Salah Siapa Kalau Siswa Gagal UAN?

Image

Salah Siapa Kalau Siswa Gagal UAN? (Foto : Musa Abubar)

JUBI – Ujian Akhir Nasional (UAN) merupakan standar Nasional yang di tentukan oleh Pemerintah Pusat dan harus diikuti oleh setiap sekolah di seluruh Negara Indonesia, Untuk itu para siswa-siswi dituntut untuk bersaing.

Hal ini diungkapkan Dwi Astuti Wakil Kepala Sekolah Sekolah Menengah Atas (SMA PGRI) Waena – Abepura, ketika di wawancarai Jubi, belum lama ini.
Lebih lanjut Wakil Kepsek mengatakan sebelum menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN), para guru sudah ada Try Out atau latihan-latihan soal yang diberikan yang di laksanakan oleh para guru kepada semua siswa yang mau mengikuti ujian. Ada pelajaran tambahan yang di berikan setiap hari sebelum ujian, pelajaran tambahan ini di berikan kepada siswa setelah jam sekolah.
“Untuk try out yang di lakukan ini setiap hari sampai menjelang ujian. Try outnya di lakukan selama tiga bulan yaitu ; dari Januari sampai April, karena pada bulan April itu para siswa-siswi sudah mulai ujian. Mulai dengan pengayaan-pengayaan,” Dwi Astuti..
Dikatakan dalam pemberian pelajaran tambahan ini, para guru berusaha untuk mengumpul semua soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya kemudian dibahas kembali dalam pengayaan-pengayaan yang dilakukan kepada para siswa. Selain itu dalam pengayaan ini para guru memberikan tes pada siswa-siswa dengan mengisi soal UAN sebelumnya dan para guru memberikan penilaian kepada para siswa, hal ini dilakukan untuk mengukur kemampuan dan kualitas siswa itu sendiri.
Menurut Dwi, Tahun ini untuk SMA PGRI lulus 90 % dan ini lulusan perdana bagi SMA PGRI dari 68 siswa, ada satu siswa yang tidak lulus karena siswa tersebut tidak mengikuti UAS untuk mata pelajaran Agama. “Bagi satu orang siswa yang tidak lulus ini kami para guru mengharapkan supaya dia tidak usah patah semangat untuk belajar karena dia bisa mengulang pelajaran dengan mengikuti paket C yang akan di lakukan pada tanggal 24 Juni nanti,”ujarnya.
“Saya secara pribadi berpikir ini merupakan kesuksesan yang tertunda bagi satu orang siswa ini. Dan harapan saya siswa tersebut bisa mendapatkan ijazah yang sah untuk melanjutkan pendidikannya atau studinya pada perguruan tinggi. Untuk dia harus mengikuti paket C ini memang di khususkan untuk anak-anak yang tidak lulus ujian, dan untuk anak-anak yang tidak mempunyai ijazah SMA, “tambahnya.
Kemudian, nilai kelulusan yang di peroleh oleh siswa yang lulus itu nilainya bervariasi, ada yang enam ada yang tujuh bahkan sampai delapan. Menurutnya banyak siswa yang sudah melebihi standar kelulusan. Standar kelulusan yang ditetapkan saat ini untuk SMA PGRI standar kelulusannya harus empat sampai enam koma, dan kebijakan dari tingkat nasional yang harus di ikuti oleh semua sekolah.
Dia menambahkan, bagi para siswa – siswi yang tidak lulus di SMA PGRI sendiri maupun sekolah yang lain tidak boleh berontakan maupun menyalakan pihak sekolah, karena pihak sekolah sudah mempesiapkan dirinya secara khusus untuk menghadapi UAN. Jadi tidak boleh berontak, kembali kepada pribadinya sendiri, apakah sudah belajar dengan baik dan sungguh-sungguh atau tidak. Kemudian menurut Dwi, manfaat UAN sangat bermanfaat sekali, karena para siswa – siswi di uji dengan kembali semua mata pelajaran yang pernah di dapat dari kelas satu sampai pada kelas tiga. Selain itu, melatih kemampuan dan kualitas dari siswa-siswi itu sendiri.
Selain itu, Aten Waine salah seorang siswa yang baru lulus, ketika diwawancarai Jubi mengatakan, secara pribadi pertama dalam melakukan persiapan-persiapan untuk mengikuti UAN dirinya dan teman-teman sekelasnya merasa takut dan berat. Untuk menghilangkan rasa sulit mereka akhirnya menyampaikan kepada teman-temannya untuk menanggulangi rasa takut mereka dengan belajar bersama-sama.
“Waktu kita belajar itu kadang kita belajar serius kadang kita belajar main-main. Pada saat kita diberikan soal-soal dari tahun-tahun sebelumnya oleh guru kepada kami, kami rasa ini tidak bisa sama sekali untuk di kerjakan. Tetapi guru-guru kami selalu kasih motifasi kepada kami dan mengatakan harus belajar baik-baik dan apapun yang terjadi harus di terima. Sehingga kami merasa agak tenang, selain itu para guru juga berikan kami buku-buku untuk belajar sendiri,”ujar Aten.
Akhirnya ketika mengikuti ujian, sudah bisa kami ikut degan baik dan tenang. Hasil ujian atau lulusan dari sini ada 98 %. Ini membuat kami rasa gembira dan senang dan kami mau melanjutkan lagi ke perguruan tinggi. Menurut Penilain Aten terhadap pengayaan yang di lakukan oleh para guru kepada sangat baik sekali karena ada ada tes-tes yang dilakukan, selain penjelasana ulang mengenai soal-soalnya di berikan, sehingga dari tes kami para siwa-siswi diantaranya ada yang mendapat nilai baik dan ada yang tidak baik. Tetapi para guru-guru terus memberikan dorongan kepada supaya harus belajar giat dan lebih baik lagi.
Menurutnya, salah satu teman yang tidak lulus itu kesalahannya sendiri sehingga tidak lulus, kemudian mengenai para siswa yang tidak lulus lainnya di sekolah-sekolah yang berbeda itu kembali kepada pribadinya dan pihak sekolahnya. Lanjut Aten, baginya UAN sangat bermanfaat baginya, karena dapat menunjang masa depannya. Bagi dirinya secara pribadi saya merasa ini sangat bermanfaat sekali karena sewaktu mulai bersekolah sampai boleh selesai di SMA dirinya berusah sendiri untuk membiayai sekolahnya, karena ia sebagai orang yang merantau semasa SD sampai boleh selesai di SMA.
Sementara itu menurut pakar pendidikan, Dr. Leonard Sagisolo, Dosen Senior FKIP Uncen, dan dan saat ini menjabat sebagai Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas terbuka (UPBJJ-UT) Papua di Jayapura, ketika di wawancarai Jubi di tempat kediamannya, mengatakan, melihat kelulusan tahun ini tidak terlalu fatal juga, artinya ada terjadi keseimbangan, terutama di daerah-daerah kota itu ada 90 % lebih ke atas itu lulus. Kemudian di kota-kota yang lain itu, yang terjadi di beberapa sekolah, entah itu 100 % atau sebaliknya yang tidak lulus, itu harus lihat dulu sekolah asalnya.
Seperti di Kabupaten Supiori itu juga hampir beberapa persen saja yang lulus tetapi yang lainnya tidak, dirinya secara pribadi mengatakan alasannya tidak tahu kesana. Tetapi kalau di lihat ada beberapa kabupaten-kabupaten yang lain itu SMA nya itu baru didirikan, kemungkinan saja fasilitas di sekoah itu belum lengkap. Daya dukung sekolah itu belum lengkap, atau di daerah-daerah tertentu itu mungkin letaknya di pinggiran kota atau kabupaten sehingga kekurangan guru yang luar biasa. Karena saat ini kebanyakan guru tidak melaksanakan tugasnya di sana. Makanya guru matematika atau guru bidang studi yang di uji secara nasional itu tidak ada di sana sehingga satu guru terpaksa harus bekerja dengan cara merangkap bagi guru-guru yang mengajar sudah lama di sana. “Sehingga bayangkan saja kita kalau di ajar oleh satu guru saja maka dengan sendirinya kualitas dari siswa – siswi itu mungkin bisa turun atau rendah karena di tangani oleh satu guru yang bukan punya bidang studi yang di ajarkan,”ujar Sagisolo.
Dia melihat ada dua hal, yang pertama itu SMA yang baru ini mungkin dia baru ujian dengan sistem Lembar Jawaban Komputer (LJK) atau Lembar Jawaban Umum (LJU) itu, akhirnya dia tidak tahu menghitamkan dan belum mengetahui sistem komputer di SMA ini sehingga siswa tersebut tidak tahu cara pengisiannya sehingga hasil isiannya tidak di baca oleh komputer, walaupun sudah ada sosialisasinya. Kemudian kalau di SMA itu kan ada kelompok IPS, IPA dan Bahasa serta kelompok yang lain, sehingga mereka tidak melakukan atau melaksanakan ujian seperti aturan itu atau aturan sesuai dengan jurusan mereka sehingga membuat bingung bagi mereka
Kemudian hal yang kedua yaitu mungkin karena SMA/ sekolahnya baru berdiri sehingga gurunya kurang dan terpaksa harus mengajar dengan merangkap, sehingga bidang studi yang di uji secara nasional di tangani oleh guru-guru yang bukan memiliki bidang studi itu. Akhirnya banyak siswa yang tidak lulus. “Saya berfikir tidak terlalu banyak juga yang siswa yang tidak lulus, karena saya lihat di daerah-daerah lain itu presentase kelulusannya lumayan walaupun ada yang tidak lulus tetapi itupun tidak seberapa.”ujar Sagisolo .
Dikatakannya, sebetulnya siswa yang tidak lulus ini harus mengetahui sistem yang ada, jadi kalau dibilang siswa yang tidak lulus itu salah siapa. Itu sistem, mungkin orang tua juga terkait, mungkin juga anak-anak itu sendiri tidak belajar jadi salah siapa, kalau dia belajar baik maka jelas akan lulus. Kemudian di dukung oleh fasilitas belajar di sekolah, kalau fasilitas sekolah lengkap dan ditambah dengan motivasi belajar dan dorongan orang tua, serta guru yang menangani bidang studi betul-betul sesuai dengan studinya. Maka jaminan untuk lulus itu sudah pasti ada.
“Saya lihat komponen mana yang salah dalam sistem ini, mungkin juga siswa tidak terlalu banyak disiplin untuk belajar.jadi kita lihat siapa yang slaah tetapi kita lihat kembali mungkin motivasi belajar dari siswanya, kurang motivasi dari orang tuanya, atau mungkin fasilitas sekolahnya kurang. Komponen-komponen ini yang harus kita lihat kesalahannya di mana. Jadi bagi para siswa yang tidak lulus tidak perlu melakukan tindakan-tindakan yang tdiak diinginkan tetapi harus berbesar hati untuk menerima hal itu”, ungkap Sagisolo.
Kalau memang di sekolah itu ada siswa yang banyak bolos maka dia tidak lulus dalam ujian, maka siswa harus memahami itu. Ini mungkin terjadi karena saya tidak sekolah dengan baik. Kemudian mengenai berapa persen saja kelulusan siswa di beberapa sekolah, sebagian besar tidak lulus, ini menurutnya adalah masalah pendidikan yang harus di perhatikan, untuk pendidikan saat ini jangan kita main-main lagi. Semua komponen yang terlibat apakah guru, orang tua, atau siswa sendiri termasuk Dinas Pendidikan dan Pengajaran entah itu kabupaten atau kota. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *