Festival Akbar,  Minim Prestasi

Image

Antusiasme masyarakat untuk mengikuti FDS tak diimbangi dengan strategi promosi yang kuat (Foto : Saut Marpaung)

 

Oleh : Andre Liem (*)

JUBI – Gaung yang bergema sangat nyaring terdengar bertalu-talu dari pukulan Tifa 24 grup penari di Festival Danau Sentani yang baru saja berakhir (19-22 Juni 2008). Dari satu kegiatan pestival akbar yang patut di kenang. 

Antusias masyarakat yang terlibat dalam penyelenggaraan dan mereka yang menyaksikan nya sangat besar. Menjadi pertanda adanya suatu kebangkitan dan dobrakan awal bagi “Wind Of Change” Pariwisata di Papua. Dan hal ini telah menjadi perhatian penuh akan keterlibatan jajaran Pemerintah Kabupaten Jaypura. 
Walaupun sudah ada festival-festival lain di Papua yang nota bene bukan di sekitar kota Provinsi tetapi saya belum melihat suatu festival yang nota bene masih premature tetapi sudah bisa dihadiri Bapak Menteri Parawisata Kabinet SBY dan kami salut dan memeberi pujian akan segala upaya mendorong terselenggaranya event parawisata besar dengan dana besar layaknya Festival Danau Sentani di Kalkote, pantai pinggir danau, pesisir hutan sagu dengan pemandangan danau serta sunset yang sangat indah. 
Hari ke-3, kami menyaksikan datangnya perahu Isolo dengan mambawa buaya dari Sentanin Barat, Kampung Yoboy dan mengitarai Kampung Assey, Sentani Timur. Nyata sekali, para ibu-ibu bergoyang atau berdansa di pinggir rumah panggung sambil melambaikan tangan. 
Disitulah, ada identitas kebanggaan akan budaya luhur yang memberi arti tersendiri dan ternyata sepanjang mereka melintas dengan perahu Isolo dari kampung ke kampung selalu diberi “applause” oleh masyarakat yang menyaksikan. 
Ini menandakan sebenarnya masyarakat empunya budaya mau dan siap tampil merayakan “Pesta Rakyat” tetapi sayang sekali apa yang terjadi? 
Kami pernah melontarkan pemikiran ke media tanggal 27 Februari lalu akan keraguan kami terhadap konsep-konsep promosi Pemkab dan Panitia yang kami anggap diluar orientasi kami. 
Bila seandainya kami membandingkan kinerja seorang Kal Muller, pencetus Festival Budaya Kamoro Kakuru bahwa sebelum 2 tahun mengadakan festival di Pigapu, dimana para Budayawan plus pengukir Komoro diajak menyaksikan secara langsung di Agats, dimana suku tetangga mereka Asmat sedang melaksanakan kegiatan festival untuk mengikuti proses pembelajaran. Cara pelelangan ukiran-ukiran, kolaborasi kegiatan acara maupun kriteria-kriteria yang mungkin bisa sinergis dengan apa yang mereka punya tentunya. Dan perlu diingat ! seorang Kal Muller adalah keturunan Jerman tetapi beliau tidak pernah terpikir untuk mempromosikan Festival Komoro Kukuru di Internasional Tourism Boersa / ITB Berlin. Tetapi bagaimana bila suatu kegiatan budaya dapat di ramu agar makna dari potensi budaya yang tependam dapat diangkat secara maksimal dengan menggalang konsolidasi internal diantara para budayawan tradisional suku Komoro itu sendiri dan pendekatan eksternal dengan sesama etnik, suku Asmat. Karena 24 tahun yang lalu Festival pertama yang dicetuskan oleh keUskupan Agats di kota Agats ketika itu masih Distrik. Yang jauh dari kelayakan infrastuktur. 
Kami masih ingat ketika diadakan Konferensi Pariwisata Papua, November 2007, Kal Muller teman saya sempat diundang sebagai pencerama dan beliau bertanya kepada saya: Apakah sudah ada agenda acara untuk FDS? Saya tidak bisa menjawabnya Karena kami dari Papua Tour Guides Community/ PATGOM tidak termasuk dalam pengelolah kegiatan FDS itu. Walaupun diajak bergabung, kami takut akan akibat yang akan terjadi. Awal dari tanda-tanda pesimisme sudah muncul, dan pada waktu kegiatan tanya jawab dengan Bapak Gubernur sebagai penceramah pada waktu kegiatan Konfrensi Pariwisata Papua, dari pihak Himpunan Pramuwisata Papua, ketuanya melontarkan target bahwa akan ada 2000 wisatawan yang akan datang melihat FDS nanti, sebagai hasil acuan dari Team yang dikirim Pemkab untuk mengikuti Pasific Asia Travel Association Conference, Agustus 2007. dari situlah, sudah ada pertanyaan besar dari kami pihak industri pariwiasata, secara praktis apakah mungkin satu paket tour yang coba dijual untuk mendatangkan turis mancanegara tidak cukup setahun Agustus 2007 – Juli 2008 dapat memenuhi target kedatangan 2000 orang ke FDS? 
Dan pada waktu itu kami coba memberikan perubahan pada sesi tanggapan dan saran oleh Bapak Kepala Dinas Seni dan Budaya Kabupaten yang didampingi moderator Bapak Kepala Dinas Pariwisata Provinsi yang menekankan untuk saran saja tetapi bukan perubahan karena kami memang berfikir bahwa “ Peak Season” musim turis ada pada akhir bulan July, Agustus awal September yang biasa datang di Papua dengan melewati Jayapura / Sentani sesbagai kota transit ke Wamena. Kalau bisa ditanya langsung kepada para sopir taxi airport, mereka bisa menjawab dengan gambling kapan para guide atau travel-travel sibuk bekerja, dan secara reguler saat kami sedang mempersiapkan perjalanan wisata pada bulan Agustus, yang nanti sambil menyaksikan pertifal budaya Lembah Baliem yang ke 19. perlu diketahui FBLB telah digelar sejak tahun 1990 dimasa pemerintahan Bupati JB Wenas. 
Oleh karena jadwal FDS terlanjur disebarkan ke 2000 tamu pada waktu PATA Confrence di Bali maka mereka tetap mempertahankan tanggal-tanggal “keramat” dengan brosur yang dicetak, nota bene terpampang adanya “ pesta topeng” di kampung Yow, Asmat dan di bandingkan dengan kostum para penari di FDS kemarin sangat berbeda. Dengan kulit kus-kus dengan bulu burung kaka tua yang dikenakan orang Asmat di brosur sangat jauh berbeda dengan gambar penari di FDS dengan bulu burung cendrawasi dan tidak ada sama sekali perahu Isolo tetapi ketika mereka berangkat ke ITB Berlin ada dokomentasi Festival “ kecil-kecilan” di Yahim yang mereka kreasikan sebagai Pra festival dan pada saat-saat terakhir tanggal 20 Mei ketika para 12 Duta Besar Timur Tengah, Afrika, Diplomat Asia Tengah yang datang untuk mengikuti Forum Bisnis di Papua, disitu sekertaris panitia : Mian Simanjuntak. Sempat mengundang mereka untuk datang lagi, tetapi apa yang kami pantau selama 3 hari di lokasi Kalkote, tidak ada satupun tamu undangan kedutaan tersebut. 
Dari hasil pemantauan dari Tim PATGOM ada 39 orang yang kami kriteriakan senagai turis yang kebetulan sambil lewat ke dan dari Wamena. Ada 8 orang di tangani oleh PATAGOM, sisanya pekerja social yang bermukim di sekitar Jayapura plus seniman dan kru TV dari Australia, diluar hitungan para warga misionaris. Dan hasil pemantauan di pintu gerbang Airport Sentani hari ke-2, tidak ada muka baru maka pernyataan kami bahwa hasil promosi di ITB Berlin, Germany atau hasil keikut sertaan di Konferensi PATA di Bali dan segala brosur yang dicetak dan tersebara selama ini hasilnya NIHIL alias Nol Besar sehingga untuk mendatangkan 2000 turis manca negara tidak kelihatan batang hidung mereka sama sekali. 
Perlu diketahui anggota PATGOM yang ada di Augsburg, Germany sempat mengunjungi ITB Berlin bulam Maret 2008 dan tanggapan yang di berikan kepada kami di Papua bahwa apa yang ditampilkan disana sebagai bahan promosi FDS kurang menarik. 
Alhasil terakhir kami juga tak luput dari imbas hasil FDS ketika ditanya beberapa warga Pulau Assey : dimana rombongan yang Bapak bawakah karena kami ada dijanjikan banyak turis akan datang, jadi kami buat kombo/kulit kayu bergambar banyak-banyak sampai kami kurang tidur. Ada pernyataan terakhir juga waktu H-12 oleh Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia, Amos Jikwa. Bahwa dia juga sudah mempersiapkan 200 guide termasuk yang diimport dari luar Jayapura untuk menyambut 2000 wisatawan asing. Perlu di pertanyakan dari mana dan apakah ada 200 guide kalau tidak ada yang mau di “gait”. 
FDS yang pertama di Kalkote sudah berakhir, yang tinggal adalah sampah bertebaran dimana-mana, tidak ada yang menggubris untuk melarang masyarakat membuang sampah di danau, karena memang tidak ada tong-tong sampah di tempatkan di lokasi FGD. Dan inilah persoalan dimana tidak ada kepekaan terhadap lingkungan disekitar obyek wisata yang seharusnya peduli, dimana lingkungan dan pariwisata harus berjalan bersama. Padahal sudah milyaran rupiah dihabiskan tetapi tong-tong sampah tidak kelihatan sama sekali, apalagi sewa truk sampah. Beruntung juga tidak sempat ada 2000 tamu itu muncul dan so pasti kitorang para Pramuwisata yang dapat semprot alias “Complain” dari senior dan seniorita. 
Honomi Fokha. 

(*) Andre Liem, Penulis adalah Anggota Pramuwisata Papua/PATGOM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *