Waktu Bermain Habis Untuk Pungut Sampah

Image

Tarsisius Himah, tengah memungut sampah di salah satu lokasi pembuangan sampah (Foto : Musa Abubar)

JUBI—Tarsisius Himah, bocah sepuluh tahun asal Wamena ini terpaksa memungut sekilo sampah plastik dan kaleng dalam sehari bersama teman-teman sebanyanya demi menyambung hidup, guna membeli makanan dan pakaian.

Ketidakmampuan orang tua dalam menunjang kebutuhan ekonomi keluarga dan  minimnya perhatian keluarganya menyebabkan ia terpaksa meninggalkan waktu bermainnya untuk bekerja untuk meringankan beban orang tuanya.   
Padahal dalam mengelola sampah bukanlah tugas  bocah-bocah yang seharusnya menghabiskan waktu mereka di ruang belajar atau mungkin ke perpustakaan daerah di Kota Jayapura karena tak dipungut bayaran.
Karena pemerintah Kota Jayapura belum mengelola sampah secara efektif, hingga para bocah dan warga kota sendiri yang memungutnya lalu menjualnya ke pedagang besi tua, kaleng minuman dan plastik.
Hal ini tidak berlebihan karena memang yang selalu dilakukan petugas kebersihan hanya mengangkut sampah dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Lalu dibakar kelihatannya sangat simple dan sederhana. Padahal kalau semua warga kota memahami barang-barang bekas organik dan anorganik masih bisa dimanfaatkan baik sebagai pupuk ataupun daur ulang plastik maupun kaleng dan besi tua.
Bahkan pemerintah Kota Jayapura selama ini tak memerintahkan aparatnya mulai dari aparat tingkat RT, Kelurahan dan Distrik untuk mengimbau warga agar mulai memilah-milah sampah dari sampah organik dan non organik. Agar para bocah dan warga tidak lagi harus memungut-mungut dan membongkar-bongkar lagi sampah yang akhirnya berserakan. Secara higienis mereka rentan terkena penyakit ISPA dan diare karena selalu bersahabat dengan sampah.
Tarsisius Himah adalah salah-seorang dari ribuan bocah-bocah di Kota Jayapura yang setiap saat bergumul dengan botol plastik, kaleng, kabel dan besi tua.
Siang itu, Senin (29/9) keringat bercucuran membasahi wajah Tarsisius karena mentari benar- benar memancarkan terik yang menyengat. Apalagi lokasi pemungutan sampah di Jalan Youtefa Abepura sebuah tanah lapang yang luas dan tak ada tempat untuk berteduh sejenak. Kepada JUBI Tarsisius mengaku dirinya sebenarnya ingin bermain seperti teman seusianya dan tak mempunyai niat  untuk bekerja memungut sampah, tapi lantaran harus membantu orang tuanya, maka ia rela melakukanya dengan senang hati.    
“Saya memungut sampah plastik dan kaleng setiap hari karena harus membantu orang tua,” ujar Tarsisius dengan mata berbinar binar.
Tarsisius yang  tinggal bersama orang tuanya di Jalan Buntu Youtefa adalah sebuah kawasan pinggiran bekas Pasar Lama Abepura yang padat penduduk, tampaknya bagi pemerintah Kota Jayapura sangat ideal untuk dijadikan lokasi Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Di TPS inilah kegiatan bocah-bocah warga Jalan Buntu Youtefa beroperasi setiap hari menanti warga dari segala penjuru Distrik Abepura membuang sampah. .
Beruntung karena Tarsisius juga termasuk siswa yang cerdas sehingga ia tak dikenai bayaran di sekolahnya.
Dia mengaku dirinya bekerja memungut sampah atas kemauannya sendiri dan rasanya menyenangkan karena bisa menghasilkan uang yang jumlahnya tak seberapa. Tapi bagi Tarsisius sangat berarti.
Awalnya ia pulang sekolah lalu berdiam diri dirumahnya, tapi melihat beberapa teman sebayanya mulai melakukan kegiatan di sekitar TPS hingga membuatnya tertarik untuk mencoba memulainya. “Toh hitung-hitung cari pengalaman dan bisa dapat sedikit uang,” tutur Tarsius memberi alasan kenapa ia memilih terjun  memungut sampah.
Dengan agak sinis Tarsisius menambahkan, meski ayahnya seorang guru, tapi ia tak pernah memberinya sepeser uang jelang awal bulan gajian. Dia menyadari gaji guru memang tak seberapa tapi perhatian dari orang tua kepada dirinya harus selalu ada. Biar sekecil apapun tapi sudah menyenangkan dirinya..
Siswa Kelas III SD Inpres Kampung Tiba Tiba ini menuturkan, ia bekerja memungut sampah setelah pulang sekolah  pukul 12.00 WIT hingga pukul 23.00 WIT. Tapi kalau saat liburan ia  memungut sampah setiap hari mulai pukul 10.OO WIT hingga pukul 23.00 WIT.  Seuntai waktu sehari itu ia manfaatkan untuk memungut  sampah. Dalam sehari ia mampu memungut sampah seberat satu kilo untuk dijual.     
Lokasi-lokasi yang biasanya menjadi tempat pencarian sampah bagi Tarsisius dan teman sebayanya bukan hanya di TPS Youtefa, tapi juga tempat lain di daerah Tanah Hitam, Kamkey dan Kali Acai Kotaraja.
Biasanya lokasi yang sering dijumpai banyak kaleng dan botol plastik itu di dalam parit, tempat pembungan sampah di pinggiran jalan dan di halaman rumah penduduk. “Lokasi-lokasi seperti itu cukup banyak berceceran sampah-sampah plastik dan kaleng,” ungkap Tarsisius sambil menunjukkan salah-satu parit atau selokan yang baru saja dibongkarnya bersama kedua temannya.  
Tarsisius mengatakan, ia  memungut sampah dengan peralatan seadanya berupa kayu atau sepotong besi yang ia gunakan untuk mengail-ngail sampah di lokasi-lokasi pembuangan sampah.
Namun ia  mengaku tanpa ragu-ragu terkadang harus menggunakannya  tanpa sarung tangan untuk mengais-ngais sampah di lokasi pembuangan sampah. Bukan itu saja terkadang ia juga harus masuk ke dalam selokan yang berlumpur penuh sampah plastik dan kaleng untuk diambilnya.
Tarsisus tidak sendiri sebab begitu banyak teman temannya yang lain temasuk orang dewasa ikut pula mengais sampah. Hingga tak heran kalau mereka bersaing untuk lebih dulu datang ke TPS. Rupanya persaingan dalam mengais sampah semakin sulit kalau terlambat maka rejeki pun melayang. “Siapa cepat dia dapat,”guman Tarsius dalam hatinya.
Bukan itu saja, sebab lokasi-lokasi sampah  di pinggiran jalan di pusat-pusat perbelanjaan seperti Saga Mall, Mega Mall, Regina Mall dan lain-lain kini juga sulit diperoleh. Pasalnya sudah berlaku hukum pasar siapa cepat dia dapat atau mungkin mereka sudah mempunyai pekerja khusus mengelola sampah.
Terpaksa dia  bersama  teman temannya harus mencari sampah di tong sampah, tempat pembakaran sampah di pinggiran jalan, bahkan di  selokan dan rumah rumah  penduduk.   
Biasanya sampah-sampah yang ia kumpul  dimasukan ke  dalam kantong plastik hitam kemudian ditampung selanjutnya disalin ke karung untuk segera dijual.
Jenis-jenis sampah yang biasanya dicari dan dijual, urai Tarsisius, adalah sampah-sampah kaleng, seperti sprite, coca cola, kaleng isatonik, gelas air miniral, besi tua dan kabel. “Hanya itu sampah-sampah ini yang kami cari dan jual, karena harganya jualnya bagus,” ujar Tarsisius.  Sedangkan sampah kabel dan besi tua dikumpulkan secara terpisah kemudian ditimbang dan dijual.
Sampah kaleng-kalengan ini, menurut Tarsisius,  dikumpulkan kemudian ditimpuk  sampai plat alias tipis kemudian diisi dalam karung sampai mencukupi sekilo dan kemudian dijual. Sedangkan untuk besi tua dan kabel langsung diisi dalam karung lalu ditimbang dan dijual.
“Untuk sampah plastik dan kaleng dijual dengan harga Rp 10.000 perkilo. Sedangkan  sampah kabel dan besi tua dijual Rp 30.000 perkilo.  Sampah ini dijual di kompleks Jalan Baru Abepura,” jelas Tarsisius.  
 “Uang diperoleh tong (kita orang) pakai untuk beli makanan dan  baju. Sebagian tong bantu orang tua,” ujar Tarsisius seraya menambahkan uang yang tong dapat belum bisa digunakan untuk menabung dan membeli perlengkapan sekolah. “Kalau tong dapat uang banyak sehari bisa  beli makanan dengan pakaian, tapi kalau tra (tidak) cukup tong hanya beli makan saja,” ujar Tarsisius lirih.
Agar bisa memenuhi target sehari minimal  Tarsisius dan teman-temannya mesti berusaha agar mencapai sekilo  untuk dijual. Jika tak mencapai target, maka ia tak bisa memakai untuk membeli makanan.  “Tapi setiap hari tong pasti dapat rejeki. Kadang banyak, tapi untung belum pernah nihil sama sekali,” kata Tarsisius yakin.  
Walaupun demikian, Tarsisius menambahkan, ia bersama kedua teman sebayanya itu tak hanya memungut sampah, tapi ia juga sering mencari tambahan penghasilan seperti menutup motor yang sedang diparkir di depan Toko Cahaya Empat Lima Abepura. “Saat kami kesulitan memungut sampah, maka kami kerja menutup motor dan jaga parkir,” ungkap Tarsisius gembira.   
Kisah bocah Tarsisius dan kedua teman sebayanya adalah gambaran buram ketimpangan ekonomi di daerah perkotaan hingga tak heran kalau banyak ditemui mereka berkeliaran di kota dengan hanya bermodal nekad dan berani.
Menanggapi kegiatan bocah-bocah tukang pungut sampah bagi pemerhati anak anak dan perempuan dari Lembaga Pengkajian, Pemberdayaan dan Perlindungan,  Anak dan Perempuan (LP3AP) Jayapura Anita Sihombing, SH kepada JUBI mengatakan selama mereka merasa tidak terganggu hak-hak dan merasa senang tidak masalah. “Yang jadi soal adalah kalau mereka merasa tertekan dan hilang hak-hak mereka untuk menikmati hasil jerih payahnya,” ujar Anita seraya menambahkan toh mereka sambil bermain dengan sampah bisa meraup sedikit rupiah.
“Saya pernah menanyakan mereka ternyata menyenangkan dan mengasyikan. Untungnya mereka tak pernah lupa untuk ke sekolah,”tambah Anita. (Musa Abubar/ Makawaru da Cunha)

   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *