Seandainya Petugas Ada di Puskesmas, Nyawa Anak dan Suami Saya Bisa Tertolong

 

Pengakuan Oktavina Mote

JUBI—Suasana sepi ketika kami tiba di puskesmas. Tak ada satupun tenaga medis yang bertugas. Kalau  saat itu tenaga medis berada ditempat, maka anak dan suami saya bisa tertolong.  

Keluarga Ibu Oktavina Mote, petani kopi di Lembah Kamuu, Distrik Moanemani, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua adalah salah-satu dari ratusan korban yang meninggal akibat penyakit muntaber di Lembah Kamuu. Betapa tidak, dalam sekecap penyakit muntaber merengut nyawa anak lelakinya Fredikus Mote dan suaminya Neles Manggop.
Sang anak Fredikus Mote, siswa kelas VI SD YPK Moenemani meninggal dirumahnya 5 Juli 2008. Sedangkan sang suami Neles Manggop meninggal menyusul anak mereka. Neles Manggop meninggal saat dirawat di puskesmas Moanemani 8 Juli 2008.
“Kalau petugas cepat memberikan pertolongan saat kami tiba di Puskesmas Moanemani, maka saya tak kehilangan anak dan suami. Musibah ini juga kelalaian petugas kesehatan sehingga mereka mesti bertanggungjawab,” tutur Ibu Oktvina Mote dengan bercucuran air mata saat JUBI mengunjungi kediamannya di sekitar Lembah Kamuu, Kamis (22/8).
Saat itu, ia sedang sibuk mengeringkan kopi hasil dari kebun mereka. Tampak tubuh wanita 46 tahun itu lunglai. Matanya sembab, rambutnya tak terawat. Ia baru saja kehilangan anak dan suaminya.
Ia lantas berkisah tentang muntaber yang diderita anaknya. Awalnya, ia menyaksikan keadaan anaknya Fredikus Mote yang terbaring lesu ditempat tidur.  Mata korban terlihat kunang-kunang, mual, muntah kekuningan, badannya kehitaman-hitaman, mencret. Praktis seluruh badan Fredikus kejang-kejang. Mereka sekeluarga tak tega melihat penderitaan yang dialami anak mereka Fredikus Mote. Dalam kepanikan ia bersama suaminya Neles Manggop membawa anak mereka ke puskesmas Moanemani.
Namun sayangnya, maksudnya agar anak mereka Fredikus Mote mendapat pertolongan pertama tak kesampaian lantaran di satu-satunya puskesmas yang ada di wilayah mereka tampak sepi. Pasien maupun pengunjung yang biasanya datang tak kelihatan.   Tak ada satu orangpun tenaga medis yang bertugas pada waktu itu. Merekapun akhirnya membawa pulang anaknya Fredikus Mote kembali kerumah.  
“Dalam perjalanan kembali kerumah kondisi tubuh anak saya makin panas,”ucapnya dengan raut miris. “Anak saya muntah-muntah dan terus-menerus buang air besar. Lama kelamaan dia sulit buang air besar, walaupun dipaksa.”  
Mereka tiba di rumah disaat hari mulai gelap. Sambil mendaulat anaknya Fredikus Mote untuk beristirahat sekedar mengurangi rasa sakit yang menggigit tubuh. Neles Manggop melanjutkan pekerjaan rutinnya dirumah seperti menghidupkan diesel untuk penerangan disekitar rumah mereka.
Tiba-tiba ia mulai merasakan sakit perut disertai muntah-muntah kekuningan, badannya hitam-hitam dan kejang diseluruh tubuhnya. Ia pun beranjak untuk membuang air besar. Ternyata ia mencret sebagaimana dialami anak mereka Fredikus Mote. Seluruh aktivitasnya dirumah terhenti seketika. “Pace (paitua/suami) saya tertular muntaber dari anak saya karena gejalanya seperti yang dialami anak saya,” keluhnya.
Perhatiannya terhadap sakit yang diderita anaknya Fredikus Mote belum tuntas. Ia mesti mencurahkan perhatian untuk merawat suaminya Neles Manggop. Ia membiarkan anaknya Fredikus Mote seorang diri dirumah mereka. Tak ada jalan lain, ia lantas minta bantuan tetangganya untuk bersama-sama membawa suaminya ke puskemas Moanemani. Jarak dari rumah menuju puskesmas cukup jauh.  
Tiba di puskesmas suaminya langsung mendapat perawatan dari dua tenaga medis. Suaminya Neles Manggop diberi infus dan minum oralit dengan maksus agar dapat mengurangi sakit yang diderita korban. “Beberapa hari di puskesmas kondisi suami saya tak berubah. Suami saya muntah dan mencret tanpa henti,” katanya seakan tak berdaya. “Apalagi suami saya sulit makan sehingga tubuhnya makin lemah,” keluhnya.   
Saat suaminya tergolek lemah di puskesmas ia mendapat kabar anaknya Fredikus Mote telah meninggal dirumah mereka. Tangis dan air mata Oktavina Mote seketika itu tak terbendung. Musibah seakan tak pernah pergi dari keluarganya.    
Walaupun telah mendapatkan pertolongan dari tenaga medis di puskesmas Moenemani. Tapi nyawa suaminya tak bisa tertolong. Beberapa hari kemudian suaminya Neles Manggop meninggal menyusul anaknya Fredikus Mote.
Saat perawatan di puskesmas Moanemani—suaminya dilayani dua orang tenaga medis. Fasilitas penunjang kesehatan seperti obat-obatan, infus dan oksigen seadanya.  
Menurut dia, seharusnya petugas kesehatan menyiapkan obat-obatan serta fasilitas penunjang kesehatan sehingga apabila ada pasien yang datang berobat bisa segera ditangani. Tapi yang terjadi saat korban mulai berjatuhan, justru obat-obatan dan fasilitas kesehatan tak mencukupi.
“Tenaga medis mesti ada di puskesmas. Kami tinggal didaerah terpencil ini mau datang berobat, tapi mereka sering tak ada ditempat. Jadi kami sering kesulitan,”imbuhnya.

Tertular Lewat Pakaian
Musibah yang dialami keluarga Oktaviani Mote juga dialami Agustinus Koga yang meninggal setelah beberapa bergumul dengan penyakit muntaber. Maria Koga, 19 tahun menuturkan kepada JUBI dirumah Pastoran Moanemani, Jumat (22/8). Dia mengaku seorang saudara laki-lakinya Agustinus Koga meninggal akibat penyakit muntaber.
Awalnya saudara laki-lakinya menderita sakit selama sebulan saat berada di kota Nabire. Anehnya, mereka tak mengetahui penyakit yang diderita saudara laki-laki mereka. Akhirnya, keluarganya datang untuk menjemput korban Agustinus Koga kembali ke Moanemani untuk mendapatkan perawatan seadanya.
Maria menyebut gejala penyakit yang diderita korban Agustinus Koga, Waktu itu korban muntah-muntah diselingi buang air seperti orang menyiram air.
Melihat penyakit yang diderita korban, maka keluarganya berusaha memanggil petugas kesehatan untuk memeriksa sakit yang diderita korban. Tak lama kemudian, dua tenaga medis dari puskesmas Ibu Kobepa dan Mantri Yuventil tiba dirumah mereka. Korban lalau diinfus dan diberi minum oralit.  
“Setiap hari dari mulai pagi sampai sore Pak Mantri Yuventil datang mencek infus dan memberi obat,” ujarnya. Walaupun telah ditangani petugas kesehatan, tapi akhirnya nyawa korban Agustinus Koga tak tertolong. Korban meninggal dunia beberapa hari berikutnya.  
Setelah ikut merawat korban Agustinus Koga. Maria Koga mengaku, dirinya juga tertular muntaber. Kemungkinan virus muntaber berasal dari korban Agustinus Koga. Selama menjalani perawatan—pakaian korban selalu dicucinya. Maria mengalami gajala muntah-muntah dan mencret. Lantaran penyakit yang dideritanya tak mengalami perubahan, maka ia segera memeriksakan dirinya di puskesmas. Atas saran tenaga medis, maka ia
menginap di puskesmas selama empat hari. Selama perawatan ia mengaku memperoleh pelayanan dari Mantri Yuventil dan Ibu Kobepa sehingga saya disarankan untuk kembali kerumah.  
Selama menginap di puskesmas ia ditemani oleh mamanya. Sementara dirumah hanya ada Agustinus Koga yang berbaring lesu melawan keganasan penyakit muntaber.
“Orang-orang yang datang ke puskesmas ketemu mama dengan saya kasitau kamu punya rumah itu bapa ada menangis terus ada tetangga lain juga menangis,” tukasnya. “Waktu mama dengar kabar itu mama pulang kerumah periksa begini ternyata saya punya kaka telah meninggal,” ujarnya terbatah-batah. (Musa Abubar)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *