Wilhelmus Lagowan : Sarjana Yang Mengembangkan Usaha Ternak Babi

Image

Wilhelmus Lagowan dan ternak babinya (Foto : Yunus Paelo)

JUBI —Wilhelmus Lagowan, lelaki  berusia 49 tahun asal Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo. Meski dirinya menyandang gelar sarjana, tapi senantiasa  menekuni pekerjaannya memelihara babi. Lagowan memiliki obsesi suatu saat lulus testing Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS).

Dari kegiatannya memelihara babi Lagowan mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Kini, Lagowan mampu pula membangun rumah dan membeli sebidang tanah untuk mengembangkan kegiatan memelihara babi. “Saya ingin berwirausaha dengan memelihara babi yang telah saya kembangkan selama ini,” tukas Lagowan realistis.

Sejak melabuhkan dirinya di Jayapura 20 tahun silam—Wilhelmus Lagowan memiliki tekat untuk melanjutkan kuliahnya. Lagowan diterima sebagai mahasiswa   Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cendewasih  (Uncen). Sekolah tinggi tertua dan paling prestesius di Provinsi Papua.  Mahalnya biaya kuliah dan tingginya biaya hidup di Jayapura membuat ia berupaya keras untuk mencari kegiatan yang dapat menghasilkan uang untuk membantu biaya kuliahnya. Sebab, dalam benak  Lagowan  ia tak selamanya mengandalkan biaya dari orang tua maupun keluarga besarnya untuk membiayai kuliahnya. “Awal kuliah saya memang masih mendapatkan kiriman uang orang tua untuk biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari,” tutur Lagowan.     

Namun demikian, setelah menemukan solusi untuk memperoleh uang melalui usaha memelihara babi. Sejak itu pula ia mulai membiayai kuliahnya . Beruntung sejak tinggal di Distrik Kurima ia dan keluarganya telah terbiasa memelihara babi untuk kegiatan upacacara-upacara adat di kampungnya. Kreatifitas Lagowan sungguh diuji. Ia tanpa canggung mengawali usahanya untuk memelihara dua ekor babi dengan memanfaatkan lahan kosong dibelakang tempat tinggalnya selama kuliah di Uncen di Asrama Balim Yalimo di Abepura. “Saya melihat cukup  banyak sayur kangkung yang tumbuh subur di sekitar rawa maupun kolam ikan yang bisa dijadikan pakan babi,” kata Lagowan.

Lagowan mengisahkan, sebagaimana kebiasaan masyarakat di setiap perkampungan, maka keluarganya pun memiliki kebiasaan memelihara babi di bawah kolong honai  (rumah adat suku-suku di Papua). Bagi masyarakat disana babi digunakan untuk rituil adat maupun mas kawin (bawaan dari keluarga laki-laki saat melamar wanita).  Pemeliharaan babi disana kurang berkembang lantaran keterbatasan pakan.  “Kami pelihara babi untuk kegiatan upacara adat,” ujar Lagowan  seraya menambahkan, kami memberi daun keladi dan umbi-umbian untuk pakan babi. Tapi kadang-kadang tak mencukupi.  

Lagowan mengaku, selain pengalaman memelihara babi di kampung, dirinya sering melihat ketrampilan masyarakat memelihara babi. Maka itu, dari pengalaman inilah ia mulai mengembangkan usahanya dengan memelihara babi.  
“Awalnya saya memelihara dua anakan babi satu jantan dan satu betina,” ujar lagowan sambil menunjuk bekas kandang pertamanya.

Lagowan menimpali, saat itu ia berniat untuk menambah jumlah babi peliharaannya, tapi ia kesulitan mendapatkan pakan yang cukup sehingga ia urungkan niat itu. Apalagi kegiatan kuliahnya menuntut waktu yang lebih banyak.  
Menurut Lagowan, ia mesti membagi waktu antara kuliah dan memelihara babi. Kuliah membutuhkan biaya sedangkan memelihara babi membutuhkan waktu.  Karena itu, ia  hanya memelihara dua ekor babi. “Saya membagi waktu antara kuliah dan memelihara babi sehinga dua kegiatan ini dapat berjalan,” ujar Lagowan.  

Untuk memelihara babi, ungkap Lagowan, perlu disiapkan lokasi pemeliharaan dan pakan yang secukupnya. Apalagi ia tak memiliki lokasi yang representatif dan pakan yang cukup. Untuk memenuhi pakan babi, maka ia mencari sayur kangkung yang tumbuh di setiap rawa disekitar tempat tinggalnya.  

“Saat pulang kuliah kegiatan rutin saya adalah  mencari kangkung di pinggiran rawa untuk pakan babi,” kata Lagowan. “Lokasi-lokasi disini banyak dijumpai rawa  sehingga tumbuh sayur kangkung untuk pakan babi,” katanya sambil menunjuk salah satu kolam kangkung di belakang tempat tinggalnya.

Menurut Lagowan, selain pakan dari kangkung, maka ia juga mencari  makanan sisa di tempat-tempat sampah di sekitar pemukiman warga atau di sekitar rumah-rumah makan di Waena. Tak terasa babi yang ia pelihara mulai pertengahan semester tiga sudah beranak. “Kalau tra salah anak babi saya 5 atau 7 ekor” ujarnya sambil mengingat jumlah babi peliharaannya.

Lagowan menjelaskan, kesulitan utama yang sering ia hadapi adalah bila anak babi telah menginjak usia dua bulan, maka harus segera dipisahkan dari induknya. Keadaan ini tentu membutuhkan pakan yang banyak dan kandang yang lebih luas.  
Lagowan menuturkan, bila anakan babi telah berusia 2 sampai 3 bulan, maka ia bisa segera menjualnya. Uang dari hasil menjual babi ia pergunakan untuk membayar uang kuliahnya dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. “Tidak setiap saat saya menjual babi. Jika liburan kuliah saya cari kegiatan lain yang bisa menghasilkan,” Lagowan mengatakan.  

Dikatakan Lagowan, walaupun dirinya telah menyandang gelar sarjana yang diraihnya pada akhir tahun 1996 lalu, tapi dirinya  tak pernah berkecil hati dalam menjalankan kegiatan memelihara babi. “Yang paling penting dalam hidup ini adalah mesti percaya diri untuk mendapatkan pekerjaan yang halal,” tutur Lagowan.  

Usaha pemeliharaan babi memiliki prospek yang cerah, bila dijalankan dengan tekun dan serius. Suatu saat siapa pun akan memperoleh keuntungan yang cukup besar. Namun demikan, kegiatan pemeliharaan babi membutuhkan pakan yang mencukupi serta lahan yang luas. Sejak awal dirinya memelihara satu induk babi dan satu pejantan, tapi ia berusaha untuk  menambah 3 induk babi. Dari 3 induk babi dalam waktu setahun telah menghasilkan 30 ekor anak babi. Setiap induk babi menghasilkan  7 sampai 12 anak babi.

Ayah dua anak ini menjelaskan, untuk mengatasi kesulitan pakan dan lahan pemeliharaan babi yang luas, maka ia mempunyai kiat-kiat, diantaranya mengawinkan induk babi dalam jangka waktu yang berbeda sehingga  babi tak beranak saat bersamaan. Pada saat tertentu ia dapat menjual babi peliharaannya. Apalagi masyarakat selala  mencari anak babi untuk dipelihara.

“Untuk menghemat pakan, maka anak babi berusia 3-4 bulan bisa dijual. Sisanya kita pelihara hingga besar untuk kemudian dijual dengan harga yang lebih tinggi. Inilah yang menjadi keuntungan kita,” papar Lagowan sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Lagowan menjelaskan, kebutuhan pakan meningkat tajam saat babi beranak. Ini memang beralasan karena saat-saat tersebut induk babi membutuhkan kalori yang banyak untuk menyusui anak babi. Biasanya anakan babi ini setiap bulan kami jual mulai dari harga Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per ekor. Harga ini  juga dipengaruhi tingkat pertumbuhan dan kesehatannya. dan untuk babi-babi yang sudah siap potong dijual dengan harga Rp 3.000.000 hingga  Rp 5.000.000 per ekor.

Suami dari Maria Matuan ini menuturkan, kegiatan memelihara babi merupakan penopang ekonomi keluarganya. Mulai dari  kebutuhan keluarga serta biaya sekolah kedua anaknya. Lagowan pun telah membangun sebuah rumah sederhana untuk tempat berteduh isteri dan anak-anaknya. Walaupun banyak keterbatasan namun hingga saat ini saya masih tetap memelihara babi yang berjumlah 10 ekor terdiri dari 3 induk 1 ekor penjantan serta 6 babi dewasa yang sudah dapat dijual lagi. Disamping sibuk dengan memelihara babi, Lagowan pun berniat suatu waktu bisa mengabdikan dirinya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Untuk itu Lagowan ikut testing Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), tapi rupa-rupanya keberuntungan belum memihak dirinya.  

“Berkali-kali saya ikut testing CPNS, tapi saya belum beruntung,” ujar Lagowan dengan nada sedih. “Mungkin rezeki saya bukan di PNS.”

Dijelaskan Legowan, sumber penghasilan seseorang bukan hanya menjadi PNS,  tapi siapa yang ingin berusaha akanmendapatkan hasil yang memuaskan. “Inilah pedoman hidup saya,” Lagowan memaparkan. Sekalipun banyak keterbatasan yang ia  hadapi seperti kekurangan modal usaha dan lokasi usaha yang tak memadai, tapi ia terus berusaha untuk maju dan berkembang. Menurut Lagowan, selama ini pemerintah melalui pelbagai kegiatan telah memberikan bantuan modal usaha bagi para wirausaha baru seperti penggemukan babi melalui kredit lunak. “Mudah-mudahan pemerintah  ikut memperhatikan kami yang ingin berkembang, tapi kekurangan modal,” imbuh Lagowan penuh harap. (Yunus Paelo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *