<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tabloidjubi.com &#187; Seni Budaya</title>
	<atom:link href="http://tabloidjubi.com/?feed=rss2&#038;cat=8" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tabloidjubi.com</link>
	<description>The Papua News Portal</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 May 2013 15:32:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.4.2</generator>
		<item>
		<title>PESAN ARNOLD AP UNTUK ANAK MUDA PAPUA</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/05/13/pesan-arnold-ap-untuk-anak-muda-papua/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/05/13/pesan-arnold-ap-untuk-anak-muda-papua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 May 2013 23:35:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Timoteus Marten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Arnold Ap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=26189</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 13/5 (Jubi) – Siapa yang tidak mengenal Mambesak, grup musik kebanggan orang Papua era... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/05/13/pesan-arnold-ap-untuk-anak-muda-papua/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_26190" class="wp-caption alignleft" style="width: 219px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/2013/05/13/pesan-arnold-ap-untuk-anak-muda-papua/arnold-clemens-ap-2/" rel="attachment wp-att-26190"><img class="size-medium wp-image-26190" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/05/Arnold-Clemens-Ap-209x270.jpg" alt="" width="209" height="270" /></a><p class="wp-caption-text">Arnold Clemens Ap (Jubi/ist)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 13/5 (Jubi)</strong> – <em>Siapa yang tidak mengenal Mambesak, grup musik kebanggan orang Papua era pemerintahan presiden Soeharto? Arnold Ap adalah pendiri Mambesak.</em><br />
<br />
Dalam kesempatan beberapa waktu lalu di Jayapura<em>, tabloidjubi.com</em> menemui Yunus Wayar, teman dekat almarhum Arnold Ap. Yunus mengatakan, orang Papua harus meneruskan perjuangannya dan melestarikan budaya Papua, seturut pesan Arnold kepada dia.<br />
<br />
“Ia (Arnold Ap) datang ke rumah. Pesan-pesan terakhirnya, teruskan perjuangan ini,” kata Yunus Wayar.<br />
<br />
Menurut Yunus, Arnold Ap adalah seorang budayawan dan intelek Papua yang sangat mencintai budayanya. Karena itu, ia mendirikan grup musik dengan nama Mambesak. Mambesak berasal dari bahasa Biak yang berarti Cenderawasih. Ia menerjemahkan lagu-lagunya ke dalam 250 bahasa di Papua kala itu. Bahkan mereka sering show keliling Papua.<br />
<br />
“Kalau bawakan lagu-lagu, dia santai saja, dengan ukulele, dia bayangkan suasana kampung, bulan terang. Mereka santai. Tidak usah terlalu formal. Ala kampung saja,” kenang Yunus.<br />
<br />
Mereka pernah rekam di museum, Lokabudaya, dengan suasana ala kampung, volume IV. Bahkan pesan-pesannya bergaung hingga ke Eropa, seperti Belanda.<br />
<br />
Mambesak didirikan dengan latar belakang, bahwa budaya Papua saat itu nyaris tenggelam dan tidak diangkat ke publik. Bahasanya tidak mengandung politik. Itu lagu-lagu kampung yang mengenang masa-masa dulu, dimana anak muda yang merantau.<br />
<br />
“Tidak semua mengandung politik. Ada lagu bahasa Biak, itu lagu mengenang masa merantau. Tapi ada yang selalu menerjemahkan ke dalam politik. Tetapi  ada judul lagu dari bahasa Mor, ‘Nona Wakulabuwa’, yang artinya ‘Itu Saya Punya Tanah’,” kata Yunus. Semasa dia, di Universitas Cenderawasih diadakan program khusus ‘Gema Universitas’. Acara itu disenangi seluruh masyarakat di tanah Papua.<br />
<br />
Menurut Yunus, tidak benar jika orang mencuriga upaya Arnold untuk mengkampanyekan Papua Merdeka. Lagu-lagunya malah lagu-lagu budaya. “Saya bertemu dia, dia lagu kirim ke Jerman. Mungkin karena itu, orang beranggapan, ah ini kampanye. Padahal ini budaya yang orang dengar,” tegas Yunus.<br />
<br />
Arnold Ap tewas ditembak pada 26 April 1984. “Kurang lebih 30 tahun ia meninggal. &#8220;Belum ada figur seperti dia. Dia itu orang yang mencintai tanah ini. Makanya ia mengangkat budaya tanah ini. Budi bahasanya baik, bicara tidak kasar,” katanya.  <strong>(Jubi/Timoteus Marten)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F05%2F13%2Fpesan-arnold-ap-untuk-anak-muda-papua%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/05/13/pesan-arnold-ap-untuk-anak-muda-papua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ARNOLD AP DIBERI GELAR ‘BAPAK IDENTITAS PRIBUMI PAPUA’</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/04/26/arnold-ap-diberi-gelar-bapak-identitas-pribumi-papua/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/04/26/arnold-ap-diberi-gelar-bapak-identitas-pribumi-papua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Apr 2013 06:02:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Musa Abubar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Arnold C. AP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=23351</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 26/4 (Jubi) – Dalam rangka peringatan 29 tahun kematian Arnold Clemens AP, tokoh budayawan... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/26/arnold-ap-diberi-gelar-bapak-identitas-pribumi-papua/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_23011" class="wp-caption alignleft" style="width: 203px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/24/kematian-arnold-ap-akan-diperingati/arnold-clemens-ap/" rel="attachment wp-att-23011"><img class="size-medium wp-image-23011" title="Arnold Clemens Ap" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/04/Arnold-Clemens-Ap-193x250.jpg" alt="" width="193" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">Arnold Clemens AP (IST)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 26/4 (Jubi)</strong> – <em>Dalam rangka peringatan 29 tahun kematian Arnold Clemens AP, tokoh budayawan Papua pada, 26 April 1984, akademisi menyatakan Arnold  pantas diberi gelar ‘bapak indentitas pribumi Papua.’ Selain Arnold, group Blacbrothers, Rio Grime, dan Persipura juga pantas menyandang gelar tersebut.</em><br />
<br />
Hal ini dikemukakan Musa Sombuk, mewakili akademisi dari Universitas Negeri Papua (Unipa) Manokwari, Papua Barat, saat ditemui <em>tabloidjubi.com</em> di Abepura, Kota Jayapura, Jumat (26/4).  Menurutnya, dihari kematian Arnold C. AP, 26 April 1984, dirinya pantas diberi gelar ‘bapak identitas pribumi Papua.’ “Selain Arnold, persipura, group blacbrothers dan rio grime juga pantas diberi gelar itu,” kata Sombuk.<br />
<br />
Sombuk menilai, group mambesak yang pelopori Arnold Ap, group blacbrothers, group rio grime dan  persipura  serta Otsus dan Majelis Rakyat Papua (MRP) adalah satu garis kontrol melanesia. Kemudian, lanjut dia, Arnold di zamannya dicap sebagai separatis dan pemberontak. Zaman sekarang, bagi mereka yang mengkritisi soal MRP dan Otsus juga dicap sebagai sepratis dan diklaim sebagai kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sementara, persipura adalah tim kebanggaan orang Papua saat ini.<br />
<br />
Menurut dia, model yang dilakukan mambesak kala itu adalah model yang unik di Papua dan tak ada di daerah lain diluar Papua. Bertolak dari itu, pelopor mambesak, Arnold C. AP pantas dilihat sebagai indentitas pribumi Papua atau diberi gelar identitas pribumi Papua. Persipura, Blacbrathers dan Rio Grime juga pantas menyandang gelar yang sama.<br />
<br />
Sombuk mengatakan, dari sisi akademisi, Arnold meletakan dasar atropologi atau meletakan dasar etnopsikologi yang merupakan ciri tersendiri dari bagian antropologi. Gerakan yang dilakukan saat itu oleh AP adalah gerakan anropologi namun tak mendapat ruang. Akhirnya, dipandang sebagai gerakan politik. Selanjutnya, Arnold AP sekeluarga diincar. Alhasil, Arnold AP terpaksa harus dibunuh dengan cara ditembak di Pasir II Jayapura sejak itu.<br />
<br />
Pada Jumat, 26 April 2013 kali ini adalah peringatan ke 29 tahun kematian sang budayawan Papua ini. Penangkapan Arnold C. AP sendiri terjadi pada 30 November 1983 dalam Operasi Tumpas dibawa kendali Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopasandha). AP dibunuh oleh kopasandha (kini kopasus) pada 26 April tahun 1984. <strong>(Jubi/Musa)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F04%2F26%2Farnold-ap-diberi-gelar-bapak-identitas-pribumi-papua%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/04/26/arnold-ap-diberi-gelar-bapak-identitas-pribumi-papua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KEMATIAN ARNOLD AP AKAN DIPERINGATI</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/04/24/kematian-arnold-ap-akan-diperingati/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/04/24/kematian-arnold-ap-akan-diperingati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 13:10:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Benny Mawel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Arnold Ap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=23010</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 24/4 (Jubi) &#8211; Jangan sekali-sekali melupana sejarah bangsamu di masa lalu. Sebagai bagian dari... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/24/kematian-arnold-ap-akan-diperingati/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_23011" class="wp-caption alignleft" style="width: 203px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/2013/04/24/kematian-arnold-ap-akan-diperingati/arnold-clemens-ap/" rel="attachment wp-att-23011"><img class="size-medium wp-image-23011" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/04/Arnold-Clemens-Ap-193x250.jpg" alt="" width="193" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">Arnold Clemens Ap (IST)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 24/4 (Jubi)</strong> &#8211; <em>Jangan sekali-sekali melupana sejarah bangsamu di masa lalu. Sebagai bagian dari memori sejarah, Pemuda Mahasiswa Papua yang tergabung dalam Solidaritas Pemuda Mahasiswa Peduli Budaya Papua akan merayakan hari kematian Legendaris Musik dan Budaya Papua, Arnol Clemens Ap pada 26 April nanti. </em><br />
<br />
Arnold Ap dibunuh oleh kopasdam (kini kopasus) pada 26 April tahun 1984 silam.  Informasi perayaan itu disampaikan Koordinator Perayaan, Tedy Pekey ke <em>tabloidjubi.com </em>di Abepura, Kota Jayapura, Selasa (23/4).<br />
<br />
&#8220;Kita akan memperingati kematian Arnol Ap pada Kamis 26 April,” ujar Tedy Pekey. Perayaan peringatan kematian ini, menurut Tedy, merupakan satu pengharagaan generasi kini terhadap jasa Arnold Ap. Penghargaan atas perannya dalam perjuangan pengakuan kebudayaan Papua. “Arnold adalah  aktivis pejuang kebudayaan bangsa Papua,” tuturnya.<br />
<br />
<strong>Mambesak Dasar Persatuan </strong><br />
<br />
<strong></strong>Sebagai pejuang, kata  Tedy, Arnol memperjuangkan dan mewarisi nilai persatauan melalui lagu-lagu mambesak. Lagu-lagu mambesak memcerminkan penghargaan keanekaragaman budaya Papua. “Arnold menghargai keanekaragam budaya Papua. Ia mengambil lagu-lagu dari setiap daerah Papua dengan gaya, iramanya utuh dan khas, tanpa menguranginya,” katanya.<br />
<br />
Nilai yang diperjuangkan Arnol Ap itu perlu diterapkan dalam dunia kini. Solidaritas Pemuda Mahasiswa Peduli Budaya Papua akan membagikan nilai-nilai warisan yang ditoreh  Arnold Ap.<br />
<br />
Pertama, solidaritas akan membagikan seleberan kepada publik. “Kami akan bagi selebaran,” tuturnya.  Kedua, Solidaritas akan mengundang komponen orang Papua dari bebagai lapisan untuk duduk di halaman gedung MRP. “Kita akan duduk di MRP  hanya mendengarkan lagu-lagu Arnol Ap kemudian  kunjungi makam Arnold Ap,” ucapnya.<br />
<br />
<strong>Kebangkitan Budaya Papua</strong><br />
<br />
Solidaritas ini tidak behenti pada perayaan namun akan mendorong terbitnya satu pondasi atau perdasus kebangkitan budaya Papua. “Kami akan mendorong MRP merancang perdasus bangkitnya budaya Papua,” ujarnya. Solidaritas ini juga mendukung stegmen gubenur Papua, Lukas Enembe tentang membangun peradaban baru di Papua. “Kami dukung gubenur membangun peradaban budaya Papua,” ungkapnya.<br />
<br />
Tedy berharap, gubenur bersama DPRP dan MRP menetapkan hari kematian Arnol Ap sebagai hari kebangkitan budaya Papua. “Kami mendukung 26 april jadikan hari bangkitnya budaya Papua,” harapnya. <strong>(Jubi/Mawel)</strong><br />
<br />
&nbsp;<br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F04%2F24%2Fkematian-arnold-ap-akan-diperingati%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/04/24/kematian-arnold-ap-akan-diperingati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TITUS PEKEI: INSTRUMEN OTSUS SAMA SEPERTI NOKEN</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/03/22/titus-pekei-instrumen-otsus-sama-seperti-noken/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/03/22/titus-pekei-instrumen-otsus-sama-seperti-noken/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Mar 2013 10:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eveert Joumilena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Noken]]></category>
		<category><![CDATA[Otsus Papua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=16969</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 22/3 (Jubi) - Pada dasarnya instrumen Otonomi Khusus (Otsus) itu sama seperti noken yang... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/03/22/titus-pekei-instrumen-otsus-sama-seperti-noken/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_16983" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/?attachment_id=16983" rel="attachment wp-att-16983"><img class="size-medium wp-image-16983" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/03/Titus-Pekei-Penggagas-Noken-Papua-Warisan-Dunia-dari-Indonesia-eveerth-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Titus Pekei, Penggagas Noken Papua Warisan Dunia dari Indonesia, saat membawakan materi NOKEN WARISAN BUDAYA TAKBENDA<br />“Pelindungan &amp; Pengembangan Noken Papua<br />(Jubi/Eveerth)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 22/3 (Jubi) -</strong> <em>Pada dasarnya instrumen Otonomi Khusus (Otsus) itu sama seperti noken yang khusus dibuat untuk masyarakat Papua. Tetapi justru dipaksakan untuk dirobek, padahal &#8216;noken&#8217; Otsus baru selesai dan belum dibawa, tapi langsung dikirim ke Jakarta menurut sikap perajut dan penganyam noken asli Papua itu.</em><br />
<br />
Hal ini disampaikan oleh Titus Pekei, selaku Peneliti Lembaga Ekologi Papua, yang juga penggagas Noken Papua sebagai warisan dunia dari Indonesia. Saat itu dirinya telah memperjuangkan Noken terdaftar di lembaga PBB untuk Bidang Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menjadi warisan dunia, tepat tanggal 4 Desember 2012, di Markas UNESCO, Jam 10.30 Waktu Paris.<br />
<br />
“Dengan demikian, noken Otsus yang dibawa dari Papua sudah ditambal sulam oleh perajin Noken di Senayan, Jakarta. Akhirnya Noken Otsus Papua sudah dirobek dan orang mulai malas menggunakannya pula,” ujar Titus Pekei, dalam pemaparan materinya pada acara Konferensi Masyarakat Adat di Hotel Relat, Jumat (22/3).<br />
<br />
Dikatakan, apa saja yang dimasukkan dalam Noken khusus itu, menurut UU No 21 Tahun 2001 tentang Otsus bagi Provinsi Papua, seperti beberapa istilah yang tersirat dan tercatat adalah: “adat, masyarakat adat, hukum adat dan masyarakat hukum adat” sebagai kearifan dan perekat dalam Noken budaya masyarakat adat tanah Papua.<br />
<br />
“Dalam kaitan makna, peran dan fungsi Noken dapat memperkuat posisi masyarakat hukum adat se-Tanah Papua. Mengenai substansi UU No.21/2001 Otsus Papua, Pasal 1 angka (o), angka (p), angka (q), angka (r). Penjelasan menurut substansi disesuaikan dengan keberpihakan masyarakat komunitas noken Papua,” ungkapnya.<br />
<br />
Dikatakan, misalnya dalam adat, ketika masa pemerintahan daerah berubah dengan otonomi khusus Papua, adat telah dipertahankan menjadi identitas budaya yang hidup dalam komunitas adat secara turun-temurun di atas Tanah Papua ini. Penjelasannya adalah sebagai berikut. “Adat adalah kebiasaan yang diakui, dipatuhi dan dilembagakan, serta dipertahankan oleh masyarakat adat setempat secara turun-temurun; (Pasal 1 huruf o)”.<br />
<br />
“Aturan otonomi khusus Papua telah mengatur dan menyatukan berbagai kemahiran adat rakyat Papua. Ruang dan tempat kebebasan berekspresi masyarakat adat Papua pun mulai terbatas, baik karena dibatasi sendiri maupun pihak lain yang tidak suka harus berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) dengan pijakan adat, budaya dan kearifan identitas suku bangsanya,” paparnya.<br />
<br />
Sedangkan masyarakat Adat Papua, katanya memiliki keberpihakan untuk mengakui potensi noken asli menjadi identitas budaya karena sudah hidup bersama masyarakat adat Papua. “Keragaman model dan ukuran noken memanfaatkan fungsi sosial budaya secara alami tanah Papua. Noken asli Tanah Papua telah terikat dalam ketahanan warga masyarakat asli Papua dengan rasa solidaritas yang tinggi antara para anggotanya,” katanya.<br />
<br />
Dirinya mengakui, komunitas masyarakat asli Papua telah hidup dengan kerajinan tangan masyarakat adat dalam wilayah menjadi ikatan yang harus tunduk dan diakui oleh mereka. “Masyarakat Adat adalah warga masyarakat asli Papua yang hidup dalam wilayah dan terikat serta tunduk kepada adat tertentu dengan rasa solidaritas yang tinggi di antara para anggotanya; (Pasal 1 huruf p),” jelasnya.<br />
<br />
Menurut Titus, kita harus tunduk kepada keterikatan adat yang menjadi bagian terpenting yang harus didalami menurut manfaat dan makna noken asli Papuani. Mereka tunduk dan mengakuinya dengan rasa solidaritas dan partisipatif menurut keterikatan adatnya.<br />
<br />
Noken berbasis kearifan lokal dan telah hidup, tumbuh, dan berkembang. Noken memperkuat solidaritas dan keterikatan hidup menurut keragaman masyarakat adat, termasuk organisasi lokal, nasional dan global. Hal itu menjamin noken asli Papua tanpa merobek manfaat dan makna noken. Masyarakat adat tidak menjadikan polemik kesenjangan berpikir dan bertindak.<br />
<br />
Masyarakat hukum adat mengakui noken sebagai penentu dan pewaris identitas budaya bangsa menurut keterikatan yang diyakini dalam masyarakat hukum adat. Noken asli Papua menjadi dasar pijakan hidup yang telah dibekali sejak lahir hingga kemandirian hidup dirinya. Wilayah budaya dan hukum adat noken dijadikan identitas yang terlahir bersama anak adat dalam komunitas masyarakat hukum adat di tanah Papua.<br />
<br />
“Masyarakat Hukum Adat adalah warga masyarakat asli Papua yang sejak kelahirannya hidup dalam wilayah tertentu dan terikat serta tunduk kepada hukadat um adat tertentu dengan rasa solidaritas yang tinggi di antara para anggotanya”, (Pasal 1 huruf r).<br />
<br />
Noken dibekali dengan rasa solidaritas menyatu; noken rajut dan anyam menyatukan sesama masyarakat adat dalam wilayah budaya guna menyatukan tujuan bersama dalam noken asli Papuani. Sesama masyarakat hukum adat dapat menghayati manfaat noken sebelum menjalankan aturan adat di masyarakat hukum adat itu sendiri sebagai identitas budaya bagi warga masyarakat asli Papua.<br />
<br />
Masyarakat hukum adat telah terbentuk ada &#8211; sejak sebelum lahir dalam kandungan sampai akhir hayatnya hingga disambut dalam noken sampai akhirnya keluar dari noken. Masyarakat hukum adat mengakui noken sebagai identitas budaya orang Papua tetapi dalam kenyataan hidup bermasyarakat, adat Papua sendiri kadang tampak tidak beradat, bernorma, dan berbudaya karena tidak menghargai noken sebagai perekat hidup. <strong>(Jubi/Eveerth)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F03%2F22%2Ftitus-pekei-instrumen-otsus-sama-seperti-noken%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/03/22/titus-pekei-instrumen-otsus-sama-seperti-noken/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TARIAN  SANGGAR HONONG  AKAN WARNAI PAMERAN OTSUS</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/03/13/tarian-sanggar-honong-akan-warnai-pameran-otsus/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/03/13/tarian-sanggar-honong-akan-warnai-pameran-otsus/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 13:11:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Eveert Joumilena</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sanggar Honong Ikut Pameran Otsus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=15552</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura, 13/3 (Jubi) &#8212; Sanggar Seni Honong Waena akan ikut ambil bagian dalam menampilkan tarian... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/03/13/tarian-sanggar-honong-akan-warnai-pameran-otsus/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_15554" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/?attachment_id=15554" rel="attachment wp-att-15554"><img class="size-medium wp-image-15554" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/03/Sanggar-Honong-saat-tampil-pada-HUT-MRP-eveerth-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Para penari dari Sanggar Honong Waena, dalam suatu kegiatan (Jubi/Eveerth)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura, 13/3 (Jubi)</strong> &#8212; <em>Sanggar Seni Honong Waena akan ikut ambil bagian dalam menampilkan tarian keindahan Kota Jayapura dan tarian –tarian bernuansa budaya Papua.</em><br />
<br />
Hal ini disampaikan oleh Pimpinan Sanggar Honong Waena, Theo Yepese, kepada Tabloidjubi.com, di Waena, Kota Jayapura, Rabu(13/3).<br />
<br />
“Kami diundang ikut pameran Otonomi Khusus, yang mana akan membawakan beberapa tarian, termasuk tarian keindahan Kota Jayapura serta tarian fungsi pohon,’ ujar Theo Yepese.<br />
<br />
Dirinya menjelaskan, kesiapan para penari dan berbagai ornament budaya Papua sudah ada, sehingga tinggal pemantaan di lokasi pameran di Jakarta nanti. Sebabnya tim akan berangkat pada  29 Maret nanti.<br />
<br />
“Kami akan berangkat sebelum pembukaan kegiatan pameran Otsus pada tanggal 3 April, sebabnya kesiapan sanggar lebih dimatangkan,” tuturnya.<br />
<br />
Sanggar Seni Honong merupakan sanggar yang bertempat di Waena, yang mana para penari-penari muda tetap eksis menjaga budaya Papua lewat musik dan tari-tarian.<br />
<br />
“Kami banyak mendapat tawaran hingga manca negara, seperti pameran di Jepang hingga beberapa negara di kepulauan Pasifik, termasuk dalam waktu dekat juga masih disibukan dengan kegiatan di kantor Gubernur Papua pada tanggal 21 Maret nanti,” tandasnya.<br />
<br />
Dirinya berharap, pameran Otsus juga bsia menampilakn budaya-budaya seniman Papua, sebagaimana tarian-tarian Papua yang ditampilkan akan menjadi daya tarik bagi para pengunjung yang datang. <strong>(Jubi/Eveerth)</strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F03%2F13%2Ftarian-sanggar-honong-akan-warnai-pameran-otsus%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/03/13/tarian-sanggar-honong-akan-warnai-pameran-otsus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASMAT WAKILI PAPUA KE JERMAN</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/03/07/asmat-wakili-papua-ke-jerman/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/03/07/asmat-wakili-papua-ke-jerman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Mar 2013 23:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin Jubi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Asmat]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=14757</guid>
		<description><![CDATA[Merauke, 07/03, (Jubi)-Emak Cem dan Bis hingga Jipai adalah tarian asli Asmat khususnya Sub Suku... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/03/07/asmat-wakili-papua-ke-jerman/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_14758" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" href="http://tabloidjubi.com/?attachment_id=14758" rel="attachment wp-att-14758"><img class="size-medium wp-image-14758" title="tim asmat" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/03/tim-asmat-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Tim Budaya Asmat yang berangkat ke Berlin, Jerman (Jubi/Agapitus Batbual)</p></div><br />
<br />
<em>Merauke, 07/03, (Jubi)-Emak Cem dan Bis hingga Jipai adalah tarian asli Asmat khususnya Sub Suku Joerat. Emak Cem mengisahkan tentang kelahiran manusia hingga dewasa. Dalam proses ini, generasi muda akan pelajari bagaimana pendidikan berlaku dalam budaya Asmat hingga dewasa dalam pesta adat.</em><br />
<br />
Namun orang tua-tua adat Asmat tidak sembarangan menentukan layak atau tidak seseorang menjadi dewasa. Mereka memperhatikan secara teliti seorang anak berburu, mencari ikan, pangkur sagu serta mencari ulat sagu. Jika resmi berarti orang tertentu sudah melewati berbagai rintangan seperti ini. Bagi orang Asmat, proses kelahiran menjadi baru terletak disini. Emak Cem sendiri adalah sebuah tarian adat yang mengisahkan proses kelahiran manusia ini.<br />
<br />
Sedangkan upacara Bis adalah tarian adat lain yang menceritakan emansipasi kaum perempuan. Bagaimana kaum lemah tertindas dan berusaha membebaskan diri dari kungkungan adat, ditarikan dalam upacara sakral. Konon, seorang perempuan bernama Bis dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan seorang yang suka berburu demi menghidupi keluarganya. Mereka menikah, tetapi sang suami melarang Bis untuk bertemu dengan siapapun. Karena tertekan dan makan hati, satu ketika Bis melarikan diri untuk mencari pujaan hatinya. Orang tersebut bernama Beorpits dan resmi menikah. Cerita ini mewakili proses orang Asmat memproklamirkan kemerdekaan. Intinya, walaupun hidup penuh tantangan apapun tetapi akhirnya bebas lepas.<br />
<br />
Lalu pesta Jipai menceritakan menceritakan, bagaimana orang Asmat percaya adanya ikatan emosional dengan roh-roh. Manusia yang hidup dunia ini bisa membantu mereka didunia roh-roh karena factor  keseimbangan atau Ja Asamanam Apcamar. Mereka percaya, roh-roh pasti mendoakan anak cucunya, sebaliknya mereka yang masih di dunia bisa berdoa kepada Tuhan agar roh-roh bisa selamat juga. Bagi semua orang Asmat, menghadirkan roh-roh adalah unsur sakral. Roh bisa mendapatkan tempat layak atau tidak tergantung pada manusia. Justeru itulah, iman Katolik percaya hal ini.<br />
<br />
Tiga cerita sakral inilah, menurut Bonifasius Jakfu tertuang dalam sebuah sinopsis. Boni panggilannya, mengatakan proses tarian adat ini akan dipentaskan di Berlin, Jerman. Dia menceritakan, saat di Kabupaten Asmat sebelum berangkat ke Merauke sudah ada sinopsis yaitu Bis, Jipai lalu Emak Cem. Tiga bagian tarian ini terkesan dibalik-balik. Yang seharusnya kelahiran-hidup hingga meninggal. Maka terbuatlah sebuah sinopsis bagus. “Logika tak tersambung. Maka saya robah menjadi kelahiran-hidup dan meninggal,” ujar saat ditemui di Bandara Mopah Merauke.<br />
<br />
Mereka membawa puluhan papan untuk diukir saat tiba di Berlin, Jerman dan sebuah patung Bis dan topeng roh. Tim akan berangkat sekitar 50 orang ditambah seniman sebanyak 30 orang. Tetapi ada satu dan lain hal, yang ikut ke Berlin, Jerman totalnya 46 orang. Mereka berangkat ke Berlin, Jerman dalam rangka pameran maupun eksebisi tiga tarian Asmat ini dalam di event Parisiwata Internasional. Pemerintah Jerman pun memberikan kehormatan kepada Papua dan Indonesia khususnya  Pemda Asmat untuk hadir.<br />
<br />
Prosesnya, menurut Sekretaris Dinas Kabupaten Asmat Donatus Tamot, mereka diseleksi dari tingkat kampung. Menariknya, mereka mewakili semua rumpun suku Asmat. Dan Tour Cartens Adventure, perusahan yang mengantar mereka tiba di Berlin adalah orang yang terlatih. “Perusahan ini rata-rata orang Papua. Kami sangat senang,” jelas Tamot.<br />
<br />
Perjalanan tim berangkat Rabu 27 Februari ke Jayapura hingga Jakarta. Minggu 3 Maret berangkat ke Abudabi hingga Amsterdam, Belanda. Selasa 5 Maret melalui jalur kereta api tiba di Berlin. Tim Asmat akan diterima oleh pemerintah setempat. Pembukaannya dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhono. Usai eksebisi tarian dan aksi ukir, Tim Asmat mengunjungi museum dr. Koendrad dan Ursula, salah satu pendonor untuk membangun Museum Kebudayaan Asmat milik Keuskupan Agats-Asmat. Selain itu, mereka harus ke Belanda dan Belgia juga.<br />
<br />
Menurutnya, Asmat terpilih karena dunia sudah mengenal dan memiliki situs warisan budaya dunia. Wajar saja, Asmat menjadi perhatian dan terpilih dalam event dunia. Kabupaten Asmat mewakili seluruh Papua dan Indonesia. Harapannya, sektor pariwasata yang diunggulkan. Kendala utama adalah transportasi. Kemungkinan event bernilai saat Asmat diperkenalkan selain Pulau Bali.<strong><em> (Jubi/Agapitus Batbual)</em> </strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F03%2F07%2Fasmat-wakili-papua-ke-jerman%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/03/07/asmat-wakili-papua-ke-jerman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambut 2013, Warga Yoka Himpun Semua Keluarga</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2013/01/04/sambut-2013-warga-yoka-himpun-semua-keluarga/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2013/01/04/sambut-2013-warga-yoka-himpun-semua-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jan 2013 03:43:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Timoteus Marten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Yoka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=8133</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura (3/1) &#8212; Ratusan warga kampung Yoka, Kota Jayapura, Papua, dari suku Olua, Tukayo dan... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2013/01/04/sambut-2013-warga-yoka-himpun-semua-keluarga/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_8136" class="wp-caption alignleft" style="width: 490px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/?attachment_id=8136" rel="attachment wp-att-8136"><img class=" wp-image-8136" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2013/01/OTO-Aarak-Keliling-Kampung-Yoka.jpg" alt="" width="480" height="320" /></a><p class="wp-caption-text">Arak-arakan Suku OTO (Olua, Tukayo dan Ohee) mengelilingi Kampung Yoka (Jubi/Timo)</p></div><br />
<br />
<em>Jayapura (3/1) &#8212; Ratusan warga kampung Yoka, Kota Jayapura, Papua, dari suku Olua, Tukayo dan Ohee (OTO) menghimpun semua anggota keluarga secara adat.</em><br />
<br />
&#8220;Kita mau menghimpun seluruh keluarga yang ada di kampung dan yang keluar dari kampung,&#8221; kata Max Olua, salah satu tokoh suku Olua, Kamis (3/1) sore, di Yoka, Jayapura, Papua.<br />
<br />
Sejak tengah hari, hingga petang, mereka melakukan pawai keliling kampung itu melalui arah selatan, utara, barat hingga Timur kampung di tepi danau Sentani dan ujung kota Jayapura ini.<br />
<br />
&#8220;Kalau ada keluarga yang mungkin masih tidur, kami berharap, mereka terhibur,&#8221; kata Max yang juga kepala Distrik Abepura ini.<br />
<br />
Pantauan media ini, anak-anak, pria, para ibu hingga kepala suku dari OTO tersebut melakukan arak-arakan dengan atribut adat, iringan suling, terompet, tambur dan tarian adat.<br />
<br />
Mereka mengenakan busana khas sesuai warna khas ketiga suku, seperti, kaos hijau dari suku Ohee, kaos Merah dari suku Olua dan Kuning Suku Tukayo.<br />
<br />
Aksi OTO, dilakukan setiap tahun. Warga OTO, kata Max, juga melakukan aksi ini sebagai ajang untuk temu akrab dari semua warga, baik yang ada di kampung, maupun yang keluar atau yang tinggal di luar kampung. Pun dengan mereka yang kawin dengan suku-suku di luar Yoka.<br />
<br />
Di Yoka ada beberapa suku, selain OTO, di antaranya, suku Mebri, Wamliba dan suku Wamlolo.<br />
<br />
OTO berharap, aksi mereka bergema hingga pelosok kampung sebagaimana semangat Natal 25 Desember 2012 dan Tahun Baru 1 Januari 2013.<strong><em> (Jubi/Timoteus Marten)</em></strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2013%2F01%2F04%2Fsambut-2013-warga-yoka-himpun-semua-keluarga%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2013/01/04/sambut-2013-warga-yoka-himpun-semua-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lukisan Kulit Kayu Kombouw Sentani Berpotensi Susul Noken</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2012/12/18/lukisan-kulit-kayu-kombouw-sentani-berpotensi-susul-noken/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2012/12/18/lukisan-kulit-kayu-kombouw-sentani-berpotensi-susul-noken/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2012 10:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Arjuna Pademme</dc:creator>
				<category><![CDATA[Features]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kombouw Peluang Masuk Unesco]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=7186</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura (18/12) &#8212; Lukisan kulit kayu dari Papua dianggap berpotensi menjadi warisan budaya dunia dan... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2012/12/18/lukisan-kulit-kayu-kombouw-sentani-berpotensi-susul-noken/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_7187" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/?attachment_id=7187" rel="attachment wp-att-7187"><img class="wp-image-7187 " src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/12/Lukisan-Kulit-Kayu-21311752157.jpg" alt="" width="300" height="196" /></a><p class="wp-caption-text">Lukisan Kulit Kayu (IST)</p></div><br />
<br />
<strong>Jayapura (18/12) &#8212;</strong><em> Lukisan kulit kayu dari Papua dianggap berpotensi menjadi warisan budaya dunia dan mendapat pengakuan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) seperti noken, mengingat lukisan itu hanya ada dikalangan masyarakat Sentani, Kabupaten Jayapura. Titus Pekei, Peneliti Ekologi dan Penggagas Noken Papua, Warisan Budaya Takbenda mengatakan, sepanjang ada orang yang benar-benar mendalami makna dan lukisan kulit kayu, maka tidak menutup kemungkinan akan mendapat pengakuan dunia sama seperti noken.</em><br />
<br />
&nbsp;<br />
<br />
“Bisa saja, sepanjang ada orang yang mendalami maknanya. Misalnya khas dan nilai yang tak tergantikan yang terkandung dalam lukisan kulit kayu dan itutidak ada di tempat lain. Lukisan kulit kayu kan adalah perpaudan kreasi alam dengan menusia. Tapi memang tetapi harus dikaji lebih dalam. Karena lukisan yang ada di kulit kayu seperti binatang atau gambar lainnya menggambarkan kondisi alam. Jadi saya menilai lukisan kulit kayu juga punya potensi untuk mengikuti jejak noken,” kata Titus Pekei, Selasa (18/12).<br />
<br />
Menurutnya, selain lukisan kulit kayu, masih banyak warisan budaya lainnya dari Papua yang bisa didorong untuk mendapat pengakuan UNESCO seperti patung Asmat atau tarian Yospan.<br />
<br />
“Kedepan harus diidentifikasi lagi apa saja yang bisa direkomendasikan dari Papua. Banyak langkah yang bisa kita tempuh untuk mencari pengakuan budaya Papua. Meski itu tidak mudah. Untuk noken sendiri sejak 2008 lalu saya sudah mulai menyusun kerangka berpikir mengenai ketika beberapa budaya Indonesia seperti batik dan keris masuk UNESCO. Saya memikirkan bagaimana kalau noken digagas ke UNESCO. Lalu saya sampaikan ini ke beberapa pihak,” ujarnya.<br />
<br />
Ia menjelaskan, salah satu kendala yang ditemui saat memperjuangkan noken Papua menjadi warisan budaya duni adalah adalah membangun pemahaman bahwa noken adalah budaya yang sudah diyakini masyarakat Papua. Selain itu untuk membawanya ke dunia internasional harus malalui beberapa syarat termasuk uji kelayakan.<br />
<br />
“Namun pada akhirnya saya bangga karena noken sudah bisa diakui dunia dan orang lain seperti bisa mengerti dan memahi noken itu apa. Semoga kedepannya noken dari setiap suku digali dan diselamatkan oleh suku itu sendiri. Dalami dan kenalilah identitas budayamu, jangan mengatas namakan budaya orang lain, karena noken dihasilkan mama Papua lewat imajinasi dan perasaan. Ada banyak nilai yang terkadung dalam noken. Nilai budaya, sosial, kehidupan serta beberapa hal lainnya,” ujarnya.<br />
<br />
Ia mencontohkan dimasa lalu, beberapa daerah di Papua setiap noken yang digunakan seseorang memiliki makna tertentu dan mengambarkan identitas diri orang tersebut. “Dahulu di Sentani ada noken yang memiliki empat manik-manik dan orang yang makai itu artinya, orang yang derajatnya di atas. Noken dari anggrek di Paniai sama halnya.Orang yang menggunakan itu dijaman dulu hanya orang berada atau tingkat ekonomi dan martabatnya di atas,” jelasnya.<br />
<br />
Untuk itu lanjut dia, semua orang yang ada di Papua harus mengenali kembali nilai yang terkandung di dalam noken. Apalgi sekarang di Papua sudah jarang orang menggunakan noken, sehingga lambat laun mereka tidak akan mengenal lagi nilai-nilai budaya yang menjinakkan manusia Papua.<br />
<br />
“Noken semestinya kembali menyadarkan manusia Papua apa yang menjadi hak mereka dan mana yang bukan. Harapan dan target saya, saya akan kampanyekan noken di mana setiap kali pelantikan gubernur/bupati/wali kota maka kepala sukunya harus membawa noken suku atau daerah masing-masing. Misalnya dari Sentani maka harus membawa noken khas Sentani. Ini bukan membedakan atau membuat jarak tapi menjiwai tugas dan tanggung jawab. Itulah alasannya kenapa Noken diterima UNESCO karena noken punya nilai-nilai yang cukup tinggi serta sejarah yang panjang. Noken tidak bisa digantikan dengan noken lain. Pemda juga harus kembali mengenai semua wasian budaya yang ada di Papua. Cukup banyak sebenarnya hanya kita yang sering malas tahu,” tutup Titus Pekei. <strong>(Jubi/Arjuna) </strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2012%2F12%2F18%2Flukisan-kulit-kayu-kombouw-sentani-berpotensi-susul-noken%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2012/12/18/lukisan-kulit-kayu-kombouw-sentani-berpotensi-susul-noken/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lima Bahasa di Kota Jayapura Terancam Punah</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2012/11/14/lima-bahasa-di-kota-jayapura-terancam-punah/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2012/11/14/lima-bahasa-di-kota-jayapura-terancam-punah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2012 06:34:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Timoteus Marten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=3015</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura (14/11) &#8212; Ada enam bahasa daerah di Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua ini. Dari... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2012/11/14/lima-bahasa-di-kota-jayapura-terancam-punah/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3016" class="wp-caption alignleft" style="width: 276px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/11/Widodo.jpg"><img class="size-medium wp-image-3016" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/11/Widodo-266x300.jpg" alt="" width="266" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Supriyanto Widodo (Jubi/Timo)</p></div><br />
<br />
<em>Jayapura (14/11) &#8212; Ada enam bahasa daerah di Kota Jayapura, ibukota Provinsi Papua ini. Dari enam bahasa itu, hanya satu yang masih kuat, yaitu, bahasa Moso, di daerah perbatasan antara RI-PNG (Papua New Guinea).</em><br />
<br />
Enam bahasa di Teluk Humbold ini adalah bahasa Sentani, bahasa Nafri, bahasa Kayu Polu, bahasa Skouw, bahasa Tobati-Enggros dan bahasa Moso.<br />
<br />
“Dari enam bahasa ini, hanya Bahasa Moso yang  tidak punah, sementara 5 bahasa lainnya sudah mulai punah,” kata Kepala Balai Bahasa Sastra dan Budaya Provinsi Papua dan Papua Barat, Supriyanto Widodo, Selasa kemarin, (13/11).<br />
<br />
Karena itu, lanjut Widodo, pemerintah berkomitmen untuk melestarikan bahasa lokal ini, semisal seminar dan mengembangkannya kepada masyarakat.<br />
<br />
Balai Bahasa, Sastra dan Budaya Provinsi Papua dan Papua Barat berupaya mengajak warga Papua untuk melestarikan bahasa lokal, selain bahasa Indonesia dengan menggelar seminar bertema ‘Nilai-Nilai Kejuangan Dalam Bahasa, Sastra dan Budaya’ di Abepura, Kota Jayapura, Papua, Selasa.<br />
<br />
Pemda provinsi Papua berencana membuat kamus bahasa lokal, untuk menyelamatkan bahasa daerah di ibukota provinsi paling timur Indonesia ini. Sebab Undang-undang nomor 24 tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambangan Negara serta lagu kebangsaan menyebutkan agar bahasa lokal dilestarikan.<br />
<br />
Kepunahan bahasa lokal, kemungkinan disebabkan berkurangnya penutur asli, selain dominasi bahasa asing dan interaksi sosial yang kian maju. <strong><em>(Jubi/Timo Marten)</em></strong><br />
<br />
&nbsp;<br />
<br />
&nbsp;<br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2012%2F11%2F14%2Flima-bahasa-di-kota-jayapura-terancam-punah%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2012/11/14/lima-bahasa-di-kota-jayapura-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lestarikan Bindo dan Bahasa Lokal</title>
		<link>http://tabloidjubi.com/2012/11/14/lestarikan-bindo-dan-bahasa-lokal/</link>
		<comments>http://tabloidjubi.com/2012/11/14/lestarikan-bindo-dan-bahasa-lokal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2012 06:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Timoteus Marten</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tabloidjubi.com/?p=3002</guid>
		<description><![CDATA[Jayapura (13/11) &#8212; Balai Bahasa, Sastra dan Budaya Provinsi Papua dan Papua Barat berupaya mengajak... <a class="meta-more" href="http://tabloidjubi.com/2012/11/14/lestarikan-bindo-dan-bahasa-lokal/">more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_3006" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a class="highslide" href="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/11/Suasana-Seminar-di-Aula-DPRD-Kota-Jayapura-Selasa-siang.jpg"><img class="size-medium wp-image-3006" src="http://tabloidjubi.com/wp-content/uploads/2012/11/Suasana-Seminar-di-Aula-DPRD-Kota-Jayapura-Selasa-siang-300x195.jpg" alt="" width="300" height="195" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana Seminar di DPRD Kota Jayapura, Selasa (Jubi/Timo)</p></div><br />
<br />
<em>Jayapura (13/11) &#8212; Balai Bahasa, Sastra dan Budaya Provinsi Papua dan Papua Barat berupaya mengajak warga Papua untuk melestarikan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dengan menggelar seminar dengan tema ‘Nilai-Nilai Kejuangan Dalam Bahasa, Sastra dan Budaya’</em><br />
<br />
Seminar ini dilaksanakan untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional dan peringatan gerakan cinta bahasa tahun 2012, di Aula DPRD Kota Jayapura, dan menghadirkan pembicara, Rosmaida Sinaga, Aprilla R.A Wayar dan Ramses Ohee ini dihadiri  puluhan peserta, baik guru, mahasiswa, PNS, dan masyarakat umum.<br />
<br />
Kepala Balai Bahasa Sastra dan Budaya Provinsi Papua dan Papua Barat, Supriyanto Widodo melalui seminar ini, dijadikan sebagai momentum bagi generasi muda untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar serta tetap melestarikan bahasa daerahnya sendiri, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambangan Negara serta lagu kebangsaan.<br />
<br />
“Ini kewajiban pemerintah dan semua komponen masyarakat untuk melestarikan bahasa dan sastra budaya kita, termasuk bahasa daerah kita ini yang kini sudah mulai punah,” kata Supriyanto, Selasa (13/11).<br />
<br />
Untuk menindaklanjuti hal itu, pihaknya berupaya untuk menyusun kamus bahasa daerah yang akan dipelajari sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah.<br />
<br />
“Soal muatan materi kurikulum muatan lokal tentunya akan dirumuskan oleh instansi  terkait, meskipun tidak gampang untuk dilakukan,” kata Widodo.<br />
<br />
Selain itu, pihak Widodo berupaya untuk membuat buku penduan praktis berbahasa daerah dan bahasa Indonesia (Bindo). <strong><em>(Jubi/Timo Marten)</em></strong><br/><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?locale=en_US&href=http%3A%2F%2Ftabloidjubi.com%2F2012%2F11%2F14%2Flestarikan-bindo-dan-bahasa-lokal%2F&amp;layout=button_count&amp;show-faces=true&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:30px"></iframe>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tabloidjubi.com/2012/11/14/lestarikan-bindo-dan-bahasa-lokal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
