Kabupaten Keerom, Gambaran Minoritas Warga Pribumi

 

Image

Warga Keerom tengah melakukan aksi unjuk rasa menolak pembukaan perkebunan kelapa sawit  diatas tanah ulayat mereka beberapa waktu lalu. (Foto: Louis Fenetiruma)

 

JUBI – Kabupaten Keerom merupakan salah-satu kabupaten pemekaran dari kabupaten induk Jayapura. Sejak 2004 lalu wilayah ini pisah dari Kabupaten Jayapura dengan memiliki 7 Distrik masing masing, 1 Distrik Arso, Arso Timur, Skanto, Web, Towe, Senggi dan Waris.

Sesuai hasil studi yang dilakukan Tim SKP Dekenat Keerom tentang Perkebunan Sawit dan Kesejahteraan Masyarakat Arso Juli 2008 lalu dari data jumlah penduduk Keerom sebanyak 42.883 jiwa ternyata perbandingan antara etnik Papua dan non etnik Papua adalah 41,8 % berbanding 58,2%.
Jika mengamati tiga Distrik yang merupakan basis lahan perkebunan kelapa sawit yakni, Arso, Arso Timur dan Skanto maka perbedaan komposisi penduduk jauh lebih besar. Perbandingan penduduk etnis Papua dan non Papua pada tiga distrik tersebut adalah 28,4 % berbanding 71,6 %.
Bahkan jumlah penduduk asli Arso lebih sedikit jika dibandingkan dengan penduduk Papua lainnya. Adapun suku suku Papua lainnya berasal dari Pegunungan Tengah, Jayapura, Daerah Kepala Burung, dan sedikit dari Merauke dan Teluk Cenderawasih. Sedangkan pendatang transmigran dari Pulau Jawa dan juga suku- suku lain dari luar Papua seperti Batak, Padang, Bali, Bugis Makassar, Toraja, Manado, Timor, Maluku dan sedikit dari Kalimantan.
Warga asli Keerom khususnya di wilayah Arso dan sekitarnya menggunakan bahasa Manem, Waris dan Senggi. Sedangkan Taikat (Arso) memakai bahasa Awyi dan Taikat. Ada juga sumber lain yang menyebut bahasa masyarakat asli Arso digolongkan dalam tujuh kelompok dialek yaitu Dianem, Abrab, Awi, Meref, Cireregirwaja, Maloof, Skofrokriku. Dialek-dialek ini dipakai di kampung kampung, Arso, Bagia, Workwana, Sawyatami, Kwimi, Ubyauw, Wemby, Wambes, Skanto dan Yamas.
Sebelum masuknya perkebunan kelapa sawit awal 1980-an mata pencaharian masyarakat pribumi di wilayah Keerom khususnya tiga Distrik Arso, Skanto dan Arso Timur adalah meramu. Mereka hidup dari kemurahan alam yang beragam flora dan fauna, semuanya tersedia tinggal mencari dan berburu. Makanan pokok mereka sagu dan sumber protein berasal dari hewan buruan seperti babi hutan, tikus tanah, burung dan berbagai jenis ikan. 
Salah seorang tokoh masyarakat adat Arso menggambarkannya sebagai berikut,” Sebelum adanya trans Irian, Arso adalah daerah yang terisolir dan penuh dengan dusun sagu dan kaya hasil hutan. Untuk sampai ke Arso membutuhkan waktu sekitar lima hari atau satu minggu dengan berjalan kaki lewat hutan rimba.” 
Bahkan pada jaman Belanda pada 1909 menuju ke Arso dan Bewani melalui sungai Tami selama hampir satu bulan lebih dan kemudian hubungan ke kampung Yetti dilakukan pada 1934. 
Kontak dengan missi Katolik berlangsung aman dan lancar bahkan pertama kali Pater Frankenmollen pada 23 Mei 1923 diterima masyarakat Arso dan merayakan Ekaristi Kudus.
Masuknya perkebunan kelapa sawit dan jalan trans Irian membawa perubahan baru dan sekaligus tantangan bagi masyarakat pribumi di Kabupaten Keerom. Tidak semua warga menerima perkebunan kelapa sawit, di PIR V ondoafi Workwana menolak untuk melepaskan tanah tanah adatnya. Awal dari timbulnya konflik itu karena Bapak Ondoafi tidak terlibat dalam proses pelepasan tanah seluas 1.310 ha yang sekarang ini dipakai perusahaan PTP sebagai kebun inti kelapa sawit. Begitu pula konflik tanah di Arso warga mencoba untuk memalang pembukaan kebun tetapi mereka ditahan namun akhirnya dibebaskan.
Pada 1982/1983 PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II Tanjung Morawa Medan membukan areal kerjanya di Provinsi Papua. Jenis kegiatan yang dilakukan adalah perkebunan kelapa sawit dengan mengembangkan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Hingga kini perusahaan ini sudah beroperasi selama 25 tahun dan apa yang diperoleh penduduk pribumi di Arso dan sekitarnya? 
Pasalnya, kehidupan dan komponen alam terpenting bagi warga pribumi di Arso dan sekitarnya didalam hutan meliputi berburu binatang, mencari ikan, mencari sayur, mencari sagu, mengumpulkan kayu bakar, sumber obat-obatan alami, menebang pohon untuk dijadikan bahan bangunan rumah, atap daun sagu dan dinding gabah gabah (pelepah daun sagu). 
Namun petaka tiba atas nama investasi bagi kesejahteraan masyarakat datang sekitar 1982/1983, potensi hutan dibabat sedikit demi sedikit guna menanam kelapa sawit. Sekitar 3.600 hektar lahan hutan digunduli dan ditanami kelapa sawit (Elaeis guinemsis Jack) tanaman yang berasal dari Nigeria Afrika Barat. Hewan buruan seperti babi hutan menyingkir entah ke mana karena habitat aslinya sudah berubah jadi hutan sawit. Sagu dan jenis sayur- sayuran penduduk asli pun tak ada lagi.
Dampak besar akibat perubahan lahan hutan jadi kelapa sawit adalah bencana banjir setiap Kali Tami meluap warga di Arso IX dan X terendam banjir. Degradasi hutan dan deforestasi terus berlangsung hingga tak heran kalau intensitas dan frekwensi banjir terus meningkat. Sumber air minum pun ikut terpengaruh karena saat musim kemarau tiba warga sulit mencari air. Benja V Mambay Direktur WWF Region Sahul menegaskan bahwa satu buah kelapa sawit satu hari memerlukan 20 liter air. Bayangkan saja kalau lebih dari 1.000 pohon sawit berarit memerlukan 20.000 liter air per hari. Sebuah ancaman yang sangat berarti bagi ketersediaan air minum di lokasi perkebunan.  
Masyarakat yang sebelumnya sebagai peramu kini dihadapkan dengan sistim upah dan juga sistim kredit yang membutuhkan rutinitas kerja dan etos kerja yang juga berbeda. Mereka diperhadapkan dengan pola hubungan majikan dan bawahan/buruh. Pastor Jhon Jonga melaporkan bahwa hampir semua orang menjadi bingung, cemas, ragu-ragu dan gelisah karena perubahan yang begitu cepat dan menyeluruh. “Tidak sedikit orang yang mengalami shock ekonomi yang luar biasa,”tegas Pastor Jhon Jonga.
Hal ini semakin diperparah lagi dengan orientasi yang sudah berubah dalam kegiatan ekonomi. Masyarakat terbawa arus perubahan, jika memperoleh uang hanya digunakan untuk kebutuhan hari ini sesuai keinginan hati. Tak ada kebiasaan untuk menabung dan memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari hari.
Perubahan pola ekonomi juga berpengaruh pada pola makan atau konsumsi makanan, mereka yang tadinya makan sagu harus terpaksa menggantikannya dengan beras yang bukan makanan pokok mereka. Anak- anak dan para pemuda di Arso sudah tidak lagi mengosumsi sagu melainkan beras. Memang mereka makan papeda tetapi bukan merupakan menu utama.
Sejak 1982/1983 wilayah Arso tidak hanya terdiri dari penduduk asli pribumi tetapi juga telah hadir warga lain dari luar Papua seperti Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Bali serta Papua (non Arso). Mereka datang karena program pemerintah yaitu transmigrasi. Hal ini jelas sangat berpengaruh dalam jumlah penduduk dan juga perubahan budaya, sesuai dengan hasil studi Edy Rosariyanto OFM dan kawan kawan dari Tim Dekenat Keerom menunjukan bahwa kini jumlah penduduk Papua di Kabupaten Keerom adalah sebanyak 17.947 jiwa sedangkan non Papua jauh lebih besar sebanyak 24.938 jiwa. Berdasarkan data BPS Januari 2008 itu jelas bahwa penduduk non Papua jauh lebih besar jumlahnya ketimbang penduduk Papua termasuk penduduk pribumi di Arso dan sekitarnya. (Dominggus A Mampioper dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *