Marinus Simpanki, Pelopor Pendidikan di Oksibil

 

JUBI-Pendidikan adalah salah satu bagian yang menjadi program prioritas pembangunan di Tanah Papua, disamping kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Namun sering pada bagian ini pemerataan kurang menjadi bagian penting. Hal tersebut terbukti dengan masih minimnya akses pendidikan yang memadai, biaya yang terjangkau oleh masyarakat kebanyakan serta sarana dan prasarana yang menunjang. Pendidikan untuk daerah terpencil atau pedalaman misalnya, masih dihadapkan pada kendala-kendala klasik yakni kurangnya sarana dan buku-buku pelajaran yang dimiliki setiap siswa.

Bahkan tidak jarang kita sering menyaksikan masih adanya sekolah-sekolah yang kekurangan tenaga pengajar sehingga tidak jarang pula berbagai komponen masyarakat yang lebih dulu melek aksara menjadi tenaga pengajar. Seperti pelayan jemaat, TNI atau masyarakat yang mempunyai latar belakang pendidikan tertentu pada sebuah wilayah yang minim akses harus pula mengajar.
Hal itu tentu tidak menjadi masalah sebab pendidikan dapat diperoleh dimana saja dan dengan guru siapa saja sepenjang mereka semuanya mampu menerjemahkan sebuah ilmu dan memperkenalkan baca tulis. Inti dari semuanya itu adalah seberapa besar seseorang mau mengabdi bagi masyarakat dengan tekad melayani tanpa pamrih.
Disisi lain faktor geografis di tanah Papua yang mana antar wilayah atau kota kabupaten yang satu dengan lainnya harus dilalui dengan transportasi udara karena medan yang bergunung-gunung. Meskipun pemerintah dengan berbagai upaya akan menjadikan bagaimana semua wilayah yang ada dapat dijangkau atau mendapat akses yang baik.
Terkadang tidak saja masalah kekurangan guru untuk wilayah yang jauh dan agak sulit dijangkau, tetapi berbagai masalah juga dihadapi masyarakat seperti kurangnya tenaga medis dan obat-obatan, rentang kendali pemerintahan, bahkan berdampak pula pada mahalnya biaya transportasi dan kebutuhan pokok masyarakat yang berasal dari luar wilayah tersebut.
Marinus Simpanki (50) dia yang tamatan SGB (Sekolah Guru Bawah) pada tahun 1970 saat itu berumur 17 tahun dimana pertama kalinya sudah bertekad untuk membawa perubahan di wilayah Okbibab dengan menjadi pengajar di sebuah sekolah YPPK dengan ruangan kelas yang sangat terbatas yakni hanya 3 kelas.
Menjadi seorang guru atas dasar himbauan dari Gubernur Papua (waktu itu Irian Jaya) Isack Hindom yang memberikan amanat bahwa lulusan SGB dapat langsung mengabdikan dirinya menjadi guru.
Marinus bertugas pertama kalinya dengan golongan C.I dengan gaji sebesar Rp 356.000. Pengabdiannya di Okbibab hanya berjalan satu tahun.
Kemudian kembali ke Oksibil meneruskan pengabdiannya di SD YPPK Mabilabol. Demi menjalankan tugasnya kemudian ia harus pindah lagi ke SD YPPK Kukding mengajar selama 4 tahun disana. Sekarang bekas sekolah tersebut kini dipakai untuk Kantor Bupati Pegunungan Bintang.
Karena harus tinggal berjauhan dengan keluarga, maka Marinus memutuskan untuk pindah lagi ke Wamena untuk mengajar di SD YPPK St Fransiskus Ilagaima Desa Hubikosi. Selama mengajar hampir 7 tahun disana yakni dari tahun 1978 sampai tahun 1985 dirinya menyiapkan berkas-berkas untuk menerima Satya Lencana pendidikan, tetapi urung dilaksanakan karena ada permintaan dari Gubernur untuk kembali ke Batom, Kabupaten Pegunungan Bintang.
“Saya pernah mengajar dengan dibantu anggota TNI yang bertugas disana. Dengan hanya tiga ruangan kelas saya bersama-sama memperkenalkan baca tulis pada masyarakat. Sebenarnya saya sedih melihat perkembangan pendidikan yang terjadi saat ini karena banyak lulusan guru yang pendidikan lebih bagus dari saya tetapi kurang mempunyai jiwa pengabdian. Sehingga kalau ditempatkan di daerah terpencil atau pedalaman sering malas dan pulang kembali ke kota. Padahal masyarakat di pedalaman membutuhkan pendidikan dan guru” ujar Marinus yang kini sudah dikaruniai 3 orang anak dengan 1 orang cucu.
Marinus, agak merasa lega pasalnya pada Desember 1985 muncul tenaga-tenaga guru Inpres. Guru Inpres yang terdiri dari 4 orang tersebut yang menemani dirinya mengajar. Keempat orang tersebut yang menurut Marinus selalu menjadi kenangan hingga saat ini adalah, Supandi, Handoko Pramudio, Suwito dan Gani yang berasal dari Jawa.
Satu persatu, Marinus mencoba mengingat kenangan bersama teman-temannya. Dia menuturkan kalau saat ini Gani sudah pindah ke Wamena, Suwito dan Handoko pindah ke Sentani. Markus Urpon yang kini menjadi Kepala Distrik, Eli Simpanki, Markus Orobka Adolof Urapmabin yang semuanya merupakan guru pertama di sekolah untuk orang Oksibil. Namun semua masyarakat di seluruh Okbibab, Kiwirob dan Oksibil dianggapnya sebagai keluarga besarnya.
Seiring perjalan waktu dan kepercayaan yang diberikan kepadanya, pada tahun 1985 hingga tahun 2004, Marinus dipercaya menjabat sebagai Kepala Sekolah di Batom. Tetapi setelah tahun tersebut kariernya tidak berhenti sampai disitu, sebab di bidang pemerintahan dirinya diberikan kepercayaan untuk menjadi Kepala Distrik Batom yang saat ini sudah diberhentikan.
Orang yang pernah menyandang predikat pemain terbaik untuk olah raga bola volly ini mengisi hari-harinya bersama dengan keluarga di Yahim Jalan Masuk Pasar Lama Sentani. Orang yang baru mengenalnya tidak bakal percaya kalau sosok yang satu ini mantan Guru dan Camat sebab di rumahnya yang tidak terlalu besar ini juga tidak dipenuhi perabotan rumah tangga yang terkesan mewah. Kehidupan yang bersahaja dan selalu mensyukuri apa yang didapatkan nampak masih melekat dalam dirinya.

Bahkan di ruang tamunya hanya terdapat televisi 21 inci dengan kursi besi biasa. Sementara pada kebanyakan orang yang pernah menyandang predikat Kepala Distrik hal tersebut sangat ironis. Mungkin inilah sebuah proses pengabdian yang benar-benar kita temukan.  
Menurut Marinus, hal yang baik dalam diri setiap orang adalah bagaimana dia dapat bermanfaat bagi orang lain sekecil apapun tindakan yang dilakukan orang tersebut sepanjang itu membangun dan tidak kearah yang negatif.
Itulah sekelumit pengalaman Marinus sebagai seorang guru yang mengabdikan dirinya bagi masyarakat di daerah terpencil di Pegunungan Bintang. Apabila disana terdapat perkembangan dan kemajuan, khususnya di dunia pendidikan dan pengajaran, maka orang tak lupa mengenang jasa dan pengabdian seorang Marinus.  Marinus barangkali tak mengingat lagi berapa banyak anak didiknya yang kini sudah menggapai pendidikan tinggi, menempati jabatan penting di instansi pemerintah atau bahkan ada yang memilih profesi guru menggantikan tugas dan peran Marinus mengabdi  di belantara pegunungan Papua.
Bagi Marinus menjelajahi  belantara dan mengarungi sungai telah ia jalankan  mengisi sebagian hidupnya hanya untuk mendidik anak didiknya setidaknya menjadi sosok yang berguna bagi orang lain dikemudian hari.
Bagi Marinus, menjadi guru adalah pekerjaan  mulia dan agung karena
hanya melalui sentuhan jiwa dan kehalusan budi pekertinyalah —seorang guru macam Marinus telah mampu mengangkat martabat anak-anak dari Pegunungan menjadi generasi yang mandiri dan berpikir positif. (Anang Budiono)      

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *