;

5:57 pm - Tuesday May 21, 2013

Kasus Kematian Ibu dan Anak Sangat Tinggi

Penulis : | 09:22 | January 2, 2013 | 0
Filed in: Seri Pendidikan & Kesehatan

Anak-anak di Boven Digoel (AJI Papua)



AJI Papua

Tim penulis : Paskalis Keagop, Agapitus Batbual dan Rima Making

Pusat-pusat pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Distrik Mindiptana Kabupaten Boven Digoel cukup tersedia. Namun, ibu-ibu jarang memeriksakan diri saat masa kehamilan. Akibatnya, kasus kematian ibu dan anak masih sangat tinggi di Mindiptana.

Apakah pemahaman ibu-ibu hamil yang rendah atau ibu-ibu yang malas tahu dengan pentingnya kesehatan bagi ibu dan anak dalam kandungan? “Sampai sekarang kami juga kadang bingung. Padahal, penyuluhan dari Puskesmas dan BKIA sering dilakukan di kampung-kampung dan di dalam kota Distrik Mindiptana”, ujar drg Mona Friska Sihotang, yang ditemui di Klinik Puteri Reinha Rosari Mindiptana, 27 Februari 2012 lalu.

Di Mindiptana, ada tiga pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Yaitu, Puskesmas, Klinik Puteri Reinha, Rumah Sakit Bergerak, dan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Klinik Puteri Reinha Rosari adalah milik Keuskupan Agung Merauke yang dikelola oleh para biarawati dari Ordo Puteri Reinha Rosari (PRR). Semula hanya sebuah pos obat bagi para biarawan-biarawati, tapi kemudian ditingkatkan menjadi klinik dan melayani masyarakat umum, sejak 2004 sampai sekarang.

Puskesmas Rawat Inap Mindiptana didirikan oleh suster-suster biarawati berkebangsaan Belanda dan masih aktif beroperasi melayani kesehatan masyarakat sampai sekarang. Setelah para suster Belanda itu pulang, Puskesmas itu diserahkan kepada pemerintah Indonesia di Mindiptana. Sedangkan Rumah Sakit Bergerak didirikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Siti Fadila Supari pada 2008 dan diawasi langsung oleh Direktoral Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Di Papua ada dua Rumah Sakit Bergerak, yaitu di Mindiptana dan Kepulauan Raja Ampat.

Dokter Mona, sebagai penanggungjawab Klinik Santo Yakobus Puteri Reinha Rosari dan sekaligus bekerja sebagai staf di Puskesmas Rawat Jalan Mindiptana mengatakan program Jamkesmas sudah berjalan dan bisa dimanfaatkan untuk semua. Kalau masyarakat datang bawa kartu Jamkesmas, semua pelayanan mulai dari pemeriksaan dokter, periksa darah sampai dengan pemberian obat juga gratis. Nanti akan diklaim ke Dinas Kesehatan Boven Digoel dan diteruskan ke PT. Askes di Jayapura.

Sedangkan program, Jaminan Persalinan (Jampersal) ini masih baru, dimulai pada 2011 dan kita baru sosialisasi pada Mei 2011. Sosialisasi Jampersal baru di tingkat kabupaten, dan langsung diterapkan di Puskesmas.
“Bila dilihat dari alur pelayanan dengan Jampersal ini sangat mudah dan sangat menolong. Ibu hamil yang melahirkan hanya perlu membawa KTP atau kartu identitas diri saja sudah langsung bisa dilayani. Tapi secara jelas belum tahu bagaimana perkembangan penerapan Jampersal di Puskesmas Mindiptana ini. Tapi mungkin ada kesulitan saat klaimnya, ini bukan saja ke Kabupaten Boven Digoel. Tapi harus ada syarat lain, yaitu fotokopi buku KIA”, jelas Pimpinan Klinik Santo Yakobus Mindiptana, Sr. Maria Seline, PRR.

Namun tidak semua ibu-ibu punya buku KIA, sebab sebagian besar ibu-ibu hamil di wilayah Mindiptana jarang memeriksakan diri ke Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) selama masa kehamilan. Kesadaran ibu-ibu hamil untuk ke BKIA sangat rendah. Fasilitasnya tersedia, tapi tidak digunakan.
“Apakah ini karena pemahaman yang kurang atau mereka malas tahu dengan BKIA dan fasilitas kesehatan lainnya yang tersedia? Para bidan juga kurang tahu”, ujar drg. Friska Sihotang. Keadaan ini membuat masih ditemukan angka kasus kematian ibu dan anak masih sangat tinggi. Ibu-ibu hamil jarang memeriksakan diri pada masa kehamilan.

“Ketemu dengan bidan itu hanya saat dia mau melahirkan. Baik kalau saat mau persalinan semua lancar, kalau ternyata muncul gangguan atau komplikasi yang serius, persalinan macet karena darah tinggi atau faktor lainnya, itu bisa gawat. Janin juga bisa masalah. Keadaan semacam ini sebenarnya bisa dideteksi, kalau ibu hamil memeriksakan kondisi kehamilannya secara teratur. Kegelisahan kita di sini adalah masyarakat menganggap kalau sakit yang biasa itu tidak mengganggu, kalau sudah parah dan tidak bisa ditolong baru mereka datang”.
“Dan kalau su terlambat begini, kita su sama-sama tau to. Masyarakat akan persalahkan tenaga kesehatan. Bukan karena kita terlambat kasih pertolongan, tapi karena masyarakat yang terlambat mencari pertolongan sejak dini.”
Padahal, untuk kategori distrik, di Mindiptana ini sudah sangat lengkap ada Rumah Sakit,  Puskesmas dan Klinik Kesehatan yang semuanya menyediakan sarana dan prasarana yang sudah memadai. Kalau dari segi fasilitas tidak ada masalah.

Program pencegahan dan penanggulangan malaria di Mindiptana dilakukan melalui pemberian kelambu bagi ibu-ibu hamil, dan ibu-ibu yang punya Balita serta penyemprotan. Tapi sampai sekarang belum ada dampak keberhasilan dari pembagian kelambu anti malaria yang dibagikan kepada ibu-ibu hamil. Kampung-kampung yang dekat dengan Mindiptana, seperti Amuan, pelayanan pemberantasan malaria dapat ditangani. Tapi kampung-kampung yang jauh belum terjangkau. Selain Puskesmas di Mindiptana, Kampung Kombut dan Sesnuk memiliki Puskesmas Pembantu, karena dua kampung itu sudah dimekarkan menjadi distrik terpisah dari Mindiptana.

Ada dua dokter yang bertugas di Puskesmas Mindiptana, yaitu seorang dokter umum dan seorang dokter gigi. Dua dokter ini juga bertugas di Rumah Sakit Bergerak. Puskesmas Mindiptana mendapat suplai obat dari Dinas Kesehatan Boven Digoel setelah ada Laporan Pemakaian Obat (LPO) selama sebulan dari Puskesmas. Setelah dinas menganalisa LPO terkait dengan penggunaan, data pasien dan penyakit selama sebulan, kemudian dinas distribusi obat ke Puskesmas. “Selama ini, distribusi obat lancar”, kata Mona.

“Tidak ada pengawasan, stok habis pakai kadaluarsa obat terjadi karena tidak dipakai atau tidak ada kasus untuk penyakit itu. Bidan semua sudah PNS. Penyakit tetap adalah malaria, karena Distrik Mindiptana merupakan daerah endemik malaria untuk Kabupaten Boven Digoel, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)”.

Mona mengatakan pelayanan kesehatan yang dilakukan petugas sudah maksimal, hanya perhatian keluarga untuk kesehatan yang masih kurang. Mata pencaharian masyarakat Mindiptana rata-rata berkebun menyiapkan makanan yang baik untuk anak-anak mereka.

Pada 2010 lalu telah ditemukan 10 kasus malaria, tapi pada 2011 tidak ditemukan lagi kasus malaria. Namun pada Februari 2012 lalu ditemukan kasus malaria pada dua anak yang terdekteksi secara klinis. Partisipasi tim kesehatan paroki untuk melayani masyarakat di kampung masih tinggi “karena mereka melahirkan sendiri, tidak ada yang tolong, keluarga yang menolong saat mentok baru cari bidan dan KIA”.

Bentuk-bentuk pelayanan kesehatan yang dilakukan selain pengobatan dan pemberian obat, juga dilakukan penyuluhan mengenai pola perilaku hidup sehat dan pembagian poster-poster agar masyarakat lebih cepat paham melalui gambar-gambar.

Sejauh ini, Klinik Puteri Reinha Rosari juga belum melakukan kerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Boven Digoel untuk melakukan sosialisasi mengenai bahaya HIV AIDS. Sementara penyuluhan mengenai pola perilaku hidup sehat dan penyuluhan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah dilakukan oleh Tim Kesehatan Keuskupan Agung Merauke dan Paroki dilakukan bersama pastor paroki melalui Klinik Puteri Reinha Rosari.
“Selama belum ada hasil pemeriksaan VCT kita tidak bisa bilang mereka terinfeksi HIV, tapi hanya sebagai suspect. Untuk wilayah Papua Selatan ini hanya bisa di Merauke. Tetapi, disamping kita terapi, saat masyarakat berobat kita beri penyuluhan jadi terus berjalan”, jelas dokter Mona.

Hambatan-hambatan yang sering dialami dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat, diantaranya kadang ketersediaan obat terbatas, peralatan laboratorium yang tidak tersedia, jarak tempat tinggal ke pusat pelayanan kesehatan yang jauh, pengaruh adat masih dipegang teguh, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan masih sangat kurang. Penyakit TB Paru juga masih dominan karena gaya hidup, struktur bangunan rumah yang menyatu dengan dapur dan kamar tidur, tungku bagian tengah dan masyarakat tidur di pinggir tungku api. Gambaran secara umum untuk pelayanan kesehatan di Mindiptana belum bisa dikatakan baik. Perlu ada kerjasama dengan semua pihak harus lebih banyak keluar dengan melakukan pelayanan turun kampung, dan lebih banyak penyuluhan kesehatan.

Total pasien yang dilayani di Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit Bergerak dan melalui turun kampung di Mindiptana sepanjang 2011 lalu sebanyak empat ribu pasien.
Tim Klinik Puteri Reinha Rosari melakukan tutun kampung ke paroki-paroki di distrik-distrik karena klinik ini punya keuskupan. Beberapa kampung yang telah dikunjungi adalah Mindiptana, Woropko, dan Mokbiran. Sementara yang lainnya belum dikunjungi.

Jika dihitung dengan jumlah kampung yang ada, belum semua kampung yang dikunjungi Klinik, Puskesmas dan Rumah Sakit Bergerak. Hanya sekira dua pertiga kampung yang telah dikunjungi. Dalam pelayanan, Rumah Sakit Bergerak lebih fokus pada rawat jalan, dan pemeriksaan laboratorium.
“Seperti yang suster bilang harus kerja keras untuk bisa menyehatkan orang Papua, tapi yang saya cermati selama hampir tiga tahun saya bertugas di Mindiptana ini adalah bagaimana mengubah pola pikir masyarakat, itu yang sulit. Mindside harus berubah dulu., karena seberapa banyak program dan banyaknya dana yang dikucurkan oleh pemerintah tapi kalau masyarakat masih belum ada keinginan untuk mengubah dirinya akan susah maju”, ujar dokter Mona.

Selain pola pikir masyarakat, hal lain yang perlu dilakukan pemerintah agar pelayanan kesehatan menjangkau semua kampung adalah infrastruktur jalan dan jembatan harus dibenahi, dan disediakan alat transportasi yang memudahkan masyarakat menerima pelayanan kesehatan.  Contoh, kasus malaria tersiana ada dua obat yang diberikan, yaitu klorofil dan primaquin. Primaquin harusnya diminum empat belas hari, setiap hari satu tablet itu aturan bakunya begitu. Tapi mungkin karena pasien sudah bosan, jadi tidak mau lanjutkan minum obat itu atau yang kedua itu mungkin dia rasa badan sudah enak jadi tidak lanjut lagi minum obat itu. Padahal secara medis kuman tersebut belum mati. Kuman atau bibit penyakit itu hanya pingsan saja, ketika kita sudah merasa badan sehat, jadi tidak minum obat, saat itulah malaria kambuh lagi, sehingga minggu depan datang lagi dengan keluhan yang sama. Nanti kalau ditanya apakah obatnya sudah diminum? jawab sudah minum. Apakah minum semua sampai habis? jawabnya, sisa sepuluh tablet yang tidak minum.

“Untuk klorofil itu dosisnya diminum 4x4x2 atau hari ini empat tablet, besok masih empat dan lusa dua tablet. Cuma karena setiap hari minum obat harus 3×1 jadinya pagi, siang, malam ini tidak tepat. Ini yang biasa buat pasien datang bolak-balik dengan keluhan yang sama”,  ujar dokter Mona.

Para bidan yang bertugas di Puskesmas telah mengikuti pelatihan di Semarang. Sedangkan kader dilatih oleh Puskesmas. Pada 2010 lalu dilakukan penyegaran kader dilakukan dua kali. Setiap kampung diberi jatah lima kader ikut penyegaran, tapi yang aktif ikut hanya tiga kader. Ini program Dinas Kesehatan Boven Digoel tahun lalu yang akan diteruskan tahun ini dan tahun depan.

Belum ada apotik di Mindiptana karena tidak ada apoteker. Apotik hanya ada di Tanah Merah. Yang ada di Mindiptana adalah tenaga lapangan terlatih, “dua orang tamat dari SPK dilatih dan ada suster yang mau bergabung di klinik, dia adalah analis,” kata Mona.

Laboratorium Klinik Puteri Reinha Rosari dapat memeriksa TB, malaria, typus dan golongan darah, gula darah dan pemeriksaan feses untuk cacingan. Sementara di Puskesmas belum punya alat itu. Wilayah Distrik Mindiptana juga masih ditemukan beberapa kasus penyakit kaki gajah atau filariasis.*

No comments yet.

Leave a Reply

*


3 − one =

Switch to our mobile site

%d bloggers like this: