Tingkat Reproduksi 20 Jenis Kupu-Kupu di MP 21 Timika Menurun

 

Image

Populasi Papilio Ulysses di Timika Mulai Menurun (Foto : IST)

 

 

JUBI – Emas, tembaga, perak adalah merupakan bahan radiotoksitias tingkat sedang setelah uranium. Sorotan emas, tembaga, perak dan mineral-mineral lainnya sebagai bahan radioaktif pun dapat ditinjau.

Berdasarkan hasil monitoring report PT Freeport Indoenesia pada Juni 2006 melalui Departemen Lingkungan Hidup bahwa telah ditemukan sekitar 15 jenis tanaman yang dipanen dan dikumpulkan dari kebun percontohan hasil bumi di Mile 21 mengandung beberapa unsur logam yang membahayakan bagi vegetasi alam. Seledri, Sawi Hijau, Bayam Merah, Bayam Hijau, Kangkung, Sawi “Petsay”, buncis, bengkoang, kentang, singkong, talas, padi, ketimun “Hercules”, mentimun hijau “Rocket” dan mentimun ‘Venus” dianalisis ternyata terkontaminasi oleh unsur logam. Bahaya kontaminasi logam melalui rantai makanan tidak hanya berhenti sampai vegetasi alam berupa hasil pertanian yang telah disebutkan diatas. Namun laporan kali ini diketahui, produktivitas 20 jenis kupu-kupu menurun akibat kontaminasi logam berat sebagai efek genetik.
Kupu-kupu merupakan salah-satu fauna yang sangat menarik di Papua, karena keragamannya serta ancaman terhadap pelestariannya semakin meningkat sejalan dengan kegiatan pembangunan di Papua yang kadang bukan pembangunan demi membangun Papua juga. Sampai saat ini, diketahui hampir 50% dari kekayaan flora dan fauna Indonesia berada di Papua. Dari 750 jenis kupu-kupu yang diperkirakan berada di Papua, ada sekitar 250 jenis terdapat di kawasan pengunungan Cyclop dan Mambramo. Sayangnya, diduga ke-20 jenis kupu-kupu di areal lokasi MP-21 Timika terkontaminasi logam dan kini Departemen Lingkungan Hidup PT Freeport tidak memberi komentar kepada JUBI atas tinjauan dan penyebab menurunnya tingkat produktif kupu-kupu di Timika.
Berdasarkan mata rantai maka kontaminasi tailing yang membawa bahan berbahaya berupa logam berat secara fisik maupun kandungan kimianya. Ke-20 jenis kupu-kupu menjadi sampel kontaminasi logam hingga ke lingkungan sekitarnya melalui rantai makanan. Beberapa jenis kupu-kupu yang ditangkarkan di MP 21 Timika diantaranya: Papilio Ulysses (B&), Papilo aegeus (B&), Papilo aegeus (@&), (Papilio ambrax (B&), Papilio demeleus (B&), Appias celestina galerus (@&), Parthenos aspila tigrina (B&), Hypolimmas bolina (B&), Malanitis leda (B&), Elymnias agondas (@&), Elodina andropsi (B&, Catopsilia pamona, (@&) Cathobsila cydipp (@&), Ideopsis juventa, Mycalesis aethiops (B&), Melanitis constantina, Papilio Euchenor (B&),Catopsillia Pomona (B&), Polyura Jupiter (B&), Cydippe damasippe (B&) r.
Di area pusat penelitihan reklamasi telah melakukan penangkaran kupu-kupu. Kupu-kupu yang ditangkarkan merupakan hasil penangkapan disekitar area Freeport. “Untuk mengetahui keanekaragaman jenis kami telah lakukan pengamatan langsung dan berdasarkan informasi yang didapatkan ada sekitar 20 jenis, yang mana 10 jenis merupakan hasil penangakaran dan 10 jenis lagi merupakan jenis kupu-kupu yang ada disekitar areal reklamasi dan sekitarnya,” jelas operator lapangan kepada JUBI yang namanya engan dikorankan.
Untuk mengetahui tingkat produktifitas kupu-kupu, maka beberapa upaya dalam penanganan penangakaran kupu-kupu telah dilakukan. Beberapa jenis tanaman telah ditanam sebagai sumber pakan dan tempat untuk berkembang biak. Setiap jenis kupu-kupu mempunyai sumber pakan dan tempat berkembang biak pada jenis-jenis tanaman tertentu. Jenis-jenis tanaman yang menjadi sumber pakan bagi kupu-kupu untuk jenis, Papilo aegeus, Papilio ulysses, Papilio demeleus Papilio ambrax, adalah jenis tanaman; Jeruk (Citrus sp.) Evodia elleryana, dan mengisap madu bunga-bunga kembang sepatu, sedangkan untuk jenis Catopsilia pamona dan Appias celestina jenis tanaman yang menjadi sumber pakan dan tempat meletakan telurnya adalah dari family (Caecalpinoideae),Cassia alata,Cassia sp. dll. Cathobsila cydippe, Ideopsis juventa, Mycalesis aethiops, Parthenos aspila tigrina, Melanitis constantina dan Malanitis leda, mengisap gula buah-buah Ficus damaropsis, Psigium guyajava yang sudah membusuk madu bunga musaenda. Elodina andropsi, Hypolimmas bolina, pakanya berupa jeruk dan bunga pecah piring dan jenis tanaman yang lain Elymnias agendas, jenis pakanya berupa.
Berdasarkan studi pengamatan kupu-kupu di lapangan yang dilakukan Departemen Lingkungan PT Freeport di Timika, Mandor lapangan yang engan dikorankan namanya mengatakan bahwa “Tingkat reproduksi pada kupu-kupu sangat tinggi dibandingkan satwa yang lain namun pada perkembangan pada tingkat kepompong jadi kupu-kupu kemungkinan hidupnya singkat kecil/sedikit misalnya dari sekian ribu telur yang dapat berhasil hanya sedikit. Hal ini dapat dilihat dari pengamatan langsung di lapangan. Namun sampai sekarang factor yang menjadi penghambat ke-20 jenis kupu-kupu belum dapat diketahui, karena perlu analisis dari segi lain dan bidang biologi lainnya”.
MP 21 terletak pas di lokasi tailing maka kupu-kupu sebagai materi biologi dapat terjadi interaksi logam sebagai bahan sumber radiasi dengan materi biologi (kupu-kupu). Kandungan logam dalam vegetasi alam termasuk sayuran dan buah-buahan yang ditanam di areal Tailing dan sekitarnya dibawah pengawasan Departemen Lingkungan Hidup Freeport Indonesia, namun bahaya logam tetap kena pada biota lain melalui jalur rantai makanan.  Artinya tetap ada gangguan terhadap vegetasi alam  dan manusia sekitarnya sebagai akibat dari paparan radiasi yang bermula dari interaksi antara radiasi pengion dengan sel maupun jaringan tubuh makhluk hidup, kupu-kupu. “Bahaya kontaminasi logam mengakibatkan kupu-kupu tidak bisa produksi seperti biasanya tersebut masih kami teliti,” ditambahkan petugas lapangan kepada JUBI bahwa “Sejauh ini tailing mengandung beberapa logam berat tetapi kami telah kasi (diberi) pupuk jadi tidak ada masalah,” ungkapnya. Jenis dan macam pupuk apa yang kebal terhadap logam berat apalagi radiasi tidak dijelaskan oleh nara sumber. Namun nara sumber ini mengakui dalam seumur hidup makhluk hidup, pupuk jenis apapun tidak akan bertahan bagi tanaman dan biota sekitar karena pupuk punya jangka waktu dan berbeda untuk jenis tanaman tertentu.
Berkaitan karena adanya interaksi logam berat, maka sel-sel dapat mengalami perubahan struktur dari struktur normal semula. Sel yang telah mengalami  perubahan struktur tersebut kupu-kupu mempunyai kemampuan untuk melakukan proses perbaikan, karena sifat genetika makhluk hidup untuk melakukan perbaikan seperti struktur semula. Namun sewaktu proses perbaikan sel berlangsung, ada kalanya dapat terjadi gangguan terhadap keseluruhan metabolisme, sehingga seluruh pembawa informasi perbaikan sel mengalami kerusakan. Jika hal ini terjadi, maka perubahan struktur gen kupu-kupu akan mengakibatkan perubahan karakteristik sel dalam fungsi kesatuannya sebagai satuan jaringan. Hal inilah yang mengakibatkan perubahan fungsi jaringan yang pada akhirnya dapat muncul dalam bentuk gangguan kesehatan terhadap tubuh atau organ makhluk hidup seperti Kupu-kupu termasuk juga manusia di dalamnya.
Memang logam emas, tembaga, perak dan logam berat sisa penambangan emas dan tembaga seperti: selenium (Se), timbal (Pb), arsenik (As), seng (Zn), mangan (Mn), dan tembaga (Cu) tersebut mampu memancarkan radiasi dengan dosis yang berbeda. Penyinaran akut melibatkan radiasi dosis tinggi dapat menimbulkan efek yang bermunculnya kurang dari satu tahun sejak terjadinya penyinaran (efek biologi seketika). Namun efek biologi seketika dapat menimbulkan efek biologi tertunda  apabila dosis radiasinya tidak tinggi. Radiasi dosis rendah namun berlangsung terus-menerus (kronis) tidak menampakan efeknya secara langsung tetapi  akan terjadi efek tertunda. Efek tertunda ini dapat muncul setelah beberapa tahun bahkan puluhan tahun dari saat terjadinya penyinaran. Efek radiasi terhadap jaringan tubuh makhluk hidup (kupu-kupu) menimbulkan kerusakan somatic berupa kerusakan sel-sel jaringan tubuh dan kerusakan genetik berupa mutasi  sel-sel reproduksi. Kerusakan sel reproduksi dapat mengganggu reproduksi makhluk Hidup (termasuk kupu-kupu, ikan, kepiting, segala tanaman liar maupun diperkebunan termasuk manusia adalah makhluk hidup).
Meskipun semua produk pertanian yang ditanam pada lahan tailing adalah di bawah standar pemerintah Indonesia, namun dalam hal kandungan logam rantai makanan manusia terus berputar.  Manusia di areal penambangan emas dan tembaga termasuk karyawan serta masyarakat sekitar areal tailing tidak ada proteksi terhadap bahaya kontaminasi secara fisika maupun kimia sementara proses biologi berjalan seiring berlalunya waktu. Rantai makanan terus berputar antara manusia, tumbuhan dan hewan (flora dan fauna), siapakah yang berpikir proses yang sedang terjadi ini? Berapapun dosis kandungan logam dalam tanaman dan hewan sekitarnya, bahaya kontaminasi logam berat secara kimia maupun fisika menurunkan produktifitas kupu-kupu dan (telah, sedang dan akan) sampai pada manusia melalui rantai makanan sebagai proses biologi.
Terbukti, Data metals up-take dari 5 jenis tanaman yang telah dianalisis di Lab melalui Departemen Lingkungan Hidup berdasarkan analisa menyimpulkan bahwa “kandungan logam dalam bahan tanaman yang diteliti masih di atas ambang batas sesuai…… dengan standard baku analisa kandungan logam. Namun pada tanaman kol logam Zinc (Zn) tinggi dengan nilai 5.45 di atas batas ambang dari 4.00, “ Sementara pada manusia juga terjadi beberapa gejala penyakit biasa dan dilihat sebagai penyakit biasa-biasa saja. (Willem Bobi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *