Yansen Marweni :  Membuat Tifa Untuk Menafkahi Keluarga

Image

Membuat Tifa untuk Menafkahi Keluarga

JUBI—Tifa adalah alat musik tradisionil dari pelbagai suku di Papua. Ingat Papua ingat tifa. Ingat tifa ingat juga Yansen Marweni.  Yansen Marweni adalah pembuat tifa. Tifa adalah buah tangan khas Papua yang diminati orang, khususnya turis nusantara maupun manca negara.        

  

Tak banyak orang yang memilih pekerjaan  sebagai pembuat tifa. Tapi beda dengan Yansen Marweni, seorang putra daerah Papua dari Sentani Timur hingga saat ini terus  menekuni salah-satu tradisi peninggalan para leluhurnya seperti membuat tifa, busur, panah dan jubi (tali busur) dan ukir-ukiran dari kayu.

 

Keseharian seorang Yansen Marweni senantiasa disibukan dengan membuat tifa. Setiap hari ia berhasil membuat tifa dengan pelbagai model dan ukuran seperti tifa berukuran kecil dan tifa besar.   ”Saya kerjakan semua mulai dari tifa, panah, busur, jubi. Saya juga membuat ukir-ukiran kayu  untuk hiasan dinding dan aksesoris lainnya,” ungkap Yansen Marweni kepada  JUBI saat memamerkan hasil karyanya ditengah-tengah kegiatan  Festival Danau Sentani beberapa waktu lalu.

 

Syahdan, tifa adalah simbol perdamaian bagi masyarakat Papua tempo dulu. Bilamana terjadi perang diantara suku-suku di Papua. Para tua adat lantas membunyikan tifa untuk memanggil wakil dari kedua pihak berdamai. Namun kini, tifa tak lagi digunakan bagi suatu perdamaian. Tapi lebih digunakan dalam rituil adat, seperti pesta adat, perkawinan, menyambut tamu-tamu penting dan lain-lain.   

 

Dalam sebuah rituil adat acapkali tifa digunakan untuk mengiringi sekelompok penari dan penyanyi tradisionil. Setiap suku di Papua memiliki tifa, hanya saja model dan motifnya berbeda. ”Beda cuma motif dan modelnya dan ukurannnya. Ada tifa ukuran panjang dan kecil, tapi bahannya sama,” katanya. Tifa memiliki pelbagai macam model dan motif yang melambangkan ukiran budaya dari suku-suku yang ada di Papua.

 

Untuk membuat tifa menjadi lebih bernilai dan menarik, maka ia memahat  pada kanan dan kiri tifa dengan pelbagai ornamen yang diberi warna putih, hitam, kuning, merah dan lain-lain menggunakan kapur putih dan arang kayu. ”Tapi sekarang saya lebih banyak memakai cat yang saya beli di toko,” terangnya.   

 

”Mereka pegang tifa dibarisan paling depan, lalu menabuh sembari menari dan menyanyi. Saat tifa dibunyikan, tangan kiri memegang tangkai tifa kemudian tangan kanan menabuh tifa berulang kali,” tuturnya sambil memperagakan orang menabuh tifa dan menari. ”Bunyi tifa seperti orang main drumband.”   

 

Bagi Yansen Marweni ketrampilan membuat tifa diawali saat ia bekerja di Irian Jaya Joint Development Fondation (IJJDF)  tahun 1987. Salah-satu kegiatan yang dikembangkan IJJDF adalah seni dan budaya Papua.   Di tempat inilah ia mengasah ketrampilan untuk pembuatan tifa, panah, jubi dan ukir-ukiran kayu khas Papua.   ”Di IJJDF saya belajar menjadi seorang desainer tifa,” ujarnya sembari menunjuk model-model tifa karyanya yang dipamerkan.   

 

Membuat tifa bagi untuk seorang Yansen Marweni dilakukan sepanjang waktu. Selain  untuk mengembangkan apresiasi seni dan budaya Papua. Juga  untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.  ”Saat ini saya tak memiliki pekerjaan tetap. Jadi saya membuat tifa untuk menafkahi keluarga saya. Apalagi ketujuh anak saya semuanya masih bersekolah,” ujarnya polos. ”Penghasilan dari membuat tifa belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Tapi saya saya tetap membuat tifa karena sudah merupakan bagian dari hidup saya ,” katanya miris.  

 

Mesti Dilestarikan

 

Marweni menimpali, dirinya ingin menularkan ketrampilan membuat tifa kepada para generasi muda di Papua.  Karenanya, ia  mengajak anak-anak muda yang memiliki jiwa seni untuk dilatihnya menjadi pembuat tifa, panah, busur, jubi dan ukir-ukiran kayu.  ”Tifa mesti dilestarikan agar tak hilang dihempas jaman,” ungkapnya. ”Yang bisa melestarikan tifa, panah, busur, jubi dan ukir-ukiran kayu bukan siapa-siapa, tapi tong  orang Papua sendiri.”     

 

Untuk membuat tifa, panah, busur, jubi dan ukiran-ukiran kayu, urainya, awalnya ia menebang kayu yang dirasakan cocok untuk membuat tifa. Kayu-kayu yang diperolehnya itu kemudian dipotong-potong dengan ruas sekitar dua meter. Kayu-kayu tersebut di bor dibagian tengah,  kemudian menggunakan pisau yang dibengkokkan lantas dimasukan kedalam lubang kayu yang dibor sesuai dengan ukuran, terus dicincang atau dibuang bagian luarnya.    

 

Untuk membuat tifa, kayu yang ditebang di hutan itu dikeringkan dalam waktu sekitar seminggu. ”Untuk menghasilkan tifa yang bagus, kayu mesti dikeringkan. Tapi bila kayu yang diperoleh masih mentah, maka hasilnya juga tak bagus,” katanya.    

 

Kayu yang telah dikeruk lantas dimasukan kedalam bara api untuk melubangi bagian tengah dari kayu tersebut. Kayu itu kemudian dibalik dan dibakar lagi pada bagian lainnya.  Setelah bagian tengah kayu tersebut dibakar sampai tembus. Lubangnya dilebarkan dengan menggunakan parang.

 

”Cara ini digunakan pada waktu dulu sebelum ada peralatan modern seperti bor dan  lainnya. Tapi sekarang agak mudah karena sudah ada alat modern sehingga pekerjaan membuat tifa lebih gampang,” ujarnya.  

 

Kulit Buaya

 

Sebagai alat musik tradisionil, maka tifa juga dilengkapi dengan bagian yang digunakan untuk menabuh  yang dibuat dari kulit buaya kering.  ”Buaya dikuliti dan dijemur sampai  kering kemudian dililit diujung tifa,” ujarnya. Kulit buaya itu kuat dan elastis sangat cocok untuk membuat tifa. Apabila ditabuh suaranya keras dan nyaring dan disesuaikan dengan irama dari para penari dan penabuh tifa. ”Kulit buaya dililit dengan lem yang ditempel di sekitar mulut tifa kemudian diikat dengan tali rotan,” tukasnya seraya menambahkan kulit buaya dibelinya dari penjual kulit buaya yang menjajahkan barangnya di pelbagai pasar di Jayapura.     

 

Menurut Marweni, tifa memiliki nilai seni yang tinggi. ”Bila orang mengunjungi Papua untuk suatu keperluan, maka sesibuk-sibuknya mereka selalu mencari tifa, panah, busur, jubi dan ukir-ukiran kayu untuk memperindah interior rumah mereka,” ujarnya. Bahkan ia mengaku  sering mendapat order dari luar untuk membuat ukir-ukiran kayu dengan model binatang, burung dan manusia. ”Kekayaan seni Papua banyak diminati para pencinta seni.”

 

Salah-satu karyanya yang ia banggakan adalah ia dipercaya untuk mendesain logo Festival Danau Sentani. “Saya bangga mendapat kepercayaan mendesain logo Festival Danau Sentani sekaligus hal ini merupakan kepercayaan kepada seniman-seniman lokal,” ujarnya dengan berbinar-binar.      

 

Tak sulit mencari bahan-bahan untuk membuat panah, busur, jubi karena semua bahan-bahan itu ada di sekitar hutan rumahnya.  Untuk membuat busur bahanya dari pohon nibun khusus atau lantai hutan. Busur dari tali rotan. Jubi (mata panah) dari buluh bambu kecil (baengge). ”Nibun ditajamkan kemudian dipasang diujung bambu kecil dijadikan sebagai mata panah,” jelasnya.   

 

Sedangkan bahan untuk membuat ukir-ukiran kayu adalah kayu tipis atau papan dari bekas-bekas potongan kayu yang dibuang. Namun, ia   mengaku, untuk membuat ukiran kayu membutuhkan waktu yang agak lama karena ia mesti mencari kayu tipis kemudian dibelah dua dan dijadikan papan.  Kalau ia telah mendapatkan kayu tipis, maka langkah berikutnya adalah merapikan papan tersebut kemudian mulai mengerjakan ukiran.    

 

Bahan ukiran yang ia gunakan adalah getah ”lenggowa” yang dicampur dengan tanah liat. Untuk warna merah dipakai tanah merah yang dicampur dengan getah ”lenggowa”.  ”Dalam sehari saya bisa menghasilkan dua buah ukiran kayu dengan pelbagai motif,” ujarnya.   

 

Ia mengatakan, selama membuat tifa ia sering mendapatkan kendala  yakni sulitnya memasarkan hasil karyanya. ”Saya sedang mencari mitra kerja dari kalangan pencinta benda-benda seni ditanah air untuk memasarkan hasil karya saya,” katanya penuh harap. Bahkan ia terobsesi  suatu saat mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran alat musik tradisionil di Jakarta maupun diluar negeri. ”Saya ingin memperkenalkan tifa sebagai alat musik tradisionil yang masih bertahan hingga saat ini,” imbuhnya.

 

Selain kendala pemasaran. Dia juga mengaku, untuk membuat tifa, panah, busur, jubi dan ukir-ukiran kayu dirinya sering kesulitan mendapat tenaga kerja. Apabila ada tenaga kerja yang datang membantunya, maka ia bisa membuat tifa lebih banyak lagi. ”Kalau ada tenaga yang membantu, maka saya mampu membuat 3-4 tifa dalam sehari,” keluhnya.      

 

Ia menjual hasil karyanya ini setiap hari dijual di pasar atau lokasi-lokasi yang banyak dikunjungi orang. ”Kadang-kadang jualan saya laku, tapi  juga tak laku,” Marweni menimpali.  

 

Marweni menjelaskan, ia menjual sebuah tifa ukuran besar dengan harga Rp 300.000. Tifa kecil Rp 200.000. Ukiran kayu  berkisar Rp 50.000–Rp 60.000. Untuk panah, busur dan jubi dijualnya Rp 60.000–Rp 70. 000. (Musa Abubar/Makawaru da Cunha) 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *