Menggalang Kebersamaan Untuk Mempertahankan Keberlangsungan Kegiatan FDS Di Kemudian Hari

Image

Salah satu atraksi dalam Event Festival Danau Sentani I (Foto : Anang Budiono)

Oleh : Andre Liem (*)

JUBI—Pastilah kita semua punya beban bagaimana memberi solusi terbaik dengan memberi kontribusi bersama agar kelanjutan dari Festival Danau Sentani (FDS) yang ke-2, ke-3 atau seterusnya dapat memberi manfaat, baik kepada dunia kepariwisataan di Kabupaten Jayapura khususnya dan menjadi kebangkitan kepariwisataan di Provinsi Papua sekaligus Provinsi Papua Barat umumnya.

Karena FDS akan dilaksanakan setiap tahun maka pencanangan kegiatan ini bukanlah tanggung jawab Pemkab semata tetapi adalah semua komponen  terkait dengan segala aspek latar belakang berbeda tetapi tujuannya satu, yang  terus digalang oleh pemerintah secara lebih proaktif.  Mendasari ha-hal ini, maka kami coba kategorikan dalam 3 langkah kerja, dimana langkah-langkah  itu akan selalu berkaitan.

a.    Langkah pertama, penentuan waktu kegiatan festival adalah sangat penting, karena perlu digalang persamaan persepsi bagi musim kedatangan tamu. Karena ketika FDS pertama sedang dipersiapkan kami dari industri pariwisata berkeinginan kalau FDS dilangsungkan setelah FBLB atau Festival Budaya Lembah Baliem yang digelar  pada setiap bulan Agustus, dimana  kali ini akan digelar tanggal 8-9 dan 11 Agustus 2008 di Muliama, Distrik Asologaima, kabupaten Jayawijaya.
Walaupun demikian pemerintah Kabupaten Jayapura yang empunya hajad ini dalam waktu dekat secara proaktif untuk mengadakan  tatap muka, bardialog untuk meminta pendapat lansung dengan ASITA, PATGOM atau pun HPI-Papua. Karena kami dapat merekayasa suatu paket wisata yang layak untuk memberi devisa dengan mendatangkan wisatawan mancanegara langsung ke Daerah Tujuan Wisata  (DTW).Perlu diketahui langkah pertama ini hanyalah melakukan keputusan penentuan waktu yang dianggap strategis dan bukan penentuan  tanggal kegiatan festival. Karena penentuan  tanggal tergantung sekali dengan kinerja langkah yang ke-2.

b.    Langkah ke-2, langkah ini adalah titik tolak landasan utama yang harus dimaksimalkan dengan melibatkan yang empunya budaya dan obyek wisata itu sendiri, dari 3 titik utama kekuatan otonom ke- Ondofolo -an yang ada di Danau Sentani  yaitu :Assey (Sentani Timur),Ajau (Sentani Tengah), danYonokhom (Sentani Barat) .
Langkah kegiatan ini adalah suatu keterlibtan dari para tokoh adat, tokoh masyarakat, seniman dari suku Sentani yang kami kategorikan sebagai Budayawan Tradisional, dan kalau bisa  yang akan bekerjasama dengan meminta peran dan kontribusi para Budayawan Intelektual seperti Antropologi Uncen serta pihak Dewan Kesenian Tanah Papua. Untuk bekerja keras, dengan meramu, menggali akar budaya dan melestarikan dalam suatu kegiatan event Festival agar makna dan magma yang ditampilkan adalah dari  jiwa spiritual yang mereka punya. Dan tujuan dari langkah ke-2 ini, adalah untuk menentukan bagaimana mengemaskan Agenda Acara Kegiatan Festival yang tepat dengan menampilkan keunikan yang lain dari pada lain sehingga FDS mempunyai ciri khas tersendiri.
Dan bila perlu langkah  yang dilakukan sebagai Konsolidasi Internal  di Danau Sentani oleh para Budayawan,  tak boleh di intervensi oleh kepentingan manapun,  tetapi sebatas mendampingi untuk melihat dari sudut pandang paket wisata. Karena memang segala proses penentuan agenda acara berlangsung kami dari pihak industri pariwisata sejak kegiatan langkah kedua ini berjalan, kami akan mencoba melengkapi data base dari obyek wisata yang ada terurtama disekitar danau, maupun adanya program perjalanan wisata di kawasan Kabupaten/Kota  Jayapura umumnya yang akan melengkapi program beberapa hari yang ditargetkan akan mejadi lebih bervariatif sehingga  “Sense of Feeling”  untuk dikemas dalam paket wisata akan memberi  kesan tersendiri sepanjang jalan kenangan. Dengan demikian akan menjadi target berapa devisa yang didapat terutama penerimaan pendapatan langsung yang diterima oleh masyarakat.
Tak dipungkiri pula keterlibtan langsung oleh pemerintah dalam hal ini Departemen Pariwisata Provinsi Papua yang bekerja sama dengan Departemen Seni dan budaya Kabupaten Jayapura untuk memaksimalkan suasana memasyarakatkan pariwisata  dan mempariwisatakan masyarakat, kalau boleh ada alternatif baru yang menggalang suatu kegiatan layaknya seperti “ Lomba Desa Wisata yang ada dalam kawasan Sentani Timur, Tengah dan Barat. Mudah-mudahan langkah ini dapat memicu kecintaan terhadap pariwisata dan lingkungan yang tidak terlepas dari kontribusi segala pihak seperti : Akademisi (AKPARIS 45 Jayapura, Uncen), Bapedalda, Departemen Kehutanan, Industri Pariwisata, Rohaniawan, Club Pencinta Alam Hirosi dan lain-lain. Nah, ketentuan target yang dilakukan dalam langkah ke-2 ini diberikan kesempatan kalau boleh pada kurun waktu 6 bulan pertama, sejak FDS di Kalkote berakhir.

c.    Kemudian yang terakhir adalah langkah ke.-3, dengan upaya menyelesaikan sisa 6 bulan terakhir sampai pada hari “H”. Setelah melihat konsolidasi internal berjalan baik dengan menetapkan agenda acara dilengkapi dengan Rancangan Paket Tour yang memadai, maka kepastian penentuan  “Tanggal” bisa ditetapkan segera. Dimana kegiatan 3 hari festival akan berada pada 3 hari terakhir setelah mengikuti Jejak petualangan dari Asmat, Boven Digoel, Lembah Baliem dan masuk di Jayapura ataupun kegiatan 3 hari festival akan menjadi awal dari suatu rancangan Program Paket Tour mulai dari  Jayapura, Biak, Manokwari, Fakfak sampai Raja Ampat. Dengan demikian Jayapura akan menjadi titik awal dan titik akhir dari semua pengembangan Daerah Tujuan Wisata, dimana kami pernah berbincang-bincang dengan Bapak Duta Besar Afrika Selatan bulan Mei lalu, beliau mengatakan bahwa Jayapura merupakan kembarannya Cape Town, di Afrika Selatan. Karena begitu kagumnya diharapkan apabila Jayapura bisa menjadi Sister City dengan Cape Town dikemudian hari.
Nah, dengan demikian kawasan pengembangan pariwisata terpadu di pantai Holtekamp, Jayapura yang masih bermasalah harus segera diselesaikan. Agar pencanangan “Kebangkitan Pariwisata” di Papua oleh Menteri Pariwisata Bpk. Jero Wacik pada hari pembukaan FDS di Kalkote dapat dibuktikan. Maka dengan adanya sisa 6 bulan terakhir ini, kiranya ada suatu agenda kerja yang mungkin dapat dapat dimaksimalkan  sebagai berikut :

1.    Promosi.
Kita baru saja mendeklarasikan PTB atau papua Tuorism Board, 28 Juni 2008. hasil perjalanan panjang yang dirumuskan pada waktu Konferensi Pariwisata Papua, November 2007 di Jayapura. Dan PTB akan melaksanakan tugas seefektif mungkin dan seefisien mungkin  sehngga dunia pariwisata di Papua bisa berajalan sebagaimana mestinya terutama dalam hal bagaimana mendatangkan devisa bagi daerah lewat promosi potensi wisata agar terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi obyek wisata serta menggalang kerjasama segala komponen terkait untuk menciptakan Daerah Tujuan Wisata baru di Papua.
2. Pelatihan
Fokus  perekrutan  SDM langsung di obyek-obyek wisata dengan kriteria sebagai tenaga awal dengan tugas sebagai interpreter yang menghubungkan kegiatan yang ada di lapangan agar mereka  terwakili sebagai bagian dari budaya dan obyek wisata mereka sendiri, yang  kami kategorikan sebagai KADER-KADER PARIWISATA, dengan demikian mereka akan mendampingi semua unsur yang terlibat sehingga segala program yang diterapkan di obyek wisata dapat berjalan masksimal khususnya dalam pemahaman pariwisata untuk mendatangkan suatu income dan pemahaman kelestarian lingkungan dan dampak sebagai tolak ukur persiapan suatu kunjungan wisata.
Dengan demikian para kader parawisata ini akan memberi andil yang sedetail mungkin dalam  hal informasi perkembangan disetiap lokasi obyek wisata yang paling terakhir sehingga apa yang di promosikan selalu yang real di lapangan.
Diharapkan pula para kader pariwisata ini akan menjadi cikal bakal terciptanya Pramuwisata yang handal dan kreatif, karena dengan demikian rasa memiliki yang mereka punya terhadap obyek wisatanya dapat dibarengi dengan rasa bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan keasrian alam yang ada disekitar obyek wisata dimana mereka tinggal karena mereka juga direkrut dari situ. Begitupun bila ada sinkronisasi program yang diturunkan dapat diimplementasikan dengan baik sehingga apa yang ingin dicapai dapat maksimal.
3. Persiapan infrastruktur, dll
Tergantung dengan apa yang dipersiapkan dalam pengembangan obyek wisata tersebut. Agar proses dari penggunaan sarana dan prasarana tersebut dapat selalu digunakan dan menjadi pendamping nilai tambah bagi perkembangan di sekitar lokasi obyek wisata tersebut agar yang telah diberikan dan dipakai jangan menjadi hal yang kadaluwarsa karena biasanya sarana prasarana yang dibangun bila tidak memandang segi ”Sense of feeling” dari keterlibatan dunia pariwisata akan menjadi hal yang semu tanpa memberi spirit atau nilai tambah apapun. Karena pariwisata bukan membangun bangunan bertingkat dan bila kadar semen yang dicampur tidak tepat lalu jika dilihat dari luar dengan hanya dioles dengan cat berwarna indah tetapi ternyata ketahanan didalam  bangunan itu tidak menjamin kekuatan secara konkrit. Jadi perlu diingat Pariwisata tidaklah seperti itu, karena baru saja terjadi pada Festival Danau Sentani yang pertama yang kami nilai masih prematur dimana seorang bayi,anak danau Sentani yang disuap dengan ”papeda panas” sehingga dia tersiksa untuk menelannya karena dibuai terus oleh ibunya dengan janji yang muluk-muluk dan manis-manis bahwa ada 2000 orang turis manca negara akan datang dari segala penjuru dunia. Padahal apa yang ditargetkan di media masa maupun disetiap pertemuan dan kunjungan untuk sekedar promosi, hasilnya adalah Nihil alias nol besar.
Akhirnya harapan kami, tulisan ini hanyalah sebatas sumbangsih akan kepedulian kami. Kiranya tidak memberi batas apapun karena ilmu pariwisata sebagai ilmu terapan dimana siapapun boleh memberi pendapat atau masukan sebatas koridor yang ada.  Maka apa yang selalu digariskan oleh Bapak Gubernur Barnabas Suebu dalam segi ; Service, Quality, dan Reliability dapat berjalan sebagaimana mestinya.

(*) Anggota PaTGom, Papua Tour Guides Community
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *