Kapolda Papua: “Jika Santoso Masuk Papua, Akan Kami Tangkap”
Berita Terkini :
- JELANG PUASA, STOK BERAS AMAN
- GERINDRA AKAN POLISIKAN KPU YAPEN
- MSG DAN MASA DEPAN NILAI-NILAI BUDAYA MELANESIA
- 10 MENTERI AKAN HADIRI KONFERENSI II PENGUSAHA PAPUA
- PANITIA PEDA KECEWA GUBERNUR TAK DATANG
- PNG DAN INDONESIA TANDATANGANI 11 KESEPAKATAN
- PENANAMAN POHON HARUS DILAKUKAN BERKELANJUTAN
- FDS MESTI JADI AJANG REKONSILIASI
- HINGGA SORE, TIMSEL KPU KOTA JAYAPURA TERIMA 67 BERKAS
- MEMASUKI TAHUN AJARAN BARU JANGAN ADA PUNGUTAN
Jayapura (1/1) — Adanya kabar yang menyebutkan jika jaringan teroris pimpinan Santoso yang merupakan kelompok Komando Mujahidin Indonesia Timur (KMIT) sudah masuk ke Papua, dibantah pihak Polda Papua.
Kapolda Papua, Irjen Pol Tito Karnavian menegaskan, jika memang Santoso dan jaringannya masuk ke Papua, pihaknya pasti akan mengambil tindakan tegas mengusut dan menangkap mereka.
“Kalau memang Santoso dan jaringannya masuk ke Papua, ya pasti kami akan tangkap. Saya kenal Santoso karena saya pernah menangkap dia,” tegas Tito Karnavian, Senin petang (31/12).
Menurut Tito yang merupakan mantan Kadensus 88 itu, hingga saat ini pihaknya belum mendapat informasi jika Santoso dan jaringannya sudah mulai masuk ke Papua.
“Masalah Santoso dan jaringannya yang dikatakan sudah masuk ke Papua, sampai saat ini kami belum mendapat informasi itu. Kalau memang masuk Papua, kami akan tangkap,” tandas Tito Karnavian.
Sebelumnya Pengamat teroris Al Chaidar saat diwawancara salah satu media nasional, okezone.com mengatakan, jika gerakan terorisme pimpinan Santoso secara diam-diam telah berekspansi ke Papua. Menurut Chaidar, gerakan terorisme di Papua berasal dari kelompok teroris Poso. “Mereka sudah sampai di Papua,” kata Al Chaidar seperti diberitakan Okezone, Selasa (26/12).
Bahkan Chaidar mengkalim, Papua sebenarnya sudah terjamah gerakan terorisme sejak 2011 silam. Semula, kata dia, gerakan teroris hanya menjadikan Papua sebagai tempat persembunyian. Namun lama-kelamaan, mereka menjadikan Papua sebagai sebagai basis perjuangan menegakkan syariat Islam.
Diketahui Santoso pernah ditangkap Densus 88 ditahun 2006 lalu. Namun, sekeluarnya dari penjara, ia kembali ke Poso dan melakukan aksi teror. Selain merencanakan sejumlah pelatihan teror, Santoso diketahui membantu pelatihan merakit bom bagi para calon teroris. Akibat serangkaian aksinya itu, Santoso merupakan buronan teroris paling dicari aparat polisi saat ini. Ia diduga terlibat sejumlah aksi teror, termasuk aksi penembakan tiga anggota Polisi di BCA Palu pada 25 Mei 2011 dan dua polisi yang ditemukan tewas saat menyelidiki kasus terorisme di daerah Poso. (Jubi/Arjuna)




