Dari Kuli Bangunan Hingga Pemecah Batu

JUBI – Sejak menginjak kaki di Kota Jayapura 1993 lalu, Deki Kapitarau mulai menekuni pekerjaannya sebagai kuli bangunan, Namun karena pekerjajaan ini tak selamanya rutin dan hanya menunggu proyek sehingga terpaksa membanting stir memecahkan batu batu kali untuk dijadikan sebagai bahan fondasi bangunan rumah.

‘’Pekerjaan ini dilakukan guna memenuhi kebutuhan sehari harinya,’’ujar Deki Kapitarau kepada Jubi pekan lalu di lokasi Kamp Wolker Waena.
Dia menuturkan sejak menyelesaikan pendidikan SD di Biak, orang tuanya sudah tidak sanggup lagi untuk membiayai pendidikan sebab tidak memiliki pekerjaan tetap untuk membiayai sekolah mau pun kebutuhan hidup sehari hari, Kondisi ekonomi yang sangat terbatas ini membuat Deki Kapitarau tak bisa melanjutkan pendidikannya hingga tingkat SMP..
Keadaan ini membuat Deki, terpaksa menganggur dan membantu orang tuanya setiap hari. “Saya akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah dan merantau ke kota Jayapura, ‘’ujar Kapitarau.
Lebih lanjut ditambahkan setiba di Jayapura, ia mulai bekerja serabutan sebab tak mungkin menjadi PNS sebab tidak memiliki ijasah setingkat SMA mau pun SMP.
Pekerjaan pertama yang ditekuninya saat menginjakan kakinya di ibukota Provinsi Papua ini adalah bekerja sebagai kuli bangunan di wilayah Waena Perumnas Tiga Pekerjaan sebagai kuli bangunan hanya bertahan selama tiga tahun saja sebab tidak selamanya pekerjaan ini berjalan secara kontinu. Banyak waktu kosong, sehingga ia memutuskan untuk beralih pekerjaan menjadi pencari batu dan pemecah batu. i.
‘’Saat ini saya sudah berkeluarga, sehingga saya tidak bisa kembali ke Biak, mau tidak mau harus bertanggung jawab kepada istri dan anak-anak. Terpakasa bekerja memungut batu dan membela batu untuk dijual,’’ Deki Kapitarau ayah empat orang anak ini.
Lebih lanjut urai Deki, pekerjaan ini sudah berlangsung selama lima belas tahun tepatnya sekitar 1993 sampai saat ini masih terus brrlangsung.
Dalam melakukan pekerjaan ini, tidak terlalu membuang banyak biaya, karena tempat tinggal dekat dengan lokasi pencarian batu. Hanya berseblahan dengan Rumah,jaraknya tidak terlalu jauh. Jam 8 pagi sudah keluar dari rumah menuju kali untuk bekerja sampai jam 6 sore, waktu pulang juga tidak tentu kadang jam stengah tujuh malam kadang juga jam sembilan malam.
Batu dicari degan cara mencungkil bahkan menggaruk-garuk pasir-pasir dan batu-batu yang kecil dengan cara untuk mendapat batu sedang. Alat yang digunakan untuk mencari batu yaitu linggis, martelo, dan besi. Besi linggis digunakan untuk mecungkil tanah. Batu kerikil dipisahkan dari batu sedang kemudian dibelah dua lagi dengan menggunakan martelo yang beratnya empat kg. Kalau susah mendapatkan batu sedang, maka harus mencari batu besar dibela dengan menggunakan martelu yang beratnya dua puluh lima kilo sampai menjadi batu sedang yang kemudian akan dikumpulkan sampai satu red dan di jual. Terang kapitarau.
‘’Jenis batu yang dikupulkan ada tiga jenis antara lain : Coral (batu sedang), Ciping (batu kecil) dan Batu besar atau batu pondasi. Batu sedang dan kecil untuk mencapai satu red itu harus dua tumpuk baru bisa mencapai satu red atau mencukupi satu treck, sedangkan untuk batu besar atau batu pondasi, namun kalau susah mencari batu kecil dan sedang maka terpaksa harus berusaha untuk memecahkan batu besar demi untuk mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan setiap hari’’. ujar pria usia 42 tahun ini.
Menurut Kapitarau, jika mau membakar batu yang besar maka mau tidak mau membtuhkan satu malam untuk membakar batu tersebut, tidak bisa dibakar pada siang hari. Cara membakar batu besar ini biasanya menggali lubang untuk menaruh batu yang hendak dibakar, batu tersebut dikelilingi dengan ban mobil jika ada kalau tidak ada maka harus menggunakan kayu dan diatasnya ditutup dengan seng agar apinya tidak keluar sampai keatas. Apinya terputar dibawah untuk membakar batu tersebut sampai dilihat kehitaman. Kemudian dibiarkan sampai besok baru dibelah. Batu yang dibakar pun tidak sembarang harus dilihat urat batunya bisa pecah atau tidak. Batu ini besar ini dipecahkan dengan menggunakan martelo 25 kg.
Jika sudah mencukupi dua kapling/tumpuk maka harus mencari track untuk mengangkat batu yang sudah di pungut. Tuck ini kadang datang ke lokasi untuk mencari batu tetapi kadang tidak sehingga hampir setiap hari harus mencari truck. Untuk pencarian truck ini kadang bisanya kami berebutan untuk menawarkan truck untuk mengankut batu. Jika sudah mendapatkan batu maka truck tersebut akan mengankat batu yang kami kumpul dan kami bisa mendapat bayaran.
“Dulu satu Truck itu kami dapat bayar dari satu red untuk harga satu truck tujuah ratus rupiah tapi kalo sekarang harganya sudah naik tergantung dari batunya. Kalau batu kerikil untuk pengaspalan satu red atau satu truck harganya dua ratus lima puluh rupiah yang akan dibayar oleh satu truck kepada kami, sedangkan untuk batu sedang dan batu pondasi yang dipicahkan satu red atau truck harganya tiga ratus lima puluh ribu rupiah.“ ujar Kapitarau.
Dikatakan dalam satu hari sebesar seratus ribu kadang lima puluh ribu rupiah dalam satu hari itupun tergantung batu yang dikumpulkan dan truck yang didapat. Kalau ada tenaga yang membantu untuk mengangkat batu ke tuck maka harus dibayar, biaya yang dikeluarkan untuk membayar satu orang tenaga sebesar sepuluh ribu rupiah.. Jikalau dalam satu hari truck yang dapat dua maka pembayaran dari truck tersebut harganya bisa meningkat. Kalau dalam satu bulan penghasilan yang didapat sebesar satu juta rupiah jika dalam bulan tidak sakit tapi tetap sehat dan kuat untuk. Penghasilan ini dibagi lagi sebagian digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sebagian ditabung untuk kepentingan kesehatan dan biaya sekolah anak.
Menurutnya ia bekerja seperti ini stengah mati sekali, karena satu hari harus tada panas sampai malam dan belum tentu dapat uang. Ya hanya berusaha untuk mencari uang untuk menghidupi istri dan anak. Yang lebih stengah mati lagi itu sudah cape-cape kumpul batu kase picah setelah itu harus naik mata jalan masuk taksi perumnas dua tiga untuk tunggu truck dan kase stop untuk minta angkat kita punya truck. Ya mau bagaimana lagi kalau tidak begitu kami kerjakan dimana trus mau makan apa, mau dapat uang dari mana.
Selain Deki kapitarau, Nikson Mambrasar yang juga bekerja sebagai pemungut batu dan pembela batu ketika ditemui Jubi saat bekerja mengais-ngais pasir dan bebatuan yang kecil untuk mencari batu yang sedang, mengatakan, pekerjaan ini sudah di gelutinya saat masih kecil sebelum masuk sekolah.
”Kawan saya waktu kecil umur empat tahuh itu saya punya tempat main disini, karena orang tua saya bekerja juga sebagai pemungut dan pembela batu disini sejak tahun 1970 an waktu itu, saya tidak sempat ingat baik karena saya masih kecil sekali jadi. Waktu itu saya juga bantu angkat batu kecilkecil bantu orang tua saya sampai saya sekolah. ”Ujar Nikson dengan nada senyum sambil mencari-cari batu.
Menurut Nikson pekerjaan ini sudah mendarah daging ditubuhnya maka susah untuk terlepas dari tubuhnya, walaupun pekerjaan ini susah baginya dan melelahkan saat ini tetapi bagaimana lagi tanpa pekerjaan ini maka dirinya tidak bisa memenuhi kebutuhannya setiap hari-hari. Apalagi saat sudah berkeluarga saat ini, mau tidak harus bekerja seperti ini untuk penuhi kebutuhan istri dan pribadi sendiri.
Lanjutnya Nikson yang sudah lama bekerja disitu, mengatakan dulu cuma beberapa orang saja yang bekerja dikampwolker ini, bisa dihitung dengan jari. Truck-truck dulu banyak yang datang dengan sendiri untuk mencari bahan materil (batu) untuk bangunan setiap hari. ini membuat setiap harinya kami terus bersemanta untuk mencari mengumpulkan sambil memecahkan batu. Dulu untuk satu red itu untuk satu truck itu haarganya sebesar tujuh ribu rupiah. Walaupun dengan harga demikian tetapi kami semakin giat untuk mencari batu karena lancer setiap hari ada penghasilan.
Alat yang digunakan untuk mencari batu yaitu : linggis, matelo yang beratnya empat kg, dua pulun lima kg, sekop. Martelo besar digunakan untuk membelah batu yang besar jika susah mendapatkan batu yang kecil. Caranya sama dengan penjelasan dari bapak kapitaru tadi yaitu ; pertama melihat urat batu yang mau dibakar apakah batunya mudah pecah atau tidak kemudian dibakar dengan menggunakan ban mobil atau kayu. Untuk membakar batu ini harus membuka waktu satu malam untuk membakarnya, karena bukan hanya satu batu saja yang dibakar batu ini yang dibakar ini kadang lima sampai enam batu yang dibakar agar bisa mencukupi satu red atau tumpuk. sehingga esok harinya bisa dibelah, bahkan diusahakan untuk dipecah-pecahkan sampai kecil.
Wilson yang kini sudah berkeluarga ini, mengaku walaupun belum memiliki anak tetapi baginya saat ini tidak bertanggung jawab untuk satu orang saja tetapi bertanggung jawab untuk dua orang pribadi. Penghasilan yang didapat dalam satu hari sebesar dua ratus ribu. Jika pekerjaannya mujur dalam arti batu yang dikumpulkannya mencukupi satu red, baik besar maupun sedang dan kecil satu maka penghasilan yang diperoleh dalam satu hari. Pokonya dari ketiga jenis batu ini salah satunya mencukupi satu sampai dua red batu dan juga tergantng dari tenaga kita untuk menyiapkan batunya.
‘’Satu ret untuk dibayar dengan harga sebesar saratus ribu rupiah tergantung juga dengan muatan trucknya, itu hanya stengah truck, jika penuh maka harganya berbeda. Jika truck tersebut penuh harganya tiga ratus ribu satu truck. Ini juga tergantung dari jenis batu yang disiapkan untuk diangkaut. Kalau semuanya batu pondasi maka penghasilannya agak lumayan. ”ujar pria 28 tahun ini.
Dengan begitu maka penghasilan yang diperoleh dalam satu bulan sebesar enam ratus ribu. Penghasilan yang didapat dalam sebulan tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *