Tak Dapat Minyak Tanah, Terpaksa Cari Kayu Bakar

Image

Seorang Ibu Rumah Tangga tengah mengumpulkam kayu bakar untuk memasak akibat kenaikan harga minyak tanah (Foto: Carol Ayomi)

JUBI – “Maafkan kedua orang tuamu kalau tak mampu beli susu, BBM naik tinggi susu tak terbeli, orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi. Lekaslah besar matahariku menangis yang keras janganlah ragu, tinjulah congkaknya dunia buah hatiku doa kami di nadimu.

” Syair lagu Galang Rambu Anarki yang dinyanyikan oleh Iwan Fals di era 80-an agaknya sangat pas dengan momentum kali ini sebab awal Mei lalu pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono telah menaikan BBM sekitar 30 persen. Sebelumnya kenaikkan harga barang konsumsi di pasaraan sudah meningkat tajam, dengan kenaikan ini harga barang akan meningkat lebih pesat lagi. Padahal penghasilan keluarga tidak meningkat pula. 
Lalu bagaimana para ibu rumah tangga menyiasati agar dapat tetap mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Ada yang terpaksa mengurangi uang jajan anaknya di sekolah dan lebih mengutamakan membeli keperluan pokok dari pada membeli sekunder. Bahkan ada pula ibu-ibu yang terpaksa beralih ke kayu bakar kalau sudah tidak lagi memperoleh jatah minyak tanah yang kini harganya juga ikut meroket. Bayangkan dari Pertamina seliter minyak tanah Rp 3.300, tetapi sudah sampai ke agen harga antara Rp 3.500 dan Rp 4.000 perliter. 
Ibu Rosina Arobaya, 38 tahun, semenjak suaminya Rony Bonay mengalami kecelakaan kaki kanannya terpotong seng sewaktu masih bekerja di Pelabuhan Port Numbay sebagai TKBM dan pada akhirnya kaki suaminya diamputasi, maka beban rumah tangga jatuh ke tangan Rosina Arobaya. Ibu 11 anak ini berjualan sayur rebung dan sayur nangka di Pasar Pagi Paldam dan Pasar malam Ampera Jayapura. Dengan penghasilan Rp 70.000 per hari, Rosina masih mampu membiayai anak-anaknya bersekolah. Tidak ada namanya hasil penjualan sayur hari ini disisihkan untuk menabung. “Bagaimana menabung untuk beli beras, uang jajan dan uang taksi anak ke sekolah saja, saya rasa Rp 70.000 tidak cukup, sedangkan untuk beras satu hari kami sekeluarga habiskan lima kilogram,” ungkap Rosina.
Apalagi ditambah dengan pemerintah menaikkan harga BBM, sudah tentu masyarakat yang kena dampaknya. Minyak tanah saja sudah susah diperoleh, bahkan harus antri berjam-jam untuk mendapatkan 10 liter minyak tanah. Itu kalau beruntung dapat minyak tanah, kalau tidak beruntung berarti harus pergi ke gunung untuk cari kayu bakar.  
Berbicara soal minyak tanah, Anike T H Sabami, Sekretaris Pokja Perempuan MRP mengatakan, dulu sebelum adanya minyak tanah di Papua, Mama lebih suka pakai kayu bakar untuk masak. Tuhan menciptakan alam Papua kaya akan sumber daya alam yang luar biasa dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Oleh sebab itu, kalau berbicara soal minyak tanah berkaitan erat dengan peran perempuan sebagai ibu rumah tangga. Dan aktivitas perempuan kebanyakan ada di dapur. “Tetapi mari kita duduk sebentar dan berpikir apakah ada minyak tanah baru orang Papua hidup, tidak seperti itu. Orang Papua itu hidup dan terikat erat dengan SDM-nya, maka Tuhan sediakan kayu bakar yang banyak. Kayu bakar bahkan hanyut melalui sungai dan terdampar berserakan di tepi laut begitu saja. Perempuan Papua tinggal mengambil kayu bakar yang hanyut di tepi pantai lalu menjemurnya hingga kering, kemudian baru digunakan sebagia kayu bakar. Mari kita renungkan dan melihat kembali untuk pertama kali saat belum mengunakan minyak tanah, tapi sudah menggunakan kayu bakar sejak dulu,”tutur Anike Sabami. 
Memasuki era globalisasi, perempuan-perempuan Papua lebih memilih minyak tanah dari pada kayu bakar. Padahal kalau diukur masakan yang enak yang mana, apa dimasak menggunakan minyak tanah atau kayu bakar. “Saya pikir ibu rumah tangga lebih memilih mengunakan kayu bakar karena masakannya lebih enak. Dan seorang bapa dan anak anak lebih suka memakan makanan yang dimasak memakai kayu bakar. Minyak tanah itu hal yang berikut, tapi kalau berbicara mengenai peran perempuan Papua didapur tidak lepas dari kayu bakar. Kalau asap sudah keluar dari dapur itu baru dikatakan orang Papua,” tutur Anike Sabami belun lama ini di Kantor MRP Urusan POKJA Perempuan.
Sementara itu, Heroklyn Wosiri, salah satu istri Pegawai Negari Sipil dikediamannya di Perumahan Lembaga Permasyarakatan Abepura mengungkapkan seharusnya pemerintah menaikan BBM harus berpikir nasib rakyat kecil. Jangan menaikan harga BBM tapi tidak memikirkan, apakah rakyatnya akan mampu mengkonsumsi BBM sesuai dengan kebutuhan. Memang untuk keamanan APBN, tapi kalau rakyatnya mati kelaparan, siapa yang akan disalahkan, ujung-ujungnya pemerintah juga yang akan didemo. Apalagi soal minyak tanah, orang seluruh Indonesia sudah mengetahui bukan stok minyak tanah habis, tapi banyak pengusaha yang menjual keluar negeri. Rakyat selalu menjadi korban. Bahkan sering kali terjadi bentrok antar pengecer dan konsumen. Tapi untunglah orang Papua itu penyabar, sehingga bisa menerima apa adanya. Karena orang Papua mempunyai SDA yang dapat menghidupi. 
Anike Sabami menambahkan, berkaitan dengan itu yang seharusnya pemerintah memperhatikan kelangkaan BBM salah-satunya adalah minyak tanah. Kalau sampai minyak tanah sebagai sesuatu yang tidak dipandang sulit diperoleh rakyat berarti negara tidak mampu memperbaiki rakyatnya sendiri. Oleh sebab itu maka, kebijakannya adalah negara harus memperhatikan orang kecil. Ketika negara menaikkan BBM dengan harga yang sangat tinggi, maka orang kecil tidak akan mampu menjangkau itu. Mungkin orang kaya yang mampu mendapat BBM. Seharusnya pemerintah Papua mengawasi agen-agen yang ada di Tanah Papua ini. 
Menurut Anike, stok BBM dan minyak tanah banyak. Tapi karena kepentingan bisnis, Agen akan simpan satu buah drum dan akan jual dengan harga yang mahal untuk mendapatkan keuntungan. “Okelah tidak jadi masalah, bagaimana bisnis itu bisa berjalan dan merekrut keuntungan. Tapi jangan mempersulit sehingga membuat rakyat berada dalam ketidakberdayaan,”tegas Anike. Anike menyarankan agar perempuan Papua jangan terlalu berpikir soal minyak tanah. “Sekali-kali asap mengempul ke udara dan itu menandakan sebagai orang Papua,” ujar Anike. 
Kenaikan BBM sebesar 30% menyebabkan Ibu Heroclin mengurangi uang jajan anak anaknya biasanya diberikan Rp 10.000 sehari. Sekarang ini terpaksa dikurangi menjadi Rp 7.000 saja. Memang anak-anak mengeluh, tapi mau tidak mau harus dikurangi apalagi harga barang mulai melambung tinggi, harga taksi naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000. Sehingga untuk menyiasatinya dengan mengorbankan uang jajan anak-anak. 
Daya beli pun ikut berpengaruhi, biasanya Ibu Heroklyn Wosiri belanja di Supermarket akhinya lebih memilih berbelanja di Pasar Yotefa. Karena harga bahan pokok dapat ditawar, sedangkan di Supermaket harga barang sudah paten sesuai yang tertera dilebel. 
 Sebenarnya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari sangatlah tidak mungkin, apalagi PNS cenderung meminjam uang atau kredit di Bank. Biasanya dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun masa pemotongan kredit di Bank selesai. Sehingga dalam kurun waktu pemotongan gaji, maka dengan kenaikan BBM ini, keperluan-keperluan seperti membeli pakaian, make-up sementara dikurangi. Sedangkan untuk minyak goreng, Heroklyn cenderung membeli jerigen lima liter. Karena harganya tidak jauh beda dibandingkan dengan minyak goreng drum. 
Lain halnya dengan Ina Manai, Ibu berusia 25 tahun yang suaminya sekitar lima tahun bekerja di Kantor Kelurahan Awiyo sesekali menerima honor Rp 250.000. “Itupun tidak tiap bulan,” tambah Manai seraya menambahkan, untuk biaya sewa rumah kost saja sebesar Rp 350.000 perbulan. Untuk menyiasati dan menutupi kekurangan yang selama ini dialami keluarga Ian Manai. Pembayaran uang sewa rumah biasanya dicicil tiap bulan, kalau suaminya mendapat uang tambahan barulah mereka membayar lunas uang sewa rumah. Masalah BBM, Ina tidak kuatir karena suaminya tidak perlu keluarkan uang untuk naik taksi ke kantor. Karena Bos suaminya meminjamkan motor dinasnya untuk dipakai, sekaligus mengantar dan menjemput anak Bosnya yang bersekolah. Minyak tanah juga kadang-kadang diberikan mantan Kepala Kantor Kelurahan Awiyo yang sekarang ini menjabat menjadi Kepala Distrik Jayapura Selatan. 
Sedangkan persoalan makan, suaminya mendapat jatah beras milik kepala kelurahan. Untuk lauk pauk, tiap harinya Ina dan keluarga memakan sayur kangkung gratis diberikan kakaknya yang memiliki kolam kangkung. Dan kebetulan mereka tinggal berdekatan dengan orang tua sehingga soal makanan tidak jadi masalah. 
Walaupun hidup keluarga Ina pas-pasan, anak mereka Siane berumur tiga tahun tetap diberikan susu nutrisi. Karena mereka tahu kesehatan anak sangatlah penting dari segalanya. Ina yakin bahwa suatu saat suaminya akan mendapatkan honor sesuai UMR Papua. Agar kemudian hari mampu menyekolahkan anak semata-wayang mereka. (Carol Ayomi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *