Jelang Satu Abad Kota Jayapura II

Pemerintah Kurang Berpihak Kepada Penduduk Asli

Dalam JUBI Edisi sebelumnya  telah dikisahkan perkembangan kampung Waena. Namun demikian, masih ada kisah menarik tentang asal suku Waena.

Asal Suku Waena
Nama Waena  berasal dari dua suku kata yaitu Wa dan Ena, Wa artinya Suku dan Ena artinya Timur, berarti orang suku Waena ini berasal dari suku timur, di mana nenek moyang mereka berasal dari suku Timur (Papua New Guinea). Demikian diungkapkan Tokoh Adat Kampung Waena Ramses Ohee kepada JUBI di kediamannya di Kampung Waena, pekan lalu. 
Ramses mengatakan, Waena merupakan salah-satu suku yang ada di persekutuan masyarakat Sentani Timur yang tumbuh menjadi salah-satu kampung yang sama kedudukannya dengan masyarakat adat lainnya, dimana didalam struktur adat dipimpin oleh kepala adat (ondoafi), kepala-kepala suku, anak sulung dan masyarakat.
Suku Waena sejak awal tinggal di Asey Pulau, kemudian dipindahkan karena saat itu ada masalah adat, di mana dua pimpinan adat bertikai dalam suatu permasalahan. Akhirnya suku Waena saat itu melalui kesepakatan antar kepala-kepala suku di Asey Pulau lewat almarhum Abner Porew Modow, pada tanggal 30 Maret 1955 berpindah ke dataran ini bersama suku lainnya seperti Ohee, Modow, Hendambo, Yepese, Kambu dan Dasim.
“Suku-suku ini  kemudian hidup membentuk dan membangun kampung Waena ini.
Sampai saat ini kampung Waena telah memasuki usia yang ke-54 yang diperingati setiap 30 Maret,” tutur Ramses semangat.
Ramses berharap pembangunan yang dilakukan di kampung Waena mulai dari  pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, gorong-gorong dan lain-lain perlu memperhatikan aspek lingkungan hidup. “Pembangunan mesti selaras dengan pengelolaan lingkungan hidup sehingga tak menimbulkan bencana alam,” kata Ramses memperingati. 
Pada peringatan ke-54 ini, tambah Ramses,  akan diadakan  pameran pembagunan, harta-harta pusaka, dan gambaran kehidupan  kampung Waena  serta profil-profil yang dikemas dalam selayang pandang kampung Waena dan  diluncurkan pada tahun  2009 mendatang.
“Penghuni kampung Waena ini heterogen. Masyarakat Sabang sampai Merauke ada disini. Mereka semua punya andil dalam membangun kampung Waena,” puji Ramses.    Ramses juga mengakui, pertumbuhan penduduk khususnya penduduk asli kampung Waena ini berjalan lambat disebabkan pelbagai faktor, seperti minimnya ekonomi keluarga, pembatasan kelahiran sesuai program KB dan lain-lain.
Jumlah penduduk asli kampung Waena saat ini mencapai kurang lebih 112 kepala keluarga yang mendiami lokasi-lokasi mulai dari Jalan SPG, menuju Pemakaman Waena hingga kelurahan Yabansai.
Mata pencaharian masyarakat kampung Waena ini cukup bervariasi, menurut  Ramses, sekitar 50 persen masyarakat asli kampung Waena bekerja sebagai  Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sementara sisanya bekerja di bidang swasta. Masyarakat yang bergerak di bidang swasta ini pada umumnya mengarungi hidupnya dari berkebun, mencari ikan di seputar Danau Sentani dan  usaha jasa lainnya.
Walaupun program-program  yang digulirkan pemerintah untuk membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat kampung Waena, seperti Dana Otsus, Dana Respek, Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan lain-lain. Tapi bantuan-bantuan tersebut belum mampu meningkatkan pendapat masyarakat.  “Masyarakat  selalu mengeluh kesulitan ekonomi. Saya tra tahu kenapa demikian,” tanya Ramses.
Menurut Ramses, salah-satu kendala yang masih dihadapi masyarakat di kampung Waena adalah rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. “Banyak anak yang putus sekolah disebabkan ketidakmampuan masyarakat untuk biaya pendidikan,” tukas Ramses seraya mengatakan, masa depan generasi muda terabaikan.

Kesenjangan Ekonomi
Kepala Kelurahan Waena Yohanis Ohe,SE kepada JUBI menuturkan, menjelang 1 Abad kota Jayapura ini, maka diharapkan masyarakat untuk saling mendukung dalam mengisi pembangunan di segala bidang kehidupan. 
“Masyarakat  bisa hidup mandiri, bukan hidup bergantungan dengan orang lain. Selama ini banyak masyarakat yang kurang produktif sehingga hanya mengandalkan pemerintah,” kata Yohanis. “Sebaiknya  dengan adanya bantuan dana-dana  tersebut betul-betul dapat dikelola dan  dimanfaatkan masyarakat sehingga keluarga-keluarga ini bisa produktif untuk mengangkat kwalitas hidupnya,” imbuh Yohanis penuh harap. 
“Sekarang  ini timbul kesenjangan ekonomi masyarakat. Masyarakat yang ingin maju    makin berusaha dan yang malas makin tertinggal,” ujar Yohanis.
Yohanis melanjutkan, dengan adanya bantuan-bantuan dari pemerintah, seyogyanyalah, dapat memberikan perubahan bagi masyarakat. Tinggal bagaimana masyarakat mengelola bantuan tersebut untuk kegiatan usahanya. 
“Walaupun ada masyarakat yang belum mendapat bantuan dana dari pemerintah. Tapi diharapkan untuk penerimaan tahap berikutnya diprioritaskan bagi masyarakat yang belum memperolehnya. Sudah cukup banyak masyarakat mulai menapaki usaha yang bagus dengan memanfaatkan dana bantuan ini,” jelas Yohanis.
Dikatakan Yohanis, untuk lokasi pertanian di kampung Waena cukup sulit lantaran banyak tanah yang dimanfaatkan untuk pembangunan lokasi pemukiman. Namun demikian, potensi Danau Sentani sangat menjanjikan. Perlu dikelola dengan baik sehingga dapat menghasilkan ikan. Apalagi tingkat kebutuhan konsumen ikan sangat tinggi.
Menurut Yohanis, melalui Dana Respek, maka masyarakat nelayan bisa membeli jaring, perahu, membuat keramba dan lain-lain. Upaya ini sangat membantu masyarakat dalam memperbaiki taraf hidupnya,
Sementara itu, Kepala Kampung Waena, Hengky Modow  kepada JUBI mengatakan kampung Waena merupakan kampung pemekaran dari Kelurahan Waena yang dibentuk pada tahun 2007, padahal Dana Respek bagi masyarakat di kampung Waena baru masuk  tahun 2007. Sehingga sebagian besar masyarakat belum memperolehnya. Namun ada juga warga yang telah mendapatkan dana tersebut saat belum adanya pemekaran kelurahan.
Karenanya, kata Modow, masyarakat mengharapkan bantuan dan perhatian pemerintah khususnya menyangkut hajad hidup orang banyak, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, pengembangan ekonomi dan lain-lain.
Pada tahun 2008 ini masyarakat kampung Waena mendapat bantuan Dana Respek walaupun sampai saat ini belum dicairkan. Rencananya, jika dana tersebut dicairkan, maka  dapat dimanfaatkan untuk pengembangan masyarakat yang meliputi ekonomi, pendidikan, kesehatan dan perbaikan infrasutruktur, terutama jalan di dalam kampung Waena. “Ini merupakan kendala bagi kami dalam melaksanakan pembangunan di kampung Waena,” imbuh Modow.
Untuk bidang pengembangan masyarakat (social development) khususnya di sektor  pertanian, pemerintah telah memberikan bantuan permodalan. Namun demikian, masyarakat  perlu membekali dirinya dengan pelbagai ketrampilan agar mereka mampu mengembangkan usahanya.
“Masyarakat memiliki ketrampilan untuk pengembangan usaha jasa. Sehingga kalau sudah dapat bantuan modal dari pemerintah, maka segera lakukan usaha-usaha jasa seperti jual pinang, usaha kaki lima dan lain-lain,” kata Modow. “Bantuan modal ini hanya bersifat rangsangan. Jadi bila tak ada lagi bantuan modal dari pemerintah, masyarakat sudah memiliki modal usaha sendiri,” ujar Modow.   
Memasuki usia Satu Abad berarti masyarakat juga harus hidup mandiri dan  meningkatkan pendapatnya untuk memenuhi kebutuhan rutinya seperti pendidikan, kesehatan, perumahan dan lain-lain.
“Masyarakat tak perlu ragu-ragu dalam berusaha karena pemerintah dan masyarakat Waena mendukungnya,” tukas Modow seraya menegaskan, masyarakat harus pintar dalam melihat situasi dan usaha apa yang perlu dikembangkan demi kemajuan dan  kemandirian masyarakat. (Dominggus A. Mampioper/Yunus Paelo)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *