FX. Sudanto ; Secuil Pengabdian “Dokter Rp 1.000”

Image

Dokter Sudanto sedang memeriksa seorang pasien diruang praktek di Abepura. (Foto: JUBI/Makawaru da Cunha)

 
JUBI—Tanpa disadari biaya untuk sekali berobat di setiap Dokter praktek paling tidak seorang pasien harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Jika pasien yang berobat tergolong mampu tak jadi masalah. Jika pasien dari keluarga tidak mampu alias miskin, maka ia jadi masalah. Bagi pasien dari golongan terakhir ini beban itu agaknya sedikit ringan. Apabila berobat pada Dokter Sudanto, maka  seorang pasien hanya membayar  Rp 1.000 untuk biaya sekali berobat.          

Secuil pengabdian ini hanya menjadi milik seorang Fransiskus Xaverius Sudanto. Entah mengapa seorang Dokter muda saat itu memilih seba gai Dokter Inpres dan mengabdikan dirinya di Provinsi Irian Jaya (Sekarang Papua). Tapi begitu me nginjakan kakinya di Asmat pada ta hun 1976 ia langsung jatuh cinta de ngan keramahan masyarakat setem pat.   Selama di daerah terpencil ini ia dengan tulus melayani masyarakat di empat kecamatan. Fasilitas yang tersedia pada saat itu sangat minim. Sehingga untuk mencapai kampung-kampung tersebut harus ditempuh dengan berjalan kaki.  
Di lokasi praktek Dokter Sudanto, panggilan akrabnya di bilangan Lingkaran Distrik Abepura, Jayapura, Provinsi Papua setiap hari pasien antri menunggu giliran untuk diperiksa Dokter Sudanto. Bukan lantaran biayanya murah sehingga pasien menyerbu lokasi prakteknya, tapi hampir semua pasien yang ditanganinya sembuh dari penyakit berkat sentuhan “tangan dingin” seorang Dokter Sudanto. Karena itu, tidak perlu heran kalau masyarakat menjulukinya “Dokter Rp 1.000”.
Suatu siang yang menyengat tubuh JUBI mengunjungi lokasi praktek Dokter Sudanto di kawasan Lingkaran Abe, Jayapura, Provinsi Papua ternyata cukup banyak pasien yang menunggu giliran mendapat pengobatan dari Dokter Sudanto. Mereka duduk melingkar di bangku panjang yang disiapkan. Bila dapat panggilan dari seorang Suster yang membantu Dokter Sudanto, maka pasien bergegas menuju ruang praktek Dokter Sudanto. Dokter Sudanto menempati sebuah ruangan tak besar dengan dinding triplex dilengkapi tempat tidur dan sebuah meja kerja. Setelah mendapat pemeriksaan darinya kemudian pasien melangkah beberapa meter untuk mendapatkan obat.
“Saya kan sudah sering diwawancarai,” ujarnya, seraya membuka percakapan dengan JUBI. Dokter Sudanto lahir di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, 5 Desember 1942. Ia menamatkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tahun 1975.  
Selepas masa pengabdiannya sebagai Dokter Inpres di Asmat, dia melanjutkan pengabdiannya di Rumah Sakit Jiwa Abepura sejak tahun 1982 sampai masa purna tugas pada tahun 2003. Namun demikian, ia sampai sekarang masih saja diminta untuk melayani pasien sakit jiwa di rumah sakit tersebut.
Setelah pensiun dari Rumah Sakit Jiwa Abepura pada tahun 2003, di sela-sela kesibukannya membuka praktek di salah-satu apotik yang ada di Abepura, ia masih menyempatkan diri mengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih Jayapura hingga sekarang. Sebelumnya ia pernah mengajar di program studi  Penjaskes FKIP Universitas Cenderawasih Jayapura, STFT Fajar Timur, dan Politeknik Kesehatan Jayapura.
Dokter Sudanto melayani rata-rata 100 pasien setiap hari mulai pukul 07.00 -12.00 WIT. Semua pasien terlayani mulai, terkadang lewat dari jam tersebut jika pasiennya masih ada yang perlu dilayani. Seorang pasien hanya membayar Rp 1.000 sekali berobat. “Pasien membayar hanya dengan harga tersebut di atas, namun dia harus membeli obat di Apotek. Obat dan alat suntik dibeli pasien, saya hanya menyediakan ini” katanya, seraya memperlihatkan sebuah stethoscope berwarna merah kepada JUBI.  
Walaupun usianya “sampun sepuh” tapi Dokter Sudanto seakan tak menunjukan perasaan lelah dan letih. “Capek banyak kerjaan, tapi senang karena banyak pasien yang sembuh,” ujar suami dari Elisabeth S, perempuan keturunan Ambon-Manado ini.    
Dokter Sudanto memiliki kiat untuk mengimbangi makin ting ginya harga obat yang tentunya sulit dijangkau masyarakat tidak mampu, maka ia menyarankan agar masyarakat menggunakan obat generik. Selain harganya murah juga persediaan obat generik selalu mencukupi. Kegetolan Dokter Sudanto terhadap penggunaan obat generik, maka   pemerintah melalui Departemen Kesehatan RI memberikan penghargaan kepada Dokter Sudanto sebagai salah seorang perintis penggunaan obat generik dalam pengobatan.
Selama melayani pasien ia sering menemui pasien yang gawat. Untuk itu penanganan yang diambilnya adalah dirujuk ke rumah sakit, namun jika tak ada harapan hidup bagi pasien tersebut ia tidak segan untuk menyampaikannya. “Dirawat dirumah saja. Tidur di rumah sakit butuh biaya besar. Apalagi  penyakit yang diderita pasiennya sudah akut yang membutuhkan ongkos besar,” jelas dokter yang sehari  hari dalam melayani pasien secara  bergantian dibantu oleh seorang perawat dari salah-satu rumah sakit swasta di Waena.
Dokter Sudanto menandaskan, sejumlah penyakit yang ditemui selama melayani masyarakat di Papua, tapi yang paling menonjol adalah malaria, ISPA (infeksi saluran pernapasan) dan kurang gizi.  “Masyarakat yang datang berobat kebanyakan masyarakat tak mampu,” tukas ayah lima anak ini. Sumber penyakit yang diderita masyarakat disebabkan lingkungan yang tak bersih. Masyarakat juga mengalami kekurangan gizi. “Lingkungan kotor muncul banyak penyakit,” ujar lelaki ramah ini.
Rika Manggaprouw, warga Kotaraja Dalam Kelurahan Vim, Distrik Abepura saat mengantar suaminya berobat di Dokter Sudanto menuturkan, sejak beberapa tahun terakhir ini dia dan keluarganya sering berobat ke Dokter Sudanto. “Saat anak  saya panas tinggi saya bawa dia periksa ke Dokter Sudanto. Anak saya langsung sembuh,” ujar Rika memuji “tangan dingin” Dokter Sudanto.
Perkenalan bersama Dokter Sudanto diawali dari informasi dari keluarga saya yang sering berobat ke tempat praktek Dokter Sudanto. “Pace itu paling mengerti masyarakat. Kalau kita periksa dan suntik hanya bayar Rp 1.000 dan menebus obat  Rp 18.000-Rp 24.000 ketong su dapat obat untuk penyakit malaria, lambung dan sakit kepala,” tuturnya.   
Lain lagi dengan Sunarto, seorang pasien Dokter Sudanto asal Jawa yang sekarang tinggal di daerah Youtefa, Abepura menandaskan, dirinya sangat terkesan dengan Dokter karena memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi di jaman serba mahal ini. “Dokter Sudanto itu orangnya ramah dan enak kalau ngomong,” kata Sunarto. “Dia punya rasa kemanusiaan yang tinggi, semua pasien dilayani tanpa membedakan orang kaya atau miskin,” cetusnya.   

Jadi Caleg
Bukan latah atau bosan melayani pasien sehingga Dokter Tangan Dingin ini banting stir untuk menekuni dunia politik. Dia menuturkan, dirinya diusung salah satu parpol peserta Pemilu 2009 untuk menjadi Calon Legislatif (Caleg).  “Saya ingin mendorong masyarakat miskin supaya lebih sejahtera, lebih baik dan dihargai,” katanya memberikan alasan. Dokter Sudanto menegaskan, politik itu jangan dibuat ilmiah, tapi mesti dibuat lebih nyata sehingga masyarakat gampang mengerti.  “Misalnya, lingkungan kotor menimbulkan banyak penyakit ya itu yang harus diber sihkan. Masyarakat kekurangan gizi juga menimbulkan penyakit, maka harus ada perbaikan gizi” pa par pria berkaca mata dan beram but putih ini seraya menunjuk sebuah pamlet bergambar dirinya dengan latar belakang sebuah parpol yang terpampang apik di atas meja kerjanya.
Dokter Sudanto menegaskan, saat ini legislatif  terlalu menghambur kan dana untuk membangun mega proyek yang jauh dari kebutuhan masyarakat.  (JuanaMantovani/ Makawaru da Cunha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *