Masyarakat Harap Pertumbuhan Ekonomi, Yang Datang Malah Muntaber

Image

Masyarakat yang mengharapkan pembangunan bisa terlaksana di Dogiyai (Foto : Willem Bobi)

JUBI — Sebelum pertengahan tahun 1990-an, masyarakat pribumi sebagian besar tidak mengenal jalan raya, mobil, warung makan, toko, kapal laut, minuman keras (miras) dan tidak mengenal Pekerja Seks Komersial (PSK) dan istilah lainnya.

Namun perubahan sosial secara fisik mulai nampak sekitar awal tahun 1996 dimana alat berat Bulldozzer merintis   jalan trans Papua, tepatnya Komakago-Eduduwata di Epeida yang kini akan menjadi Pusat Pemerintahan Kabupaten Dogiyai. Sejak tahun 1996, banyak orang tua dan muda mengenal perjalanan menuju arah jalan trans dengan tujuan dan maksud yang berbeda hingga Bomomani, Ugida, Diyaikunu mengikuti arah jalan trans yang sudah dibangun diatas tanah, kadang berbatu kerikil dan jarang ada pasir kecuali di Gunung Pasir. Tujuan perjalanan masyarakat yang nampaknya ingin tahu apa yang datang dengan jalan trans ini pun berbeda. Ada yang bertujuan untuk mengangkat barang milik para pedagang Bugis, Toraja, dan pedagang Jawa sedikit yang membuka kios (tempat jual barang dagangan) di Bomomani (Ibu kota Mapia waktu itu), atau di Moanemani (Ibu kota Kamuu). Selain itu, tujuan perjalanan masyarakat mengikuti arah jalan trans adalah ingin tahu apa yang datang karena jalan trans adalah hal yang baru dan belum pernah dilihat sebelumnya sehingga masyarakat melakukan perjalanan menuju ke Nabire lewat jalan darat entah, menggunakan Truk milik Perusahaan Modern Group, atau milik pedagang atau Mini Bus yang dikomersialkan waktu itu. Jika numpang di Truk kebanyakan tidak membayar, tetapi jika transportasi ,menggunakan minibus maka dikenakan biaya transportasi sebesar Rp. 200.000 per kepala. adapula yang melakukan perjalanan Moanemani-Nabire untuk berdagang atau kepentingan bisnis. Pada dasarnya orang Mee ingin berubah dalam kehidupan ekonomi melalui pertumbuhan ekonomi pribadi dan keluarganya, namun kebanyakan terbengkalai karena faktor modal seperti alat-alat berkebun (sekop, parang, pacul), kendala tempat seperti kandang bagi yang ingin beternak ayam, bebek atau babi. Pada dasarnya terbengkalai modal berupa dana/uang serta kemampuan manajemen usaha yang baik. Kawasan pedesaan yang mempunyai kegiatan pertanian termasuk pengelolahan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman, pedesaan, pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi sesuai UU RI No.32 tahun 2004 belum jelas di Dogiyai.
Begitu masyarakat mengenal perubahan yang terjadi di Kamuu-Mapia jelang 10 tahun trans Papua masuk di daerah Mapia-Kamuu, maka masyarakat lokal (Mee) kelas bawah tidak semua yakin bahwa pembentukan Kabupaten Dogiyai akan membawa kesejahteraan bagi penduduk lokal. Sebagian masyarakat malah khawatir, jangan-jangan pembentukan Kabupaten Dogiyai akan menghancurkan semua sendi-sendi kehidupan orang Mee yang telah terbentuk sejak agama dan gereja masuk di tanah Kamuu-Mapia. Kekhawatiran lain bahwa nasib Dogiyai akan sama dengan pembentukan 14 kabupaten/kota di Papua pada 2002.
Apakah kehadiran Kabupaten Dogiyai akan membawa perubahan bagi orang Mee dari sisi pertumbuhan ekonomi yang baik? Pemda Nabire melalui dinas-dinas dan instansi terkait telah menyiapkan beberapa tenaga relokasi yang akan dimutasikan di Kabupaten Dogiyai. Anehnya, rata-rata tenaga PNS yang akan dimutasikan tersebut adalah tenaga nonproduktif di Kabupaten Nabire. Melalui  Survei Sosial Ekonomi Nasional 2006 menunjukkan, dari 121.331 penduduk Nabire yang berusia 10 tahun ke atas, lebih dari 30 persen (39.069 jiwa) belum pernah mengenyam bangku sekolah. Hingga tahun 2006, angka partisipasi murni SD, SMP, dan SMA masing-masing 75,09 persen, 45,78 persen, dan 35,73 persen. Sepertiga penduduk (36,76 persen) bahkan masih buta huruf. Keterbatasan sumber daya manusia memang merupakan masalah besar yang menghalangi penduduk lokal memanfaatkan berbagai peluang yang tercipta diawal Kabupaten Dogiyai terbentuk.
Tantangan besar bagi Dogiyai adalah bagaimana memastikan rakyatnya menikmati pertumbuhan ekonomi yang tercipta akibat pemekaran. Jika tidak, rakyat Dogiyai hanya akan menjadi penonton hiruk-pikuk kota Kigamani yang rencananya akan dibangun dari Samping Polsek Moanemani hingga Komakagodimi di Epeida. Rintihan tangisan karena tidak bekerja tetapi hidup hanya menghandalkan berjalan dan memintah-mintah serta mengharapkan belas kasihan dari tangan-tangan pejabat mulai nampak di Dogiyai. Sebagaimana yang terjadi di banyak ibu kota kabupaten/kota di Papua yang dibentuk pada tahun 2002. Apalagi pemerintah kabupaten baru cenderung berkonsentrasi membangun perkantoran di ibu kotanya, sehingga Edoway pun ragu masyarakat pedalaman bisa menikmati hasil pemekaran.  “Nabire tidak butuh pemekaran, tetapi perbaikan kebijakan dan pemerataan pembangunan di pedalaman,” kata Edoway.
Namun, pendapat itu dibantah Wakil Ketua DPRD Nabire, Penias Pigai. “Yang tahu aspirasi rakyat adalah DPRD. Kami berulangkali menerima aspirasi menuntut pembentukan Kabupaten Dogiyai,” tuturnya. Apa pun kepentingan yang melatarbelakangi aspirasi pemekaran, tanggungjawab Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten Nabire adalah memastikan bagaimana pemekaran itu membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya. Jika hanya memacu datangnya pedagang, kontraktor, dan elite politik Nabire ke Kigamani, pemekaran hanya menjadi bibit masalah baru di Papua.
Dunia tahu bahwa sekitar 500 jiwa manusia di Dogiyai baru saja kena wabah penyakit semacam muntaber (semacam jenis kolera). Sementara 300-an lainnya meninggal akibat penyakit mematikan manusia secara tiba-tiba mulai dari Ekemanida, Idakotu, Dogimani, Denemani, Makidimi (Apagougi), Dikiyouw (Mauwa), Kimupugi, Duntek, Bukapa, Idakebo, pugatadi I, Goodide, Ekimani/Nuwa dan Boduda. Pemerintah telah ceroboh dalam menjaga keamanan makanan serta lemah dalam melakukan sistim pengawasan dan pemantauan kesehatan masyarakat.
Keamanan makanan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu merugikan dan membahayakan kesehatan manusia (Balai POM RI, 2003). Selain itu keamanan makanan juga dimaksudkan untuk menjamin persediaan makanan yang bebas dari pencemaran bahan-bahan kimia berbahaya dan cemaran mikroba yang dapat menganggu,merugikan dan membahayakan kesehatan manusia atau mengganggu keyakinan seseorang atau masyarakat (Dep. Kes. RI.1997).
Terbukti tidak adanya Pengawasan dan pemantauan terhadap kesehatan masyarakat dalam bentuk program  kesehatan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. “Pemekaran bukan solusi untuk menjawab masalah kemiskinan di Nabire. Pemekaran hanya akan meningkatkan arus imigran menuju daerah pemekaran. Pertumbuhan ekonomi acapkali diikuti peredaran minuman keras dan prostitusi sehingga memperparah epidemi HIV/AIDS,” kata anggota Dewan Adat Nabire Ruben Edoway. Edoway khawatir, pembentukan Kabupaten Dogiyai justru menjadi bencana bagi masyarakat lokal Mee Kamuu-Mapia di masa mendatang.
Kini Dogiyai sekarang berbeda dengan wilayah Dogiyai sebelumnya. waktu itu Dogiyai belum ada nama, tetapi hanya terdiri dari 2 kecamatan yaitu Kecamatan Kamuu (Moanemani) dan Kecamatan Mapia. Manusia Mee hidup di wilayah masing-masing entah di Kamuu atau di Mapia. Masyarakat mengantungkan hidup pada hasil kerja di kebun entah di lembah atau di pinggiran bukit. Serta meminum air dari air gunung langsung yang kini menjadi alasan Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire atas wabah yang terjadi di Dogiyai bahwa kurang adanya kesadaran masyarakat akan faktor kesehatan lingkungan. Jalan setapak kecamatan serta lokasi perumahan rakyat dan pemerintah bersih dan lingkungannya aman, jarang terjadi gangguan kamtibmas, kebanyakan anak mengenyam pendidikan, para orang rajin kerja dan hampir semua warga tidak mengenal budaya yang merusakkan hampir manusia Papua. Budaya proposal, budaya makan-minum di warung, budaya hitung angka (Togel) dan lainnya. Selamat datang membawa segala macam yang warga Dogiyai tidak mengharapkanmu. Terakhir beberapa bulan sebelum pelantikkan Bupati Karateker, sejak April 2008 masyarakat diserang oleh wabah penyakit yang disebabkan oleh sejenis atau identik dengan kolera sebagai potret wajah sosial diawal mekarnya Dogiyai. (Willem Bobi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *