Gereja dan Perubahaan Menuju Papua Baru

 

JUBI – Sejak pertama kali Ottow dan Geisler menginjakan kaki di tanah Papua hingga kini perubahan menuju Papua Baru berjalan lamban dan banyak hambatan. Hambatan datangnya dari dalam mau pun dari luar. Namun itu bukan berarti menghambat pelayanan bagi umatnya baik di pedalaman dan perkotaan.

Bahkan nyanyian nyanyian gerejani dalam bahasa daerah suku baik umat Katolik mau pun Kristen Protestan  menggantikan roti dan anggur dengan makanan pokok. Misalnya dilakukan dalam perjamuan kudus dengan memakai air putih sebagai anggur dan petatas pengganti roti. Anak anak sekolah minggu dalam kegiatan camping di Gereja GKI Kanaan Perumnas IV memakan rebusan daun papaya sebagai ganti roti dalam perjamuan anak anak bible camp. Semua ini merupakan cara untuk mendekatkan pelayanan gereja dengan umatnya.

Begitu pula Gereja Katholik Waena memakai ornament ornament ukiran dan motif khas Sentani seperti ikan dan symbol symbol kudus lainnya. Suku Amungme di Gereja Katedral Tiga Raja  di Timika mengikuti perayaan Ekaristy dengan menggunakan bahasa Amungme dan membawa persembahan persembahan memakai atribut adat setempat. Bahkan pastor dalam khotbahnya memakai bahasa suku Amungme.

Namun dibalik penggunaan atribut atribut dan symbol kebudayaan sebenarnya ada terdapat beberapa tantangan yang diperlukan terutama mengisi kekosongan jiwa. Dr Benny Giay dalam penuturannya beberapa waktu lalu di Jayapura menuturkan bahwa jauh sebelumnya masuknya para missionaries dan pemerintah sebenarnya masyarakat adat Papua sudah hidup dengan budaya dan kepercayaannya. Hal ini bisa terlihat dari gerakan gerakan messianic di tanah Papua khususnya di wilayah kebudayaan Melanesia.

Dr Myron Bromley seorang missionaries dalam laporannya kepada Dr Jan Victor de Bruijn pada 8 Juni 1958 pada Bevolkenzaaken di Hollandia (sekarang Kota Jayapura) mengungkapkan jika perang suku di pedalaman tanah Papua hendak ditekan dan dihentikan, apabila ini tujuan dari pemerintah Nederlands Nieuw Guinea, maka hal ini akan berarti hati orang orang Dani akan berdentang semakin keras, karena dihancurkannya kebudayaan mereka. “Dan saya yakin bahwa Injil harus mengisi kekosongan jiwa ini atau sebaliknya masyarakat akan kehilangan sama sekali,”ujar Myron Bromley dalam laporan tersebut.

Menyimak penegasan Myron Bromley sebenarnya upaya menghilangkan perang suku di wilayah pedalaman Papua sudah sejak masuknya para missionaries hingga pemerintah Belanda pun ikut terlibat menghentikan makna dibalik tujuan utama perang suku tersebut. Namun yang perlu dilihat adalah upaya perubahan itu dijalankan tanpa merobah jati diri dan meninggalkan nilai nilai luhur yang terkandung di dalam budaya masyarakat Papua. Apalagi nilai nilai filosofi kebudayaan sebenarnya merupakan anugerah dan penciptaan dari Allah. Masyarakat Biak Numfor percaya akan Manseren Manggundi akan datang dengan membawa kekayaan dan perubahaan baru bagi mereka. Begitu pula masyarakat Dani percaya bahwa akan seorang yang bisu datang membawa ipere dan wam untuk kebahagiaan. Karena itu perang sangat diperlukan agar darah yang tertumpah dapat membasahi tanah kelahiran yang memberikan kesuburan dan bertambahnya jumlah hasil ternak mereka.

Masuknya Injil di tanah Papua pada 5 Februari 1855 merupakan titik balik atau starting point bagi masyarakat Papua untuk berbalik dari warisan budaya nenek moyang kepada kepercayaan baru. Kepercayaan baru yang diwartakan oleh Ottow dan Geissler  kepada  masyarakat adat di Teluk Doreri bukanlah suatu pekerjaan mudah dan gampang. Tapi membutuhkan waktu bertahun tahun untuk membaptiskan mereka menjadi umat Kristen. Bahkan mereka yang dibaptis justru para budak yang ditangkap oleh masyarakat Teluk Doreri. Ottow dan Geissler membutuhkan sepuluh tahun guna membaptiskan umat di Teluk Doreri.

Lalu sejauhmanakah model model pengembangan gereja menuju inculturasi di Papua? Misalnya yang selama ini dipraktekan dalam mengantar persembahan ke meja altar berupa bahan bahan makanan tradisional seperti sagu, petatas, umbi umbian, buah buahan khas Papua. Bukan itu saja tetapi dalam melantunkan lagu lagu pujian juga menyanyikan lagu daerah dan musik musik daerah. Misalnya di Gereja Kristen Kuala Kencana, Timika khususnya pada hari hari besar kristiani seperti Natal, Paskah dan sebagainya melantunkan lagu dan musik etnis Papua. Jadi gereja yang ingin menuju ke inculturasi adalah gereja ingin mendekatkan diri dengan umatnya melalui kekayaaan budaya yang juga merupakan anugerah yang diberikan Tuhan Maha Pencipta kepada masing masing suku dan etnis.

Sementara itu mantan Ketua Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua Pdt Herman Saud mengatakan GKI di tanah Papua yang sudah berusia 52 tahun (1956-2008) seharusnya jangan melihat satu aspek saja melainkan secara menyeluruh dalam membawa masyarakat Papua menuju Papua Baru.

Memperingati HUT GKI bukan berarti lebih menonjolkan acara ceremonial saja tetapi lebih menghayati makna dibalik hari jadi yang ke 52. Seberapa jauh terjadi perubahan manusia Papua dari dunia yang dianggap dunia kafir kepada dunia baru sesuai visi bahwa, Memang dahulu kamu gelap dan sekarang menjadi anak anak terang.

Lebih lanjut ditegaskan GKI harus kuat secara financial dan masih berharap kepada belas kasihan pemerintah tetapi harus mandiri dengan umatnya. Selanjutnya masalah pelayanan para pendeta masih terpusat di daerah perkotaan tetapi belum banyak yang melayani di daerah pedalaman terpencil. Ini memang tantangan dan gereja sendiri belum mandiri, tetapi sesuai dengan tugas dan panggilan maka pelayanan di daerah pedalaman terpencil harus dilaksanakan.

Gereja juga diharapkan mampu meningkatkan aspek lain termasuk pelayanan kesehatan, kehidupan social masyarakat, ekonomi dan social budaya . Pasalnya selama ini tampaknya belum dilakukan secara maksimal dan masih memperhatikan aspek pendidikan semata. Tampaknya perayaan hari jadi ke 52 GKI ini jangan hanya sebagai symbol dan jangan menyampaikan khotbah di gereja yang indah tetapi sesuai dengan konteks kekinian dan kehidupan masyarakat di tanah Papua.

Meskipun kata Herman Saud tugas gereja yang utama adalah menyebarkan Injil kebenaran Firman Tuhan sebagai tugas utama. Namun di sisi lain dapat menguatkan masyarakat Papua dalam menghadapi tantangan dan perubahan global. Apalagi saat ini banyak sekali tantangan bagi gereja dalam mengisi semangat umatnya  menghadapi berbagai benturan baik ekonomi, budaya dan sosial. Perubahan perubahan social menuju Papua baru yang diidam-idamkan perlu tindakan nyata agar mampu menciptakan tanah Papua sebagai tanah damai. Diharapkan tanah Papua sebagai tanah damai akan menjadi tanah berkat bagi semua orang.

Selanjutnya ketidak tenangan dan kebimbangan masyarakat Papua  menghadapi situasi politik seringkali sangat kacau hingga mereka merasa tidak aman. Kondisi yang tidak nyama ini menurut Herman Saud pihak gereja harus tampil guna menciptakan rasa aman danberani menyampaikan aspirasi politik umat sesuai kebenaran. Point lainnya di bidang pendidikan justru tidak mengalami perubahan yang berarti kelihatannya seperti stagnan dan tidak ada perkembangan yang berarti.

Tantangan lain adalah bagaimana mewujudkan semua impian dalam mengembangkan etos kerja bagi umat dan spirit dalam melayani. Namun yang jelas situasi politik dan gugatan Pepera serta pelurusan sejarah masih terus menjadi bahan gugatan generasi muda untuk mencari kebenaran. Sebagaimana dilontarkan kebenaran bisa disalahkan tetapi kebenaran tidak pernah dibohongi.

Faktor dominan yang memicu orang Papua merasa bukan orang Indonesia pertama Nederlandsek Nieuw Guinea (Papua Barat) tidak termasuk dalam wilayah Hindia Belanda berdasarkan Deklarasi Batavua 7 Maret 1910. Banyak tokoh masyarakat di Papua tidak merasa terlibat dalam pergerakan kebangasaan Indonesia pada 1908 hingga Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.  Secara fisik Mohamad Hatta dalam pertemuan di Saigon membicarakan teritorial NKRI menjelang persiapan kemerdekaan RI.

KetikaJenderal Hasaichi Tarasi menyatakan ia akan menyerahkan kedaulatan Hindia Belanda saat itu dan mengajukan pertanyaan bagaimana dengan status tanah danmasyarakat Papua? Mohamad Hatta hanya menjawab bangsa Papua adalah Ras Negroid, rumpun Melanesia, maka biarlah bangsa Papua menentukan nasib dan masa depannya sendiri.(Daniel Dhakidae:2000:hal 93). Masyarakat Papua juga tidak ikut berperan dalam proses Proklamasi 17 Agustus 1945.  Sejak masuknya injil di tanah Papua pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam Teluk Doreri  Manokwari sebagai titik awal membangun manusia Papua. Pada saat itu belum ada pemerintahan termasuk pemeintah Nederlands Nieuw Guinea. Hanya para penginjil yang terorganisir dalam zending yang memukimkan manusia Papua dalam perkampungan, distrik dan selanjutnya menyerahkan ke dalam pemerintah jajahan Belanda sesuai hak hak dasar orang Papua.

Hingga kini masih terus terjadi pergumulan bathin antara kepercayaan tradisi dan kepercayaan sebagai umat Kristen mau pun Katolik. Meski sebelum hadirnya pihak missionaries, pedagang dan pemerintah masyarakat adat sudah memiliki kepercayaan tradisional dan nilai nilai luhur dari setiap suku. Bayangkan saja ada sekitar 250 an suku di tanah Papua, tentunya memiliki keanekaragaman karakter  termasuk kepercayaannya. Persoalannya ketika terjadi pergumulan dalam kehidupan masyarakat maka terjadi banyak pilihan akibat kekerasan dari generasi ke generasi. Tuntutan dialog berujung pada kebuntuan. Fenomena marjinalisasi dan diskriminasi terhadap orang Papua akan terus menjadi tantangan dan hambatan. (Musa Abubar/Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *