Keramba Ikan Danau Sentani

Image

Keramba Ikan Air Tawar Di Danau Sentani Bentuk Penguatan Ekonomi Kerakyatan.

JUBI- Guna meningkatkan potensi maupun hasil perikanan melalui sumber daya alam yang ada di Papua, pembudidayaan ikan keramba di Danau Sentani Kabupaten Jayapura saat ini menjadi pilihan yang tepat. Saat Wartawan JUBI berkeliling di seputaran Danau Sentani tepatnya di Kampung Abar, Distrik Ebungfao yang terdapat sekitar 47 KK. Dari jumlah tersebut  tidak semua masyarakatnya sebagai nelayan keramba, ada juga yang menggeluti sektor pertanian kakao.

Untuk mencapai kampung tersebut dengan menggunakan transportasi perahu motor nelayan. Hanya dengan mengeluarkan Rp 7.500 dari Dermaga Yahim dan sekitar 20 menit  kampung tersebut dapat dijangkau.
Saat melintas terlihat pemandangan yang indah. Dimana di sekitaran pemukiman masyarakat Danau Sentani terdapat petak yang terbuat dari kayu dan jaring untuk setiap petaknya  berukuran 4 X 4 meter. Petak tersebut adalah keramba ikan yang dikelola masyarakat baik secara kelompok maupun perorangan.
Hesron Ibo, salah seorang anggota kelompok tani nelayan keramba bernama “Ruleao” yang ada di kampung Abar meluangkan waktunya untuk berbincang-bincang dengan JUBI.  Dirinya mengatakan,  keramba-keramba yang ada di sekitar pemukiman masyarakat kawasan danau ini milik beberapa kelompok. Untuk setiap kelompok terdiri dari 7 orang untuk mengelola sekitar 3 petak keramba.
Penguatan modal usaha budidaya ikan air tawar sebagai usaha ekonomi mikro dengan mengembangkan keramba ikan air tawar di Danau Sentani dan pemberian sarana produksi (pakan dan bibit ikan) merupakan wujud kepedulian yang diberikan pemerintah.
Untuk itulah dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat di kampung-kampung, maka sejak Tahun Anggaran  2007 Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua telah menyerahkan paket-paket bantuan kepada masyarakat nelayan, pembudidayaan ikan dan pengolahan ikan.
Ikan-ikan keramba yang dibudidayakan adalah ikan air tawar jenis mujair, nila dan ikan mas. Mengenai bibit ikan atau anakan diperoleh dengan cara membeli di wilayah Arso dengan harga per ekornya sekitar Rp 1.500. Dalam setiap kali pembelian kelompoknya bisa mendatangkan sekitar 1.000 hingga 2.000 ekor.
“Kami membeli bibit anakan ikan harganya dihitung setiap ekor. Dalam pembelian bibit tersebut untuk pertama kalinya kami dibantu pemerintah berupa dana. Namun pada perjalanannya nantinya setiap kelompok yang sudah  dapat panen ikan hasilnya dibelikan bibit anakan serta lebihnya dibagi ke semua anggota kelompok,” ujar Hesron.
Hesron  berharap dukungan pihak pemerintah kepada petani nelayan keramba harus dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan. Hal tersebut dikarenakan tidak sedikit nelayan yang sudah punya bibit ikan tetapi untuk membeli pakan ikan terkendala masalah dana.  
Biasanya hal itu sering terjadi pada saat awal mulai pembibitan. Namun kalau sudah pernah panen berbeda karena  baru bisa menyisihkan dana hasil penjualan untuk cadangan pembelian pakan.
Menurutnya, setiap memulai dari bibit anakan ikan mujair untuk menanti panen dibutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Saat mulai panen ikan, Hesron dengan kelompoknya yang lain membawa hasil panenan ke pasar bahkan tidak jarang ada pembeli yang langsung datang biasanya dalam jumlah yang besar. Selain itu juga ada peran pemerintah yang membantunya dengan menjemput hasil panenan dan menfasilitasi pemasarannya.   
Untuk setiap panen kelompok keramba “Roleau” yang diketuai oleh Barend Deyapo,  ini mendapatkan uang sekitar Rp 6 JUta hingga Rp 8 Juta. Yang harganya tergantung dari pasaran ikan saat panen.
“Rata-rata kelompok nelayan keramba ini setelah panen ikan akan mengembangkan petak keramba  untuk mengajak kelompok lain mengelolanya yang biasanya sebagai bentuk sistem bergulir” terang nelayan yang kini dikaruniai 4 orang anak suami dari Ita Deyapo.
Prospek maupun potensi perikanan di Danau Sentani memang cukup baik dan menjanjikan bagi pengembangkan ekonomi kerakyatan. Sehingga sangat perlu untuk dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan.
Untuk itulah masyarakat yang bermukim disekitar danau dapat melakukan pengembangan budi daya ikan air tawar di keramba melalui kolam-kolam yang ada. Namun selama ini keberadaan danau tersebut kurang dimanfaatkan dengan baik.
Padahal melihat potensi yang besar di Danau Sentani tersebut merupakan jalan terbuka bagi tumbuhnya perekonomian masyarakat. Selain itu sarana dan prasarana penunjang juga sudah tersedia seperti Pasar Ikan Hidup yang berada di Kampung Netar.
Masyarakat kebanyakan saat ini memakai sistem tradisional yang sederhana yakni menangkap ikan di danau hanya untuk dikonsumsi. Sehingga diperlukan pemahaman yang disertai dengan pelatihan-pelatihan tata cara pengelolaan ikan air tawar melalui keramba.
Sesuai dengan instruksi Gubernur Papua, pengembangan perikanan di daerah pedesaan maupun perkampungan untuk peningkatan hasil perikanan maupun peningkatan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat harus dimanfaatkan secara optimal. Karena kedepan bermanfaat selain dapat dikonsumsi sebagai penghasil gizi masyarakat yang baik hasil perikanan ini dapat dijual untuk menghasilkan pendapatan.
Budidaya ikan keramba sebenarnya tidak memerlukan biaya yang besar. Sepanjang dilakukan dengan sistem dengan pola yang benar seperti dalam pengelolaannya dilakukan dalam kelompok-kelompok. Untuk itulah perlu dikembangkan dimasa mendatang.
Karena, dengan pembudidayaan ikan keramba ini yang baik dan benar, maka kesejahteraan masyarakat di pedesaan dapat ditingkatkan, sesuai dengan harapan pemerintah saat ini untuk meningkatkan gizi maupun kesehatan masyarakat di desa-desa.
Dari data hasil survei produksi budidaya ikan keramba di Danau Sentani ini pada tahun 2007 lalu, sedikitnya ada sekitar 177 petani, dengan jumlah keramba sebanyak 556 petak dan dengan jumlah ikan siap panen sekitar 18 ton ikan.
Hasil survei produksi ikan keramba di Distrik Sentani sebanyak 36 orang dengan jumlah keramba dan 91 petak, di Distrik Sentani Timur sebanyak 64 petani dengan jumlah keramba sebanyak 243 petak, di Distrik Ebungfau sebanyak 58 petani dengan jumlah keramba sebanyak 167 petak dan Distrik Waibu ada sekitar 16 petani dengan keramba sebanyak 55 petak.
Dari panen ikan diperkirakan bisa memenuhi permintaan pasar lokal di Kota Jayapura. Dimana  para petani keramba ini dapat menghasilkan 5 ton ikan tiap harinya. Dengan catatan kalau hal tersebut dikelola dengan optimal. (Anang Budiono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *