Redenominasi Rupiah, BI akan Konsultasi Publik Bulan Ini
Berita Terkini :
- BIG GOSSAN : METODE BARU, TAPI FREEPORT SANGAT “PERCAYA DIRI”
- MENELISIK RUNTUHNYA TEROWONGAN BIG GOSSAN
- DIPASTIKAN 28 KORBAN TEWAS DALAM TRAGEDI BIG GOSSAN, FREEPORT
- PENGUNJUNG MENGELUH SITUASI PASAR YOUTEFA
- PAKAGE: SBY MIMPI TAHAN PAPUA
- JAYAWIJAYA INGIN DIJADIKAN PUSAT PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
- DPD GARNITA MALAHAYATI NAS DEM JAYAWIJAYA RESMI DILANTIK
- 22 PEMAIN SSB BATIK FC IKUT SELEKSI RAGUNAN
- POLDA PAPUA SELIDIKI DUGAAN PENCUCIAN UANG AIPTU
- HINGGA SORE, RAPAT PLENO BELUM USAI
Jayapura, (08/1)—Sebenarnya, tanpa sadar redenominasi sudah dilakukan selama ini. 70 ribu disebut 70.
Pemerintah, melalui Bank Indonesia segera melaunching rencana program redenominasi dalam bulan Januari ini. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Papua dan Papua Barat, Hasiholan Siahaan, kepada wartawan di Kantor BI Perwakilan Papua, Jayapura (8/1).
“Bank Indonesia bersama pemerintah akan melaunching rencana program redenominasi mata uang ini. Setelah dilaunching, Kementrian keuangan dan Gubernur Bank Indonesia akan melaksanakan Konsultasi publik.” kata Hasiholan.
Konsultasi publik ini dilakukan untuk memperkenalkan apa itu redenominasi. Selain itu, untuk mendapatkan masukan dan pendapat masyarakat.
“Secara pintas, redenominasi ini adalah pemotongan tiga angka nol pada mata uang rupiah kita. Tapi tidak mempengaruhi nilai barang.” sebut Hasiholan.
Nantinya, redenominasi mata uang rupiah ini akan dilakukan dalam program transisi mata uang. Akan ada mata uang transisi yang diedarkan bersama dengan mata uang yang selama ini beredar dengan nilai yang sama, meskipun mata uang transisi ini tidak menggunakan 3 angka nol lagi.
“Dalam masa transisi nanti, misalnya akan ada uang Rp.100.000,- tapi juga akan ada mata uang transisi Rp. 100,- yang nilainya sama. Kalau kita membeli beras seharga seratus ribu rupiah nanti, bisa menggunakan uang yang lama (Rp. 100.000,-) atau menggunakan uang transisi (Rp. 100,-).” Hasilohan menjelaskan tentang nilai uang pada masa transisi nanti.
Menurut kepala Bank Indonesia perwakilan Papua dan Papua Barat ini, salah satu alasan teknis pemerintah dan Bank Indonesia melakukan redenominasi mata uang ini karena saat ini anggaran Indonesia sudah hampir mencapai 8.000 Triliun.
“Nah kendalanya nanti, kalau sudah mencapai 10.000 Triliun yang diperkirakan sekitar tiga atau empat tahun lagi, ini tidak ada mesin komputer yang bisa menjangkau (melewati) angka 16 digit. Dengan alasan teknis ini, kita kurangi tiga angka nol. Sehingga nanti jika anggaran kita sudah mencapai angka 10.000 Triliun masih bisa diakomodasi oleh mesin-mesin komputer yang ada.” kata Hasiholan.
Sebenarnya, lanjut Hasiholan, dalam transaksi dagang sehari-hari masyarakat sudah mepraktekan redenominasi ini. Masyarakat sudah terbiasa tidak menggunakan tiga angka nol dalam nilai mata uang.
“Misalnya, saat membeli daging seharga Rp.70.000,- pedagang dan konsumen menyebutkan harga daging 70, bukan Rp.70.000,-”. (Jubi/Victor Mambor)




