Suku Yeinan Tolak Perusahaan Sawit
Berita Terkini :
- TAAT BERAGAMA BELUM TENTU AMAN DARI HIV/AIDS
- PWI MERAUKE ANJANGSANA KE PANTI ASUHAN ALMA
- RAYON A IBADAH PANTEKOSTA KEDUA DI PANTAI BASE G
- ABDUL MUIS SIAP BERTARUNG DI PEMILUKADA MIMIKA
- MALAM RENUNGAN AIDS NUSANTARA DIGELAR
- 22 KARYAWAN YANG MASIH TERJEBAK RERUNTUHAN DIPERKIRAKAN SUDAH MENINGGAL
- SATU LAGI KORBAN MENINGGAL AKIBAT LONGSOR DI BIG GOSSAN, FREEPORT
- 22 KARYAWAN YANG MASIH TERJEBAK RERUNTUHAN DIPERKIRAKAN SUDAH MENINGGAL
- VIDEO AMATIR LONGSOR FREEPORT BEREDAR DI FACEBOOK
- GUBERNUR JANJI PERBAIKI MANAJEMEN PAPUA TV
Jayapura (22/12) – Suku Yeinan di Kabupaten Merauke, Papua, menolak perusahaan kelapa sawit yang hendak berupaya untuk beroperasi di wilayahnya. Perusahaan sawit yang hendak beroperasi di Yeinan adalah PT. Wilmar Group.
David Dagijay, warga suku Yeinan kepada wartawan di Abepura, Jumat (21/12) mengatakan saat ini pihaknya sementara tarik ulur dengan PT. Wilmar Group yang sementara berupaya untuk membuka lahan kelapa sawit di Yeinan. “Kami masih tarik ulur untuk sepakati kehadiran perusahaan itu. Rata-rata masyarakat menolak perusahaan sawit,” katanya.
PT. Wilmar Group berencana membuka lahan sawit seluas 40 ribu hektare. Namun, hingga kini belum dibuka lantaran warga pemilik lahan belum sepakat melepas tanahnya. Menurut David, suku Yeinan memiliki enam kampung masing-masing kampung, Poo, Torai, Erambu, Kweel, Bupul dan Tanas. “Dari enam kampung ini dua diantaranya yang sudah sepakat lepas tanahnya untuk diolah oleh perusahaan. Dua kampung itu adalah Bupol dan Poo. Empat kampung lainnya belum,” ujarnya.
Warga tak mau dibohongi. Suku Malin belajar dari perusahaan sawit yang sudah beroperasi di wilayah warga Malind Anim di Merauke. Kini Mereka (warga malin anim), menderita akibat perusahaan sawit. Warga kehilangan mata pencaharian. Sulit berburu rusa dihutan karena sudah dibabat habis perusahaan. Warga juga tak bisa mengkosumsi air sungai disekitar karena terkontaminasi limbah perusahaan sawit.
David menuturkan, sudah ada satu perusahaan sudah beroperasi di Yeinan yakni PT. Hardayat. Perusahaan Hardayat menanam tebu. “Bagi kami, cukup satu perusahaan saja, jangan tambah lagi. Kalau perusahaan tebu ini kami ijinkan karena masa umur tebu tidak memakan waktu lama. Tapi, sawit membutuhkan waktu yang cukup lama. Kemudian, menguras tanah menjadi tandus dan tak berair,” tuturnya. (Jubi/Musa)
Related Posts




