Kontaminasi Logam Mulai Nampak, Freeport Tetap Perpanjang Akreditasi Laboratorium

 

Image

Lokasi Tambang Freeport di Grassberg (Foto : IST)

 
JUBI — Berbagai upaya dan langkah tetap dilakukan untuk mencegah bahaya kontaminasi logam sisa penambangan emas dan tembaga seperti yang telah diketahui sebelumnya.

Dalam rangka pengawasan dan pemantauan bahaya terhadap lingkungan hidup, berbagai cara pun dipakai untuk mengatakan bahwa Freeport bertanggung jawab dan menghargai terhadap lingkungan atau singkatnya Freeport ramah terhadap Lingkungan. Salah satu upaya adalah mempertahankan akreditasi Laboratorium Pengujian Lingkungan Hidup yang berada di Timika, Papua.  Dalam meningkatkan tingkat pemantauan dan pengawasan terhadap lingkungan, maka PTFI telah meningkatkan akreditasi lab pengujian lingkungan hidup. “Tentang akreditasi laboratorium untuk pertama kalinya di terima oleh Lab Lingkungan Timika pada tahun 1999 dari KAN di bawah standar ISO/IEC Guide 25 yang sejak akhir tahun 1999 telah berubah menjadi ISO/IEC 17025. Selanjutnya pada tahun 2000 Lab Lingkungan juga mendapat akreditasi dari National Association of Testing Authorities (NATA) Australia, yaitu salah satu badan pemberi akreditasi laboratorium tertua di dunia. Masa berlaku sertifikat akreditasi ISO 17025 adalah 4 tahun dan dapat diperpanjang untuk 4 tahun berikutnya dengan proses re-akreditasi  ini,” tandas Prof. Dr. Sumardi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Di belahan dunia manapun pertambangan emas ataupun logam tertentu tetap meninggalkan jejak bahaya logam dengan efek kimia atau fisika terhadap kesehatan manusia dan lingkungan sekitarnya yang berakhir pada rusaknya lingkungan dan punahnya manusia pada selang usia atau periode tertentu. Maka apa arti hadirnya sebuah lab dengan akreditasi yang diakui di tingkat nasional maupun internasional tetapi membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup sekitarnya? Beberapa perusahaan tambang emas telah menghentikan sejenak kegiatan mereka untuk mempertimbangkan apakah biaya yang dikeluarkan – untuk pemulihan lingkungan, mempertahankan keuntungan atau reputasi mereka – setimpal untuk melanjutkan menambang emas. Tambang emas menghasilkan lebih banyak  limbah per ounce dibandingkan logam lain.  Selain itu, hanya sedikit manfaat emas yang berhubungan dengan industri.
BHP Billiton, perusahaan tambang terbesar di dunia yang berbasis di Australia, menjual tambang Ok Tedi yang menguntungkan di Papua Nugini pada tahun 2001 setelah menghancurkan kawasan hutan tropis seluas lebih dari 2.400 acre atau sekitar 972 hektare. Setelah pergi perusahaan itu mengatakan, tambang tersebut “tidak cocok dengan nilai-nilai kami tentang lingkungan.”
Setelah mengalami pelajaran berat, perusahaan lain, seperti Newmont Mining, produsen emas terbesar sedunia, mengeluarkan banyak uang untuk membangun sekolah dan perumahan. Mereka berupaya keras mengikis masalah-masalah sosial di sekitar kawasan pertambangan. “Saya pikir tidak ada anggota kami mau dikaitkan dengan praktik yg buruk – terlebih reputasi semacam itu dapat menghalangi upaya mereka untuk membuka tambang baru,” ujar Carol L. Raulston, juru bicara Asosiasi Pertambangan Nasional (National Mining Association).
Tabel dibawah ini menunjukkan kandungan logam dari ketigabelas hasil bumi yang dianalisis pada bulan Februari 2006 di Areal Tailing PTFI di Timika. Semua produk pertanian yang ditanam pada lahan tailing adalah dibawah Standar yang ditentukan oleh Pemerintah Indonesia dalam hal kandungan logam menurut laporan intern PTFI yang ditulisnya. Kedua Tabel dibawah ini menunjukkan kandungan logam dari ketigabelas hasil bumi yang dianalisis pada bulan Pebruari 2006. Semua produk pertanian yang ditanam pada lahan tailing adalah dibawah standar yang ditentukan oleh Pemerintah Indonesia dalam hal kandungan logam. Kualitas Laboratorium yang  baik, yang telah memenuhi akreditasi belum tentu juga menghasilkan hasil yang baik.  Masih ada saja tanaman yang terkontaminasi belum diidentifikasi, hasil yang didapat dikatakan baik tetapi nyatanya kandungan logam terhadap lingkungan dan biota sekitarnya semakin tinggi, atau lab pengujian penangkaran kupu-kupu belum bisa mengetahui alasan utama mengapa 20 jenis kupu-kupu yang ditangkarkan  tidak bisa bereproduksi normal? (atau malah kini menurun?).
Berkaitan dengan adanya kontaminasi logam kedalam beberapa jenis tanaman di areal tailing yang dikelolah langsung oleh Departemen Lingkungan Hidup PT Freeport Indonesia, maka melalui Lab Lingkungan Timika sebagai sebuah laboratorium pengujian yang berada di Timika, Papua, mengambil langkah. Kenapa sampai sisa logam emas, tembaga dan sisa penambangan seperti Se, Pb, Al, Zn, Mn, Cd, Cr, Fe, Ni,  itu berpotensi meningkat dalam tanaman di areal tailing dan sekitarnya?  Tidak hanya Langkah pertama untuk mempertahankan Sertifikasi Akreditasi Laboratorium Lingkungan hidup. Lab lingkungan yang dibangun pada tahun 1993 dan mulai beroperasi pada bulan Januari 1994 adalah salah satu komitmen PT Freeport Indonesia (PTFI) terhadap proses berkelanjutan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan termasuk kontaminasi logam ke lingkungan sekitar yang membahayakan bagi rantai makanan tentunya, jelas Prof. Dr. Sumardi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan anggota asesor Dra. Susy Lathiani, Apt., M.Sc., dari Kantor Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). “Untuk itu harapan kedepan semoga Lab Lingkungan Timika ini dapat  memberikan layanan jasa analitik yang independen, teliti, serta didasari oleh kebenaran ilmiah untuk semua hasil pengukuran dengan waktu dan biaya yang efektif serta dengan mutu yang terjamin,” jelas Sumardi.
Reasesemen yang diketuai oleh Prof. Dr. Sumardi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan anggota asesor Dra. Susy Lathiani, Apt., M.Sc., dari Kantor Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Hasil dari kunjungan akreditasi ini berupa rekomendasi dari tim asesor kepada KAN untuk memperpanjang sertifikat akreditasi dengan ketentuan bahwa ketidaksesuaian dengan standar ISO 17025 dapat diselesaikan dalam batas waktu tertentu. “Dengan mempertahankan sertifikat akreditasi ini maka Lab Lingkungan Timika telah menjaga pengakuan nasional maupun internasional sesuai dengan persyaratan yang dikeluarkan oleh The International Organization for Standardization and The International Electrotechnical Commission ISO/IEC 17025 dan tetap berhak untuk menggunakan logo KAN dalam laporan hasil ujinya sesuai dengan lingkup pengujian yang terakreditasi. Terakreditasinya Labolatorium Lingkungan Timika juga berarti bahwa data hasil uji yang dikeluarkan oleh PTFI memiliki mutu sesuai persyaratan ISO 17025,” harap Sumardi. Akreditasi Lab diperpanjang sebagai standarisasi nasional, Komite Akreditasi Nasional (KAN) terhadap Laboratorium Lingkungan Timika pada bulan Agustus 2007 melakukan audit terhadap organisasi, personalia, sistem jaminan mutu, peralatan pengujian dan pengukuran, metode uji, program pelatihan, kondisi lab, rekaman pengujian, laporan dan lain-lain. Departemen Lingkungan Hidup PT Freeport Indonesia dapatkah memberi jaminan keselamatan kesehatan lingkungan dan manusia? Apakah Freeport dengan mempertahankan akreditasi maka masalah kesehatan lingkungan dan manusia akan terjamin?
Logam berat tertentu sebagai bahan radioaktif akan memancarkan radiasi. baik radiasi langsung maupun tidak langsung, akan mempengaruhi fungsi organ tubuh melalui sel-sel pembentukannya. Organ-organ tubuh yang sensitif akan terganggu dan menjadi rusak. Sel-sel tubuh bila tercemar radioaktif. Terjadinya ionisasi akibat radiasi dapat merusak hubungan antara atom dengan molekul-molekul sel kehidupan, juga dapat mengubah kondisi atom itu sendiri, mengubah fungsi asli sel atau bahkan dapat membunuhnya. Pada prinsipnya, ada tiga akibat radiasi yang dapat berpengaruh pada sel. Pertama, sel akan mati. Kedua, terjadi penggandaan sel, pada akhirnya dapat menimbulkan kanker, dan ketiga, kerusakan dapat timbul pada sel telur atau testis, yang akan memulai proses bayi-bayi cacat. Selain itu, juga menimbulkan luka bakar dan peningkatan jumlah penderita kanker (thyroid dan cardiovascular) sebanyak 30-50% di Ukrania, radang pernapasan, dan terhambatnya saluran pernapasan, juga masalah psikologi dan stres yang diakibatkan dari bahaya radiasi. Kalau masalah akreditasi hanya menjadi usaha hitam di atas putih, sementara bahaya kesehatan manusia dan lingkungan sekitarnya makin terancam maka perlu ada tindak lanjut. (Willem Bobi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *