis lagi, puncak kecurigaan terjadi pada suatu ketika kelompok Ikan Keimbang menyerang kelompok Kepiting tanpa ampun yang dibalas oleh Kepiting. Sepanjang hari, kedua jenis binatang air itu berkelahi dan saling menyerang sekuat tenaga sampai kulit punggung beberapa Kepiting pecah. Ikan Keimbang telah mengetahui rahasia kelemahan Kepiting terletak pada kulit punggung yang rapuh. Perkelahian berakhir setelah kelompok Ikan Keimbang berlari pergi meninggalkan dusun kolam air Sublub menuju ke utara hingga tiba pada suatu tempat yang disebut Butuo Tabang (saat ini lokasi bekas unit pemukiman transmigrasi Nimbokrang I). Perpindahan kelompok ini diikuti oleh para Kepiting yang mengejar dari belakang. Butuo Tabang menjadi semakin ramai dengan perseteruan yang mengakibatkan tulang punggung setiap Kepiting pecah dihantam oleh Ikan Keimbang. Oleh sebab itu, kelompok Ikan Keimbang berpindah terus ke utara hingga tiba di Demta dan masuk ke laut pesisir pantai di sekitar Teluk Demta.<br />
<br />
Darah Kepiting mengalir mengubah warna air Butuo Tabang yang jernih menjadi merah abadi dari masa ke masa, sedangkan luka bekas hantaman Ikan Keimbang telah sembuh dan meninggalkan bekas pada setiap Kepiting dalam setiap generasi makhluk itu. Beberapa Kepiting pergi menyusul ke arah kepergian Ikan Keimbang di pantai. Kelompok ini hanya dapat mengawasi gerak-gerik Ikan Keimbang dari batu-batuan batas deburan ombak Samudera Pasifik. Ikan Keimbang telah menjadi ikan yang hidup di laut, sedangkan Kepiting tak dapat hidup di tempat yang sama dengan ikan itu. Kedua jenis makhluk ini dibatasi oleh ruang dan kesempatan hidup yang baru dan berbeda. Perpisahan yang terjadi karena suatu kecurigaan yang berakhir dengan perkelahian sepanjang perputaran waktu. Ikan Keimbang telah salah menuduh Kepiting, menurut penutur cerita ini, Ikan Gabus dan Udang sebagai penyebab tersembunyi. Kedua makhluk tersebut yang rtelah memakan anak Ikan Keimbang. Akhirnya Dusun Sublub menjadi kosong. Ikan Gabus memilih tempat tinggal baru di Danau Sentani, Udang merantau ke semua kali dan sungai dan sebagian pergi ke Lautan Pasifik.<br />
<br />
<em>Sumber: Cerita Rakyat Papua Dari Jayapura (Yang Terhempas Dalam Goncangan Peradaban). Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Penerbit Arika, 2009</em><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2011%2F02%2F05%2Fikan-keimbang-dan-kepiting-darat%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2011/02/05/ikan-keimbang-dan-kepiting-darat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
