<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tabloidjubi.com &#187; Selepa</title>
	<atom:link href="http://tabloidjubi.com/?feed=rss2&#038;cat=7" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tabloidjubi.com</link>
	<description>The Papua News Portal</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 May 2013 06:47:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>AKON MERDI BONAY MUSISI PAPUA TELAH PERGI</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/04/25/akon-bonay-musisi-papua-telah-pergi/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/04/25/akon-bonay-musisi-papua-telah-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Apr 2013 07:51:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dominggus Mampioper</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selepa]]></category>
		<category><![CDATA[Akon Bonay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=23150</guid>
		<description><![CDATA[JAYAPURA, 25/4 (Jubi)&#8211;Bersama dengan Ian Gebze gitaris, Dicky Mamoribo keyboard, Koka, penabuh drum dan Bichick... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/25/akon-bonay-musisi-papua-telah-pergi/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_23153" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/25/akon-bonay-musisi-papua-telah-pergi/akonbonay/" rel="attachment wp-att-23153"><img class="size-medium wp-image-23153" title="akonbonay" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/04/akonbonay-300x239.jpg" alt="" width="300" height="239" /></a><p class="wp-caption-text">Akon Bonay saat membawakan lagu berjudul Wonderfull to Night di Taman Imbi, PoRt Numbay.(Jubi/Ricky Dajoh)</p></div><br />
<br />
<strong>JAYAPURA, 25/4 (Jubi)</strong>&#8211;<em>Bersama dengan Ian Gebze gitaris, Dicky Mamoribo keyboard, Koka, penabuh drum dan Bichick Muabuay vocalis, William Rumbewas vocalis. Mereka mulai memasuki blantika musik Indonesia dengan nama Grup Band Airmood di Jakarta sekitar 1980 an. Akon Bonay adalah putra Gubernur Irian Barat, 1963-1964 almarhum Eliezer Yan Bonay.Akon Merdy Bonay selalu memegang alat musik favoritnya  bass. Dentuman bassnya seperti pentolan bass dunia, Stanley Clark.</em><br />
<br />
Freddrik Chaay salah satu seniman asal Kota Jayapura mengatakan sangat kehilangan seniman Papua yang banyak menulis lirik lagu-lagu Papua bersama Rio Grime. Menurut Fredd Chaay almarhum Akon Bonay datang bersama Dicky Mamoribo melakukan show bersama Rio Grime di Kota Ombak Rusa Sarmi.<br />
<h5><strong>“</strong>Setelah itu mereka tinggal untuk mengisi acara di Papua TV Mandiri namun belum selesai acara Akon terjatuh dan dibawa ke RSUD Dok II. Tetapi tak tertolong dan meninggal dunia,”kata Fredrik Chaay rekan seangkatan almarhum semasa hidup di Kota Jayapura.</h5><br />
<h5>“Akon Merdi Bonay telah pergi Rabu (24/4) malam dan kami menemaninya di RSUD,”kata Freedy Chaay kepada tabloidjubi.com Kamis(25/4). Dia menambahkan jenazah saat ini disemayamkan di rumah keluarga besar Bonay di Angkasa Indah sambil menunggu isteri dan kedua anaknya dari Jakarta. Hal senada juga dikatakan  Ricky Dajoh Manager Operasional Papua TV  dalam facebooknya menyebut lagu terakhir yang  dibawakan om Akon berjudul <em>Wonderfull to Night</em> di Taman Imbi Port Numbay.</h5><br />
Ricky Dajoh mengatakan  om Akon rencananya mau <em>shooting</em> di Papuatv dengan om Decky dan om Bicik. “Kita sudah atur skenarionya&#8230;.om Akon sempat diajak keliling studio dan sangat senang&#8230;..tapi siapa sangka, jalan hidup ini begitu cepat terjadi, “tulis Ricky Dajoh dalam <em>faceboo</em>knya. Penyanyi jazz asal Papua Lala Suages bilang, om Akon kalau bawain lagu <em>Home  </em>begitu indah.<br />
<br />
<a href="http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4822604808805&amp;set=pcb.4822607168864&amp;type=1&amp;relevant_count=2&amp;ref=nf"> </a>Ia selalu lebih dekat dengan gaya musik jazz dan black musik. Stanley Clark, Earl Klug dan George Benson termasuk Washington Grove musisi sax selalu didengarnya. Apalagi gaya bass melody seperti Stanley Clark selalu identik dengan dentuman bassnya.<br />
<br />
Bahkan dalam musik-musik regae,  dia selalu menambah beat-beat gaya irama khas Papua dengan petikan bass nuansa Pasifik. Ibaratnya petikan bass stenbass orang Papua saat bermain musik yosim pancar itulah kelebihan Akon Merdy Bonay.<br />
<br />
Selanjutnya mereka membentuk Grup Abresso Voice dan sempat melakukan show keliling pulau Jawa. Musik reggae era 1980 an masih belum mendapat tempat di telinga orang Indonesia pada waktu itu. Ian Gebze melalu Kasuari Enteprise mulai bekerja sama dengan pihak Taman Hiburan Ancol guna menggelar Reggae Night setiap tiga bulan. Musik Reggae yang dipelopori oleh Abbreso pun mulai bersinar, terlebih salah seorang penyanyi reggae asal Jamaica yang dilabeli dengan nama Jimmy Randongkir<br />
<br />
Abresso Reggae Band juga pernah diundang manggung di Universitas Parahiyangan Bandung dan saat itu Klemen Tinal menjabat sebagai Ketua Panitia Malam Seni dan Musik di Universitas Katolik Parahiyangan, Bandung. Paling tidak Abresso bersama Jimmy Randongkir telah mengenalkan musik reggae gaya Papua di seluruh tanah Jawa. Tak heran kalau sekarang musik reggae sudah bukan barang asing lagi bagi telinga orang Indonesia dan juga masyarakat di Tanah Papua. (<strong>Jubi/Dominggus A Mampioper)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F04%2F25%2Fakon-bonay-musisi-papua-telah-pergi%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/04/25/akon-bonay-musisi-papua-telah-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendatang Baru di Dunia Entertaiment Dari Wamena</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2012/12/09/pedatang-baru-di-dunia-entertainment-dari-wamena/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2012/12/09/pedatang-baru-di-dunia-entertainment-dari-wamena/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Dec 2012 11:50:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Benny Mawel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selepa]]></category>
		<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[HIV/AIDS]]></category>
		<category><![CDATA[Wamena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=5858</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura(9/12)&#8212;Ada pendatang baru di dunia entertainment asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Pendatang baru itu... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2012/12/09/pedatang-baru-di-dunia-entertainment-dari-wamena/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5870" class="wp-caption alignleft" style="width: 490px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/?attachment_id=5870" rel="attachment wp-att-5870"><img class=" wp-image-5870" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/12/Cinta-dari-Wamena-480x247.jpg" alt="Benny Mengenakan Kemeja Garis-garis Putih berpose bersama pendukung Film 'Cinta dari Wamena' (Yona Binar/ IRNews)" width="480" height="298" /></a><p class="wp-caption-text">Para pemeran film Cinta Dari Wamena (IST)</p></div><br />
<br />
Jayapura(9/12)&#8212;Ada pendatang baru di dunia entertainment asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Pendatang baru itu namanya Benyamin Lagowan.<br />
<br />
Benyamin berhasil lulus casting dan menjadi pemeran utama dalam<em> </em>film <em>Cinta dari Wamena</em> yang mengangkat tema HIV/AIDS di Wamena untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap bahaya virus HIV/AIDS.<br />
<br />
Kepada tabloidjubi.com, Benyamin menceritakan kisah dirinya bisa sampai ke dunia intertainment.<br />
<br />
&#8220;Awalnya saya masih SMA kelas tiga di Wamena pas diajak casting. Casting itu menjelang ujian akhir nasional. Saya yang waktu itu menjadi Putra Pariwisata Jayawijaya tahun 2009 akhirnya terpilih,&#8221; kata Benny mengisahkan kepada www.tabloidjubi.com, Jumat (7/12).<br />
<br />
Saat itu, sutradara Lasja F Sutanto beserta timnya datang ke sekolah Benyamin untuk mencari pemeran film tersebut. Menurut pemeran Tembi ini, hampir semua sekolah di daerah Wamena didatangi kru film itu. &#8220;Setelah itu, satu minggu latihan, satu bulan shooting,&#8221; kata Benyamin, yang sempat dilarang orangtuanya ikut casting karena mendekati Ujian Akhir Nasional.<br />
<br />
Menurut mahasiswa Fakultas Kedokteran Semester 5, Universitas Cenderawasih ini, HIV/AIDS merupakan masalah terbesar di Papua, melebihi perang antar suku. Masalah ini yang diangkat ke film tersebut. &#8220;Menurut saya, film ini sangat berbeda dari (film berlokasi di Papua) sebelumnya, karena tujuan atau ide yang diangkat dalam film ini amat berbeda. <em>Cinta dari Wamena</em> itu mengangkat isu yang terjadi di Papua. Kalau yang sebelumnya mungkin hanya untuk hiburan atau komersialisasi saja, yang jelas kesan edukasi di sini besar sekali,&#8221; jelas Benyamin.<br />
<br />
Berkesempatan membintangi film layar lebar dan datang ke Jakarta, Benyamin memiliki harapan yang besar kepada industri film Tanah Air. &#8220;Semoga melalui film ini, banyak orang-orang Papua yang masuk ke dalam (dunia)<em> entertainment</em>. Mereka yang dari Papua sudah banyak talenta, tapi kurang kesempatan dan kurang dilibatkan. Masa kami di Papua hanya bisa nonton saja?&#8221; ujarnya.<br />
<br />
Selain Benny, putra asli  Wamena yang lebih dulu tampil ke dunia entertainment adalah Minus Karoba. Minus telah tampil di beberapa film layar lebar dan sinetron di televisi swasta.   <strong><em>(Jubi/Mawel/kompas.com)</em></strong><br />
<br />
&nbsp;<br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2012%2F12%2F09%2Fpedatang-baru-di-dunia-entertainment-dari-wamena%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2012/12/09/pedatang-baru-di-dunia-entertainment-dari-wamena/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Iriantos Hingga Black Brothers</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2012/08/20/dari-iriantos-hingga-black-brothers/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2012/08/20/dari-iriantos-hingga-black-brothers/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Aug 2012 02:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dominggus Mampioper</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selepa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, Senin(20/8)&#8212;Sekitar 1970 an di Kota Jayapura muncul group-gorup Band di Angkatan Laut mendirikan Group... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2012/08/20/dari-iriantos-hingga-black-brothers/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_88" class="wp-caption alignleft" style="width: 328px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/10/black.jpg"><img class=" wp-image-88" title="black" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/10/black.jpg" alt="" width="318" height="318" /></a><p class="wp-caption-text">The Black Brother (Jubi/ist)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, Senin(20/8)</strong>&#8212;<em>Sekitar 1970 an di Kota Jayapura muncul group-gorup Band di Angkatan Laut mendirikan Group Band bernama Varunas, di Kodam Cenderawasih lahirkan Group Tjenderawasih. Begitupula jaman Acub Zainal jadi Gubernur Acub Zainal ,dirikan Group Band Pemda. Termasuk Polda Papua dengan Group Band Bhayangkara. Saat itu Hengky MS memulai populerkan lagu Jayapura di Waktu Malam dan Apuse berirama slow rock.</em><br />
<br />
<em></em>“Saya ingat dulu mereka bermain di rumah Andy Ayamiseba di Angkasa Indah, Group Bandnya bernama Iriantos dan setelah hijrah ke Jakarta barulah mereka memakai nama Black Brother,”kata Fredrik Chaay salah seorang seniman asal Kaju Pulo kepada <em>tabloidjubi.com</em> di Jayapura, Senin (20/8).<br />
<br />
Menurut dia di antara musisi di Kota Jayapura yang jatuh bangun dan berhasil di Jakarta mungkin hanya Vance S Pondag mantan gitaris Grup Band Varunas di Jayapura dan juga Black Brother yang dulu di Jayapura dikenal dengan nama Iriantos. Memang ada anak-anak muda Papua lainnya seperti, Black Sweet, Black Papas, Coconuts Band dan Airmood Band tapi tak sepopuler The Black Brother.<br />
<br />
Lagu-lagu Black Brother yang sempat hits dan menduduki tangga-tangga lagu diblantika musik Indonesia sekitar 1970-1980 an adalah lagu berjudul, <em>Hari Kiamat.</em> “Di tepi jalan si miskin menjerit, hidup meminta dan menerima. Yang kaya tertawa berpesta pora, hidup menumpang dikecurangan.Bintang Jatuh Hari Kiamat, pengadilan yang penghabisan.” Begitulah syair lagu Hari Kiamat, yang mampu melejit di Pulau Jawa dan menjadikan group kebanggaan masyarakat Papua ini menjadi sangat digemari.<br />
<br />
Adapun personil Iriantos waktu itu adalah, melody Henky Merantoni yang merantau dari Manado ke Biak dan selanjutnya bergabung di Jayapura bersama Iriantos. Hengky Merantoni sebelumnya sempat bermain di kapal Tampo Mas II dan juga Kapal Penumpang Finish.<br />
<br />
Hangky Merantoni  ini sangat terkenal dengan lagu ciptaannya Pramuria. Gitaris Hengki Merantoni sangat melekat dengan lagu-lagu The Purple, group rock asal USA yang sangat terkenal sekitar 1970 an dengan gitaris andalannya Ricky Blackmore.<br />
<br />
Hengky MS punya lagu bertitel Pramuria sebanyak lima lagu masing-masing <em>Kisah Seorang Pramuria, Untukmu Pramuria, Doa Pramuria, Balada Pramuria,Pramuria tapi Biarawati.</em><br />
<br />
Lagu milik Hangky MS pernah dinyanyikan oleh Charles Hutagalung The Mercys berjudul Kisah Seorang Pramuria. Bahkan dianggap lagu milik Charles Hutagalung tapi ternyata milik Hengky Merantoni.<br />
<br />
Musik Black Brothers termasuk tipe musik 1970 an di Indonesia karena memiliki melodi yang  manis, harmonis, tak berbelit-belit. Jadi sangat sederhana dan simple untuk dinyanyikan. Black Brothers juga memakai isntrumen alat tiup saxophon dan tromphet atau trombone yang dimainkan oleh Amry Kahar dan David Rumagesan.  Sedangkan Benny Betay memiliki ciri khas dalam memetik bass, dan Stevie Mambor punya kekuatan dalam hentakan bass drum.<br />
<strong></strong><br />
<br />
Ciri khas lain mereka selalu mengandalkan vocalis utama termasuk pula pemusik utama membentuk koor atau suara back ground.<br />
<br />
Lagu-lagu bernuanasa daerah seperti  <em>Huembello dan Apuse ,</em> biasanya berirama rock dengan melodi utama Hangky MS. Sedangkan untuk berirama keroncong. <em>Kr. Kenangan</em> [Hengky MS] dan <em>Kr. Gunung Sicloop</em> [Jochie Phu]. Padahal musik keroncong sangat identik dengan orang Jawa. Walau Black Brothers  membawakannya dengan baik meski dengan gaya pop. Vocalis yang suka menyannyikan lagu-lagu berirama Kroncong adalah penabuh drum, Stevie Mambor dengan suara khasnya.<br />
<br />
Sedangkan Jochy Patipelohi yang bermain pada keyboard adalah mahasiswa Uncen yang juga pemain group band dari Uncen. Pemain keyboard inberi sangat piaway dalam memadukan lagu-lagu Black Brother berirama musik gereja. Hal ini bisa tergambar dalam lagu Black Brother berjudul Lonceng Kematian dan juga Hari Kiamat.<br />
<br />
Hampir sebagian masyarakat di Indonesia ketika itu dan mungkin sekarang menyukai lagu berjudul, <em>Hari Kiamat</em>  karangan Jochie Phu. Syair ini sangat menyentuh dan mengingatkan manusia tentang Hari Kiamat..<br />
<br />
<em>Hari Kiamat</em><br />
<em> Lagu/syair: Jochie Phu</em><br />
<em> Tempo : moderato (sedang)</em><br />
<br />
<em> Di tepi jalan si miskin menjerit</em><br />
<em> Hidup meminta dan menerima</em><br />
<em> Si kaya tertawa berpesta pora</em><br />
<em> Hidup menumpang di kecurangan</em><br />
<br />
<em> Sadarlah kau&#8230; cara hidupmu</em><br />
<em> Yang hanya menelan korban yang lain</em><br />
<em> Bintang jatuh hari kiamat</em><br />
<em> Pengadilan yang penghabisan</em><br />
<br />
<em> Itulah hidup semakin biasa</em><br />
<em> seakan tak pedulikan lagi</em><br />
<em> Tiada kasih bagi yang lemah</em><br />
<em> Disiram banjiran air mata </em><br />
<br />
<em> Sadarlah kau cara hidupmu</em><br />
<em> Yang hanya menelan korban yang lain</em><br />
<em> Bintang jatuh hari kiamat</em><br />
<em> Pengadilan yang penghabisan</em><br />
<br />
Group Band Black Brother pada 1978 pernah melakukan show di Kota Jayapura dan banyak warga yang ikut menyaksikan penampilan mereka di Jayapura. Usai melakukan show di Kota Jayapura,mereka show ke PNG dan selanjutnya meminta suaka politik di Negeri Belanda sekitar 1980 an.<br />
<br />
Black Brother juga selama di Belanda pernah memopulerkan lagu asal Papua berjudul <em>Yalikoe</em> berirama disco. Lagu ini sempat masuk dalam deretan irama disco di daratan Eropah masuk dalam lagu terbaik berirama disco yang dirilis 1983. Kini personil Black Brother tinggal di Australia dan juga di Vanuatu, sedangkan Agus Rumaropen dan Hengky Merantoni sudah meninggal beberapa tahun silam.<br />
<br />
Sulit mencari group musik asal Papua yang sepopuler Black Brother di era 1970an. Karena itu tak heran kalau Black Brother menjadi legenda musik di Papua, Melanesia  dan di Indonesia.Bahkan hampir di seluruh negara Pasifik Selatan Group ini begitu populer karena mampu mengangkat musik berirama reggae Pasific Style(<strong>Jubi</strong>/<strong>Dominggus A Mampioper)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2012%2F08%2F20%2Fdari-iriantos-hingga-black-brothers%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2012/08/20/dari-iriantos-hingga-black-brothers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minus Karoba: Si Jago Siul Burung Cenderawasih</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2012/04/07/minus-karoba-si-jago-siul-burung-cenderawasih/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2012/04/07/minus-karoba-si-jago-siul-burung-cenderawasih/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Apr 2012 00:58:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin Jubi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Selepa]]></category>
		<category><![CDATA[Artis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=14769</guid>
		<description><![CDATA[JUBI&#8211;Adalah sutradara Garin Nugroho yang pertama kali memperkenalkan Minus C Karoba berakting di dalam dunia... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2012/04/07/minus-karoba-si-jago-siul-burung-cenderawasih/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_14770" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/?attachment_id=14770" rel="attachment wp-att-14770"><img class="size-medium wp-image-14770" title="minus karoba" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/03/minus-karoba-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Keluarga Minus Trans TV(Jubi/ist)</p></div><br />
<br />
<em>JUBI&#8211;Adalah sutradara Garin Nugroho yang pertama kali memperkenalkan Minus C Karoba berakting di dalam dunia film. Bagi Garin kelebihan dan kemampuan Minus bersiul dalam lakon film hasil garapannya memberikan kesan dan ciri khas tersendiri.</em><br />
<br />
Bahkan ketika film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja memperoleh penghargaan di Perancis, Sutradara Garin Nugroho menelpon Minus dan memberitahukan kalau akting pemuda asal Pegunungan Tengah Papua ini banyak mendapat pujian.<br />
<br />
Minus Karoba saat masih menjadi mahasiswa Fikom Universitas Science dan Teknologi Papua Jayapura sangat terkenal  dikampusnya karena cerita mob. Tak heran kalau di kampus dia mendapat julukan Minus si raja mob. Mob merupakan cerita lucu atau joke yang sering kali hadir di tengah kehidupan masyarakat Papua. Dalam setiap episode Keluarga Minus yang ditayangkan  Trans TV selalu ada cerita mob.<br />
<br />
Selain raja mob Minus Karoba juga membintangi beberapa film  bersama Alberth Fakdawer berjudul Denias yang disutradarai oleh Alex Sihasale dan Nia Zulkarnain. Sebelumnya Minus Karoba pernah juga bermain film bersama Lulu Tobing dan beberapa artis senior lainnya dalam film garapan sutradara Garin Nugroho berjudul, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. &#8220;Rasa percaya diri saya timbul saat mas Garin menelepon dari Perancis, waktu itu  filmnya menjadi juara di sana dan Garin memuji akting saya&#8221;, ujar Minus Karoba kepada tabloidjubi.com beberapa waktu lalu di Jayapura.<br />
Minus mulai mengisahkan pengalamannya bagaimana mampu lolos dan menyisihkan sebanyak 200 para calon artis dalam casting di Jayapura untuk bermain film bersama artis cantik berdarah Batak Lulu Tobing dalam film berjudul Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. Garin Nugroho sendiri sangat tertarik memilih Minus C Karoba karena menurut raja mob di Kampus ISTP, &#8220;Aku dikenal karena jago siul suara burung Cenderawasih.&#8221; Bukan sekadar memuji kebolehan acting anak ke empat dari pasangan Arek Karoba dan Dindia Wea tetapi putra pegunungan tengah Papua  kelahiran Mamit, 15 Mei 1985 telah membuktikan kemampuannya dalam adegan film dan sinetron Trans TV.<br />
Bahkan dia terpilih dalam film berjudul Mencari Madonna sebagai pemeran utama. Film yang disutradarai  Jhon Derantau ini mengisahkan tentang perkembangan HIV/AIDS di Tanah Papua. &#8220;Saya mencoba melakoni cerita film ini karena penting bagi kampanye HIV/AIDS di tanah Papua. Kita tahu HIV/AIDS di tanah Papua kini semakin hari terus meningkat,&#8221; ujar Karoba.<br />
<br />
Dia menambahkan kalau film berjudul, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja diproduksi tahun 2001 dan film Mencari Madonna diproduksi tahun 2004 lalu. &#8220;Sedangkan film iklan layanan tentang pendidikan bersama George Saa juara Olimpiade Fisika Dunia dibuat bulan Januari 2006,”tutur Karoba..<br />
<br />
Iklan ini  lanjut dia dibuat dalam rangka memberikan sosialisasi dan kampanye kepada  generasi muda di Indonesia khususnya di Papua  untuk belajar dan jangan membuang waktu hanya untuk masalah yang tidak berguna. “Paling tidak semua orang Papua maupun Indonesia mempunyai prestasi sama dengan George Saa,&#8221; ujar Minus C Karoba.<br />
Dia menegaskan pilihan hidupnya sudah tepat dan ingin serius menekuni bidang acting serta seni peran. Meskipun dia mengaku sangat berseberangan dengan bidang studi yang selama ini ditekuninya di Kampus ISTJ. “Tapi saya kira justru komputer mempermudahnya dalam mengembangkan karier seni peran,”kata Karoba. <strong><em>(Jubi/Dominggus A Mampioper)</em></strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2012%2F04%2F07%2Fminus-karoba-si-jago-siul-burung-cenderawasih%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2012/04/07/minus-karoba-si-jago-siul-burung-cenderawasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
